keluarga-islam  

[keluarga-islam] (Ngaji of the Day) Siapa Yang Anda Prioritaskan?

Ananto
Mon, 01 Feb 2010 17:22:02 -0800

*Siapa Yang Anda Prioritaskan?*

* *

*Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany - Hari Juma’at pagi, 14 Rajab Akhir 545 H di
Pesantrennya.* Nabi saw, bersabda: “Apabila Allah swt menghendaki kebajikan
pada hambaNya maka sang hamba diberi pemahaman dalam agama, dan ditampakkan
cacat-cacat dirinya.” (H.r.  Al-Hindy riwayat dari Anas ra.) Faham dalam
agama adalah factor yang menyebabkan manusia mengenal dirinya. Dan siapa
yang mengenal Tuhannya Azza wa-Jalla, maka ia mengenal segalanya. Maka
bersama Allahlah ibadah kepadanya menjadi benar, dan terbebaskan dari
perbudakan selain Allah azza-waJalla.


Kalian semua tidak akan beruntung dan tidak pula selamat sepanjang anda
tidak memperioritaskan Allah Azza wa-Jalla atas lainnya. Anda harus
memprioritaskan agamamu dibanding kesenanganmu, memprioritaskan akhiratmu
dibanding duniamu. Menomorsatukan Penciptamu dibanding ciptaanNya.


Anda menjadi rusak karena anda mendahulukan syahwat kesenangan anda
dibanding Allah Azza wa-Jalla.


Lakukanlah prioritas Allah dibanding yang lain maka Allah  bakal mencukupi
anda. Sedangkan anda saat ini terhijab dari Allah Azza wa-Jalla, maka tidak
ada ijabah bagi anda.


Padahal Ijabah itu akan muncul setelah memohon Ijabah. Allah mengijabahi
anda dengan amaliyah anda ketika anda memohon kepadaNya.


Panen itu akan anda raih setelah menanam. Bertanamlah anda akan panen.


Nabi saw. Bersabda:

“Dunia adalah tempat bertanam bagi akhirat.” (Hr. Al-‘Ajluny)


Bertanamlah dengan tanaman dalam hatimu dan badanmu, yaitu iman. Anda
berkebun dengan menyiram air pada kebun itu melalui amal yang saleh. Jika
dalam hati anda ada kelembutan, kasih sayang, rahmat pasti akan tumbuh di
dalamnya. Manakala di dalamnya ada keras kepala dan keras hati, maka buminya
juga gersang tidak akan ditumbuhi apa pun. Sama seperti anda menanam di
puncak bukit batu, tidak akan pernah tumbuh di sana.


Nabi saw, bersabda:

“Minta tolonglah  kalian atas segala pekerjaan menurut kemampuan terbaik
ahlinya.”  (Ditakhrij As-Suyuthy dan al-Ajluny)


Kalian sibuk dengan bertanam dunia bukan bertanam akhirat. Bukankah pemburu
dunia tak akan bahagia di akhirat? Ia tak akan melihat Allah Azza wa-Jalla.
Jika anda ingin akhirat maka tinggalkan duniawimu, jika anda inginkan Allah
Azza wa-Jalla maka tinggalkan bagian diri dan unsur kemakhlukanmu, maka anda
benar-benar wushul. Bila benar apa yang anda lakukan justru  akhirat,
seluruh makhluk, dunia, anda dapatkan semuanya, dengan penuh kepatuhan
maupun dengan terpaksa.


Sebab pokoknya sudah bersama anda, sedangkan cabangnya hanya mengikuti.
Karena itu berakal sehatlah anda. Namun anda malah tidak berakal sehat,
tidak pandai, dengan cara anda bergumul dan bergabung dengan makhluk, lebur
dengan mereka. Jika anda tidak taubat, maka justru anda hancur.


Datanglah ke jalan thariqat sufi, anda datangi pintu mereka. Jangan jejali
mereka dengan dengan ketiak tubuhmu, dengan kemunafikanmu, sedangkan hatimu
tidak. Padahal mereka terpenuhi oleh hati dan rahasia hati, dengan
lengan-lengan kepasrahan dan kesabaran terhadap cobaan, kerelaan dan bagian
dari Allah Azza wa-Jalla.


Hai anak-anak sekalian, jadikan dirimu di hadapan Allah Azza


wa-Jalla ketika derita menerpamu, maka anda tegak di atas  pijakan cintaNya,
bahkan tidak berubah, tidak sirna oleh penjuru dan angin, badai dan hujan
bahkan oleh debu-debu yang menabur, karena anda tetap teguh lahir dan batin,
teguh dalam maqom yang disana tak ada lagi makhluk, dunia, akhirat, tak ada
hak dan bagian-bagian kepentingan, tak ada derita, tak ada pertanyaan
“bagaimana”, bahkan tak ada selain Allah Azza wa-Jalla.


Jangan sampai jiwamu dikotori oleh urusan makhluk, urusan keluarga, dirimu
tak berubah karena bagian yang sedikit atau pun banyak, tidak pula berubah
karena cacian dan pujian, tidak pula diterima maupun ditolak, dan secara
global anda berada dibalik semuanya, manusia, jin, malaikat dan seluruh
makhluk, bersama Allah.


Betapa indah apa yang dikatakan oleh seorang Sufi, “Jika anda membenarkan
(silakan) jika tidak, jangan ikuti kami.!”


Sabar, ikhlas dan jujur dalam membenarkan merupakan asas, sebagaimana kami
jelaskan apdamu. Kalian datang padaku, apakah aku membuatmu munafik? Dan
ketika aku bicara lembut padamu, dirimu suka dan kagum, lalu anda menyangka
ada kepentingan? Tidak! Tak ada kemuliaan dengan cara begitu.


Aku dan api, dan tak ada yang mampu di atas api kecuali Samandil yang
bertelur, beranak, dan anaknya berdiri dan duduk di atas api. Jadilah dirimu
seperti Samandil di atas api derita dan perjuangan serta kepayahan, bersabar
di lorong-lorong  ketentuan dan takdir, hingga kalian sabar dalam berguru
kepadaku, mendengarkan kalamku, kerasnya ucapan serta mengamalkannya lahir,
batin, hakiki dan syar’y. Pertama-tama anda khalwat, lalu keluar, lalu
eksistensial. Jika anda sukses, maka anda bahagia dunia akhirat bersama
kehendak  dan takdir Allah Azza wa-Jalla.


Aku tidak menyertai siapa pun  selain hanya untuk Allah Azza wa-Jalla, dan
diantara keharusannya adalah aku tidak menoleh pada siapapun dari mereka
dalam segala hal tanpa suatu tanda. Bahkan aku sangat takut kepada Allah
dalam melaksanakan HakNya terhadap makhlukNya, aku tidak boleh lemah, dan
aku kuat dengan diriku, lalu aku berserasi dengan mereka dalam jiwa mereka
(demi keselamatan mereka).


Diantara para Sufi – semoga rahmat Allah bagi mereka --  mengatakan,
“Berserasilah pada Allah Azza wa-Jalla dalam jiwa mereka, tetapi janganlah
berserasi dengan mereka ketika di dalam ibadah kepada Allah.”


Maka runtuhlah mereka yang hancur, dan selamatlah mereka yang selamat. Maka
aku peduli, sedangkan anda terus menerus maksiat kepada Allah Azza wa-Jalla,
menghina perintah dan laranganNya, kontra  padaNya, baik dalam ketentuan
maupun takdirNya. Siang dan malam anda dibenci dan dilaknati.



Diantara firmanNya Azza wa-Jalla dalam sebagian kitabNya:

“Jika kamu patuh maka Aku ridlo kepadamu. Jika Aku ridlo, maka kamu
mendapatkan barokah kebajikan. Sedangkan barokahKu tak ada batasnya. Namun
jika kamu maksiat, Aku marah. Dan ketika Aku marah, kamu terlaknat, hingga
laknat-Ku sampai tujuh turunan…”


Zaman ini adalah zaman dimana agama dijual dengan debu yang hina, zaman yang
panjang khayalnya dan ambiusnya. Karena itu seriuslah kalian, jangan sampai
tergolong orang yang difirmankan oleh Allah swt:


“Dan Kami hadapi segala amal  yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal
itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqon: 23)


Setiap amal yang diorientasikan selain Allah Azza wa-Jalla maka ia telah
menjadi debu yang terbang.


Hati-hati! Apabila masalahmu tersembunyi dari kalangan awam, maka tidak
tersembunyi bagi kalangan khusus yang kokoh, mereka menyembunyikan
pekerjaannya dari anda, bukannya orang bodoh yang menyembunyikan orang alim,
tidak. Karena itu beramallah dan ikhlaslah dalam amalmu. Sibukkan hatimu
pada allah Azza wa-Jalla, tinggalkan hal-hal yang mengganggumu yang tidak
berarti, karena itu jangan repot dengan hal-hal yang tak berarti bagimu.


Mestinya anda lebih fokus pada nafsumu, hingga anda bisa mengekang dan
merendahkannya, sampai kau mampu mengendalikannya dalam perjalanan dari
dunia menuju akhirat. Anda bisa memutuskan diri dari makhluk dan sampai di
hadapan Allah Azza wa-Jalla.


Sampai anda sempurna dan kuat, memberi kebajikan pada lainnya, dimana dunia
telah anda keluarkan, dan kepada Allahlah anda datang. Suapan hikman engkau
jadikan konsumsimu.


Anda harus benar dalam bicara, jangan direkayasa, karena bisa terkena
tipudaya. Jangan takut pada makhluk dan jangan pula menaruh harapan pada
mereka, karena sikap demikian bisa melemahkan iman.


Luhurkan cita-citamu, maka engkau akan menjadi luhur. Karena Allah Azza
wa-Jalla  memberikan anugerah padamu menurut kadar cita hasratmu, kejujuran
dan keikhlasanmu.


Maka seriuslah, berjuanglah,  dan tegaslah. Carilah, karena semuanya tidak
datang dengan sendirinya.


Anda harus memikul tugas dalam meraih amal yang saleh sebagaimana anda
serius dalam meraih rizki. Syetan mempermainkan umumnya orang, sebagaimana
sang penunggang kuda mempermainkan, dimana diantara mereka berputar-putar
sekehendaknya, anda pun juga memutar-mutar binatang tunggangannya
sekehendaknya. Bagaimana syetan memukul-mukul leher mereka dan memperbudak
mereka, mengeluarkan mereka dari arena perjuangan dan nafsu terus
membantunya untuk suksesnya syetan, menyediakan instrumennya.


Anak-anak sekalian, Cambuklah nafsu dirimu dengan cambuk lapar dan mencegah
syahwat, kenikmatan dan kelalaian.  Cambuklah hatimu dengan cambuk  rasa
takut dan muroqobah kepada Allah swt. Jadikanlah Istighfar sebagai
kesungguhan dirimu, hatimu dan sirr-mu, karena masing-masing dalam nafsu,
qalbu maupun sirr-mu ada ukuran dosa tertentu. Karena itu disiplinkan
semuanya dengan berselaras dan mengikuti jejak Nabi saw, dalam segala
perilaku.


Hai orang yang yang sangat minim mutiaranya, bila takdir tidak mungkin kau
hindari, tidak bisa merubah dan menghapusnya maka janganlah anda menolak
kehendak Allah.


Jika tidak akan tiba melainkan apa yang Dia kehendaki. Janganlah anda
berkehendak manakala Dia tidak berkehendak. Maka jangan hampakan diri dan
hatimu di dalamnya. Pasrahkan dirimu semua kepada Tuhanmu Azza wa-Jalla.
Gantungkan pada rahmatNya dengan tangan taubatmu. Jika engkau bisa konsisten
dengan kondisi itu, maka dunia akan sirna dari pandangan mata-hatimu dan
mata kepalamu.


Segala musibahnya jadi ringan, nikmat dan kesenangannya sirna. Anda tidak
lagi mengeluh atas sengsaranya begitu pula bencananya, sebagaimana Asiah
ra,  isteri Fir’aun, ketika nyata bahwa dirinya ternyata wanita yang beriman
kepada Allah Azza wa-Jalla, kemudian tangan dan kakinya dipasung dengan paku
besi, dihajar dengan cambuk, ia menengadah ke langit, lalu melihat
pintu-pintu syurga terbuka, dimana Malaikat membuatkan bangunan istana di
syurga, lalu datanglah Malaikat maut mengambil nyawanya, sembari berkata:


“Rumah itu bagimu,” lalu ia tersenyum, hingga pedihnya sakit siksaan sirna.


Asiah ra berkata:

“Ya Tuhan bangunkan istana bagiku di sisiMu dalam syurga…” (At-Tahriim: 11)


Jadilah dirimu seperti Asiah, dengan melihat melalui matahati dan mata
yaqinmu kemana pun pandangan, maka anda akan sabar apa pun bencana di sana.
Engkau keluar dari daya dan upayamu, engkau tidak meraih, tidak memberi,
tidak bergerak dan tidak diam kecuali dengan daya dan kekuatan Allah Azza
wa-Jalla.


Engkau fana’ di sisiNya, engkau serahkan seluruh perkaramu kepadaNya. Maka
anda meraih keserasian padaNya dalam dirimu. Maka jangan mengurus ketika
berada dalam urusan Allah, jangan mengatur ketika bersama aturanNya, jangan
memilih ketika bersama pilihanNya. Siapa pun yang tahu akan hal ini, tidak
akan mencari selain Dia, tak ada harapan selain Dia. Bagaimana orang yang
berakal sehat tidak menginginkan hal seperti ini? Sedangkan bersanding
dengan Allah Azza wa-Jalla tidak akan sempurna kecuali bersamaNya. []



*KH. Muhammad Luqman Hakim*
  • [keluarga-islam] (Ngaji of the Day) Siapa Yang Anda Prioritaskan? Ananto