Ananto
Thu, 04 Feb 2010 23:54:18 -0800
terkadang, suatu "pendapat" masih mengikuti "pendapatan"... sangat jarang "pendapat" berlawanan dari sumber "pendapatan"-nya...
salam, ananto On 2/5/10, hmd098 <hmd...@yahoo.co.uk> wrote: > > > > Assalamu'alaium, > > Menurut hemat saya, ga mesti bgtu juga, tergantung bagaimana sikap seorang > muslim dalm menyikapinya, bisa dgn sikap yang tunduk atau bisa juga > menyepelekan fatwa2 tsb. > > Sebetulnya, bagi kalangan Ulama2 tradisional di negeri kita, atau bagi > seorang muslim yang sdh faham betul ttg haram-halal-mubah-makruh, tidak > begitu memerlukan lagi fatwa2 dari MUI. > Dalam arti kata, walaupun MUI belum/tidak memfatwakan sesuatu secara rinci > dan tegas, Ulama2 tradisional umumnya sudah mengerti ini haram atau ini > halal, itu makruh apa itu mubah dsb. > > Justru keputusan fatwa MUI sebetulnya lebih ditujukan kepada masyarakat > awam biasa yang prinsipnya hanya ikut2an orang lain, bukan karena > keilmuannya. > Karena, walaupun secara sensus resmi pemerintah, bahwa di indonesia itu > masyarakat muslimnya lebih 90%, namun pada kenyataannya yang benar2 memahami > syariat islam itu sendiri kurang dari 20% saja. > apalagi yang 20% ini juga tidak semuanya tunduk, sebagian masih ada yg > melanggar syariat itu, dan hanya sebagian kecil yg masih menjalankannya. > Secara persentase, sebetulnya islam yang benar2 kaffah di indonesia itu > hanya kurang dari 10% dari penduduknya. > > Oleh karena itu semua dikembalikan lagi kepada manusia muslimnya masing2, > karena MUI juga bukan polisi yang siap menghukum bagi mereka yg melanggar > fatwanya. > Jadi pertanggung-jawaban seorang muslim hanya kepada Allah dan diriya > sendiri, baik itu dengan adanya Fatwa MUI ataupun tidak. > Karena, sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim (fardhu 'ain) untuk > menuntut ilmu ttg halal-haram (Al-Qur'an Hadits dan ittifak ulama) dalam > hidupnya hingga ke liang lahat..... > > Wassalam, > > --- In keluarga-islam@yahoogroups.com <keluarga-islam%40yahoogroups.com>, > Ananto <pratikno.ana...@...> wrote: > > > > karena tidak mempunyai massa, maka beban psikologis dalam mengeluarkan > fatwa > > berbeda dengan suatu lembaga yang sudah jelas mempunyai massa.... > > > > salam hangat, > > ananto > > > > On 2/4/10, hmd098 <hmd...@...> wrote: > > > > > > > > > > > > Assalamu'alaiku, > > > menurut hemat saya, MUI itu sudah mewakili Ulama khususnya Ulama2 di > > > Indonesia, wlpn mgkn tdk semua Ulama bergabung di MUI. > > > MUI memang bukan Parpol jadi ga membutuhkan Massa. > > > > > > Namun demikian, apa yg sdh difatwkan MUI sdh sejalan dengan syariat yg > > > dibawa oleh Islam, khusunya fatwa ttg foto2 pra wedding, rebonding, > > > infotement. > > > > > > Jadi semua kembali kpd Umat Islam sendiri, mw mematuhi fatwa tsb atau > > > tidak, krn pertanggung jawabnya hanya kepada Allah, bkn kpd MUI. > > > > > > wassalam, > > > Arland.JKT > > > > > > > > > > > > > >