Prabbu SHaTMATA
Fri, 05 Mar 2010 11:22:55 -0800
Sampai dengan minggu lalu masih ada beberapa teman bertanya : “kenapa harus damai…? Damai lahir bathin, Apalagi damai sejati….? Maksudnya…? Emang perlu..? trus manfaatnya apa…?”
Bagi sebagian teman, memang ada yang sudah sangat terbiasa bahkan menikmati di kejar-kejar kewajiban maupun deadline, ada juga yang tergesa-gesa memburu keinginan dengan penuh nafsu. Sebagian lagi menjadi akrab dengan situasi kunjungan debt collector berikut seringai manisnya setiap pagi. Lalu ada juga yang tanpa sadar selalu resah, gelisah ingin membuktikan diri karena cemas ingin segera diakui keberadaannya. Bahkan ada yang selalu penuh khawatir menyibukkan diri menutupi kesalahannya. Memang semuanya tergantung kebiasaan dan kekuatan masing-masing pribadi, lagi pula itu pilihan hidup masing–masing individu bukan? Tapi mengapa kita memilih hidup dengan penuh kegelisahan, cemas, ragu, panik ,terlalu dan selalu membela faham dan MELEKAT pada pengetahuannya yang sempit,?,apalagi tergesa-gesa ingin diakui dan ingin cepat terlihat sukses? Padahal Anda seharusnya dapat merasakan nikmat “damai lahir bathin”, yang pada akhirnya Anda akan mensyukuri bahwa ternyata kebutuhan segera terpenuhi dan mewujud. Hal itu tercapai karena Anda sudah dapat melihat hidup dengan lebih jernih, mendengar Kata Hati (Inner Voice) lebih jelas, dan dapat membedakannya dengan Kata Pikiran (ego). Menjalani hidup ternyata tidak cukup hanya dengan Ikhlas, tapi perlu kita tambahkan dan lengkapi juga dengan Kasih, Sabar dan Syukur, selain tentunya masih banyak pengetahuan lain termasuk juga terampil, inovatif dan jujur. Segera jalani hari-hari kita dengan gaya hidup damai lahir bathin, penuh KASIH IKHLAS, SABAR dan SYUKUR (KISS), maka kita segera memancarkan Gelombang Hati dengan frekuensi tinggi, menyejukkan dan menyeimbangkan banyaknya “polusi hati” yang turut andil menjadi salah satu penyebab pemanasan global. Teman dan sahabat akan diajak mengamati hati dan mengalami hari dengan “kesadaran tinggi dalam perjalanan kedalam diri. Kenali dan pahami juga Law of Vibration, Law of Polarity, Law of Ressonance, Law of Attraction dan lain-lain dengan penuturan sederhana dalam buku The POWER of SOUND, maka damai serta mimpi anda mewujud. Oh iya dan tentunya kita senantiasa tetap berpegang teguh pada kepercayaan serta iman kita masing masing koq, namun tetap open mind dan open heart. Biarkan dan ijinkan diri kita tumbuh lebih sempurna. Al-hamdu lillahi robbil ‘alamin, Puji Tuhan, atas doa dan dukungan teman-teman dengan suka cita dan penuh Cinta: “The Power of Sound” Metode Pemberdayaan Diri dengan Frekuensi, Vibrasi dan Bunyi (diDDi AGePhe) hadir tanggal 14 Februari 2010 di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya di kota anda. SaLAM Cahaya,love n light,Namaste. PraBBu ShaTmaTA ________________________________ From: retno susiana <rsusi...@yahoo.com> To: mayapadaprana@yahoogroups.com Sent: Thu, March 4, 2010 11:00:12 AM Subject: Re: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren tetep aja dosa judulnya... kan bukan agamanya tapi orang-nya... ngeles ajeee....... ......... . ________________________________ From: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@ yahoo.co. id> To: mayapadaprana@ yahoogroups. com Sent: Thu, March 4, 2010 10:54:14 AM Subject: Re: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren Iskandar Dzulkarnain wrote: Bahwa dalam ruang-ruang tertentu, para santri agama Islam melakukan praktik homoseksual . ############ ######### ######### ######### ######### ######### ######### ######### ######### ######### # HMNA: Itu bukan praktek homoseksual, melainkan alaq dalaq yang secara hukum sama dengan hukum beronani (dosa kecil). Kalau praktek homoseksual alat kelamin dimasukkan ke dalam dubur lawan (dosa besar), sedangkan beronani mengelus alat kelamin dilakukan sendiri, namun dalam alaq dalaq mengelus kelamin dilakukan oleh orang lain. Dosa kecil itu dilakukan untuk mencegah dosa besar yaitu zina. ############ ######### ######### ######### ######### ######### ######### ######### ######### ######### # ----- Original Message ----- >From: Wal > Suparmo >To: mayapadaprana@ yahoogroups. com >Sent: Tuesday, March 02, 2010 01:06 >Subject: Re: Bls: [Mayapada Prana] > Praktik Homoseksual di Pesantren > > >Salam, >Di pesantren di Sumatera Barat. >Wasalam, >Wal Suparmo > >--- Pada Sen, 1/3/10, Red <red_conjurer@ yahoo.com> > menulis: > > >>Dari: >> Red <red_conjurer@ yahoo.com> >>Judul: >> Re: Bls: [Mayapada Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren >>Kepada: >> mayapadaprana@ yahoogroups. com >>Tanggal: >> Senin, 1 Maret, 2010, 4:50 PM >> >> >> >>di pesantren mana aza mbah Wal? jangan2 penelitian Iskandar >> adalah fenomena gunung es, seperti pelecehan seksual oleh para >> pastor >> kepada bocah2 lelaki di Belanda >> >>--- In mayapadaprana@ >> yahoogroups. com, Wal Suparmo <wal.suparmo@ ...> >> wrote: >>> >>> Salam, >>> Saya kenal  3(tiga) >> orang kawan yang MENARIK putra2nya dari pesantren karena tidah >> tahan mengalami  persoalan homosesualitas ini.Tetapi >> oarang takut membukanya.Sekali lagi TEORINYA AGAMANYA SETINGGI >> LANGIT. >>> Wasalam, >>> Wal Suparmo >>> >>> --- Pada >> Sab, 27/2/10, Red <red_conjurer@ ...> menulis: >>> >>> >> >>> Dari: Red <red_conjurer@ ...> >>> Judul: [Mayapada >> Prana] Praktik Homoseksual di Pesantren >>> Kepada: mayapadaprana@ >> yahoogroups. com >>> Tanggal: Sabtu, 27 Februari, 2010, 8:03 >> PM >>> >>> >>>  >>> >>> >>> >> >>> >>> Bila mendengar praktik homoseksual dikecam oleh para >> pemimpin agama, hal ini mungkin sudah lumrah lagi bagi kebanyakan >> orang. Karena homoseks, seolah tidak punya hak seksual sama sekali. >> Namun penelitian Iskandar Dzulkarnain, justru menunjukkan bahwa >> dalam >> ruang-ruang tertentu, para santri agama Islam melakukan praktik >> homoseksual ini. Thesis yang dirampungkan Iskandar di program >> sosiologi Universitas Gadjah Mada, berjudul Perilaku Homoseksual di >> Pondok Pesantren, juga menjadi bahan diskusi pada seminar bulanan >> GAYa >> NUSANTARA baru-baru ini. >>> Iskandar sempat mondok di dua >> pesantren di Sumenep, yang terkenal cukup kental ke-Islamannya. >> Salah >> satu pondok yang dikunjunginya adalah pesantren tradisional bernama >> An-Naqiyah. Yang ditemukan di sana adalah, praktik homoseksual >> dengan >> mudah dapat dijumpai dan bahkan dilakukan dengan cukup terbuka di >> dalamnya. Sedangkan pesantren lain yang dikunjungi Iskandar adalah >> pondok modern, Al-Amanah. Di sini perilaku homoseksual amat >> tertutup, >> tapi praktiknya masih dilakukan. >>> Pondok Pesantren An-Naqiyah >> dan perilaku homoseksual >>> Kebanyakan pondok pesantren amat >> ketat membatasi pergaulan antara lawan jenis. Kedekatan antara >> lelaki >> dan perempuan yang bukan muhrimnya dianggap tabu. Pondok Pesantern >> An-Naqiyah di Sumenep tidak terkecuali. Menurut Iskandar, mereka >> memisahkan setiap santri laki-laki dengan santri perempuan di dalam >> pondokannya, bahkan para santri laki-laki tidak diperbolehkan >> sembarangan untuk memasuki wilayah nyai-nyai atau putri para >> kiai. >>> Kamar-kamar di bagi para santri di pondokan ini lebih >> ditetapkan sesuai dengan keinginan santri. Tapi, pada umumnya >> santri >> paling seniorlah yang menjadi ketua kamar tersebut. Setiap kamar >> yang >> berukuran sekitar 5 x 5 meter, dijejali 20 hingga 30 orang. Jadi, >> kamar itu fungsinya amat terbatas: hanya untuk beristirahat, >> menyimpan >> barang, atau berganti pakaian. Kegiatan lainnya seperti belajar dan >> tidur biasa dilakukan di depan kamar masing-masing atau di beranda >> masjid. Kamar mandi yang juga amat terbatas, membuat para santri >> mempunyai kebiasaan untuk mandi bertelanjang bersama-sama. Di >> sinilah >> keakraban sesama pria semakin menemukan lahannya. Obrolan, gurauan >> dan >> diskusi terbuka tentang hasrat seksual para santri bukanlah hal >> yang >> aneh. >>> Lewat observasi, wawancara, atau percakapan sehari-hari >> dengan para penghuni pondok ini, Iskandar menyimpulkan bahwa ada >> tiga >> pola relasi homoseksual di antara para santri di pondok pesantren >> An-Naqiyah. Pertama: relasi dengan ikatan, kedua: relasi tanpa >> ikatan, >> dan terakhir: relasi seksual untuk kenikmatan. >>> Pola relasi >> homoseksual dengan ikatan biasanya melibatkan santri senior dengan >> santri yang baru saja mendaftar. Ketika baru masuk, beberapa >> pendaftar >> yang muda (berumur 12-13 tahun), telah diincar oleh santri yunior >> yang >> menerimanya. Seringkali di saat pendaftaran itu, terjadilah >> kesepakatan di antara kedua santri tersebut. Biasanya kedua santri >> tersebut akan menempati kamar yang sama, karena kesepakatan di >> antara >> mereka untuk saling membantu, saling menjaga, dan saling memberi, >> dan >> saling mengasihi. Santri senior dalam hal ini adalah ketua kamar >> yang >> disegani oleh penghuni kamar yang lain, sehingga tidak ada >> santri-santri penghuni kamar lain yang berani melawannya. >>> baca >> artikel selengkapnya di blog saya >>> http://annunaki./ wordpress. com/2010/ 02/27/praktik- >> homoseksual- di-pondok- >> pesantren/ >> >> >________________________________ >