majelismuda  

[M3B] Makan Dengan Kesadaran

arief dani
Thu, 18 Jan 2007 08:04:24 -0800

Makan Dengan Kesadaran
Pandangannya Syaikh Naqshbandi Terhadap Makanan
Dari The Golden Chain, Naqshbandi Way
Mawlana Syaikh Hisyam kabbani ar-Rabbani
www.mevlanasufi.blogspot.com
   
  
Bismillah hirRohman nirRohim
   
  Mawlana Syaikh Bahaudin Naqsyband, Imam at Tariqah  (semoga Allah  swt 
mensucikan jiwanya) Beliau mengikuti jalan yang shaleh, terutama dalam hal tata 
cara makannya.  Beliau mengambil segala jenis pencegahan sehubungan dengan 
makanannya.  Beliau hanya mau makan dari barley yang ditanamnya sendiri.  
Beliau akan memanennya, menggilingnya, membuat adonan, menanak dan 
memanggangnya dengan tangannya sendiri.  

  Semua ulama dan para pencari di masanya membuat jalan mereka menuju rumahnya, 
agar bisa makan di mejanya dan mendapatkan berkah dari makanannya.   Syaikh 
Naqshbandi mencapai suatu kesempurnaan dalam hal penghematan; di musim dingin, 
beliau hanya meletakkan selembar karpet tua di lantai rumahnya dan ini tidak 
memberi perlindungan dari udara dingin yang menusuk.  Di musim panas beliau 
meletakkan tikar yang sangat tipis di lantai.  Beliau mencintai orang yang 
miskin dan membutuhkan.  Beliau mendorong para pengikutnya untuk mencari nafkah 
dengan cara yang halal, yaitu dengan membanting tulang. 
   
  Beliau mendorong mereka untuk membagikan uangnya kepada fakir miskin.  Beliau 
memasak untuk fakir miskin dan mengundang mereka untuk makan bersama.  Beliau 
melayani mereka dengan tangannya sendiri yang suci dan mendorong mereka  agar 
tetap berada di Hadirat Allah.  Jika salah seorang di antara mereka memasukkan 
makanan ke dalam mulutnya dengan cara yang tidak baik, beliau akan menegurnya, 
melalui pandangan spiritualnya terhadap apa yang telah mereka lakukan dan 
mendorong mereka untuk tetap ingat kepada Allah swt ketika sedang makan.  
   
  Beliau mengajarkan bahwa, Salah satu pintu yang paling penting menuju ke 
Hadirat Allah adalah Makan dengan Kesadaran.  Makanan memberikan kekuatan bagi 
tubuh, dan makan dengan kesadaran memberikan kesucian bagi tubuh.
   
  Suatu saat beliau diundang ke sebuah kota bernama Ghaziat di mana salah 
seorang muridnya telah menyiapkan makanan baginya.  Ketika mereka duduk untuk 
makan, beliau tidak menyentuh makanannya.  Tuan rumah menjadi terkejut.  Syah 
Naqsyband berkata, “Wahai anakku, Aku ingin tahu bagaimana engkau menyiapkan 
makanan ini.  Sejak engkau membuat adonan dan memasaknya sampai engkau 
menyajikannya, engkau berada dalam keadaan marah.  Makanan in bercampur dengan 
kemarahan itu.  Jika kita memakan makanan itu, Setan akan menemukan jalan untuk 
masuk melaluinya dan menyebarkan seluruh sifat buruknya ke seluruh tubuh kita.”
   
  Di waktu yang lain beliau diundang ke kota Herat oleh rajanya, Raja Hussain. 
Raja Hussain sangat senang dengan kunjungan Syah Naqsyband dan memberikan pesta 
besar baginya.  Raja mengundang semua mentrinya, Syaikh-Syaikh dari kerajaannya 
dan seluruh tokoh terhormat.  Beliau berkata, “Makanlah makanan ini.  Ini 
adalah makanan yang murni, yang dibuat dari uang yang halal yang kudapat dari 
warisan ayahku.”  Semua orang makan kecuali Syah Naqsyband, hal ini mendorong 
Syaikh ul-Islam pada saat itu, Qutb ad-din, untuk bertanya, “Wahai Syaikh kami, 
mengapa engkau tidak makan?”  
   
  Syah Naqsyband berkata, “Aku mempunyai seorang hakim tempat Aku 
berkonsultasi.  Aku bertanya kepadanya dan hakim itu berkata kepadaku, ‘Wahai 
anakku, mengenai makanan ini terdapat dua kemungkinan.  Jika makanan ini tidak 
halal dan engkau tidak makan, bila engkau ditanya engkau dapat mengatakan Aku 
datang ke meja seorang raja tetapi Aku tidak makan.  Maka engkau akan selamat 
karena engkau tidak makan.  Tetapi bila engkau makan dan engkau ditanya, maka 
apa yang akan kau katakan? Maka engkau tidak akan selamat.’  
   
  Pada saat itu,  Qutb ad-Din begitu terkesan dengan kata-kata ini dan tubuhnya 
mulai bergetar.  Beliau harus meminta izin kepada raja untuk menghentikan 
makannya.  Raja sangat heran dan bertanya, “Apa yang harus kita lakukan dengan 
semua makanan ini?”  Syah Naqsyband berkata, “Jika ada keraguan mengenai 
kesucian makanan ini, lebih baik berikan kepada fakir miskin.  Kebutuhan mereka 
akan makanan akan membuatnya halal bagi mereka.  Jika seperti yang engkau 
katakan, makanan ini halal, maka akan lebih banyak lagi berkah dalam pemberian 
makanan ini sebagai sedekah kepada mereka yang membutuhkan daripada menjamu 
orang-orang yang tidak benar-benar membutuhkannya.” 
   
  Sebagian besar hari-harinya dijalani dengan berpuasa.  Jika seorang tamu 
mendatanginya dan beliau mempunyai sesuatu yang bisa ditawarkan kepadanya, maka 
beliau akan duduk menemaninya, membatalkan puasanya dan makan bersamanya.  
Beliau berkata kepada para pengikutnya bahwa para Sahabat Rasulullah saw biasa 
melakukan hal yang sama.  Syaikh Abul Hasan al-Kharqani qs berkata dalam 
bukunya, Prinsip-Prinsip Thariqat dan Prinsip-Prinsip dalam Meraih Makrifat, 
   
  "Jagalah keharmonisan dengan para sahabat, tetapi tidak dalam berbuat dosa.  
Ini berarti bahwa jika engkau sedang berpuasa, lalu ada seseorang yang 
berkunjung sebagai teman, maka engkau harus duduk bersamanya dan makan 
bersamanya demi menjaga adab dalam berteman dengannya.  Salah satu prinsip 
dalam puasa, atau ibadah lainnya adalah menyembunyikan apa yang dilakukan oleh 
seseorang.  Jika seseorang membukanya, misalnya dengan berkata kepada tamunya 
bahwa dia sedang berpuasa, maka kebanggaan bisa masuk ke dalam dirinya sehingga 
menghancurkan puasanya.  Inilah alasan di balik prinsip tersebut.
   
  Suatu hari beliau diberikan seekor ikan yang telah dimasak sebagai hadiah.  
Di sekitarnya terdapat banyak orang miskin, di antara mereka terdapat seorang 
anak yang sangat shaleh dan sedang berpuasa.  Syah Naqsyband memberikan ikan 
itu kepada orang-orang miskin dan mengatakan kepada mereka, “Silakan duduk dan 
makan,” demikian pula kepada anak yang sedang berpuasa itu, “Duduk dan 
makanlah.”  Anak itu menolak.  Beliau berkata lagi, “Batalkan puasamu dan 
makanlah,“ lagi-lagi anak itu menolak.  
   
  Beliau bertanya kepadanya, “Bagaimana jika Aku memberimu salah satu di antara 
hari-hariku di bulan Ramadhan?  Maukah engkau duduk dan makan?”  Sekali lagi 
dia menolak.  Beliau berkata kepadanya, “Bagaimana jika Aku memberimu seluruh 
Ramadhanku?” Namun masih saja dia menolak.  Beliau berkata, “Bayazid al-Bistami 
pernah suatu kali dibebani orang sepertimu.”  Sejak saat itu anak itu terlihat 
berpaling untuk mengejar kehidupan duniawi.  Dia tidak pernah berpuasa dan 
tidak pernah beribadah lagi. 
   
  Wa min Allah at Tawfiq
   
  wassalam, arief hamdani
Rabbani Sufi Institute of Indonesia
( Institute for Sufi Meditation & Spreading The Teaching of Sufi Master )
  www.rabbani-sufi.blogspot.com

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]