keluarga-islam  

[keluarga-islam] (Ngaji of the Day) Di Manakah Posisi Anda?

Ananto
Mon, 08 Feb 2010 17:05:18 -0800

*Di Manakah Posisi Anda?*

* *

*Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany - *Hari Juma’at pagi, 12 Rajab Akhir 545 H di
Pesantrennya. Jika anda menginginkan jadi raja dunia dan akhirat, maka
jadikanlah seluruh dirimu hanya untuk Allah Azza wa-Jalla, hingga dirimu
menjadi pemimpin dan pemuka atas dirimu dan atas yang lain. Sungguh aku
telah menasehatimu, dan aku benar-benar meluruskanmu maka terimalah
pembenaran dariku. Jika anda mendustai, maka anda berdusta, maka dusta itu
kembali padamu. Jika anda membenarkan, dan melakukan tindak kebenaran,
berarti anda benar dan kebenaran itu kembali bagimu, “Sebagaimana anda
beragama, maka agama itu milikmu…”.


Ambillah dariku obat bagi penyakit agamamu, amalkanlah, maka akan sembuh.


Orang terdahulu telah berkeliling mengitari timur hingga barat hanya untuk
mencari Wali-wali yang saleh, dimana mereka adalah dokter-dokter hati dan
dokter agama. Jika mereka dapatkan salah seorang dari mereka, maka mereka
mencari obat bagi agamanya.


Sedangkan anda dewasa ini, malah  membenci Ulama, Fuqoha’, para Wali, dimana
mereka itu adalah orang-orang yang mengajari adab dan mengajarkan
pengetahuan. Tidak aneh jika anda saat ini tidak menemukan obat itu.


Celakanya, setiap hari anda dapatkan pengetahuan dariku, obat dariku, dan
aku bangunkan fondasi, tetapi setiap hari pula kalian merusaknya. Aku
berikan obat padamu, tapi anda tidak mengamalkannya. Setiap hari kukatakan,
“Jangan makan makanan ini, karena di dalamnya ada racun. Makan saja yang
ini, karena di dalamnya ada obat. Tapi anda malah makan yang ada racunnya.
Sebentar lagi anda pasti merobohkan agama dan imanmu.


Aku memberikan nasehat padamu. Aku tidak takut dengan pedangmu. Juga tidak
sama sekali berharap emasmu. Siapa pun yang bersama Allah Azza wa-Jalla,
tidak akan lari karena jumlah banyak (yang  melawan) baik dari kalangan Jin,
Manusia, hamparan makhluk bumi, dan seluruh binatang buas lainnya.


Jangan sekadar bangga dengan para Syeikh, lalu anda tidak mengamalkan
ilmunya. Kalian semua adalah orang yang begitu tolol pada Allah Azza
wa-Jalla, pada RasulNya, pada orang-orang saleh, yang senantiasa teguh
bersamaNya dan ridlo atas tindakanNya. Seluruh keselamatan terletak pada
kerelaan hati atas rencanaNya, dan pendeknya angan-angan anda, disamping
zuhud di dunia. Jika anda  melihat bahwa diri anda sesungguhnya lemah, maka
cukuplah anda mengingat kematian dan pendek angan-angan. Rasulullah saw,
menceritakan tentang hadits Qudsy: “Tak ada yang lebih utama bagi yang
mendekat dari orang-orang yang mendekat kepadaKu  dibanding orang yang
melaksanakan fardlu yang Aku wajibkan pada mereka.


Dan senantiasa hambaKu mendekat kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah, hingga
Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka Aku adalah Pendengaran
baginya, Penglihatan, Tangan dan Pengokoh baginya. DenganKu ia mendengar,
dan denganKu ia melihat, dan denganKu ia memukul.”


Ia memandang seluruh perbuatannya bersama Allah Azza wa-Jalla, bersamaNya ia
keluar dari upayanya, kekuatannya, dan memandang dirinya dan lainnya, hingga
gerak dan upayanya serta kekuatannya bersama Allah Azza wa-Jalla. Tidak
bersama dirinya dan tidak bersama makhluk-makhlukNya. Ia orientasikan
dirinya, dunianya, akhiratnya, sebagai ketaatan kepada Allah Azza wa-Jalla,
apalagi pasti ketaatannya adalah taqarrubnya yang menjadi sebab cintanya
Allah Azza wa-Jalla kepadanya.


Dengan ketaatannya ia mencintai dan taqarrub. Dengan kemaksiaatan yang ada,
ia marah dan benci, serta menjauhi. Dengan taatnya ia bahagia, dan dengan
maksiat ia lari. Karena siapa yang berbuat buruk akan lari. Dengan jejak
syara’ ia raih kebajikan. Dengan kontra pada Allah ia dapatkan keburukan.
Siapa yang dalam upayanya tidak berselaras dengan aturan Ilahi maka ia
tergolong orang yang paling hancur.


Karena itu beramal dan tekunlah, tapi jangan anda bersandar pada amal. Orang
yang tidak pernah beramal ibadah ia senantiasa tama’. Dan orang yang
mengandalkan amalnya senantiasa kagum pada diri sendiri dan terpedaya.


Manusia ada yang berdiri antara dunia dan akhirat.

Ada yang berdiri antara syurga dan neraka.

Ada yang berdiri antara makhluq dan Khaliq.

Jika anda orang zuhud, posisi anda berada diantara dunia dan akhirat.

Jika anda orang yang takut pada Allah, posisi anda diantara syurga dan
neraka.

Jika anda orang ‘arif posisi anda berdiri antara makhluk dan Khaliq. Di satu
sisi anda melihat makhluk, dan disi lain anda Melihat Khaliq.


Anda mengenal mereka, dimana mereka  melihat situasi akhirat dan hisabnya,
serta seluruh apa yang ada di dalamnya. Tidak! Bahkan anda anda diberi tahu
apa yang anda saksikan dan anda lihat. Tak ada berita yang lebih nyata
dibanding melihat secara nyata. Ada kalangan yang sangat menunggu bertemu
Allah Azza wa-Jalla, mereka senantiasa berharap di seluruh waktunya. Mereka
tidak takut akan kematian, karena kematian sebagai sebab bertemu Allah Azza
wa-Jalla Sang Kekasih.  Berpisahlah sebelum engkau dipisahkan. Tinggalkan
sebelum engkau ditinggalkan. Hijrahlah sebelum dihijarhi oleh keluarga dan
seluruh makhluk. Raihlah apa yang berguna ketika kamu dikuburan. Bertobatlah
dari ambisi meraih hal-hal yang dibolehkan namun dengan cara menuruti nafsu.


Hai kaum Sufi, hati-hatilah dalam seluruh tingkahmu. Hati-hati itu adalah
pakaian agama. Carilah pakaianmu dariku bagi agamamu. Ikuti aku, karena aku
senantiasa teguh berpijak pada jejak rasulullah saw. Aku pengikutnya dalam
soal makanan, minuman, perkawinan dan perilakunya. Apa pun yang
ditunjukkannya menuju kepada Allah Azza wa-Jalla, senantiasa aku berserasi
demikian, hingga aku berselaras dengan kehendak allah Azza wa-Jalla, tanpa
pikir panjang. Hanya dengan memuji Allah, bahkan aku tak terlintas dengan
pujian dan cacianmu, dengan pemberian dan hambatanmu, dengan kebaikan maupun
kejahatanmu, dengan penerimaan maupun penolakanmu.


Anda memang bodoh. Dan orang bodoh tidak peduli dengan Allah Azza wa-Jalla.
Jika anda merasa menang dan bahagia, serta menyembah Allah Azza waJalla,
maka ibadahmu itu tertolak. Karena ibadahmu bersamaan dengan kebodohanmu,
sedangkan seluruh kebodohan itu merusak.


Nabi saw, bersabda:

“Siapa yang menyembah Allah Azza wa-Jalla dengan cara yang bodoh, maka unsur
yang merusak lebih banyak dibanding yang menimbulkan kebaikan.” (Ditakhrij
oleh al-‘Ajluny).


Anda tidak beruntung selama tidak mengikuti jejak Al-Qur’an dan Sunnah Nabi
saw. Sebagian Sufi mengatakan: “Siapa yang yang tidak punya guru, maka
gurunya adalah Iblis.”


Karena itu ikutilah jejak para Syeikh, para Ulama Billah, yang berpegang
teguh pada Kitab dan Sunnah, yang mengamalkan keduanya, dan berhusnudzonlah
kepada mereka. Anda belajar dari mereka dan beradablah yang sopan dengan
mereka serta keluarga mereka, anda akan bahagia. Sebaliknya jika anda tidak
mengikuti jejak Kitab dan Sunnah serta tidak berguru pada para Syeikh yang
arif, anda tidak akan beruntung selamanya.


Ingatlah kata-kata, “Siapa yang mengandalkan pikirannya, akan tersesat.”


Bersihkan dirimu dengan berguru pada para Syeikh yang lebih alim dibanding
anda, sibukkan dirimu untuk diperbaiki olehnya, baru kamu pindah ke
pembersihan berikutnya.


Nabi saw, bersabda:

“Mulailah dari dirimu, kemudian pada orang sekitarmu.” (Hr. Bukhari).

“Tak ada nilai sedekah sedangkan keluarga dekat sangat membutuhkannya.” (Hr
Ahmad).



*KH. Muhammad Luqman Hakim*


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."
  • [keluarga-islam] (Ngaji of the Day) Di Manakah Posisi Anda? Ananto