klub-mawar  

[klub-mawar] Generasi yang (Nyaris) Hilang

samiaji-bintang
Tue, 11 Jan 2005 20:37:55 -0800

Laporan Utama Tempo, No. 46/XXXIII/10 - 16 Jan 2005


Anak - Anak Yang Hilang
Yang Terampas dan yang Putus

Ajakan untuk mengadopsi anak Aceh beredar luas. Pemerintah 
melarang. Isu Kristenisasi sempat merebak.

--------------------------------------------------------------------------------

RUMAHKU TENGGELAM. Di atas kanvas berukuran 30 x 30 
sentimeter, Helmi, 7 tahun, menuliskan kalimat itu. Dengan 
pensil warna, ia melukis sebuah pemandangan yang murung: 
tiga ekor burung terbang di atas sebuah rumah. Air laut 
naik hingga batas atap. Tiga ekor ayam jago berlarian. 
Gelombang tsunami menerkam gubuk itu. Humbalang air 
dilukis dengan cat cokelat muda. "Ini gambar rumah saya. 
Saya tak bisa menggambar," katanya pelan. Di 
sekelilingnya, anak-anak lain ribut bersenda-gurau di 
halaman belakang kompleks Se-kolah Calon Tamtama, Kodam 
Iskandar Muda, Banda Aceh.

Yang lain berayun-ayun atau nangkring di dahan pohon besar 
yang menjulur nyaris menyentuh tanah. Ada pula yang sibuk 
berebutan memperagakan gerakan Tarzan bergelayut di pohon.

Di tempat yang lain, Iqbal, 12 tahun, menyantap sepiring 
nasi dan ikan sarden. Bocah itu gering. Kulitnya hitam 
terbakar. Segores luka mengering terlihat di pipi kanannya 
yang tirus.

Ia melamun. Ketika badai tsunami itu datang, ia sedang 
bermain di Pesantren Ibnu Hasyim, Lamjame, Aceh Besar. 
"Ada api datang," kata orang-orang. Ternyata sebuah kompor 
jatuh akibat gempa dan membakar rumah. Lalu, orang 
berteriak "air, air". Iqbal tak paham: apakah orang 
meminta api dipadamkan, atau ada bah tiba.

Kemudian air menggunung. Ia hanyut. Ia merengkuh dahan 
kayu. Memanjat sebuah toko. Jatuh. Tersapu air. Lalu 
selamat setelah terdampar di sebuah rumah berlantai dua.

Bersama warga yang tak tewas, ia berjalan ke arah Mata Ie, 
dataran yang lebih tinggi di Kecamatan Darul Imarah, Aceh 
Besar. Ia sebatang kara. Di kamp pengungsi Ketapang, ia 
sempat bertemu dengan dua orang kawannya dari pesantren. 
"Tapi mereka sudah dijemput oleh saudaranya," ujarnya. 
Kini Iqbal ditampung oleh Yayasan Pusaka Indonesia, badan 
yang bekerja sama dengan Unicef, badan Perserikatan 
Bangsa-Bangsa yang mengurusi anak-anak. "Saya tak tahu 
bagaimana kabar emak," tuturnya.

Anak-anak Aceh kini bermukim di tempat-tempat penampungan 
pengungsi. Mereka dikumpulkan oleh berbagai organisasi dan 
relawan. Terserak dan tak semuanya tercatat.

Hiruk-pikuk memang menghabiskan semuanya. Juga anak-anak 
itu. Itulah sebabnya kemudian berkembang isu sebagian anak 
Aceh sudah terlempar jauh: ke luar provinsi, diadopsi 
secara legal dan tak tercatat. "Ada indikasi mereka 
dievakuasi tanpa pencatatan yang jelas," kata Jose Rizal 
Jurnalis, dokter dari jaringan relawan Mer-C.

Belum jelas benar berapa banyak anak Aceh yang sudah 
meninggalkan kampung halamannya—entah karena adopsi, atau 
ditolong sementara untuk kemudian dikembalikan lagi.

Tapi potensinya bukan sedikit. Juru bicara Unicef, John 
Budd, memperkirakan jumlah mereka yang telantar tanpa 
keluarga dan rumah mencapai 35 ribu anak. Komisi Nasional 
Perlindungan Anak memperkirakan 100-300 ribu.

Cerita bukan tak ada. Di Medan, relawan menemukan seorang 
anak dibawa oleh orang yang bukan keluarga si anak. Kepada 
petugas, "sang orang tua" mengaku itu anaknya. Tapi 
ternyata tak ada kemiripan wajah.

Di kota yang sama, seorang ibu bernama Haerani asal Aceh 
Besar, di penampungan yang dikelola Yayasan Aceh Sepakat 
di Jalan Medan-Binjai Km 11,7, bercerita. Katanya, ada 
seorang Belgia yang hendak membawa putri keduanya, Husnul 
Masita, yang masih duduk di kelas 3 SMP. Husnul hendak 
dibawa ke Surabaya dan dijanjikan mendapat pendidikan 
lebih baik. Sesaat Haerani sempat mengiyakan. Tapi 
kemudian lima aktivis Partai Keadilan Sejahtera di posko 
itu mencegahnya dengan alasan agama yang berbeda (lihat, 
Dan Dwiki pun Begadang).

Mungkin karena pelbagai kasus itu, pemerintah bertindak. 
Wakil Presiden Jusuf Kalla melarang anak Aceh diadopsi. 
Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah membuat seruan anak-anak 
di bawah 16 tahun tak boleh dibawa keluar Aceh. Kalau 
memang diperlukan, paling banter mereka hanya boleh ke 
Medan. Misalnya untuk menjalani pengobatan yang tak 
mungkin diberikan di Aceh. Untuk itu telah ditunjuk 
sembilan rumah sakit untuk merawat. Semua biaya ditanggung 
negara.

Bahkan istri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kristiani, 
mengembalikan Muhammad Dede Nirwanda, bocah berusia 13 
tahun asal Lhok Nga, Aceh Besar, yang sebelumnya akan ia 
adopsi. Bocah ini ditemukan Ibu Presiden di antara 
rombongan pengungsi yang baru mendarat di Medan, Sumatera 
Utara, beberapa hari setelah bencana.

Sebelum ada larangan itu, orang berduyun-duyun menyatakan 
diri berminat mengadopsi anak Aceh. Pos pendaftaran adopsi 
yang dibuka Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, 
diserbu peminat. Di Padang, ratusan orang dari pelosok 
Sumatera menyemut ingin mengambil anak. Di Jakarta, 
beberapa selebriti menyatakan ingin mengambil anak Aceh. 
Juga pesantren-pesantren besar di Jawa Barat dan Timur. 
Ketua Biro Informasi dan Pengungsi Yayasan Aceh 
Sepakat—sebuah lembaga swadaya yang bermarkas di Medan—M. 
Natsir Amin mencatat lebih dari seribu keluarga yang 
mendaftar ingin mengambil anak Tanah Serambi.

Tapi ada anak Aceh yang telanjur "diboyong" ke luar 
provinsi. Azhari, 10 tahun, misalnya, dibawa Ahmad Fauzy, 
wiraswasta asal Jakarta. Semula Fauzy berniat mengadopsi 
Azhari, tapi batal karena sang nenek berkeras akan 
mengasuh bocah itu (lihat, Film Robot Tinggal Separuh).

Di Jakarta ada pula kisah Emmy Hafild, Sekretaris Jenderal 
Transparency Indonesia. Sepekan setelah bencana, Emmy 
bersama tim relawan dari berbagai lembaga swadaya 
masyarakat mengunjungi Banda Aceh.

Melihat begitu banyak anak-anak korban luka membutuhkan 
perawatan yang tak mungkin diberikan di Aceh, Emmy 
berinisiatif membawa mereka ke Jakarta. Sialnya, ketika 
pesawat sudah datang di Bandar Udara Iskandar Muda, salah 
satu bayi yang masih diinfus "hilang". Emmy, dalam keadaan 
panik, beruntung bertemu dengan seorang wartawan yang 
kemudian memperkenalkannya dengan Brigjen Bambang Darmono, 
Komandan Satgas TNI yang bertugas di Aceh.

Kepada Bambang, ia meminta bantuan untuk menemukan anak 
yang hendak dibawanya ke Jakarta itu. Kebetulan, si anak 
dibawa ke bandar udara dengan menumpang salah satu mobil 
milik Rumah Sakit Kesehatan Kodam (Kesdam). Anak itu dapat 
ditemukan beberapa jam kemudian, dan akhirnya bisa dibawa 
ke Jakarta. "Saya bawa 15 anak," kata Emmy. Untuk 
menghindari ekses-ekses yang mungkin muncul karena 
relokasi anak, Emmy memboyong serta keluarga mereka. 
"Mereka dibawa untuk diobati," ujarnya.

Di luar kasus Emmy, tak mudah mengontrol ekses relokasi 
anak. Untungnya, pemerintah bertindak cepat. Soalnya, 
relokasi anak tanpa pencatatan mengandung banyak risiko. 
Di antaranya adalah bahaya penjualan anak. Memang belum 
ada cukup bukti soal hal ini, kecuali desas-desus yang 
beredar dari SMS ke SMS. Tapi kelompok Islam punya 
kekhawatiran yang lebih spesifik soal adopsi anak: 
Kristenisasi.

Itulah sebabnya, di Aceh sebagian relawan Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS) tak segan-segan memasang selebaran kertas 
kuning berlambang simbol partai itu di tempat-tempat umum. 
Bunyinya: "Ja-ngan biarkan anak-anak yatim Aceh diambil 
orang Kristen/misionaris." Di bawahnya ditulis alamat 
kontak dan nomor telepon tempat pengungsian yang dikelola 
PKS.

Ustad Suharsono dari PKS Aceh mengatakan langkah itu 
dilakukannya karena pihaknya mendengar kabar masuknya para 
misionaris untuk mengambil anak-anak Aceh. "Sebagai sesama 
muslim, kami harus mencegahnya," ujarnya kepada wartawan 
Tempo, Setiyardi. Upaya makin gencar mereka jalankan 
karena, menurut dia, bahkan sudah ada tiga anak yang 
hilang dari kamp pengungsian Mata Ie karena dibawa orang 
yang mengaku famili si anak. "Tapi kami tak punya data 
nama, alamat, dan umur anak-anak itu. Keadaannya serba 
darurat," tuturnya.

Betulkah?

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), 
Pendeta Nathan Setiabudi, dengan tegas menolaknya. "Kalau 
ada kelompok Kristen di dalam dan luar PGI melakukan itu, 
laporkan saja," katanya. Pihaknya akan melakukan tindakan 
sebagai sesama gereja maupun bersama-sama pemerintah untuk 
menegur, atau bila perlu memberi sanksi. "Tapi, kalau 
tidak ada, sebaiknya mereka yang menyebarkan isu ini juga 
diminta bertanggung jawab," ujarnya. "Kami sangat risi, 
dan ini mengganggu kita semua sebagai bangsa yang tengah 
sama-sama prihatin."

Romo I. Ismartono S.Y. dari Konferensi Wali Gereja 
Indonesia (KWI) menyatakan hal serupa. Ia mengakui pernah 
kedatangan salah satu lembaga swadaya yang meminta 
bantuan, termasuk untuk anak-anak. Hal yang selama ini 
biasa terjadi setiap kali ada musibah yang perlu ditangani 
bersama. "Tapi tidak untuk mengadopsi." Kini KWI bahkan 
sudah membuat seruan internal sebagai pegangan umatnya.

Serba salah memang. Membiarkan anak-anak Aceh termangu 
dalam penderitaan di kota yang kini menjadi kubangan 
sampah tentu tak patut. Tapi membawa mereka ke luar Aceh 
rawan penyimpangan. Membawa anak-anak itu keluar dari 
lokasi musibah untuk memperoleh perawatan, menjalani 
proses penyembuhan, atau menghindari gangguan mental lebih 
parah memang baik. "Tapi, ini yang rawan," kata Ketua 
Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi.

Kuncinya sebetulnya adalah pencatatan. Itulah sebabnya 
kini beberapa lembaga swadaya masyarakat supersibuk 
mendata kembali anak-anak Aceh yang kehilangan sanak 
kerabatnya. Tujuannya untuk menyatukan kembali 
(regrouping) keluarga yang tercerai-berai.

Pusat informasi Child Center Aceh adalah salah satunya. Di 
lokasi pengungsi di halaman stasiun TVRI Banda Aceh, tiap 
hari posko lembaga itu dikerubuti ratusan orang. Mereka 
umumnya orang tua dan keluarga korban yang kehilangan 
anak. Banyak dari mereka membawa serta foto anaknya. Yang 
tak punya gambar melengkapi diri dengan data lengkap, dari 
nama sampai ciri-ciri si upik atau buyung yang hilang. 
"Tolong beri tahu kami kalau anak ini ditemukan," ujar 
Burhan, 41 tahun, kepada seorang relawan.

Warga Punge Jurong itu begitu gundah dengan nasib anaknya 
yang berumur 12 tahun. Anaknya hilang saat gelombang 
menyapu rumahnya di perkampungan padat penduduk itu. 
Seperti para orang tua lain, pencarian Burhan terhadap 
anaknya yang hilang bermuara ke pos-pos pengaduan seperti 
itu. Sejumlah orang tua yang kehilangan anaknya mengaku 
angkat tangan. Pencarian si buah hati sudah mereka lakukan 
ke setiap pelosok Banda Aceh. "Saya juga sudah mencari di 
antara tumpukan mayat," ujarnya. Suaranya berat. Matanya 
berkaca-kaca.

Menurut Koordinator Child Center Aceh, Rinaldi, baru 
sehari mereka buka, sudah lebih dari 200 keluarga 
melaporkan kehilangan anak mereka. Data dan gambar 175 
anak telantar pun dikumpulkan. "Semua kami catat," 
ujarnya. Sekitar 20 posko serupa juga akan dibangun oleh 
LSM semacam dengan bantuan Unicef di seluruh wilayah Aceh.

Menurut Rinaldi, ada dua langkah yang dilakukan lembaganya 
untuk mengumpulkan data anak hilang. Pertama, membuka pos 
pengaduan di kantong-kantong pengungsian. Dan kedua, 
menyisir lokasi pengungsian untuk mendata anak yang 
kehilangan orang tua.

Lembaga itu juga akan menampung sementara anak-anak hilang 
dengan bekerja sama dengan Departemen Sosial. Setidaknya, 
anak-anak itu akan diupayakan kecukupan sandang-pangannya. 
"Mereka juga akan kita fasilitasi sarana bermain," ujar 
Rinaldi. Bagi anak yang orang tuanya benar-benar hilang, 
lembaga itu akan menyerahkannya kepada pemerintah.

Rinaldi dan kawan-kawan kini berlomba dengan waktu. 
Terlalu banyak anak-anak yang harus ditolong, terlalu 
sedikit sukarelawan yang tersedia. Pencatatan yang 
dipelopori Departemen Sosial juga baru dimulai beberapa 
hari terakhir.

Sementara itu, nasib kanak-kanak itu makin tak menentu. 
Anak-anak Aceh—meminjam Chairil Anwar—yang terampas dan 
yang putus.

AZ/Y. Tomi Aryanto, Nezar Patria, Setiyardi, dan Abdi 
Purnomo (Aceh), Jojo Raharjo (Medan), Badriah (Jakarta)

========================================================================================
Diskon s.d. 50 % Akses Internet TELKOMNet-Instan untuk wilayah Jawa Timur.
Informasi selengkapnya di www.telkomnetinstan.com
========================================================================================
 


 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/klub-mawar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/