LILIS
Thu, 28 Jan 2010 20:33:43 -0800
----- Original Message -----
From: bobby herwibowo
Sent: Friday, January 29, 2010 10:35 AM
Subject: CAHAYA LANGIT: MERASA DIRI PALING MERANA
MERASA DIRI PALING MERANA
Saat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar
dihadapan saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel. Tergerak saya
melihat berita dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah
tulisan yang amat bermanfaat ini.
Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama
Ra'fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut
yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan
membuat Ra'fat mengalami penyakit di atas.
Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia
kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak
waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh
juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti
seorang pesakitan.
Demi mencari upaya sembuh, maka Ra'fat mengikuti saran dokter untuk
berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia
berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah
parah. Maka saat Ra'fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil
tindakan operasi segera. Ketika Ra'fat menanyakan berapa besar kemungkinan
berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.
"50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak
berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!" jelas sang dokter.
Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra'fat berkata, "Dokter,
kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke
negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang
saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya
banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal." Ra'fat berkata sedemikian
sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.
Dengan enteng dokter membalas, "Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan
Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut.
Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air
kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin
Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda."
Bagi Ra'fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam
tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi
berangkat menuju tanah airnya.
Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra'fat untuk mendatangi semua
orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi
untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra'fat berkata, "Maafkan aku,
Ra'fat yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa... Boleh jadi
setelah dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur..."
Itulah yang disampaikan Ra'fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka
menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka
cintai dan kagumi ini.
Ra'fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang
kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan
berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra'fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi
manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam
kesedihannya ia membatin, "Ya Allah.... rupanya keluarga yang mencintai aku....
harta banyak yang aku miliki... perusahaan besar yang aku punya.... semuanya
itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini!
Semuanya tak ada guna... semuanya sia-sia!"
Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra'fat bertambah lemah. Ia hanya
mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil
berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah
manusia yang paling merana di dunia.
Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan
tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra'fat dan supirnya yang berada
di mobil itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan
tujuan berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi moment spesial yang tak
akan terlupakan untuk Ra'fat.
Beberapa ratus meter di depan, mata Ra'fat melihat ada seorang wanita
berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah
berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung
plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi
mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara
tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di
pinggiran tulang.
Ra'fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama.
Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra'fat tentang apa yang sedang dilakukan
wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra'fat
memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk
menepi.
Saat mobil sudah berhenti, Ra'fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang
wanita. Entah apa yang membuat Ra'fat menjadi penasaran. Keingintahuannya
membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan
tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.
Dalam jarak beberapa hasta Ra'fat mengucapkan salam kepada wanita
tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra'fat pun bertanya kepada wanita
tersebut dengan suara lemah, "Ibu..., apa yang sedang kau lakukan?"
Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun
tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita
tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil
mengumpil daging wanita itu berkata, "Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun
langkahku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak
makan. Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati
daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan
membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan
memasakkan sup daging yang lezat buat mereka...."
Subhanallah....! bergetar hebat relung batin Ra'fat saat mendengar
penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka
ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra'fat melangkah ke arah
toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada
petugas toko, "Pak..., tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging
dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!"
Kalimat yang meluncur dari mulut Ra'fat membuat wanita tadi menghentikan
kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra'fat.
Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra'fat seolah ia berterima kasih lewat
sorot pandang.
Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat menoleh ke arah petugas toko. Ia
pun berkata, "Pak..., tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu
tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun
penuh!" Serta-merta Ra'fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi
lalu ia serahkan kepada petugas tadi.
Usai Ra'fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka
terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit
sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:
"Allahumma ya Allah... berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki.
Limpahkan karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia
dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para
hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir
dan batin.....dst"
Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa
itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt
atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra'fat. Ia mulai
merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan
sebelumnya. Hampir saja Ra'fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah
kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran
air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra'fat pantang menangis...,
apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.
Ra'fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan
tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya,
keajaiban yang ditambah saat Ra'fat membuka dan menutup pintu mobil dengan
gagah seperti manusia sehat sediakala!!!
Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra'fat. Sepanjang
jalan di atas kendaraan Ra'fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan
oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi
indah.
Sesampainya di tujuan lalu Ra'fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan
dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab
sakit liver akut yang diderita.
Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra'fat, sang kerabat berkata,
"Ra'fat..., janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu
ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit."
Awalnya Ra'fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya
untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara
dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.
Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa
anaknya kembali datang ke China. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi
sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun
dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun
bertanya keheranan kepada Ra'fat dan keluarga:
"Aneh....! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah
dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver
ini menjadi sempurna lagi?!"
Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga menjadi bahagia.
Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut
mereka. Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra'fat dari penyakit
dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka
ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih
dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!
Cahaya Langit,
Bobby Herwibowo
www.kaunee.com
0817200456
---------------------------------------------------------------------------------------
<i>Caution: The information enclosed in this email (and any attachments) may be
legally <br>privileged and/or confidential and is intended only for the use of
the addressee(s). <br>No addressee should forward, print, copy, or otherwise
reproduce this message in any <br>manner that would allow it to be viewed by
any individual not originally listed <br>as a recipient. If the reader of this
message is not the intended recipient, you are hereby <br>notified that any
unauthorized disclosure, dissemination, distribution, copying <br>or the taking
of any action in reliance on the information herein is strictly prohibited.
<br>If you have received this communication in error, please immediately notify
the sender <br>and delete this message. Unless it is made by the authorized
person, any views expressed <br>in this message are those of the individual
sender and may not necessarily reflect <br>the views of PT Bank Bukopin Tbk.
----------------------------------------------------------------------------------------