keluarga-islam  

[keluarga-islam] (Ngaji of the Day) Singkirkan Syetan-Syetan-mu

Ananto
Tue, 26 Jan 2010 17:26:40 -0800

*Singkirkan Syetan-Syetan-mu*


Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany di Madrasahnya, Rasulullah Saw. Bersabda:

"Singkirkan syetan-syetanmu dengan ucapan Laailaaha Illallah
Muhammadur-Rasulullah, karena syetan itu diikat dengan kalimat itu
sebagaimana kalian memembebani derita untanya dengan banyaknya tumpangan
dan  beban-beban yang dipikulnya.”


Singkirkan syetan-syetanmu dengan ikhlas dalam ucapan Laailaaha Illallah,
bukan sekadar ucapan verbal. Karena tauhid itu membakar syetan Jin dan
syetan manusia, karena tauhid adalah neraka bagi syetan dan cahaya bagi
orang yang  manunggal (tauhid) pada Allah. Bagaimana anda mengucapkan
Laailaaha Illallah sedangkan dalam hati anda banyak Tuhan?


Segala sesuatu yang anda jadikan pegangan dan anda andalkan selain Allah,
maka sesuatu itu adalah berhala anda. Tauhid verbal (ucapan) tidak ada
artinya jika qalbu anda musyrik. Tidak ada artinya menyucikan fisik
sedangkan hati tetap najis.


Orang bertauhid itu menepiskan syetannya, sedangkan orang musyrik malah
diperdaya oleh syetannya. Ikhlas adalah isi dari ucapan dan perbuatan,
karena tanpa keikhlasan ucapan hanyalah kulit belaka, tanpa isi, yang tidak
layak melainkan neraka belaka. Dengarkan ucapanku dan amalkan, karena
mengamalkannya bisa mematikan neraka tamakmu dan menghancurkan duri nafsumu.
Janganlah anda datangi suatu tempat yang bisa mengobarkan api watakmu yang
bisa merobohkan rumah agama dan imanmu, dimana watak nafsu dan syetan
berkobar lalu menghapus agama, iman dan yaqinmu. Karena itu jangan anda
dengarkan ucapan mereka yang munafik yang penuh dengan kepura-puraan penuh
dengan retorika keindahan. Nafsu itu senang dengan gaya seperti itu, seperti
adonan roti yang masih mentah tanpa garam yang malah bisa merusak perut dan
membuat hancur se-isi rumah.


Pengetahuan itu diambil dari ucapan para tokoh. Diantara para tokoh itu ada
tokohnya Allah Azza wa-Jalla. Mereka adalah kaum Muttaqin, yang hatinya
meninggalkan dunia,  yang menjadi pewaris, dan yang ahli ma’rifat,
mengamalkan ilmu dengan ikhlas. Dan segalanya tanpa ketaqwaan hanyalah
sia-sia dan batil.


Kewalian itu hanya bagi orang yang taqwa di dunia dan di akhirat. Seluruh
fondasi dan bangunan, dunia dan akhirat dari jiwa mereka. Sesungguhnya Allah
mencintai hamba-hambaNya yang taqwa dan berbuat kebajikan, yang sabar.
Manakala anda punya intuisi yang benar, pasti anda akan mengenal mereka,
mencintai mereka dan mensahabati mereka.


Intuisi itu benar manakala dicahayai oleh kema’rifatan kepada Allah dalam
hati. Karena itu jangan berpijak pada intuisi-mu jika belum ditimbang dengan
ma’rifatullah Azza wa-Jalla, hingga jelas benar informasi mengenai kebenaran
dan kebajikan.


Tutuplah matamu dari perkara yang haram, dan kendalikan dirimu dari syahwat,
lalu kembalikan dirimu pada makanan yang halal, serta jagalah batinmu dengan
muroqobah kepada Allah Azza-Wajalla, lahiriyahmu mengikuti jejak Sunnah Nabi
saw. Maka intuisimu akan benar dan layak, benar pula ma’rifatmu kepada Allah
Azza wa-Jalla Akal dan hatimu anda didik. Sedangkan watak dan nafsu serta
kebiasaan sehari-hari yang buruk, tidak bisa dididik dan tidak ada
kemuliaannya.


Anak-anak sekalian…Belajarlah dan ikhlaslah, hingga anda bersih dari duri
kemunafikan, lalu ikatlah. Carilah ilmu karena Allah Azza wa-Jalla, bukan
demi kepentingan makhluk dan dunia.


Tanda anda mencari ilmu karena Allah Azza-wa-Jalla, adalah rasa takut dan
gentarmu dari Allah ketika perintah dan laranganNya tiba, dan anda sangat
fokus di sana, merasa hina di hadapanNya, tawadlu terhadap sesama namun
tanpa kepentingan pada mereka, sama sekali tidak berharap dari apa yang
menjadi milik mereka.


Anda malah harus bersedekah karena Allah Azza wa-Jalla dan konsisten. Karena
shadaqah yang diberikan bukan karena Allah Azza-wa-Jalla adalah musuh, dan
berpijak pada tindakan seperti itu akan musnah. Pemberian yang motivasinya
bukan karena Allah adalah kegagalan.


Nabi Saw, bersabda:

“Iman ini ada dua bagian; sebagian sabar dan sebagian lagi syukur.” (HR.
As-Suyuthy dari Anas ra)


Bila anda tidak sabar atas derita, tidak syukur atas nikmat, maka anda belum
beriman. Karena hakikat Islam adalah Istyislam (pasrah diri total pada
Allah).


Ya Allah hidupkan hati kami dengan tawakkal kepadaMu, dengan taat dan dzikir
hanya bagiMu, dengan berserasi padaMu, dengan Tauhid hanya bagiMu.


Kalau bukan karena tokoh-tokoh Allah  di muka bumi yang ada di hatimu,
pastilah sudah hancur kalian semua. Sebab Allah azza wa-Jalla mengalihkan
adzabNya, karena doa mereka itu. Rupa Nabi memang sudah tiada, namun
maknanya senantiasa abadi sampai kiamat. Bila tidak, bagaimana mungkin
senantiasa ada 40 tokoh Ilahi yang senantiasa muncul di muka bumi? Dimana
hati mereka ada makna-makna nubuwwah, hatinya seperti satu hati dari para
Nabi. Diantara mereka ada Khalifah Allah dan rasul-rasulNya di muka bumi,
yaitu para Ulama yang menggantikan sebagai pewaris Nabi.


Nabi Saw; bersabda:

“Para Ulama adalah pewaris para Nabi.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Abu
Dawud, dan Ibnu Hajar).


Merekalah pewaris, penjaga, baik tindakan maupun ucapan. Karena ucapan tanpa
tindakan sama sekali tidak menyamainya, dan itu hanya pengakuan-pengakuan
belaka tanpa bukti, sama sekali tidak sama (tidak berhak menyandang
pewaris).


Anak-anak sekalian, aku jelaskan agar kalian memegang teguh Kitab dan Sunnah
serta mengamalkan keduanya, ikhlas dalam beramal.


Aku melihat Uama-ulama kalian bodoh-bodoh. Yang anda anggap zuhud malah
memburu dunia, berserah diri pada makhluk, namun alpa pada Al-Khaliq Azza
wa-Jalla. Percaya pada selain Allah Azza wa-Jalla adalah penyebab laknat.
Nabi saw, bersabda:

“Dilaknati! Dilaknati! Makhluk yang kepercayaannya pada makhluk sesamanya”.


Sabdanya pula:

“Siapa yang menggantungkan rasa butuhnya pada makhluk maka dia menjadi
hina.”


Sungguh! Bila anda keluar dari makhluk maka anda akan bersama Sang Khaliq
Azza wa-Jalla, Dia Yang Maha Tahu apa yang membahagiakanmu dan
mencelakakanmu. Bedakan apa yang membahagiakan bagimu dan apa yang bagi
orang lain.


Hendaknya anda tetap teguh dengan langgeng di pintuNya Azza wa-Jalla, dan
memutuskan dunia dari hatimu, maka anda bakal menemukan kebajikan dunia dan
akhirat. Dan hal demikian tidak bisa sempurna, ketika makhluk dan riya’ ada
di hatimu, yang lain dan segala selain Allah Azza wa-Jalla tetap di hatimu,
maka tak bisa dinilai sedikit pun hati anda.


Jika anda tidak sabar anda tidak bisa beragama, tidak ada modal bagi iman
anda.


Nabi saw, bersabda:

“Sabar itu bagian dari iman, seperti kepala bagi fisik tubuh” (HR. Al-Hindy
dan al-Iraqy).


Makna sabar, berarti anda tidak pernah mengeluh, tidak bergantung pada sebab
akibat dunia, dan tidak membenci cobaan, juga tidak senang hilangnya cobaan.
Seorang hamba ketika  tawadlu karena Allah Azza wa-Jalla saat fakir dan
sangat butuh, dan ia sabar bersamaNya untuk mengikuti kehendakNya, tidak
tidak congkak dengan sifat-sifatnya, lalu  meraih pencerahan dalam ibadah di
tengah kegelapan, berusaha dengan pandangan mata kasih sayang, maka Allah
akan mencukupinya dan keluarganya dengan kecukupan tiada terduka.


Allah swt berfirman:

“Siapa yang bertaqwa kepada Allah maka bakal diberi jalan keluar, dan diberi
rizki yang tak terhingga.” (Ath-Thalaq 2).


Anda ini seperti tukang bekam yang mengeluarkan penyakit orang lain,
sedangkan dirimu penuh penyakit yang tak bisa anda keluarkan. Saya melihat
anda semua sepertinya bertambah ilmunya secara lahiriyah, namun secara batin
malah tampak tolol.


Dalam kitab Taurat disebutkan: “Siapa yang bertambah ilmunya, maka
bertambahlah sedihnya.”


Sedih apakah itu? Sedih karena takut kepada Allah dan rasa hina di
hadapanNya maupun merasa hina dibanding hambaNya. Carilah ilmu, manakala
anda tidak berilmu. Jika anda berilmu tapi anda tidak mengamalkan, dan tidak
ikhlas mengamalkannya, tidak punya adab dan husnudzon kepada para Syeikh,
bagaimana akan datang pengetahuan padamu? Hasratmu malah dunia, dalam
sekejap dunia akan menjadi hambatan besar antara dirimu.


Dimana posisimu diantara para hamba Allah  yang hasratnya hanya satu,
muroqobah kepada Allah dalam jiwanya sebagaimana mereka menjaga badannya.
Mereka membersihkan qalbunya, sampai paripurna, hingga hasratnya terkekang
dengan sendirinya. Di hatinya tidak ada lagi hasrat, kalau toh pun masih ada
hasrat, maka hasrat itu adalah menuju Allah Azza-wa-Jalla, mendekat
kepadaNya, dan mencintaiNya saja.


Ada kisah Bani Israil yang ditimpa musibah dahsyat. Lalu mereka berkumpul
menemui salah satu Nabi mereka. Mereka mengatakan, “Berilah kami berita apa
yang diridloi oleh Allah Azza wa-Jalla, hingga kami bisa mengikutiNya, dan
menjadi penyebab hilangnya cobaan ini dari kami.”


Lalu sang Nabi itu memohon kepada Allah Azza-waJalla. Maka Allah Azza
wa-Jalla memberikan wahyu padanya, “Katakan pada mereka, “Jika kalian hendak
meraih RidloKu, maka ridlolah pada orang-orang miskin. Jika kalian ridlo
pada mereka maka Aku pun ridlo. Namun jika kalian membenci mereka, Aku pun
benci padamu…”


Hai dengarkan orang-orang berakal. Kalian semua terus menerus nmembenci
orang-orang miskin, sementara kalian menginginkan ridlo Allah Azza wa-Jalla.
Apa yang kalian dapat dari ridlo-Nya? Bahkan anda terbalik-balik dalam
kebencian Allah Ta’ala.  Pegang teguh atas ucapanku yang keras ini, kalian
pasti bahagia.


Teguh itu akan menumbuhkan pohon. Namun, sepanjang anda tidak lari dari
ucapan para syeikh, peringatan kerasnya, tetapi anda malah membutakan diri
dari bencana-bencana. Dari mereka datang padaku, tapi saya diam, namun anda
tidak sabar terhadap ucapan mereka itu. Anda ingin bahagia, tapi tidak anda
dapatkan. Ingin kemuliaan, tapi tidak anda jumpai. Anda tidak bahagia
manakala anda tidak berserasi dengan takdirNya, baik yang indah maupun yang
pahit, disamping berguru pada para syeikh dengan menghilangkan kecurigaan
menurut emosi anda. Hendaknya pula anda mengikuti jejaknya dalam berbagai
situasi dan kondisi, maka anda dapatkan kebahagiaan dunia akhirat.


Pahamilah apa yang kusampaikan ini. Faham saja tapi tidak mengamalkan tidak
sama sekali disebut faham. Namun mengamalkan tanpa keikhlasan, sungguh
merupakan ketamakan. Thama’ (Tha’ Mim ‘Ain) semua hurufnya kosong bolong.
Orang awam tidak mengerti apa yang anda buka.  Anda mengajarkan kepada
mereka hingga mereka hati-hati padamu.


Jika anda sabar bersama Allah azza wa-Jalla, pasti anda akan tahu
keajabian-keajaiban  dari Kemaha lembutanNya. Nabi Yusuf as,  ketika sabar
dalam deritanya dan diperbudak, dipenjara dandihina, namun berselaras dengan
tindakan Tuhannya Azza wa-Jalla maka ia malah sukses dan menjadi raja. Allah
mengalihkan dari kehinaan menjadi kemuliaan, dari kematian menuju
kehidupan.Begitu juga anda, jika mengikuti syariat dan anda sabar bersama
Allah azza wa-Jalla, anda takut padaNya, berharap padaNya, dan kontra pada
nafsu anda, syetan anda, kesenangan anda, anda pun akan berpindah dari
situasi saat ini, dari situasi yang anda benci menuju situasi yang anda
sukai. Karena itu seriuslah dan berjuanglah. Karena perjuangan itu
melahirkan kebaikan. Siapa yang bersikeras dalam perjuangannya maka akan
meraihnya. Berjuanglah untuk makan makanan halal, karena bisa mencahayai
hati anda dan mengeluarkan dari kegelapan hatimu. Akal yang paling berguna
adalah yang mengenalkanmu pada nikmat Allah azza wa-Jalla dan menempatkan
dirimu pada posisi syukur padaNya, membantumu untuk berkenalan dengan nikmat
dan kriterianya.


Anak-anak sekalian…Siapa yang mengenal dengan mata yaqin, bahwa Allah Azza
wa-Jalla telah membagi  semuanya dan sudah tuntas pembagian itu, malah ia
malu untuk memintaNya. Ia lebih senang sibuk berdzikir padaNya, tidak ingin
meminta dipercepat bagianNya, dan tidak menginginkan yang diberikan pada
yang lain. Perilaku mereka malah sembunyi, diam, dan beradab yang bagus
serta meninggalkan kontra pada Allah Azza wa-Jalla.


Mereka tidak pernah mengadu pada makhlukNya, baik sedikit kebutuhannya
maupun banyak. Menurutku mengeluh pada makhluk dalam hati pun, sudah
dianggap berkeluh kesah dengan lisan.  Secara hakiki tidak ada bedanya.


Hati-hati. Apa anda tidak malu mencari sesuatu selain pada Allah Azza
wa-Jalla, sedangkan Dia itu lebih dekat padamu dibanding lainNya. Anda
mencari sesuatu dari sesama, sesuatu yang tidak anda butuhkan pada Allah
Azza wa-Jalla. Padahal anda sudah kaya raya, namun anda masih mencari sesuap
dari orang-orang miskin. Jika anda mati baru anda malu, karena cacatmu sudah
tampak, tetangga-tetanggamu mencacimu.


Kalau anda berakal, anda mestinya meraih sejumput dari iman agar anda
bertemu Allah azza wa-Jalla dengan imanmu itu, apalagi anda berguru pada
orang shaleh, beradab dengan mereka melalui ucapan dan tindakan mereka,
hingga ketika imanmu  dan yaqinmu sempurna, anda paripurna bersih menuju
Allah Azza wa-Jalla hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, dan Allah memberikan
wilayah adab padamu, perintah dan larangan bagimu dari dalam hatimu.


Wahai penyembah berhala riya’ bagaimana anda bisa mencium aroma taqarrub
pada Allah Azza wa-Jalla, dunia dan akhirat!


Hai musyrik! Hai orang yang menghiba pada sesama dengan hatinya, palingkan
dirimu dari mereka. Bahaya! Tidak ada gunanya, tak ada anugerah dan tak bisa
menggagalkan pula.


Jangan sampai anda mengaku bertauhid pada Allah Azza wa-Jalla dengan
kemusyrikan pada hatimu yang terus menancap. Anda tidak akan meraih apa-apa.
[]



*KH. Muhammad Luqman Hakim*
  • [keluarga-islam] (Ngaji of the Day) Singkirkan Syetan-Syetan-mu Ananto