Abu Tilmidz
Thu, 26 Jul 2007 17:20:26 -0700
JAMA’ATUT TABLIGH Semangat Dakwah Tanpa Ilmu
Al Ustadz Muhammad Ali Ismah Al Maidani
(Bagian 3)
Ketahuilah, mereka memiliki dua pertemuan rutin di malam Selasa dan Rabu.
Pertemuan pertama untuk orang-orang yang pulang dari khuruj. Pada pertemuan
pertama dihadirkan di hadapan mereka orang-orang yang ingin diberi semangat
untuk khuruj bersama mereka atau untuk mempengaruhi mereka. Pertemuan kedua
untuk menata khuruj pada waktu Ashar di hari Rabu. Amir pertemuan berkata
kepada salah seorang yang telah khuruj –agar yang baru dan para pendengar
mengetahui– : “Berapa hari Anda khuruj.” Yang khuruj menjawab: “Saya khuruj
selama 4 bulan di jalan Allah.” Sang amir berkata : “Masya Allah! Di mana Anda
habiskan semua waktu Anda itu.” Yang khuruj menjawab : “10 hari di
negeri-negeri Teluk, 20 hari di belantara Afrika, 1 bulan di Eropa, 1 bulan di
Amerika Selatan, 1 bulan di Asia Timur, India, dan Pakistan.” Maka sang amir
pertemuan berkata (perhatikan ucapannya) : “Masya Allah! Anda adalah dai dan
ketahuilah dai itu seperti awan yang
datang ke bumi turun berupa air hujan kemudian menyirami mereka. Berbeda
dengan ulama, mereka itu ibarat sumur, jika Anda merasa haus Anda harus
menempuh perjalanan sejauh 1 mil untuk mendatangi sumur itu maka Anda akan mati
dulu sebelum sampai ke sumur tersebut. Bahkan mungkin Anda tidak bisa minum
karena timba yang digunakan untuk mengambilnya tidak ada. Dan kalau Anda ingin
minum maka Anda harus datang ke pinggir sumur kemudian menimba dulu baru engkau
bisa minum.”
Apakah Anda merasa tergugah –seperti tergugahnya para pendengar cerita itu–
yang lebih memuliakan dai dari orang yang alim! Maka akibat dari cerita ini
jika salah seorang di antara mereka ingin duduk menuntut ilmu, diceritakanlah
kisah ini maka akhirnya diapun ingin menjadi awan saja daripada menjadi sumur!.
Agar Anda tidak kebingungan setelah membaca kisah ini maka harus diterangkan di
sini kekeliruannya. Saya katakan –dengan mengharapkan bimbingan Allah– :
Ketahuilah –semoga Allah membimbing kita kepada jalan-jalan kebaikan– bahwa
awan yang turun berupa hujan tidaklah menumbuhkan kecuali rerumputan untuk
pakan ternak pada umumnya dan hanya menumbuhkan rumput yang bersifat musiman.
Bahkan kalau hujan itu turunnya di bumi yang gersang atau tidak pada musimnya,
tidak bermanfaat. Dan kadang-kadang awan itu membawa kerusakan dan menimbulkan
kehancuran. Berbeda halnya dengan air sumur, dia bisa dijadikan air minunm dan
untuk bercocok tanam. Dan biasanya daerah yang ada sumurnya kehidupan di sana
lebih bertahan lama karena penduduknya bisa bercocok tanam, minum, memanen
hasil tanamannya, dan seterusnya. Dan keberadaan sumur bisa memberi manfaat
bagi orang yang tinggal di situ dan bagi orang yang lewat apakah untuk diri
mereka, tunggangan mereka, untuk
tanaman mereka, dan perbekalan mereka dengan cara disimpan dalam
bejana-bejana. Sumur, setiap saat airnya bersih, jernih, dan harum, apakah Anda
berpikir untuk meninggalkannya??
Ada kisah lain, mudah-mudahan semakin memperjelas kesesatan jamaah ini.
Diceritakan di hadapan para pemula yang ingin menuntut ilmu syar’i bahwa salah
seorang di antara mereka berkata : [ “Kemana Anda akan pergi wahai fulan.” Maka
yang lain akan menjawab : “Aku akan pergi belajar.” Kemudian orang yang pertama
tadi berkata : “Untuk apa.” Yang lain berkata : “Agar aku mengetahui perkara
yang halal dan haram.” Yang pertama berkata : “Subhanallah, Anda tidak tahu
perkara yang halal dan haram.! Apakah anda tidak mendengar bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun
banyak orang yang memberi fatwa kepadamu.’ Subhanallah, sampai sekarang engkau
tidak mengetahui perkara yang halal dan yang haram padahal banyak binatang yang
mengerti tentang itu. Apakah Anda tidak melihat kucing ketika Anda letakkan
makanan di suatu tempat kemudian Anda pergi dan kembali lagi sebentar setelah
itu maka Anda
akan lihat dia memakannya dan ketika melihatmu dia akan lari. Berbeda dengan
kalau Anda duduk di atas kursi makanmu kemudian Anda letakkan di sebelahmu
sesuatu makanan maka dia akan makan dengan tenang di sebelahmu. Pada kasus yang
pertama kucing itu tahu bahwa dia terjatuh ke dalam perbuatan yang haram oleh
karena itu dia lari. Dan pada kasus yang kedua, dia tahu bahwa makanan yang
didapatkannya halal oleh karena itu dia makan bersamamu dengan tenang. Wahai
saudaraku, akal kaum Mukminin bisa membedakan mana yang halal dan mana yang
haram! Oleh karena itu mintalah fatwa kepada hatimu walau banyak orang yang
memberi fatwa kepadamu.!” ]
Maka wahai saudaraku, apakah Anda setuju dengan permisalan seperti itu.
Tentunya bagi seorang Muslim dalam menentukan perkara halal/haram dan perkara
lain dalam urusan agama ini harus bersandar kepada Al Qur’an dan As Sunnah.
Sebab kalau masing-masing orang diberikan kebebasan menentukan urusan agama ini
sekehendaknya sendiri niscaya akan rusak agama yang mulia ini. Adapun perkara
minta fatwa kepada hati dalam menentukan suatu permasalahan, hal ini
kadang-kadang bisa diterapkan dalam hal-hal yang memang belum jelas urusannya
dalam agama ini. Dan tentunya syaratnya dia harus seorang rasikh (mendalam)
ilmunya dalam Dien ini dan tidak dikhawatirkan hawa nafsu mempengaruhinya.
Diceritakan bahwa salah seorang tabligh berbicara memberikan semangat kepada
para pendengarnya untuk khuruj bersama mereka dengan meninggalkan anak, istri,
keluarga, harta, negeri, dan lain-lainnya : “Wahai saudaraku, jika Anda
meletakkan gula ke dalam gelas teh kemudian Anda tuangkan air dan Anda minum
tanpa mengaduk gulanya maka Anda tidak akan merasakan manisnya gula. Dan jika
Anda aduk maka akan merasakan manisnya gula. Demikian halnya dengan iman di
dalam hati setiap manusia. Iman itu ada dan tidak akan bisa dirasakan manisnya
oleh pemiliknya kecuali setelah mengaduknya dengan bergabung dan khuruj bersama
jamaah ini.”
Saya beranggapan, Anda akan segera membantah kisah ini dengan berkata :
“Subhanallah! Jadi iman itu ada di setiap hati manusia.! Hingga di hati-hati
orang munafik, kafir, dan murtad!” Dan barangkali Anda akan berkata pula :
“Subhanallah! Jadi para ulama, penuntut ilmu, dai, orang awam dari kalangan
pria dan wanita tidak akan merasakan manisnya iman bila tidak ikut khuruj
dengan kalian.!”
Mungkin Anda akan juga berkata : “Subhanallah! Bukankah Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Tiga perkara, barangsiapa ada pada dirinya tiga
perkara itu akan merasakan manisnya iman : Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih
dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai seseorang karena Allah, dan dia
benci kembali kepada kekufuran setelah dia diselamatkan Allah darinya
sebagaimana dia benci kalau dilemparkan ke dalam neraka.’ (HR. Muslim 1/66)
Terakhir akan saya tutup dengan sebuah kisah bagaimana mereka mempermainkan
syariat dan akal para pendengarnya. Amir khuruj membagi kelompoknya pada hari
Kamis pagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, tinggal di masjid membuat
halaqah dzikir yang terus berkelanjutan hingga semua kelompok pulang. Kelompok
kedua menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 3 orang lebih. Tugasnya
mengetuk pintu-pintu rumah yang berdekatan dengan masjid dan mengajak mereka
untuk hadir dan bergabung dalam kegiatan jamaah ini dan agar mereka menghadiri
bayan (penjelasan) yang diadakan setelah Maghrib sampai Isya’. Dan sebelum
semuanya berpencar sang amir menceritakan kepada mereka kisah-kisah untuk
memberi pelajaran kepada mereka maka dia berkata : “Pernah pada suatu saat
sebuah kelompok ke suatu daerah. Setelah mereka dibagi menjadi 2 kelompok
berdiamlah kelompok pertama dalam masjid. Dan kelompok kedua keluar mengetuk
pintu-pintu rumah. Setiap kali mereka
mengetuk pintu, mereka tidak mendapati jawaban yang menyenangkan dan sambutan
yang baik. Tetapi mereka terus mengetuk pintu-pintu rumah dan tetap saja tidak
disambut dengan baik. Maka ada di antara mereka yang berkata : ‘Periksalah iman
kalian, wahai teman-teman!’ Maka merekapun memeriksa iman mereka tapi mereka
tidak mendapati cacat (!). Maka salah seorang mereka berkata : ‘Mungkin
teman-teman kita yang kita tinggalkan di masjid lalai berdzikir kepada Allah.’
Maka mereka berkata : ‘Marilah kita lihat mereka!’ Maka ternyata mereka dapati
teman-teman mereka yang ada di masjid lalai berdzikir kepada Allah.
Saudaraku, apa yang terasa di dalam dirimu kalau engkau khuruj bersama mereka
kemudian mereka menjadikanmu di halaqah masjid apakah Anda ketika mendengar
kisah ini akan lalai dari dzikir kepada Allah. Atau engkau akan berusaha dengan
keras agar Allah memberi taufiq kepada teman-temanmu yang di luar hingga mereka
membawa hasil.”
Tidak diragukan lagi, inilah terjadi. Terlebih lagi jika si tablighi tadi
menyandarkan perbuatannya itu dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam bahwa : [ “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah dari
beberapa rumah Allah (masjid), membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara
mereka kecuali akan turun sakinah (ketenangan) kepada mereka. Dan mereka akan
diliputi rahmat, dinaungi malaikat, dan disebut-sebut Allah pada hamba-hamba
yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim 4/2074)
Maka menurut mereka, penghuni masjid seperti sumber listrik dan kelompok kedua
seperti lampu. Bila bergerak sumber listrik mereka akan hidup. Dan kalau tidak
bergerak lampunya akan mati. ] Apakah Anda pernah mendengar permisalan seperti
ini dan apakah Anda pernah melihat cara berdalil seperti ini! (Quthbiyah oleh
Abu Ibrahim halaman 4-12).
--- Bersambung... Insya Allah ---
Sumber: Buletin Islamy Al Manhaj edisi VI/1419 H/1998 M
judul asli “Firqah Tabligh Dihujat”
MENEBAR ILMU & TEGAKKAN SUNNAH
____________________________________________________________________________________
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's
Comedy with an Edge to see what's on, when.
http://tv.yahoo.com/collections/222