arief dani
Sat, 23 Dec 2006 19:04:45 -0800
Maulana Jalaluddin Rumi, Menari di Depan Tuhan
"AKAN tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan makam kita tegak di
jantung kota. Gelombang demi gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita,
menggemakan ucapan-ucapan kita." Itulah ucapan Jalaluddin Rumi pada putranya,
Sultan Walad, di suatu pagi. Dan waktu kemudian berlayar, melintasi tahun dan
abad. Konya seakan terlelap dalam debu sejarah. "Tetapi, kota Anatolia Tengah
ini tetap berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi," tulis Talat Said
Halman, peneliti karya-karya mistik Rumi.
Kenyataannya memang demikian. Lebih dari 7 abad, Rumi bak bayangan yang abadi
mengawal Konya, terutama untuk pada pengikutnya, the whirling dervishes, para
darwis yang menari. Setiap tahun, dari tanggal 2-17 Desember, jutaan peziarah
menyemut menuju Konya. Dari delapan penjuru angin mereka berarak untuk
memperingati kematian Rumi, 727 tahun silam.
Siapakah sesungguhnya makhluk ini, yang telah menegakkan sebuah pilar di
tengah khazanah keagamaan Islam dan silang sengketa paham? "Dialah penyair
mistik terbesar sepanjang zaman," kata orientalis Inggris Reynold A Nicholson.
"Ia bukan nabi, tetapi ia mampu menulis kitab suci," seru Jami, penyair Persia
Klasik, tentang karya Rumi,Matsnawi.
Gandhi pernah mengutip kata-katanya. Rembrandt mengabadikannya dikanvas,
Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair Pakistan, sekali waktu pernah berdendang,
"Maulana mengubah tanah menjadi madu.... Aku mabuk oleh anggurnya; aku hidup
dari napasnya." Bahkan, Paus Yohanes XXIII, pada 1958 menuliskan pesan khusus:
"Atas nama dunia Katolik, saya menundukkan kepala penuh hormat mengenang Rumi."
Besar dalam kembara
Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini wilayah Afganistan. Ia
Putra Bahauddin Walad, ulama dan mistikus termasyhur, yang diusir dari kota
Balkh tatkala ia berumur 12 tahun. Pengusiran itu buntut perbedaan pendapat
antara Sultan dan Walad.
Keluarga ini kemudian tinggal di Aleppo (Damaskus), dan di situ kebeliaan
Jalaluddin diisi oleh guru-guru bahasa Arab yang tersohor. Tak lama di Damakus,
keluarga ini pindah ke Laranda, kota di Anatolia Tengah, atas permintaan Sultan
Seljuk Alauddin Kaykobad.
Konon, Kaykobad membujuk dalam sebuah surat kepada Walad, "Kendati saya tak
pernah menundukkan kepala kepada seorang pun, saya siap menjadi pelayan dan
pengikut setia Anda." Di kota ini ibu Jalaluddin, Mu'min Khatum, meninggal
dunia. Tak lama kemudian, dalam usia 18 tahun, Jalaluddin menikah. 1226, putra
pertama Jalaluddin, Sultan Walad, lahir. Setahun kemudian, keluarga ini pindah
ke Konya, 100 Km dari Laranda. Di sini, Bahauddin Walad mengajar di madrasah.
1229, anak kedua Jalaluddin, Alauddin, lahir. Dua tahun kemudian, dalam usia 82
tahun, Bahaudin Walad meninggal dunia.
Era baru pun dialami Jalaluddin. Dia menggantikan Walad, dan mengajarkan
ilmu-ilmu ketuhanan tradisional, tanpa menyentuh mistik. Setahun setelah
kematian ayahnya, suatu pagi, madrasahnya kedatangan tamu, Burhannuddin
Muhaqiq, yang ternyata murid terkasih Walad. Dan ketika menyadari sang guru
telah tiada, Muhaqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddin. Burhanuddin pun
menggembleng muridnya dengan latihan tasawuf yang telah dimatangkan selama 4
abad terakhir oleh para sufi, dan beberapa kali meminta dia ke Damakus untuk
menambah lmu. 8 tahun menggembleng, 1240, Burhanuddin kembali ke Kayseri.
Jalaluddin Rumi pun menggembleng diri sendiri.
Cinta adalah menari
Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin sudah berada di atas semua
ulama di Konya. Ilmu yang dia timba dari kitab-kitab Persia, Arab, Turki,
Yunani dan Ibrani, membuat dia nyaris ensiklopedis. Gelar Maulana Rumi (Guru
bangsa Rum) pun dia raih. Tapi, di sebuah senja Oktober, sehabis pulang dari
madrasah, seseorang yang tak dia kenal, menjegat langkahnya, dan
menanyakan satu hal. Mendengar pertanyaan itu, Rumi langsung pingsan!
Sebuah riwayat mengatakan, orang tak dikenal itu bertanya, "Siapa yang lebih
agung, Muhammad Rasulullah yang berdoa, 'Kami tak mengenal-Mu seperti
seharusnya' atau seorang sufi Persia, Bayazid Bisthami yang berkata, 'Subhani,
mahasuci diriku, betapa agungnya
kekuasaanku'. Pertanyaan mistikus Syamsuddin Tabriz itu mengubah hidup Rumi. Dia kemudian tak lagi terpisahkan dari Syams. Dan di bawah pengaruh Syams, ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah, tanpa batas, dan kini, mulai menyukai musik. Mereka menghabiskan hari bersama-sama, dan menurut riwayat, selama berbulan-bulan mereka dapat bertahan hidup tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, khusuk menuju Cinta Ilahiah. Tapi hal ini tak lama. Kecemburuan warga Konya, membuat Syams pergi. Dan saat Syams kembali, warga membunuhnya. Rumi kehilangan, kehilangan terbesar yang dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari.Tapi, suatu pagi, seorang pandai besi membuat Jalaluddin menari. Pukulan penempa besi itu, Shalahuddin, membuat dia ekstase, dan tanpa sadar mengucapkan puisi-puisi mistis, yang berisi ketakjuban pada pengalaman syatahat. Rumi pun kemudian bersabahat dengan Shalahuddin, yang kemudian menggantikan posisi Syams. Dan era menari pun dimulai Rumi, menari sambil memadahkan syair-syair cinta Ilahi. "Tarian para darwis itulah yang kemudian menjadi semacam bentuk ratapan Rumi atas kehilangan Syams," jelas Talat. Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah berhenti menari, karena dia tak pernah berhenti mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang mencintai jadi yang dicintai.(Aulia A Muhammad) Copyright © 2004 SUARA MERDEKA Undangan Workshop RUMI, Whirling Dervishes ( Tari Spiritual SAMA, Rumi) UNDANGAN KAJIAN LEPAS KERJA MASJID BAITUL IHSAN BANK INDONESIA, JL. tHAMRIN / JL. BUDI KEMULIAAN. Tema: " Ekspresi Seni Para Pecinta " Menampilkan Whirling Darvishes Jalaludin Rumi Presentasi Workshop Tari "SAMA" Whirling Dervishes Mari Kemari, Datang..Datanglah Mari kemari datanglah siapapun dirimu. Pengelana, Peragu, dan Pecinta mari..kemari datanglah Tak penting kau percaya atau tidak.. Mari, kemari datanglah Kami bukanlah caravan yang patah hati ... atau pintu-pintu dari keputus asa-an, Mari kemari datanglah... Meski kau telah jatuh ribuan kali, Meski kau telah patahkan ribuan janji, Mari kemari datang... datanglah sekali lagi ( Mawlana Jalaludin Rumi ) Waktu: Selasa Tgl 26 Desember 2006, mulai pukul 16.45 sd menjelang Maghrib, dan (jika dirasa perlu) dilanjutkan 18.30 sd menjelang Isya utk diskusi tanya jawab. Venue : Masjid Baitul Ihsan, Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jl.Budi Kemuliaan Jakarta Pusat, Ruang Utama dan Ruang Kelas Lt. Basement. Peserta : Umum Biaya : TIDAK DIPUNGUT BIAYA Wasalam, arief __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]