Ananto
Sun, 07 Feb 2010 18:07:15 -0800
mas djoko, ana sepakat dengan antum... para tokoh2 seperti yg antum sebutkan di bawah ini harus terus digali, agar generasi penerus bisa mengambil keteladanannya...
salam hangat, ananto On 2/5/10, djoko pranyoto <djoko_prany...@yahoo.com> wrote: > > > > perlu dikaji kembali....kenapa tiada lagi sisa2 kebudayaan majapahit > sampai saat ini yang masih utuh, kenapa tiang2 saka guru majapahit ada di > keraton demak...??? > saya rasa ada penutupan penutupan sejarah didalam hal ini, juga kenapa syeh > siti jenar dianggap bukan wali, demikian pula cerita orang tua jaka tingkir > ki ageng pengging ?? > perlu dikaji dng seksama > wassallam > > > ------------------------------ > *From:* Ananto <pratikno.ana...@gmail.com> > *To:* keluarga-islam@yahoogroups.com; mencintai-is...@yahoogroups.com > *Sent:* Thu, February 4, 2010 5:54:14 PM > *Subject:* [keluarga-islam] (Ngaji of the Day) Adat atau Tradisi dalam > Beribadah (1) > > > > *Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1)* > > > > Setiap komunitas selalu mempunyai adat dan tradisi khas sesuai dengan > peradaban dan falsafah hidup mereka. Adat dan tradisi tersebut lahir sebagai > akibat dari dinamika dan interaksi yang berkembang di suatu komunitas > lingkungan masyarakat. Oleh karenanya, bisa dikatakan, adat dan tradisi > merupakan identitas dan ciri khas suatu komunitas. > > > Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat atau tradisi bermakna kebiasaan > perilaku yang dijumpai secara turun-temurun. Karena bermula dari kebiasaan > dan itu merupakan warisan dari pendahulu, maka akan terasa sangat ganjil > ketika hal itu tidak boleh dilakukan atau dilakukan tapi tidak sesuai dengan > kebiasaan yang berlaku. > > > Allah SWT menciptakan manusia dalam kemajemukan yang terdiri atas suku, > bangsa dan tersebar di berbagai tempat. Kemajemukan tersebut melahirkan adat > dan tradisi yang sangat beragam. Namun demikian manusia dibekali software > yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yaitu akal. Dengan akal inilah > manusia menjadi makhluk yang sangat terhormat dan diharapkan bisa menjadi > khalifah di muka bumi serta mampu menciptakan kreasi-kreasi baru yang > membawa kemaslahatan bagi sesama. Dengan kesempurnaan yang dimilikinya, > Allah SWT ‘menaruh harapan’ bahwa mereka mampu melakukan yang terbaik di > muka bumi. Semua itu sebagai amanah Allah SWT yang harus kita manifestasikan > untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Yang Maha Esa. > > > Masyarakat Indonesia memiliki beragam adat dan tradisi yang berbeda dengan > negara-negara lain, bahkan dari satu daerah ke daerah yang lain. Beragamnya > agama, bahasa dan budaya adalah keniscayaan dalam konteks keindonsiaan. > > > Ketika masuk ke Indonesia lewat Walisongo, Islam begitu ramah menyapa umat. > Tidak ada tindakan anarkis dan frontal melawan tradisi. Kelihaian Walisongo > mengakomodasi budaya setempat ke dalam ajaran-ajaran Islam, menampakkan > hasil yang luar biasa. Para masyarakat yang sebelumnya menjadi penganut kuat > ajaran dinamisme dan animisme, pelan-pelan berbondong-bondong menghadiri > majelis-majelis yang diselenggarakan Walisongo. Mereka hadir bukan karena > dipaksa, tapi karena sadar bahwa ajaran Islam sangat simpatik dan ‘patut’ > diikuti. > > > Itu hasil kreasi yang patut diapresiasi. Islam adalah agama yang mampu > berakumulasi, bahkan hampir bisa dikatakan tak pernah bermasalah dengan > budaya setempat. Bahkan budaya bisa didesain ulang atau dimodifikasi dengan > tampilan yang elegan menurut syara’ dan lebih berdayaguna demi meningkatkan > kasejahteraan hidup. Dengan demikian, kehadiran Islam di tengah masyarakat, > dimanapun dan sampai kapanpun, akan selalu menjadi rahmatan lil alamin. > > > Islam Mengakomodasi Adat > > > Adat atau tradisi yang dimaksud di sini adalah adat yang tumbuh dan > berkembang disuatu komunitas dab hal itu –secara prinsip- tidak terdapat > dalam ritual syariah Islam, baik pada masa Rasulullah SAW. > > > Adat atau tradisi semacam ini adalah sah-sah saja dan tak masalah. Tentunya > dengan catatan, adat atau tradisi tersebut tidak bertentangan dengan > nilai-nilai luhur Islam, mempunyai tujuan mulia dan disertai niat ibadah > karena Allah SWT. Dalam Kaidah fikih dikatakan, “al-Adah Muhakkamah ma lam > yukhalif al-Syar'” (Tradisi itu diperbolehkan selama tidak bertentangan > dengan dasar-dasar syariah). > > > Sahabat Abdullah bin Abbas mengatakan: Setiap sesuatu yang umat Islam > menganggap baik, maka menurut Allah baik juga, dan yang mereka anggap buruk, > maka buruk juga manurut Allah” (Diriwayatkan Al-Hakim) > > Ia juga berpesan: Sesungguhnya Allah melihat hati hambanya, selalu > ditemukan hati Muhammad SAW, sebaik-baiknya hati hambanya, lalu memilihnya > untuk-Nya, dan mengutusnya. Lalu melihat hati hambanya selain Muhammad, dan > ditemukan beberapa hati sahabatnya, lalu menjadikannya menteri bagi > nadi-Nya. Setiap suatu yang umat Islam menganggap baik, maka menurut Allah > baik juga, dan yang mereka anggap buruk, maka buruk juga menurut Allah” > (Diriwayatkan oleh Ahmad) > > > Dalam Hasiyah as-Sanady disebutkan, “Bahwa sesungguhnya sesuatu yang mubah > (tidak ada perintah dan tidak ada larangan) bisa menjadi amal ibadah selama > disertai niat baik. Pelakunya mendapatkan imbalan pahala atas amal tersebut > sebagaimana pahalanya orang-orang yang beribadah”. (Hasiyah as-Sanady, Jilid > 4, hal.368) > > > Imam Syafi’i memberikan batasan ideal tentang adat atau tradisi ini, > menurutnya, selama adat atau tradisi itu tidak bertentangan dengan > dasar-dasar syariat, itu hal terpuji. Artinya, agama memperbolehkannya. > Sebaliknya, jika adat atau tradisi tersebut bertentangan dengan dasar-dasar > syariat, hal itu dilarang dalam Islam. > > > Menurut Imam Syafi’i yang dinukil oleh Baihaqi dalam kitabnya Manakip As > Syafi’i lil Baihaqi: Hal baru (bid’ah) terbagi menjadi 2 (dua) macam. > Adakalanya hal baru itu bertentangan dengan Al-Qur'an, as-Sunnah, al-Atsar, > atau ijma Ulama. Itulah bid’ah yang tercela. Sedangkan hal baru yang tidak > bertentangan dengan dasar-dasar agama tersebut adalah bid’ah yang terpuji. > (Fathul Bari, karya Ibn Hajar, jilid 20, hal: 330) > > > > *KH. Fadlolan Musyaffa’ Mu’thi, MA* > > *Rais Syuriyah PCNU Mesir* > > > -- "...menyembah yang maha esa, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, mengasihi sesama..."