keluarga-islam  

[keluarga-islam] (Tokoh of the Day) KH. Sya'roni Ahmadi, Kudus - Jawa Tengah

Ananto
Mon, 08 Feb 2010 17:31:19 -0800

KH. Sya'roni Ahmadi, Kudus - Jawa Tengah




Potret Seorang Pendidik Agama Yang Ulung



Terlahir dari keluarga santri, sejak kecil kiai Sya’roni dikenal sebagai
anak yang gandrung mengkaji agama, mulai dari al-Quran sampai tauhid, fikih,
tasawuf dan sebagainya. Terbukti, meskipun berasal dari keluarga dari
ekonomi pas-pasan, beliau rajin mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan
di sekitar kota Kudus. Sya’roni kecil termasuk anak yang cerdas. Pada usia
11 tahun berliau sudah hafal *kitab Alfiyah Ibnu Malik *bahkan hafal
al-Quran pada usianya yang ke-14.



Kiai Sya’roni merupakan anak yang ke tujuh dari delapan bersaudara. Beliau
ditinggalkan ibundanya semenjak kecil tepatnya ketika berusia 8 tahun.
Sepeninggal ibunya kiai Sya’roni di asuh oleh sang ayah. Namun masa ini pun
tidak berlangsung lama. Karena menginjak usiannya yang ke 13 tahun, kiai
Sya’roni ditinggal oleh ayahnya. Lengkap sudah duka kiai Sya’roni karena
sejak saat itu ia menjadi anak yatim piatu.


Dalam pendidikan formalnya beliau sempat mengenyam pendidikan di Madrasah
Diniyah Mu’awanah di Madrasah Ma’ahid lama -(pada masa KH. Muchit).
Sedangkan pendidikan non formalnya, baliau banyak belajar dari satu tempat
ke tempat lain. Untuk belajar al-Qur’an utamanya Qira’ah al-Sab’iyyah
berliau berguru kepada KH. Arwani Amin Kudus yang mengasuh pondok Yanbu’ul
Qur’an. Beliau juga sempat berguru kepada KH. Turaikhan Ajjuhri. Sedangkan
guru-gurunya yang lain adalah KH. Turmudzi dan KH. Asnawi dan lain-lain.


Kiai Sya’roni banyak dikenal sebagai sosok yang menguasai ilmu agama secara
interdisipliner. Beliau tidak hanya mahir dalam ilmu tafsir, tetapi juga
dalam ushul al-fiqh, fikih, mantiq, balaghah dan sebagainya. Dalam hal
al-Qur’an, baliau tidak hanya pandai membacanya namun juga pintar
melagukannya bahkan beliau menjadi dewan Musabawah Tilawatil al-Qur’an (MTQ)
tingkat nasional.


Setelah sekian lama bergumul dengan ilmu dan pengajian-pengajian, kiai
Sya’roni akhirnya menikah pada tahun 1962. Beliau menyunting seorang gadis
bernama Afifah. Dari pernikahan itu beliau deianugerahi 8 anak putra, 2 anak
laki-laki dan 6 anak perempuan.


Model dan Strategi Dakwah


Setelah sekian lama belajar, Kiai Sya’roni mulai berdakwah di masyarakat
dalam usianya yang sangat muda. Dalam melaksanakan dakwah Islamiyah ini,
Kiai Sya’roni menggunakan dua model. *Pertama *yakni model dakwah di
masjid-masjid atau di sebuah rumah warga yang dijadikan tempat untuk
mengaji; *kedua *adalah pengajian umum atau tabligh akbar.


Metode pertama ini biasanya dipakai dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar
tempat tinggalnya. Pengajian yang dilakukan sudah ditetapkan jadwalnya dan
proses pengajarannya pun dilakukan secara berkesinambungan. Sedang model
kedua biasanya dipakai untuk berdakwah di luar daerah. Hal ini karena di
samping masalah waktu yang tidak memungkinkan untuk berdakwah dengan model
pertama juga terkadang karena permintaan dari penduduk setempat.


Dalam melakukan dakwah Islamiyah, sekitar tahun 1960 sampai 1970-an, Kiai
Sya’roni dikenal sebagai tokoh yang sangat keras. Apalagi saat itu adalah
masa-masa meruyaknya ideologi komunisme yang dilancarkan PKI.


Gaya yang “keras” ini selalu dipakai Kiai Sya’roni dalam berbagai kesempatan
karena keadaan waktu itu mengandaikan demikian. Baik ketika *khutbah *maupun
pengajian umum atau *tabligh akbar *beliau selalu tampil dengan mengambil
hukum yang tegas ketika dihadapkan pada suatu permasalahan yang terjadi
dalam masyarakat (*waqi’iyyah*). Konon gaya seperti ini sering dipakai KH.
Turaikhan dalam berdakwah.


Namun sekitar periode 1980-an, kiai Sya’roni mulai banting setir. Gaya
dakwah yang selama ini dilakukan dengan nada keras dirubah total dengan
memakai gaya yang melunak. Perubahan gaya dalam berdakwah ini dilakukan
dengan pendekatan komparatif yakni merujuk kepada pergeseran masyarakat dari
waktu ke waktu serta logika kebutuhan masyarakat yang tiap saat berubah.
Karena masyarakat dari waktu ke waktu berubah maka metode berdakwah pun
mesti berubah


Latar Politik


Zaman penjajahan Belanda Kiai Sya’roni sempat terlibat dalam perang perang
gerilya dalam rangka pengusiran Belanda dari muka bumi Indonesia. Tahun 1965
yakni masa pemberontakan PKI Kiai Sya’roni juga merupakan salah seorang yang
menjadi target operasi yang dilakukan oleh PKI. Hal ini karena Kiai Sya’roni
merupakan sosok yang rajin berkampanye dan membuat pengajian-pengajian. Kiai
Sya’roni dengan tegas menolak ideologi komunisme PKI.


Dalam konteks kepartaian, pada 1955 Kiai Sya’roni merupakan sosok yang rajin
berkampanye untuk partai ka’bah. Sampai dengan tahun 1970-an kiai Sya’roni
juga sering terlibat aktif dalam partai NU sampai akhirnya NU mengambil
keputusan kembali ke Khittah 1926 dalam Muktamar Situbondo. Dan beliau
merupakan orang NU yang mendukung kembali khittah NU 1926. Adapun pasca
khittah NU kiai Sya’roni juga sempat terlibat di Partai persatuan
Pembangunan (PPP). Namun beliau hanya bermain di belakang layar dan tidak
berada di garis struktural kepartaian. Beliau cenderung mengambil posisi
netral.


Langkah ini menjadikan kiai Sya’roni mampu diterima oleh semua kalangan.
Hubungan dengan pemerintah daerah yang waktu itu didominasi oleh Golkar
tetap terjaga dengan baik. Ditambah lagi dengan pembawaan beliau yang lunak
dan halus. Baliau juga sangat menghindari kepentingan partai dalam setiap
pengajian yang dilakukan. Kegiatan kultural kiai Sya’ronipun tetap berjalan
dengan baik. Bahkan beliau menjadi sosok yang disegani, baik oleh pemerintah
daerah maupun kelompok-kelompok yang lain.


Karya-Karya


Kiai Sya’roni merupakan sosok yang bukan hanya pandai membaca kitab dan
berpidato, namun beliau juga tergolong produktif dalam berkarya. Tercatat
beliau kerap menulis, mensyarah dan menterjemah beberapa kitab yang
digunakan untuk mengajar. Kitab-kitab tersebut banyak dikonsumsi pleh
madrasah-madrasah di kota Kudus. Adapun karya-karya tersebut adalah:



1.

*Al-Faraid
al-Saniyah
*



Kitab ini banyak mengupas tentang doktrin *ahlusunnah wal
jama’ah.*Penyusunan kitab ini konon diilhami oleh kitab Bariqat
al-Muhammadiyah ‘ala
Tariqat al-Ahmadiyah milik KH. Muhammadun Pondowan, Tayu, Pati yang saat itu
rajin berpidato dan mengisi pengajian untuk menolak gerakan Muhammadiyah di
kota Kudus. Kiai Sya’roni menulis kitab ini selama kurang lebih dua tahun.

 2.

*Faidl al-Asany*



Kitab ini terbagi ke dalam tiga juz dan banyak membahas tentang *Qira’ah
al-Sab’iyyah*.

 3.

*Al-Tashrih al-Yasir fi ‘ilmi al-Tafsir*



Kitab ini banyak mengupas tentang tafsir al-Qur’an mulai dari pembacaan,
lafal-lafalnya, sanad, arti-arti yang berhubungan dengan hukum dan
sebagainya. Kitab setebal 79 halaman ini ditulis pada tahun 1972 M/1392 H

 4.

*Tarjamah Tarsil al-Turuqat*



Kitab ini membahas ilmu manthiq

 5.

*Tarjamah al-Ashriyyah*



Kitab ini membahas ilmu Ushul al-Fiqh yang banyak mengupas tentang lafadz
‘amm dan khas, mujmal dan mubayyan, ijma, qiyas dan sebagainya. Kitab ini
disusun pada hari ahad siang tanggal 29 Juni 1986 M/21 Syawal 1406 H

 6.

*Qira’ah al-Ashriyyah*



Kitab ini terdiri dari tiga juz. Penyusunan kitab ini dimaksudkan,
sebagaimana penuturan kiai Sya’roni, untuk memudahkan para santri atau para
siswa dalam mempelajari kitab kuning.



Kekinian


Selama perjuangannya di Kudus, kiai Sya’roni telah memberikan banyak hal.
Tradisi santri yang sekarang ini lekat dengan masyarakat Kudus rasanya tak
bisa dilepaskan dari jasa beliau. Pengajian rumahan atau di masjid-masjid
seperti di masjid al-Aqsha Menara Kudus masih rutin dijalankan. Pengajian
tersebut diantaranya adalah membaca al-Qur’an dan tafsir al-Qur’an. Adapun
waktunya ba’da shubuh, pukul 7-8 pagi dan setelah maghrib. Dalam setiap
pengajiannya, kiai Sya’roni juga mampu men-setting iklim toleransi antara
beberapa kelompok yang ada, sebut saja kaum Nahdliyyin dan Muhammadiyah.


Dalam bidang pengembangan fisik, kiai Sya’roni banyak memberikan jasa dalam
mengembangkan madrasah-madrasah di kota Kudus, seperti Madrasa Banat NU,
Muallimat, Qudsiyyah, Tasywiq al-Thullab al-Salafiyah (TBS), dan Madrasah
Diniyah Keradenan Kudus. Kiai Sya’roni juga tercatat sebagai penasehat Rumah
Sakit Islam YAKIS dan menjabat mustasyar NU cabang Kudus. Beliau juga
mengisi pengajian rutin tiap ahad pagi di Masjid Jama’ah Haji Kudus (JKH).



Disarikan dari Jurnal Inovasi dan berbagai sumber


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

<<syaroni ahmadi.jpg>>

  • [keluarga-islam] (Tokoh of the Day) KH. Sya'roni Ahmadi, Kudus - Jawa Tengah Ananto