samiaji-bintang
Tue, 18 Jan 2005 11:08:54 -0800
Assalamu'alaikum
Setelah bencana, ujian terberat negeri ini ternyata
penanganan pascabencana. Seperti tsunami, gelombang
bantuan dan kehadiran asing besar-besaran justru
menimbulkan persoalan yang tak kalah mencemaskan. Tapi,
lagi2, tak banyak yang bisa saya lakukan... Semoga badai
ujian ini cepat berlalu.
Laporan Utama TEMPO, No. 47/XXXIII/17 - 23 Jan 2005
No Free Lunch, Teuku
Kehadiran ribuan pasukan asing di Nanggroe Aceh Darussalam
mengundang curiga. Keruwetan muncul karena ketidakjelasan
koordinasi. Tak ada makan siang gratis?
--------------------------------------------------------------------------------
RAPAT koordinasi tim nasional penanggulangan bencana Aceh
di pendapa Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Selasa malam
pekan lalu, baru saja usai. Jarum jam telah bergeser dari
pukul 22.30. Sebagian peserta rapat masih belum beranjak
dari kursi. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi
Shihab tampak risau: ada yang mengganjal di benaknya.
Ketua harian tim nasional itu lalu memanggil Mayjen
Bambang Darmono, komandan tim bantuan TNI untuk
penanggulangan bencana. Diajaknya pula Panglima Kodam
Iskandar Muda, Mayjen Endang Suwarya; dan Kepala Staf
Operasi Tim Nasional, Budi Atmadi Adiputro.
"Ada banyak kekhawatiran tentang banyaknya pasukan asing
dan kontrol atas pergerakan mereka," kata Alwi. "Apakah
benar mereka hanya boleh di Banda Aceh?"
Menjepit sebatang rokok Sampoerna A Mild yang tinggal
separuh di jarinya, Endang angkat bicara. "Pembatasan itu
tak mungkin diberlakukan, Pak," kata Endang.
Belum lagi Pangdam selesai bicara, datang Kolonel Makmur
Syah, komandan tim bantuan TNI wilayah Banda Aceh.
"Mohon izin, Komandan," ujarnya tergopoh. "Ada relawan
melihat satu tim Korea membangun kamp di Naheun."
"Naheun? Itu daerah rawan!"
"Ya, Pak. Mereka membangun kamp di dekat masjid."
Yang lain memandang dengan sorot mata khawatir ke arah
Endang.
"Kita sisir besok. Juga daerah sekitarnya."
***
DESA Lambaro, Kecamatan Lam-no, Aceh Jaya, pukul 14.30,
Sela-sa siang lalu. Sebuah helikopter Amerika mendarat di
kawasan terpencil yang tak bisa dijangkau dengan angkutan
darat. Jembatan dan jalan-jalan telah putus. Lamno baru
tersentuh bantuan pada hari kelima setelah bencana.
Helikopter itu mendarat di jalan, bukan di helipad yang
telah disiapkan TNI di dekat lapangan sepak bola. Padahal
di landasan itu heli asing biasa bersandar.
Kabarnya, helikopter AS menjauh karena ingin menghindari
campur tangan TNI dalam distribusi bantuan. Sebelumnya,
beberapa kali helikopter tentara asing memang menggagalkan
pendaratan begitu tahu ada pasukan TNI menunggu di
jalanan.
Siang itu, meskipun helikopter men-darat di tempat yang
tidak biasa, tetap saja ada enam TNI bersenjata organik
mendekat. Mereka membawa mobil bak terbuka untuk menampung
bantuan yang datang dari helikopter AS.
Para pengungsi berkerumun. Anak-anak, orang tua, dan
perempuan. Berlari. Riuh. Mereka melambaikan tangan.
"Mister, mister," kata mereka menyambut helikopter. Suara
baling-baling ca-pung besi itu memekakkan telinga.
Seketika awak heli langsung menurunkan kotak makanan. Di
atas boks itu tertulis "USAID, Not for Sale". USAID adalah
badan Amerika yang mengurus bantuan. Kotak yang jatuh
diperebutkan warga.
Melihat masyarakat tidak mengumpulkan kotak-kotak tersebut
ke mobil TNI, tentara gusar. "Jangan dibawa lari, jangan
dibawa lari," kata mereka. Orang-orang tak peduli.
Dor! Dor! Dor! TNI mengeluarkan tembakan ke udara empat
kali. Penduduk kaget dan berlarian. Panik. Begitu tahu itu
hanya tembakan peringatan, warga kembali mendekati
helikopter AS. Mereka kembali memperebutkan bantuan.
Menyaksikan hal itu, seorang TNI bersiap kembali
meletuskan senapannya ke udara. Tapi seorang awak Amerika
menepis tangan si tentara. "Don't do that," kata si bule
sambil menggeleng-gelengkan telapak tangannya. Tentara itu
gusar, meski kemudian menurunkan senapannya. Makanan
kembali dibagikan.
Ketika helikopter AS itu akhirnya berlalu, seorang TNI
menggerutu, "Saya tidak butuh barang-barang ini. Semua
untuk masyarakat, tapi jangan dibawa lari
sendiri-sendiri."
***
HARI-hari terakhir, Banda Aceh menjelma menjadi bandar
inter-nasional yang sibuk. Bermacam-macam etnis, ras, dan
warna kulit tumpah-ruah di kota tua yang porak-poranda
akibat bencana gempa bumi dan gelombang tsunami tiga pekan
lalu itu. Pasukan asing hilir-mudik dengan truk-truk
pengangkut, alat berat, dan kendaraan medis. Prajurit
berpakaian loreng aneka motif bekerja di rumah-rumah sakit
umum dan klinik darurat. Sebagian membantu evakuasi, yang
lain membangun instalasi air bersih.
Kesibukan luar biasa juga berlangsung di Bandar Udara
Sultan Iskandar Muda. Beberapa menit sekali, helikopter
Seahawk milik marinir Amerika Serikat, Chinook dari
Singapura dan Australia, datang dan pergi silih berganti.
Capung-capung besi itu mengangkut bahan makanan dan
logistik lalu mendistribusikannya ke kamp pengungsian di
berbagai wilayah bencana. Menara kontrol pun kerja ekstra.
Banyak pesawat tak terlayani.
Hingga akhir pekan lalu, jumlah warga asing di Aceh telah
mendekati 3.000 personel (lihat infografik). Hampir
separuhnya berasal dari Amerika Serikat. Jumlah orang
asing pun semakin banyak dengan membanjirnya relawan sipil
maupun staf lembaga internasional yang bertugas di
berbagai bidang, mulai dari pengerahan bantuan pangan
hingga misi pendidikan dan konsultasi psikologis bagi para
korban.
Dalam catatan Kolonel Makmur Syah, jumlah relawan sipil di
Banda Aceh yang berasal dari 31 negara itu adalah 1.453
orang. Staf resmi dengan paspor diplomatik 326 orang.
Pasukan asing 1.552 personel, ditambah seratusan lagi
legiun asal Australia yang tersebar di seluruh Banda Aceh.
Selama ini pasukan Amerika Serikat beroperasi di sepanjang
pantai barat Aceh, meliputi wilayah Aceh Jaya dan
Meulaboh. Bahkan, menurut komandan mereka, Kolonel Marinir
David Kelley, pasukan mereka selama ini dengan bebas bisa
menjangkau para pengungsi di wilayah Blang Pidie hingga
Tapak Tuan. "Kami bebas ke mana saja, selama ada
koordinasi," ujarnya di hanggar Landasan Udara Sultan
Iskandar Muda.
Banyaknya orang asing di Banda Aceh merisaukan banyak
pihak. Satu di antaranya adalah Direktur Cetro, Smita
Notosusanto. Katanya, situasi ini mengingatkan pada Timor
Timur saat referendum Agustus 1999. "Saya khawatir,
bagaimana mungkin mengontrol mereka dengan efektif,"
ujarnya. Belakangan di Aceh muncul pula William Nessen,
wartawan AS yang dulu pernah dideportasi karena dituduh
berpihak pada orang GAM.
Di Jakarta, beberapa pensiunan jenderal dan kalangan
nasionalis menggalang pertemuan di Gedung Cawang Kencana,
Cililitan, Jakarta Timur, pekan lalu. Mereka
mempertanyakan kebijakan Presiden Yudhoyono yang
memperbolehkan pasukan asing datang. Apalagi kini masih
ada masalah separatisme di Aceh. Bukan tak mungkin,
kedatangan pasukan asing itu dimanfaatkan Gerakan Aceh
Merdeka (GAM). Hasil pertemuan itu lalu dibisikkan kepada
SBY melalui orang-orang dekatnya.
"Seharusnya pemerintah yang mengatur dan membatasi jumlah
orang dan pasukan asing yang boleh masuk, jangan dibiarkan
saja," kata mantan Wakil Kepala Staf AD, Letjen (Purn.)
Kiki Syahnakri.
Menurut Kiki, wilayah Indonesia kini seperti telanjang.
Dengan satelit yang canggih, negara-negara asing mampu
mengintip wilayah Indonesia dengan resolusi tinggi.
Kekayaan alam dan kandungan mineral Indonesia bisa
dipetakan dengan seksama. Di darat, "Penggalangan,
pembuatan jaringan dan informasi bisa dilakukan," ujarnya.
Kalangan Islam mempertanyakan kehadiran pasukan asing
terutama Amerika Serikat dan Australia. Menurut anggota
Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad al-Khatthat, misi
kemanusiaan AS di Aceh hanyalah upaya untuk mendongkrak
popularitas George Bush setelah gagal dalam operasi di
Irak. "Kedatangan mereka bisa menjadi ancaman baru bagi
stabilitas Indonesia," ujarnya.
Berita harian AS The Washington Post pekan lalu, tentang
300 orang anak yatim piatu yang dievakuasi dari Aceh oleh
World Help, kelompok misionaris asal Amerika Serikat,
membangkitkan kembali isu sensitif yang sepekan sebelumnya
sudah sempat mereda.
Jika benar anak-anak itu dievakuasi pasukan asing, "Mereka
(AS) telah mencederai komitmen bantuan kemanusiaan yang
mereka berikan," kata Ketua MPR dan mantan Presiden Partai
Keadilan Sejahtera, Hidayat Nur Wahid. "Memang tidak ada
makan siang yang gratis," kata Hidayat lagi.
Itulah sebabnya, dalam acara temu alumni Pesantren Gontor
di Jakarta Convention Center Jumat dua pekan lalu, Hidayat
mempertanyakan perihal pasukan asing itu langsung kepada
Presiden Yudhoyono. Ia bahkan juga menelepon Wakil
Presiden Jusuf Kalla. "Pasukan asing itu harus segera
dibatasi. Satu bulan sudah cukup," kata Hidayat. Menurut
dia, baik Yudhoyono maupun Kalla menyetujui usul itu.
Pasukan asing akhirnya dibatasi hanya bekerja hingga Maret
2005.
"Peran pasukan dan relawan asing akan dikurangi," kata
Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. "Presiden berharap peran
dalam negeri dalam penanganan bencana di Aceh semakin
menonjol," ujarnya. Namun batas waktu ini sempat
dipertanyakan koordinator penanggulangan bencana PBB, Jan
Egelan. "Batas waktu itu di tangan korban," katanya.
Pengamat militer Kusnanto Anggoro menganggap ketakutan
terhadap pasukan asing terlalu berlebihan. "Orang
Indonesia terlalu xenofobia," katanya. Menurut Kusnanto,
pasukan asing yang bertugas di Aceh adalah pasukan
non-combatant, yang punya aturan sendiri. Pendapat ini
disetujui mantan anggota MPR Ghazali Abbas Adan. "Kalau
disuruh pulang, kita bisa apa?"
Duta Besar AS untuk Indonesia, Lyn Pascoe, juga membantah
soal "udang di balik pasukan asing" itu. "It's
ridicu-lous," kata Pascoe kepada Faisal Assegaf dari
Tempo.
***
SOALNYA adalah koordinasi. Tapi itulah yang tidak
sepenuhnya ter-jadi di Aceh. Hingga Ahad pekan lalu
pengaturan pasukan asing itu tak jelas. Saat
telekonferensi dengan Presiden, Endang Suwarya sempat
mengeluh soal tidak adanya data lengkap pasukan bule yang
datang. Kepala Polda Aceh, Irjen Bachrumsyah, mengeluhkan
hal yang sama. Ia lalu meminta pemerintah menentukan
pejabat yang bertanggung jawab mengkoordinasi pasukan
asing. "Apakah Menteri Luar Negeri atau penguasa darurat
sipil daerah?" katanya.
Yudhoyono lalu menetapkan Panglima TNI Jenderal
Endriartono Sutarto untuk mengkoordinasi pasukan luar
negeri yang membantu penanganan bencana. Presiden menepis
kekhawatiran sejumlah kalangan dengan mengatakan
keberadaan pasukan asing itu hanya untuk tugas
kemanusiaan. "Tak perlu ada kekhawatiran itu. Kita yang
mengatur mereka ada di mana dan tugasnya apa," kata SBY.
Bekas Panglima Komando Operasi Darurat Militer Aceh,
Mayjen Bambang Dharmono, lalu ditunjuk sebagai perwira
pelaksana koordinasi pasukan asing. Di tiap satuan asing,
TNI pun menempatkan perwira penghubung. Untuk mereduksi
kecurigaan, pemerintah telah pula meminta ketegasan sikap
mereka. Duta besar enam negara yang terkait dengan
per-undingan damai GAM-Indonesia—Singapura, Libya,
Inggris, Jepang, Swedia, dan AS—sempat dipanggil Presiden.
Aparat TNI di lapangan yang ditemui Tempo mengakui sulit
memetakan penyebaran pasukan asing. Selain membangun tenda
di berbagai tempat di Kota Banda Aceh, banyak pasukan dan
relawan yang masuk ke wilayah-wilayah bencana yang tak
mungkin dijangkau dengan jalan darat.
Ada memang kontingen asing yang mematuhi aturan TNI.
Misalnya kontingen asal Malaysia. Penyebaran mereka
dibatasi dan dilaporkan kepada TNI. Menurut wakil ketua
tim bantuan Malaysia, Letnan Kolonel Wan Arifin, tim
mereka berjumlah 78 militer dan 115 sipil. Dalam waktu
dekat mereka akan mendatangkan lagi 400 personel zeni
tempur. "Kami bekerja atas undangan pemerintah Indonesia,"
kata Wan Arifin.
Menurut mantan Kepala Staf Teritorial TNI, Letjen (Purn.)
Agus Widjojo, kekacauan soal pengaturan pasukan dan
relawan asing terjadi karena ketidaksiapan pemerintah
dalam menanggulangi bencana. "Kedatangan bantuan asing
mendahului tergelarnya struktur dan organisasi yang
disusun pemerintah," ujarnya. Hingga minggu kedua
pasca-bencana, pemerintah masih kehilangan orientasi dan
tak punya agenda kerja yang jelas.
***
LAPORAN Kolonel Makmur Syah tentang kontingen Korea yang
membuka kamp di Naheun membuat TNI bergegas. Rabu siang
konferensi pers digelar di pendapa Gubernur Aceh. Kepala
staf operasi tim nasional, Budi Atmadi Adiputro,
membacakan peraturan baru yang menyerukan semua warga
asing agar mendaftar di posko Departemen Luar Negeri di
pendapa tersebut, termasuk mengisi formulir kegiatan
mereka. Wartawan juga harus mendaftarkan diri dan meminta
izin jika ingin meliput ke luar Banda Aceh dan Meulaboh.
Sebagian wartawan bule menggerutu. "Pemerintah berada
dalam posisi sulit. Kami tidak ingin mereka terluka karena
ulah pihak yang tidak bertanggung jawab," kata Budi.
Buah simalakama: membiarkan pasukan asing, mendatangkan
curiga. Nyatanya Aceh membutuhkan uluran tangan mereka.
Panglima TNI Jenderal (TNI) Endriartono Sutarto tampaknya
memilih yang kedua. "Jangan gara-gara kita takut mereka
membawa senjata untuk GAM, ribuan orang Aceh mati
kelaparan. Saya lebih baik dipecat daripada harus melarang
pasukan asing masuk untuk tugas kemanusiaan," kata
Jenderal Tarto.
AZ/Hanibal W.Y. Wijayanta, Sapto Pradityo, dan Y. Tomi
Aryanto (Banda Aceh)
--------------------------------------------------------------------------------
Pasukan 'Gapie' di Bumi Rencong
Singapura: 965 personel, 6 helikopter Chinook.
Amerika Serikat: 13 ribu personel (hanya 36 personel di
Banda Aceh. Sisanya di Meulaboh dan terbanyak berjaga di
kapal induk), 15 helikopter Seahawk, 2 helikopter
Stallion, 4 helikopter Sea Knight, 1 kapal induk USS
Abraham Lincoln, 8 kapal perang, di antaranya USS Shoup,
USS Bentold, USS Bonhomme Richard, USS Duluth, USS San
Jose.
Australia: 912 personel, 3 helikopter Bell, 1 kapal induk
HMAS Kanimbla, 2 helikopter Sea King, 2 kapal pendarat, 6
C-130 Hercules, 1 Boeing 707, 1 pesawat ringan Beech King
Air 350.
Malaysia: 265 personel (akan menambah 400 lagi pasukan
zeni), 2 helikopter S1 Nuri.
Brunei: 8 personel, 1 pesawat.
Prancis: 41 personel, 1 pesawat bolpin.
Rusia: 150 personel, 2 pesawat.
Jerman: 6 personel.
Jepang: 970 personel.
Pakistan: 75 personel.
Irak: 1 pesawat.
Selandia Baru: 1 pesawat QW 190.
PBB: 11 helikopter Super Puma.
Copyright @ tempointeraktif
========================================================================================
Akses Internet TELKOMNet-Instan beri Diskon s.d. 50 % khusus untuk wilayah Jawa
Timur.
Informasi selengkapnya di www.telkomnetinstan.com atau hub 0800-1-INSTAN
(467826)
========================================================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/klub-mawar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/