> Fyi: > Hari Sabtu lalu, saya lihat dalam sebuah workshop Linux di Bandung > ada 5 ibu ditest menginstal Linux Nusantara. Di luar dugaan saya, > semua ibu itu sukses menginstal dan menggunakan Linux, > tidak terlihat panik, apalagi bingung. > > Ketika ibu-ibu itu ditanya bagaimana kesannya? > Ternyata ibu-ibu itu merasa lebih mudah dan senang dengan Linux > dibanding menggunakan Windows, hanya karena *berbahasa Indonesia*. > > Dari survey kecil membuktikan bahwa Bahasa Indonesia > *masih dibutuhkan* oleh pengguna komputer di Indonesia :-) > meskipun tetap ada pro dan kontra-nya. > > Rus
yap, bahasa indonesia memang penting sekali... karena itu adalah salah satu identitas bangsa ini. mungkin yang jadi masalah sekarang bukan `apakah perlu translasi ke bahasa indonesia...?` tapi bagaimana agar translasi tersebut mempunyai `standar` contohnya menterjemahkan `Harddisk` sebahgai `Harddisk` (sebagai kata serapan sebagaimana aslinya) biasanya ada di majalah2, dan ada yang menterjemahkan `Harddisk` sebagai `Cakram` misalnya di menu gnome Sistem->Administrasi di ubuntu. Tentu perbedaan tersebut kadang membuat kebingungan pada pengguna akhir. Saya juga menemukan perbedaan penterjemahan di aplikasi dengan di dokumentasi aplikasi tsb. menurut saya mungkin yang diperlukan adalah kamus serapan istilah ICT. dan guide buat para penerjemah. dan yang lebih penting dari itu adalah bagaimana caranya agar kamus dan guide itu dibuat semudah mungkin, jadi buat yang mau coba2 menterjemahkan nggak harus berlama2 baca dokumen puluhan ato bahkan ratusan halaman guide tsb *ngobrolin bahasa jadi inget sumpah pemuda* Salam -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

