Wal Suparmo
Mon, 08 Mar 2010 09:58:42 -0800
Salam, Pendapat masing2 agama mengenai Tuha/Allah/God/Yahve dsb berlainan dan semuanya mengatakan dia yang benar. Padahal semuanya tidak lucu dan tidak ada gunanya memperdebatkannya bagi orang yang waras fikirannya. Wasalam, Wal Suparmo --- Pada Sen, 8/3/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id> menulis:
Dari: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id>
Judul: Re: [Mayapada Prana] Tuhan itu hasil ciptaan Otak?
Kepada: mayapadaprana@yahoogroups.com
Tanggal: Senin, 8 Maret, 2010, 5:23 AM
----- Original Message -----
From: MANG UCUP
To: maya ; Zaman
Sent: Monday, March 08, 2010 00:28
Subject: [Mayapada Prana] Tuhan itu hasil ciptaan Otak?
Pertanyaan: “Apakah Tuhan yang menciptakan Otak ataukah Otak yang menciptakan
Tuhan?”
Filsuf Perancis Rene Descrates (1596 -1650) yang mendapatkan julukan sebagai
Penemu Fisalfat Modern berpendapat: “Aku berpikir, maka aku ada”, dalam bahasa
Latin “Cogito ergo sum” atau dalam bahasa Perncis “Je pense donc je suis”.
Berdasarkan kesimpulan tersebut saya juga bisa menyatakan: “Tuhan itu ada,
karena aku berpikir, bahwa Tuhan itu ada”.
Memang pikiran itu hanyalah salah satu aktivitas dari fisik otak, tetapi
cobalah renungkan arti dari kalimat ini: “Aku menetapkan PIKIRANKU untuk
membeli sepeda” (I made up my MIND to buy a bike). Orang tidak akan berkata:
“Aku menetapkan OTAKKU untuk membeli sebuah sepeda” (I made up my BRAIN to buy
a bike). Jadi kesimpulannya pikiran inilah yang mengendalikan otak (mind over
matter) atau secara tidak langsung terbuktikan, bahwa Tuhan itu sebenarnya
adalah hasil ciptaan dari pikiran kita.
Bahkan menurut Dean Hamer (Kepala Struktur Gen di U.S. National Cancer
Institute) dalam bukunya “The God Gene” menyatakan, bahwa ia telah berhasil
menemukan Tuhan di dalam gen manusia atau ranah Tuhan atau saklar Tuhan yang
ada di dalam otak manusia. Jadi ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh
Maththew Alper dalam bukunya “The God Part of the Brain” jadi kita tidak perlu
mencari Tuhan di surga, karena Tuhan itu sebenarnya hanya bersemayan dan berada
di dalam otak kita saja.
Pendapat Hamer ini juga didukung oleh Robert Thurman profesor studi agama
Buddha yang berpendapat bahwa penemuan itu memperkuat salah satu konsep Buddha
yang populer, bahwa manusia itu mewarisi gen spiritualitas dari inkarnasi kita
yang terdahulu.
Menurut Alper dalam bukunya “The God Part of the Brain”, bahwa manusia itu
secara halus telah disetel atau digiring sedemikian rupa untuk berpaling pada
suatu realitas spiritual dan untuk mempercayai kuasa-kuasa yang melampaui
keterbatasan dari realita fisik kita. Hal ini bisa terjadi karena instink yang
diwariskan secara genetika.
Misalnya karena adanya perasaan takut mati sehingga secara alami menimbulkan
sebuah insting bagi keyakinan religius dalam diri manusia perdana. Untuk
mengatasi rasa gelisah dan takut mati inilah otak besar kita mencari jalan
keluar bagaimana caranya agar mampu mempertahankan kehidupan setelah kematian.
Dari situlah awal timbulnya pikiran manusia untuk menciptakan Sang Tuhan.
Disamping itu, karena adanya rasa takut inilah juga yang telah menimbulkan
kepercayaan dalam seperangkat mekanisme di dalam otak manusia, sehingga kita
yakin dan tanggap akan adanya doa kesembuhan, sehingga akhirnya menimbulkan
plasebo efek bagi sang pasien.
Mungkin sudah tiba saatnya dimana para ahli memperdalam dan mempelajari
mengenai disiplin ilmu anyar – suatu teologi genetika (Genotheology) yang baru
untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut diatas.
Majalah Time dalam edisi Jumat Agung (8 April 1966) memuat artikel dengan judul
“Is God Dead?” dimana mereka memprediksikan, bahwa agama akhirnya akan mati
dibunuh oleh Sains.
Bagaimana pendapat Anda?
############ ######### ######### ######### ######### ######### #########
######### ######### ######### ###
HMNA:
Manusia mencipta tuhan di dalam benaknya. Itulah dia yang disebut ila-h(un).
Itulah yang dinafikan (ditolak) dalam laa ila-ha, pada hakekatnya tidak ada itu
ila-hun hasil ciptaan manusia dalam benaknya, yang Ada adalah Yang mencipta
manusia dan alam semesta, Dia punya Proper Name adalah Allah. Sebab sewaktu
manusia belum ada di permukaan bumi ini, ila-hun itu juga tidak ada, karena itu
adalah hasil ciptaan manusia dalam benaknya. Jadi ma'na laa ila-ha illaLla-h,
adalah tidak ada ilah (=sesembahan) hasil ciptaan manusia dalam benaknya, Yang
Ada adalah Allah. Itulah Syahadat pertama ummat Islam. Sedangkan syahadat kedua
adalah Muhammadan RasuwluLlah, artinya Muhammad Utusan Allah. Lengkapnya
Syahadat ummat Islam: Asyhadu an laa ila-ha illaLla-h, wa asyhadu anna
Muhammadan RasuwluLlah.
Allah adalah proper name, nombre propio, nama asli, nama diri, maka tidak untuk
diterjemahkan. Nama asli ALLAH ini mengandung keunikan, uniqueness, el ùnico,
satu-satunya, the One and Only One. Karena Allah adalah proper name tidak
dijabarkan dari akar kata dalam bentuk fi'il (verb) atau isim (noun). Beda hal
nya dengan kata ila-h(un) yang dijabarkan dari akar kata Alif-Lam-Ha =
ila-h(un) dalam bentuk singular, a-lihat(un) dalam bentuk plural), berbentuk
isim = "sesembahan" hasil imajinasi manusia, yaitu berhala, atau manusia yang
dipertuhankan seperti Jesus dalam theologi Trinitas. Jika kita menyebut Tuhan =
God, maka kata god, singular = tuhan, bisa dijamakkan, menjadi gods /dewa2,
yang ini maskulin / male gendernya. Sedang kalau digenderkan feminin/female,
menjadi goddess/dewi2. Jadi kata God ini lebih bisa membiaskan kejamakan dan
juga jenis kelamin. Sedangkan Allah, Yang Proper Name, tidak terikat pada ilmu
nahwu (grammar), tidak dijabarkan dari
akar kata tiga huruf, tidak kejamakan, tidak laki-laki (der), tidak perempuan
(die), tidak banci / onzijdig (das).
############ ######### ######### ######### ######### ######### #########
######### ######### ######### ######### #########
Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com
Homepage: www.mangucup. org
__________________________________________________________
Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru. Kini dengan update real-time,
panggilan video, dan banyak lagi! Kunjungi http://id.messenger.yahoo.com/