keluarga-islam  

[keluarga-islam] Gus Dur: Kemajemukan Modal Membangun Bangsa

Ananto
Sun, 07 Feb 2010 18:05:07 -0800

Kemajemukan Modal Membangun Bangsa

Rabu, 27 Agustus 2003

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid


Bangsa kita sejak dulu sudah mejemuk dari sudut ras, kita mengenal paling
tidak dua ras utama, yaitu Melayu dan Austro Melanesia, yang satu berkulit
langsat dan yang satunya berkulit hitam, yang satu berambut lurus dan yang
satu berambut kriting. Kedua Ras itu hidup berdampingan secara damai, selama
berabad-abad. Kemudian datang ras Tionghoa yang sampai di kawasan ini
-minimal di pantai utara pulau Jawa- pada abad ke-13 Masehi. Ketika
kemudian, dalam abad ke-16 kapal-kapal layar Tionghoa ditarik pulang,
terputuslah hubungan antara masyarakat mereka yang beragam Islam dengan
daratan Tiongkok. Orang-orang Tionghoa itu segera diserap oleh "masyarakat
asli" dikawasan ini. Terjadilah kekosongan migrasi etnis Tionghoa selama 2
abad dan baru kemudian mereka "diimpor" kelompok-kelompok Tionghoa yang
beragam Budha dan Konghucu dari Tiongkok Timur dan Selatan.


Bahwa kemudian mereka dianggap ras tersendiri, di luar dari mereka yang
dianggap "ras asli", itu adalah perkembangan politik yang dipaksakan atas
kenyataan. Kebetulan sekali, anggapan "bukan asli" diperkuat dengan politik
negeri ini yang pada abad ke-20 masehi, masyarakat Tionghoa tidak diberi
kesempatan untuk menunjukkan kemahiran dibidang-bidang yang ada. Melainkan
hanya di bidang-bidang usaha. Di bidang politik, oleh rezim Orde Baru mereka
tidak diperkenankan langsung turut serta melainkan hanya "diayomi" melalui
pembiayaan oleh "oknum-oknum" yang berada dalam CSIS. Kedudukan mereka di
bidang politik sama dengan tempat mereka dalam kehidupan: "Sebagai istri
gelap yang diajak hidup bersama, tapi tidak pernah diperkenalkan kepada
siapapun dan tidak pernah diajak ke pesta-pesta." Namun karena sukses di
bidang usaha, mereka dianggap dan sering diperlakukan sebagai "yahudi" nya
Indonesia.


Sudah sepatutnyalah mereka kini diajak memperluas bidang-bidang kehidupan
dalam negara ini, sehingga kemudian dapat diminta turut bertanggung jawab
atas kehidupan bangsa secara keseluruhan. Walau demikian, diam-diam hal itu
telah terjadi dengan sendirinya, seperti dalam kasus seorang Tionghoa ahli
budaya Jawa yang kini menjadi Bupati di salah satu Kraton di pulau Jawa.
Dalam kasus-kasus Tionghoa –yang secara lecehan ataupun serius sering
disebut orang Cina-, tadi menunjukkan perlunya kita mengembangkan kearifan
lebih dari bangsa-bangsa lain di benua ini. Kearifan itu diperlukan untuk
menyanggah kemajemukan budaya bangsa, yang saat ini dihadapkan oleh proses
modernisasi bangsa ini, yang mengakibatkan anak-anak kita tidak lagi
mengenal siapa itu Ande-Ande Lumut, Malin Kundang, dan sebagainya tetapi
terus dijejali dengan tokoh-tokoh seperti Doraemon dan Satria Baja Hitam.


*****


Pengakuan akan kemajemukan budaya ini memang terkadang menyakitkan. Ambil
contoh penulis sendiri, seorang Muslim tradisional yang lahir di pesantren
dan menyakini kebenaran ajaran-ajaran yang diterimanya di tempat itu. Namun
ia harus menghormati agama-agama lain dan mencoba memahami ajaran-ajaran
mereka. Bahkan juga harus menghormati dan hidup berdampingan dengan sekian
pandangan yang berkembang dalam lingkungan agama sendiri, Islam. Harus
menghormati Muhammadiyah, Persis dan kejawen. Dengan mereka penulis harus
dapat hidup berdampingan tanpa saling merendahkan, yang bertentangan dengan
sikap eksklusif sebagian Muslimin yang berujung kepada peledakan bom di
Bali.


Dengan demikian menjadi nyata bahwa kemajemukan budaya tidak dapat dibatasi
hanya pada hubungan antar keyakinan dan pandangan belaka, melainkan juga
hubungan intern dalam masing-masing kelompok. Bahkan akhir-akhir inipun
hubungan intern kelompok juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan politik
-seperti yang terjadi di PKB dan PDI Perjuangan. Karenanya kita juga harus
cerdik dan cermat mengamati perkembangan tersebut. Di saat kedaulatan hukum
kita masih rapuh dan
sistem politik yang amburadul seperti sekarang ini. Penulis yakin kita dapat
menyelesaikan keadaan itu dengan berpegang kepada kemajemukan itu.


Kita harus tahu setiap kemunduran yang kita alami dalam kehidupan politik
saat ini, seperti hancurnya wibawa pemerintah dengan peristiwa pembelian
pesawat terbang Sukhoi dan peledakan bom di Hotel Marriott Jakarta. Tetapi
kemunduran itu diimbangi dengan dua buah kejadian penting, yaitu pilihan
Doktor Nurcholish Madjid untuk mementingkan kepemimpinan atas jabatan.
Demikian juga sikap para pecundang untuk pemilihan Gubernur di lima daerah
(Banten, DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur) yang menahan diri
tidak menggunakan kekuatan massa secara fisik." Walaupun terjadi banyak
kecurangan dan penggunaan uang dalam proses itu. Ini menunjukan bahwa hal
buruk maupun baik turut memberikan pengaruh pada proses pembangunan politik
kita.


*****


Semua hal di atas merunjuk kepada pentingnya kemajemukan dalam kehidupan
bangsa ini, sesuatu yang sangat bergantung kepada kearifan kita bersama saat
ini. Tentu saja pengorbanan hal-hal yang sebelumnya kita terima sebagai "
kebenaran kelompok" dalam bentuk sikap merelakan bagi kepentingan bersama
bangsa ini.


Walaupun sebenaranya pengorbanan ini sudah lama juga kita jalankan, seperi
kasus Keluarga Berencana (KB). KH. M. Bisri Sansyuri, Ra'is Aam PBNU waktu
itu, antara 1973 –1975 mengajak 6 orang temannya yang matang dalam
Fi'qh/hukum Islam untuk merumuskan kembali praktek-praktek pembatasan
kelahiran. Mereka melakukan perubahan rumusan, dengan menamakan praktek itu
sebagai Keluarga Berencana. Dengan perubahan itu, yang dapat diterima
hanyalah metode alat-alat dan obat yang tidak bertentangan dengan ajaran
Islam. Dengan melakukan hal itu, mereka merumuskan kembali kerja
merencanakan keluarga, yang mau tidak mau harus dilakukan kaum muslimin di
abad modern ini. Karena dihadapkan dengan biaya pendidikan yang semakin
mahal, pola hubungan warga masyarakat yang turut berubah dan perencanaan
ekonomi nasional yang menghendaki rasionalisasi jumlah tenaga kerja. Contoh
sederhana ini menunjukkan kepada kita, bahwa pandangan dan sikap lama harus
berbaur dengan pandangan dan sikap baru, dan itulah kenyataan yang harus
kita hadapi sekarang.


Sebuah cara lain dalam melakukannya dapat dilihat dalam penafsiran ulang
(re-interpretasi) ajaran-ajaran agama yang ada selama ini. Ketika nabi
Muhammad SAW mengatakan "Berkawin-kawinlah dan beranak-pinaklah kalian,
karena aku akan membanggakan kalian di muka umat-umat lain pada hari kiamat
kelak". (Tanakahu wa taktzuru fa inni mubahain bikumu ya umma al-qiyamah).
Maka kata "membanggakan" ini sekarang dapat diartikan sebagai kualitas umat,
bukan kuantitasnya.


Nah, kemajemukan pandangan dan sikap dalam bentuk berbeda-beda seperti
inilah yang kita namakan kemajemukan. Karena budaya kita memang susah
terbilang, maka dengan sendirinya kemajemukan itu telah ada dalam kehidupan
bangsa ini. Tetapi akan lebih mantap dan berwajah lebih lengkap, kalau hal
ini kita sadari dengan baik sebagai warga Negara yang mengetahui kebutuhan
hidup bersama, kebutuhan akan toleransi dan menghargai orang lain, sebagai
sebuah sikap hidup yang dimiliki sehari-hari. Dengan demikian, yang kita
perlukan adalah sikap inklusif bukanya sikap ekslusif dalam embina kehidupan
bersama. Memang mudah diungkapkan, namun sulit dilaksanakan.


RSCM Jakarta, 8 Agustus 2003


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."
  • [keluarga-islam] Gus Dur: Kemajemukan Modal Membangun Bangsa Ananto