mayapadaprana  

Re: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren

retno susiana
Wed, 03 Mar 2010 20:00:17 -0800

tetep aja dosa judulnya... kan bukan agamanya tapi orang-nya...

ngeles ajeee.................





________________________________
From: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id>
To: mayapadaprana@yahoogroups.com
Sent: Thu, March 4, 2010 10:54:14 AM
Subject: Re: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren

  
 
Iskandar Dzulkarnain wrote:
Bahwa dalam ruang-ruang tertentu, para santri agama Islam melakukan praktik 
homoseksual .
############ ######### ######### ######### ######### ######### ######### 
######### ######### ######### #
HMNA:
Itu bukan praktek homoseksual, melainkan 
alaq dalaq yang secara hukum sama dengan hukum beronani (dosa kecil). Kalau 
praktek homoseksual alat kelamin dimasukkan ke dalam dubur lawan (dosa besar), 
sedangkan beronani mengelus alat kelamin dilakukan sendiri, namun dalam alaq 
dalaq mengelus kelamin dilakukan oleh orang lain. Dosa kecil itu dilakukan 
untuk mencegah dosa besar yaitu zina.
############ ######### ######### ######### ######### ######### ######### 
######### ######### ######### #
 
 
----- Original Message ----- 
>From: Wal 
>  Suparmo 
>To: mayapadaprana@ yahoogroups. com 
>Sent: Tuesday, March 02, 2010 01:06
>Subject: Re: Bls: [Mayapada Prana] 
>  Praktik Homoseksual di Pesantren
>
>
>Salam,
>Di pesantren  di Sumatera Barat.
>Wasalam,
>Wal Suparmo
>
>--- Pada Sen, 1/3/10, Red <red_conjurer@ yahoo.com> >        menulis:
>
>
>>Dari: 
>>          Red <red_conjurer@ yahoo.com>
>>Judul: 
>>          Re: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren
>>Kepada: 
>> mayapadaprana@ yahoogroups. com
>>Tanggal: 
>>          Senin, 1 Maret, 2010, 4:50 PM
>>
>>
>>  
>>di pesantren mana aza mbah Wal? jangan2 penelitian Iskandar 
>>          adalah fenomena gunung es, seperti pelecehan seksual oleh para 
>> pastor 
>>          kepada bocah2 lelaki di Belanda
>>
>>--- In mayapadaprana@ 
>>          yahoogroups. com, Wal Suparmo <wal.suparmo@ ...> 
>>          wrote:
>>>
>>> Salam,
>>> Saya  kenal  3(tiga) 
>>          orang kawan yang MENARIK putra2nya dari pesantren karena tidah 
>>          tahan mengalami  persoalan homosesualitas ini.Tetapi 
>>          oarang takut membukanya.Sekali lagi TEORINYA AGAMANYA SETINGGI 
>>          LANGIT.
>>> Wasalam,
>>> Wal Suparmo
>>> 
>>> --- Pada 
>>          Sab, 27/2/10, Red <red_conjurer@ ...> menulis:
>>> 
>>> 
>> 
>>> Dari: Red <red_conjurer@ ...>
>>> Judul: [Mayapada 
>>          Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren
>>> Kepada: mayapadaprana@ 
>>          yahoogroups. com
>>> Tanggal: Sabtu, 27 Februari, 2010, 8:03 
>>          PM
>>> 
>>> 
>>> Â  
>>> 
>>> 
>>> 
>> 
>>> 
>>> Bila mendengar praktik homoseksual dikecam oleh para 
>>          pemimpin agama, hal ini mungkin sudah lumrah lagi bagi kebanyakan 
>>          orang. Karena homoseks, seolah tidak punya hak seksual sama sekali. 
>>          Namun penelitian Iskandar Dzulkarnain, justru menunjukkan bahwa 
>> dalam 
>>          ruang-ruang tertentu, para santri agama Islam melakukan praktik 
>>          homoseksual ini. Thesis yang dirampungkan Iskandar di program 
>>          sosiologi Universitas Gadjah Mada, berjudul Perilaku Homoseksual di 
>>          Pondok Pesantren, juga menjadi bahan diskusi pada seminar bulanan 
>> GAYa 
>>          NUSANTARA baru-baru ini. 
>>> Iskandar sempat mondok di dua 
>>          pesantren di Sumenep, yang terkenal cukup kental ke-Islamannya. 
>> Salah 
>>          satu pondok yang dikunjunginya adalah pesantren tradisional bernama 
>>          An-Naqiyah. Yang ditemukan di sana adalah, praktik homoseksual 
>> dengan 
>>          mudah dapat dijumpai dan bahkan dilakukan dengan cukup terbuka di 
>>          dalamnya. Sedangkan pesantren lain yang dikunjungi Iskandar adalah 
>>          pondok modern, Al-Amanah. Di sini perilaku homoseksual amat 
>> tertutup, 
>>          tapi praktiknya masih dilakukan.
>>> Pondok Pesantren An-Naqiyah 
>>          dan perilaku homoseksual
>>> Kebanyakan pondok pesantren amat 
>>          ketat membatasi pergaulan antara lawan jenis. Kedekatan antara 
>> lelaki 
>>          dan perempuan yang bukan muhrimnya dianggap tabu. Pondok Pesantern 
>>          An-Naqiyah di Sumenep tidak terkecuali. Menurut Iskandar, mereka 
>>          memisahkan setiap santri laki-laki dengan santri perempuan di dalam 
>>          pondokannya, bahkan para santri laki-laki tidak diperbolehkan 
>>          sembarangan untuk memasuki wilayah nyai-nyai atau putri para 
>>          kiai.
>>> Kamar-kamar di bagi para santri di pondokan ini lebih 
>>          ditetapkan sesuai dengan keinginan santri. Tapi, pada umumnya 
>> santri 
>>          paling seniorlah yang menjadi ketua kamar tersebut. Setiap kamar 
>> yang 
>>          berukuran sekitar 5 x 5 meter, dijejali 20 hingga 30 orang. Jadi, 
>>          kamar itu fungsinya amat terbatas: hanya untuk beristirahat, 
>> menyimpan 
>>          barang, atau berganti pakaian. Kegiatan lainnya seperti belajar dan 
>>          tidur biasa dilakukan di depan kamar masing-masing atau di beranda 
>>          masjid. Kamar mandi yang juga amat terbatas, membuat para santri 
>>          mempunyai kebiasaan untuk mandi bertelanjang bersama-sama. Di 
>> sinilah 
>>          keakraban sesama pria semakin menemukan lahannya. Obrolan, gurauan 
>> dan 
>>          diskusi terbuka tentang hasrat seksual para santri bukanlah hal 
>> yang 
>>          aneh.
>>> Lewat observasi, wawancara, atau percakapan sehari-hari 
>>          dengan para penghuni pondok ini, Iskandar menyimpulkan bahwa ada 
>> tiga 
>>          pola relasi homoseksual di antara para santri di pondok pesantren 
>>          An-Naqiyah. Pertama: relasi dengan ikatan, kedua: relasi tanpa 
>> ikatan, 
>>          dan terakhir: relasi seksual untuk kenikmatan.
>>> Pola relasi 
>>          homoseksual dengan ikatan biasanya melibatkan santri senior dengan 
>>          santri yang baru saja mendaftar. Ketika baru masuk, beberapa 
>> pendaftar 
>>          yang muda (berumur 12-13 tahun), telah diincar oleh santri yunior 
>> yang 
>>          menerimanya. Seringkali di saat pendaftaran itu, terjadilah 
>>          kesepakatan di antara kedua santri tersebut. Biasanya kedua santri 
>>          tersebut akan menempati kamar yang sama, karena kesepakatan di 
>> antara 
>>          mereka untuk saling membantu, saling menjaga, dan saling memberi, 
>> dan 
>>          saling mengasihi. Santri senior dalam hal ini adalah ketua kamar 
>> yang 
>>          disegani oleh penghuni kamar yang lain, sehingga tidak ada 
>>          santri-santri penghuni kamar lain yang berani melawannya.
>>> baca 
>>          artikel selengkapnya di blog saya 
>>> http://annunaki./ wordpress. com/2010/ 02/27/praktik- 
>>          homoseksual- di-pondok- 
>>      pesantren/
>>
>> 
>________________________________
 >