mayapadaprana  

Re: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren

H. M. Nur Abdurahman
Wed, 03 Mar 2010 19:54:54 -0800

Iskandar Dzulkarnain wrote:
Bahwa dalam ruang-ruang tertentu, para santri agama Islam melakukan praktik 
homoseksual .
##############################################################################################
HMNA:
Itu bukan praktek homoseksual, melainkan alaq dalaq yang secara hukum sama 
dengan hukum beronani (dosa kecil). Kalau praktek homoseksual alat kelamin 
dimasukkan ke dalam dubur lawan (dosa besar), sedangkan beronani mengelus alat 
kelamin dilakukan sendiri, namun dalam alaq dalaq mengelus kelamin dilakukan 
oleh orang lain. Dosa kecil itu dilakukan untuk mencegah dosa besar yaitu zina.
##############################################################################################


  ----- Original Message ----- 
  From: Wal Suparmo 
  To: mayapadaprana@yahoogroups.com 
  Sent: Tuesday, March 02, 2010 01:06
  Subject: Re: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren




        Salam,
        Di pesantren  di Sumatera Barat.
        Wasalam,
        Wal Suparmo

        --- Pada Sen, 1/3/10, Red <red_conju...@yahoo.com> menulis:


          Dari: Red <red_conju...@yahoo.com>
          Judul: Re: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren
          Kepada: mayapadaprana@yahoogroups.com
          Tanggal: Senin, 1 Maret, 2010, 4:50 PM


            
          di pesantren mana aza mbah Wal? jangan2 penelitian Iskandar adalah 
fenomena gunung es, seperti pelecehan seksual oleh para pastor kepada bocah2 
lelaki di Belanda

          --- In mayapadaprana@ yahoogroups. com, Wal Suparmo <wal.suparmo@ 
...> wrote:
          >
          > Salam,
          > Saya  kenal  3(tiga) orang kawan yang MENARIK putra2nya dari 
pesantren karena tidah tahan mengalami  persoalan homosesualitas ini.Tetapi 
oarang takut membukanya.Sekali lagi TEORINYA AGAMANYA SETINGGI LANGIT.
          > Wasalam,
          > Wal Suparmo
          > 
          > --- Pada Sab, 27/2/10, Red <red_conjurer@ ...> menulis:
          > 
          > 
          > Dari: Red <red_conjurer@ ...>
          > Judul: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren
          > Kepada: mayapadaprana@ yahoogroups. com
          > Tanggal: Sabtu, 27 Februari, 2010, 8:03 PM
          > 
          > 
          > Â  
          > 
          > 
          > 
          > 
          > Bila mendengar praktik homoseksual dikecam oleh para pemimpin 
agama, hal ini mungkin sudah lumrah lagi bagi kebanyakan orang. Karena 
homoseks, seolah tidak punya hak seksual sama sekali. Namun penelitian Iskandar 
Dzulkarnain, justru menunjukkan bahwa dalam ruang-ruang tertentu, para santri 
agama Islam melakukan praktik homoseksual ini. Thesis yang dirampungkan 
Iskandar di program sosiologi Universitas Gadjah Mada, berjudul Perilaku 
Homoseksual di Pondok Pesantren, juga menjadi bahan diskusi pada seminar 
bulanan GAYa NUSANTARA baru-baru ini. 
          > Iskandar sempat mondok di dua pesantren di Sumenep, yang terkenal 
cukup kental ke-Islamannya. Salah satu pondok yang dikunjunginya adalah 
pesantren tradisional bernama An-Naqiyah. Yang ditemukan di sana adalah, 
praktik homoseksual dengan mudah dapat dijumpai dan bahkan dilakukan dengan 
cukup terbuka di dalamnya. Sedangkan pesantren lain yang dikunjungi Iskandar 
adalah pondok modern, Al-Amanah. Di sini perilaku homoseksual amat tertutup, 
tapi praktiknya masih dilakukan.
          > Pondok Pesantren An-Naqiyah dan perilaku homoseksual
          > Kebanyakan pondok pesantren amat ketat membatasi pergaulan antara 
lawan jenis. Kedekatan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrimnya 
dianggap tabu. Pondok Pesantern An-Naqiyah di Sumenep tidak terkecuali. Menurut 
Iskandar, mereka memisahkan setiap santri laki-laki dengan santri perempuan di 
dalam pondokannya, bahkan para santri laki-laki tidak diperbolehkan sembarangan 
untuk memasuki wilayah nyai-nyai atau putri para kiai.
          > Kamar-kamar di bagi para santri di pondokan ini lebih ditetapkan 
sesuai dengan keinginan santri. Tapi, pada umumnya santri paling seniorlah yang 
menjadi ketua kamar tersebut. Setiap kamar yang berukuran sekitar 5 x 5 meter, 
dijejali 20 hingga 30 orang. Jadi, kamar itu fungsinya amat terbatas: hanya 
untuk beristirahat, menyimpan barang, atau berganti pakaian. Kegiatan lainnya 
seperti belajar dan tidur biasa dilakukan di depan kamar masing-masing atau di 
beranda masjid. Kamar mandi yang juga amat terbatas, membuat para santri 
mempunyai kebiasaan untuk mandi bertelanjang bersama-sama. Di sinilah keakraban 
sesama pria semakin menemukan lahannya. Obrolan, gurauan dan diskusi terbuka 
tentang hasrat seksual para santri bukanlah hal yang aneh.
          > Lewat observasi, wawancara, atau percakapan sehari-hari dengan para 
penghuni pondok ini, Iskandar menyimpulkan bahwa ada tiga pola relasi 
homoseksual di antara para santri di pondok pesantren An-Naqiyah. Pertama: 
relasi dengan ikatan, kedua: relasi tanpa ikatan, dan terakhir: relasi seksual 
untuk kenikmatan.
          > Pola relasi homoseksual dengan ikatan biasanya melibatkan santri 
senior dengan santri yang baru saja mendaftar. Ketika baru masuk, beberapa 
pendaftar yang muda (berumur 12-13 tahun), telah diincar oleh santri yunior 
yang menerimanya. Seringkali di saat pendaftaran itu, terjadilah kesepakatan di 
antara kedua santri tersebut. Biasanya kedua santri tersebut akan menempati 
kamar yang sama, karena kesepakatan di antara mereka untuk saling membantu, 
saling menjaga, dan saling memberi, dan saling mengasihi. Santri senior dalam 
hal ini adalah ketua kamar yang disegani oleh penghuni kamar yang lain, 
sehingga tidak ada santri-santri penghuni kamar lain yang berani melawannya.
          > baca artikel selengkapnya di blog saya 
          > http://annunaki. wordpress. com/2010/ 02/27/praktik- homoseksual- 
di-pondok- pesantren/

       


------------------------------------------------------------------------------