Sony H Waluyo
Mon, 01 Mar 2010 17:41:14 -0800
Mas Bachtiar,
Matur nuwun apresiasinya. Sebenarnya di sekitar kita tersedia begitu banyak informasi tttg realita kehidupan ini, namun seringkali kita takut utk keluar dari batas-batas yg menjadi keyakinan kita. Keluar dr kriteria kebenaran yg telah kita bangun selama ini. Kita terbiasa dengan kriteria2 yang kita kenal. Dibutuhkan keberanian utk melangkah keluar. Dasar dan titik tolak utk keluar dari batas-batas yg kita anggap sbg wajar itu adalah "kasih", karena "kasih" adalah bahasa universal yg berlaku di jagad raya ini, kemanapun kita pergi bukan hanya sebatas di planet bumi ini. Dg kasih kita akan bisa melangkah kemanapun dg aman dan penuh keyakinan, penuh percaya diri. Kita akan tahu pasti bhw orang2 yg mengajarkan ketakutan dan kekawatiran sperti ajaran surga neraka, sebenarnya mereka tdk tahu apa-apa selain ketakutan dan kekawatiran mreka itu sendiri. Meraka sendir takut meangkah dan oleh krn itu mrk perlu teman dan minta ditemani karena ketakutan mereka saja. Dg senjata kasih kita bisa tenang2 saja masuk ke kawasan2 terparah sekalipun, karena pancaran kasih dr diri sendiri akan melindungi scr proaktif shg hanya frekwensi kasih yg akan mendekat pd kita. Itu prinsip hukum tarik-menarik. Namun hukum itu hanya bisa dipahami jika mau mencoba melihat dan membuktikannya. Sehingga sebaliknya, mrk yg takut dan kawatir akan mengelompok krn sama2 memancarkan ketakutan dan kekawatiran. Tuhan selama ini dipahami dlm berbagai rumusan sbgmana setiap agama mencoba merumuskannya. Tuhan yg dikenal saat ini sepertinya Tuhan yg tdk berdaya krn tak mampu mengalahkan zona neraka. Ah. tentunya itu Tuhan yg bukan maha kuasa. Spiritualitas memahami bhw alam semesta ini semuanya adalah tubuh Tuhan, dan segala ciptaan ada did lm dan menjadi bagian dr tubuhNya. Maka Tuhan yg maha kuasa mestinya mampu mengatur segalanya baik adanya, dlm mekanisme dan sistem yg mungkin belum dikenali manusia. Namun jika kasih mjd bahasa pemersatu universal dan Tuhan adalah maha kasih/maha rahim, maka tentunya tak ada sesuatu yg diluar kendaliNya. Jika kesadaran kita adalah kesadaran yg bergerak dlm frekwensi kasih, sudah pasti kita bergerak dlm suatu karakter terbesar dari Tuhan yg maha rahim/kasih. frekwensi kesadaran dimana semuanya diterima dan diperlakukan dg kasih semata, shg kita sendiri mjd mitra atau tangan atau ujung tombak dalam karya penciptaan Tuhan yg terus-menerus tengah berjalan, melalui hidup kita.dlm rupa karya2 maha kasih.. Taqwa adalah suatu pendekatan saja. namun sering disalahartikan sbg ketaatan yg membelenggu dan mematikan kreativitas. frekwensi kasih salah sekali tdk membelenggu. frekwensi kasih adalah frekwensi kreativitas.. ya .krn hanya melalui kreativitaslah penciptaan bisa terus berlanjut . dan kita manusia adalah tangan dan ujung tombak penerusan karya2 penciptaan.namun tentunya karya penciptaan yg berdasarkan pada kasih.. Kasih menghidupkan dan scr kreatif menciptakan karya2 baru sementara ketakutan, benci dan dendam sangat menghancurkan hasil karya ciptaan. Jiwa yg sadar memahami prinsip2 ini. Salam damai selaras, Sony H Waluyo * You are what you think about. Beware of your mind. [kesadaran ada di rasa, sulit utk memahaminya dg pikiran. Kita bisa bebas menyimpulkan apa yg kita lihat dan rasakan. Namun tetaplah sulit mendefinisikan rasa garam dengan kata2, tapi dg rasa di lidah semua orang sepakat itulah rasa garam, asin itu pasti asin, pahit itu pasti pahit. Demikian juga saat dirasa di hati, kasih itu pasti kasih. Olah rasa akan dg jelas mendefinikan kesadaran. Olah rasa...olah kesadaran...intuisi yg akan bermain...menyalurkan cahaya... cahaya adalah ilmu pengetahuan dan pengetahuan mjd landasan utk bertindak bijaksana dlm mengolah alam dan kehidupan]. ================== _____ From: mayapadaprana@yahoogroups.com [mailto:mayapadapr...@yahoogroups.com] On Behalf Of Bachtiar Liem Sent: Tuesday, March 02, 2010 1:38 AM To: mayapadaprana@yahoogroups.com Cc: bacht...@consultant.com; bachtiarl...@gmail.com Subject: Bls: [Mayapada Prana] Pikiran dan Kesadaran Salam, Mas Sony... tulisan anda bagus sekali, Terus terang membaca tulisan anda saya jadi merasa satu langkah lebih dalam memahami makna kesadaran dalam rasa diri saya. banyak sekali kita melihat klaim kesadaran telah dicapai oleh teman-teman, namun dari beberapa tulisan rasanya kok masih jauh sekali dari klaim-klaim mereka. apakah kesadaran itu memang harus benar-benar disadari..? bukan di klaim...... dan keasadaran itu tujuannya tentu agar kita mengenal diri ( baca : TAU DIRI ) lebih dari itu, Saya jadi lebih mengerti mengapa ada satu kalimat dalam sebuah Ketetapan maha karya yang menuliskan " ALM, Inilah Satu Ketetapan, yang tidak ada keraguan didalamnya, dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang sadar / menyadari" dan rupan-rupanya, sang nabi2 sejak jaman komputer belum ada, internet belum ada, kampus-kampus belum ada listrik belum ada bahkan masih pake obor, mereka sudah mengajarkan kita agar menjadi manusia yang sadar dan menyadari, bukan manusia takut ( ditakut2i) seperti kebanyakan ajaran yang kita temui sehari- hari. dan akhirnya kita memang menjadi sangat maklum ketika ada satu kalimat yang mengatakan " sesungguhnya manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling sadar / menyadari ( Taqwa) " sekali lagi terimakasih tulisannnya Mas, Salam Alaykum Pada Kam, 25/2/10, Sony H Waluyo <ason...@gmail.com> menulis: Dari: Sony H Waluyo <ason...@gmail.com> Judul: [Mayapada Prana] Pikiran dan Kesadaran Kepada: "Sony H Waluyo" <ason...@gmail.com> Tanggal: Kamis, 25 Februari, 2010, 3:20 AM Sekedar mencoba menyadari pengalaman2 batin... yg saat saya coba ekspresikan, saya selalu kesulitan utk mengatakannya. .. seolah tak ada kata2 yg tepat utk menjelaskannya. .. Mungkin beberapa rumusan ajaran mampu mendekati makna kesadaran itu, dg sedikit polesan sana sini, atau kombinasi sana-sini... tetapi tetaplah gagal merumuskan apa arti kesadaran itu sendiri... Jika saya diam, apakah saya benar-benar telah sadar?... Saya hanya bisa mulai mengukurnya saat saya ekspresikan dlm bentuk kata2 dan perbuatan... Namun nampaknya satu potong kalimat atau satu bentuk perbuatan sama sekali tdk mewakili kesadaran saya itu... dan celakanya setiap ekspresi dlm kata2 harus keluar melalui pikiran.... Apakah saya harus diam atau bicara... utk sebuah rumusan kesadaran dan mengukur kesadaran saya sendiri?... Bila Sang Pencipta itu memiliki kesadaran, apa wujudnya?... Bila setiap ciptaan adalah ekspresi kesadaranNya. dan setiap ciptaan adalah percikan dari diriNya, apakah setiap ekspresi kesadaran ciptaanNya mjd bagian dari kesadaranNya? ... Akhirnya saya sering hanya bisa menerima setiap penjelasan satu demi satu...keping- demi-keping. .. melihat sisi baik-buruk dari setiap rumusan kesadaran dan pikiran...hanya itu sampai saat ini yg bisa saya lakukan... Love & light always be with you... Sony H Waluyo * You are what you think about. Beware of your mind. [kesadaran ada di rasa, sulit utk memahaminya dg pikiran. Kita bisa bebas menyimpulkan apa yg kita lihat dan rasakan. Namun tetaplah sulit mendefinisikan rasa garam dengan kata2, tapi dg rasa di lidah semua orang sepakat itulah rasa garam, asin itu pasti asin, pahit itu pasti pahit. Demikian juga saat dirasa di hati, kasih itu pasti kasih. Olah rasa akan dg jelas mendefinikan kesadaran. Olah rasa...olah kesadaran... intuisi yg akan bermain...menyalurk an cahaya... cahaya adalah ilmu pengetahuan dan pengetahuan mjd landasan utk bertindak bijaksana dlm mengolah alam dan kehidupan]. ============ ====== _____ Akses <http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV 9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A/downloads.yah oo.com/id/internetexplorer/> email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan <http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV 9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A/downloads.yah oo.com/id/internetexplorer/> di sini! (Gratis)