si Brewok [0_-]
Sat, 17 Feb 2007 01:58:04 -0800
"Gong Xi Fa Cai" Oleh MOH. SYAFRI TAMBUNAN TAHUN Baru Imlek 2558 kali ini jatuh pada tanggal 18 Februari 2007. Menandai masuknya Tahun Babi Api Negatif, atau sebagian ada juga menyebut Tahun Babi Tanah. Shio Babi bertarikh 1995, 1983, 1971, 1959 dan 1947. Perputaran ini 60 tahun sekali, sehingga untuk kali ini jatuh pada Tahun Babi.
Menurut Neil Somerville (Arcan, 2001), Babi dilahirkan di bawah lambang kejujuran. Shio ini mempunyai watak yang baik hati dan penuh pengertian, serta terkenal akan kemampuannya untuk bertindak sebagai juru damai. Babi membenci segala bentuk pertengkaran atau pertentangan, dan akan berusaha sebisa mungkin untuk membereskan perbedaan pendapat atau untuk mendamaikan pihak-pihak yang saling bertentangan. Shio ini membenci segala bentuk kepalsuan dan kemunafikan, dan merupakan penjunjung keadilan dan taat terhadap hukum serta segenap peraturan. Manakala kita lihat ke belakang, menukil pada karya Nio Joe Lan dalam buku Tiongkok Sepanjang Abad (Balai Pustaka, 1952) disebutkan, umumnya orang Tionghoa memulai zaman pencatatan sejarahnya yang disebut sebagai zaman "tiga raja" dan "lima kaisar". Zaman itu kira-kira 3000 tahun sebelum masehi, masih zaman dongeng. Maka tidak mengherankan kalau kepala-kepala pemerintahan digambarkan sebagai mahluk yang aneh, yakni separuh manusia dan separuh naga. Tiga raja itu adalah, Sui Jen, Fu Shi, dan Shen Nung. Shui Jen adalah pencipta api, Fu Shi mengajarkan rakyat bagaimana cara menangkap bintang, cara membuat alat musik, menyusun sistem huruf-huruf bergambar, dan mengatur tata cara perkawinan. Sementara Shen Nung, mengajarkan ilmu pertanian, tata cara membuat obat dari rerumputan. Oleh karena itu tidak heran kalau patung Shen Nung sampai sekarang dipuja-puja, terutama bagi mereka yang membuka usaha toko obat. Sesudah tiga raja, masih menurut Nio Joe Lan, muncullah pemerintahan lain yang sampai sekarang masih menempati kedudukan yang mulia dalam hati orang Tionghoa. Mereka adalah, Huang Ti, atau Kaisar Kuning. Kemudian, Kaisar Yao. Pada masa Yao inilah di istananya terdapat dua pohon amnaka. Pohon yang satu mengeluarkan sehelai daun setiap hari. Pohon yang satu mengeluarkan sehelai daun setiap bulannya. Dari jatuhnya daun tersebut jalannya bulan dapat dihitung, dan setiap tanggal 15 jatuh pada saat bulan penuh, yang sampai kini disebutCap Go Meh. Setelah Yao, pemerintahan diserahkan pada Shun, yang bukan putranya, tetapi menantunya. Setelah Sun meninggal, maka berakhirlah zaman lima kaisar. Bagaimana ceritanya kalau tahun ini kita memasuki Tahun babi? Ada beberapa versi dan referensi yang penulis temukan. Versi pertama, berbeda dengan kalender Masehi yang mengacu pada putaran bumi mengelilingi matahari. Bagi masyarakat Tionghoa berpatokan pada putaran bulan mengelilingi bumi selama dua belas periode sebagai kurun satu tahun seperti kalender Islam. Kalender ini perpaduan perhitungan ilmiah rotasi bulan. Ceritanya, suatu ketika Kaisar Langit (Tian Gong) memanggil seluruh hewan dalam sebuah sayembara untuk menentukan penanggalan. Lomba tersebut berbarengan dengan ulang tahun kaisar. Hewan yang menang dalam perlombaan akan diabadikan menjadi tanda penanggalan tahun. Sayembara cukup berat, karena setiap hewan harus menyeberangi sungai lebar berarus deras. (seperti penilaian kemampuan dan kepatutan). Maka terpilihlah secara berurutan: tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, anjing, ayam jantan, dan babi. Penggantian tahun ditentukan setiap awal musim semi yang kemudian diperingati sebagai Festival Musim Semi (Chun Jie) hingga saat ini (2007) jatuh pada Shio Babi. Versi kedua, pada tahun baru Tionghoa Budha mengundang semua hewan untuk datang merayakannya. Sayangnya yang datang hanya 12 hewan. Hewan yang datang pertama kali adalah, tikus, disusul kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, Budha memutuskan untuk menamai setiap tahun sesuai dengan nama hewan-hewan tersebut secara beruntun. Kalau kita mengikuti cerita kenapa hanya 12 hewan, sebenarnya tidak semudah yang kita ketahui sekarang. Di antara hewan-hewan yang ingin diabadikan sebagai lambang tahunan tersebut bersaing cukup ketat, penuh licik, dan intrik. Kedua versi agak berbeda, tetapi keduanya sama dalam perputaran tahun yang merupakan daya tarik horoskop Tionghoa. Kedua belas lambang shio tersebut dibarengi lima elemen, yaitu, logam, air, kayu, api, dan tanah. Itu sebabnya berbagai sumber menyebutkan bahwa tahun ini disebut juga tahun babi api, walau ada yang menyebutnya tahun babi tanah. Untuk hal ini tentu kita serahkan saja pada ahli perbintangan, dan keyakinan dari kalangan saudara kita, etnis Tionghoa. Yang menarik dari apa yang ditulis Hermina Sutami (Intisari, Januari 2004). Kita katanya, terbiasa menyebut Gong Xi Fa Cai sebagai Selamat Tahun Baru. Padahal, arti sesungguhnya "Selamat Semoga Kaya". Karena "Kungsi" sendiri berarti selamat. Fa berarti berkembang, dan cai berarti kekayaan. Fa cai berarti berkembang menjadi kaya. Sementara kita sering pula mendengar Sin Cun Kiong Hi. Kiong Hi berarti selamat, sin berarti baru, dan cun artinya musim semi. Maksudnya, "Selamat Menyambut Musim Semi". Imlek itu sendiri artinya penanggalan bulan, tidak ada sangkut pautnya dengan perayaan. Kini saat saudara-saudara kita banyak berduka, dan dalam keprihatinan, kita tentunya mengimbau saudara-saudara kita etnis Tionghoa untuk tidak merayakan tahun baru kali ini dengan berlebihan. Pengalaman penulis yng pernah bermukim di Singapura, dan Hong Kong, perayaan tahu baru seperti ini sangat dinanti-nantikan, karena suasananya terasa sangat marak, dan meriah. Yang pasti, imlek sangat identik dengan angpau (Hokkian), atau hong bao (Mandarin). Yaitu amplop merah berisi uang atau qian/cien yang diyakini mendatangkan nasib baik serta dapat menekan kekuatan jahat atau Ya Sui Qian. Lambang kemerahan tersebut diyakini dapat menekan kekuatan roh jahat bernama sui. Imlek juga identik dengan kue yang lekat liat, manis, gurih, yang disebut kue kerajang (dodol cina). Di Cina disebut nian gao. Nian berarti tahun, dan gao berarti kue (kue tahun), yang bermakna peningkatan kemakmuran. Kalau kue tersebut disusun bertingkat yang bermakna memberikan keberuntugnan (fu xing gao zhao), keberhasilan dan panjang umur (duo fu duo shou), dan harapan perdamaian (zhuo bao pin an). Pada kesempatan yang berbahagia ini izinkan penulis mengucapkan Gong Xi Fa Cai! Sin Chun Kiong Hie, Xin Chun Gong Xi (Selamat Musim Semi) Wo shiwang nimen Kouai le!*** Penulis, mantan pembawa acara Ganesha Mandarin di Radio Ganesha, Bandung. Source: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/17/0901.htm <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/17/0901.htm>