djoko pranyoto
Mon, 01 Mar 2010 02:00:53 -0800
digereja juga banyak cerita seperti itu...sekali lagi bukan agamanya tetapi kelakuan manusia manusianya....
________________________________ From: Bachtiar Liem <bachtiarl...@ymail.com> To: mayapadaprana@yahoogroups.com Sent: Sat, February 27, 2010 11:27:08 AM Subject: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren Iskandar Dzulkanain, dosen Universitas Trunojoyo (Madura), dengan lugas membongkar praktik mairil atau alaq dalaq di pondok pesantren (ponpes) dalam sebuah seminar di GNCC yang bertajuk “Mairil dan Seksualitas Pesantren” pada tanggal 23 November 2009. Dalam acara ini, Dzulkanain mempresentasikan penelitian dalam tesisnya yang berjudul “Perilaku Homoseksual di Pesantren.” Beberapa bentuk perilaku seks alaq dalaq yang sering dilakukan antar-santri berjenis kelamin sama, menurut Dzulkanain, antara lain dengan menjepit, saling menyentuh, serta bergesekan yang dilakukan hingga mencapai koitus. Hubungan ini seringkali dilakukan antara santri senior dengan santri yunior. Menolak anggapan selama ini bahwa praktik alaq dalaq hanya terjadi dalam ponpes tradisional, Dzulkanain menemukan bahwa praktik ini terdapat, baik dalam Ponpes Tradisional An-Nuqayah maupun Ponpes Modern Al-Amien, kedua lapangan penelitiannya. Pada ponpes modern, alaq dalaq hanya dilakukan antar-santri senior demi menjaga kerahasiaan. Dikarenakan ponpes modern umumnya menjatuhkan sanksi lebih berat dibandingkan ponpes tradisional yang lebih longgar. Pada ponpes tradisional, menurut Dzulkanain, setidaknya terjadi tiga jenis pola relasi alaq dalaq, yaitu: (1) Relasi seksual alaq dalaq dengan ikatan; (2) relasi seksual alaq dalaq tanpa ikatan; (3) relasi seksual alaq dalaq hanya untuk kesenangan. Sedangkan pada ponpes modern, hanya terdapat alaq dalaq dengan ikatan yang dilakukan dengan sangat hati-hati dan tertutup. Dalam tataran wacana, perilaku alaq dalaq para santri bukan termasuk kategori homoseksual, dan secara hukum perilaku alaq dalaq di kalangan santri bisa disamakan dengan perilaku onani (dosa kecil) dalam ponpes. Pandangan ini juga diyakini oleh kiai pengasuh sebagai otoritas tertinggi dalam pesantren, sehingga alaq dalaq telah menjadi tradisi di dalam ponpes dan diperbolehkan di kalangan santri dengan alasan agar terhindar dari perilaku zina. Sebagai contoh, seorang santri yang ketahuan mengirimkan surat cinta kepada seorang satriwati terancam dikeluarkan, dibandingkan jika ia terlibat dalam perilaku alaq dalaq. Sumber : http://gn-internet. blogspot. com/2009/ 12/pesantren- laki-laki- alaq-dalaq- atau.html --- Pada Sab, 27/2/10, Wal Suparmo <wal.suparmo@ yahoo.com> menulis: >Dari: Wal Suparmo <wal.suparmo@ yahoo.com> >Judul: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren >Kepada: mayapadaprana@ yahoogroups. com >Tanggal: Sabtu, 27 Februari, 2010, 6:24 PM > > >> > > > > > > > >> > >Salam, >Saya kenal 3(tiga) orang kawan yang MENARIK putra2nya dari pesantren karena >tidah tahan mengalami persoalan homosesualitas ini.Tetapi oarang takut >membukanya.Sekali lagi TEORINYA AGAMANYA SETINGGI LANGIT. >Wasalam, >Wal Suparmo > >--- Pada Sab, 27/2/10, Red <red_conjurer@ yahoo.com> menulis: > > >>Dari: Red <red_conjurer@ yahoo.com> >>Judul: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren >>Kepada: mayapadaprana@ yahoogroups. com >>Tanggal: Sabtu, 27 Februari, 2010, 8:03 PM >> >> >> >>Bila mendengar praktik homoseksual dikecam oleh para pemimpin agama, hal ini >>mungkin sudah lumrah lagi bagi kebanyakan orang. Karena homoseks, seolah >>tidak punya hak seksual sama sekali. Namun penelitian Iskandar Dzulkarnain, >>justru menunjukkan bahwa dalam ruang-ruang tertentu, para santri agama Islam >>melakukan praktik homoseksual ini. Thesis yang dirampungkan Iskandar di >>program sosiologi Universitas Gadjah Mada, berjudul Perilaku Homoseksual di >>Pondok Pesantren, juga menjadi bahan diskusi pada seminar bulanan GAYa >>NUSANTARA baru-baru ini. >>Iskandar sempat mondok di dua pesantren di Sumenep, yang terkenal cukup >>kental ke-Islamannya. Salah satu pondok yang dikunjunginya adalah pesantren >>tradisional bernama An-Naqiyah. Yang ditemukan di sana adalah, praktik >>homoseksual dengan mudah dapat dijumpai dan bahkan dilakukan dengan cukup >>terbuka di dalamnya. Sedangkan pesantren lain yang dikunjungi Iskandar adalah >>pondok modern, Al-Amanah. Di sini perilaku homoseksual amat tertutup, tapi >>praktiknya masih dilakukan. >>Pondok Pesantren An-Naqiyah dan perilaku homoseksual >>Kebanyakan pondok pesantren amat ketat membatasi pergaulan antara lawan >>jenis. Kedekatan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrimnya dianggap >>tabu. Pondok Pesantern An-Naqiyah di Sumenep tidak terkecuali. Menurut >>Iskandar, mereka memisahkan setiap santri laki-laki dengan santri perempuan >>di dalam pondokannya, bahkan para santri laki-laki tidak diperbolehkan >>sembarangan untuk memasuki wilayah nyai-nyai atau putri para kiai. >>Kamar-kamar di bagi para santri di pondokan ini lebih ditetapkan sesuai >>dengan keinginan santri. Tapi, pada umumnya santri paling seniorlah yang >>menjadi ketua kamar tersebut. Setiap kamar yang berukuran sekitar 5 x 5 >>meter, dijejali 20 hingga 30 orang. Jadi, kamar itu fungsinya amat terbatas: >>hanya untuk beristirahat, menyimpan barang, atau berganti pakaian. Kegiatan >>lainnya seperti belajar dan tidur biasa dilakukan di depan kamar >>masing-masing atau di beranda masjid. Kamar mandi yang juga amat terbatas, >>membuat para santri mempunyai kebiasaan untuk mandi bertelanjang >>bersama-sama. Di sinilah keakraban sesama pria semakin menemukan lahannya. >>Obrolan, gurauan dan diskusi terbuka tentang hasrat seksual para santri >>bukanlah hal yang aneh. >>Lewat observasi, wawancara, atau percakapan sehari-hari dengan para penghuni >>pondok ini, Iskandar menyimpulkan bahwa ada tiga pola relasi homoseksual di >>antara para santri di pondok pesantren An-Naqiyah. Pertama: relasi dengan >>ikatan, kedua: relasi tanpa ikatan, dan terakhir: relasi seksual untuk >>kenikmatan. >>Pola relasi homoseksual dengan ikatan biasanya melibatkan santri senior >>dengan santri yang baru saja mendaftar. Ketika baru masuk, beberapa pendaftar >>yang muda (berumur 12-13 tahun), telah diincar oleh santri yunior yang >>menerimanya. Seringkali di saat pendaftaran itu, terjadilah kesepakatan di >>antara kedua santri tersebut. Biasanya kedua santri tersebut akan menempati >>kamar yang sama, karena kesepakatan di antara mereka untuk saling membantu, >>saling menjaga, dan saling memberi, dan saling mengasihi. Santri senior dalam >>hal ini adalah ketua kamar yang disegani oleh penghuni kamar yang lain, >>sehingga tidak ada santri-santri penghuni kamar lain yang berani melawannya. >>baca artikel selengkapnya di blog saya >>http://annunaki. wordpress. com/2010/ 02/27/praktik- homoseksual- di-pondok- >>pesantren/ >> > ________________________________ Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? >Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! ________________________________ Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!