Hendra Bujang
Wed, 10 Mar 2010 00:34:01 -0800
Dear Bpk Sony Yth, Mematikan Vs Pengendalian Pikiran Saya pikir ada yang kurang tepat dalam narasi anda, sepanjang pengetahuan saya tentang ajaran Budha, tidak pernah diajarkan untuk "mematikan" pikiran..justru yang diajarkan adalah "pengendalian" pikiran agar tidak muncul "AKU" yang dapat menyebabkan nafsu, keinginan, dll yang justru menenggelamkan subyek ybs. Intinya dengan adanya pengendalian, maka sang subyek akan "TAHU" dan "SADAR" akan eksistensi dirinya n keterkaitannya dengan Hukum Alam. "Tahu" masih belum cukup, harus "Sadar"....Nah, darimana datangnya Kesadaran? Silahkan bereksperimen.....Toh seingat saya, salah satu prinsip ajaran Budha Sakyamuni adalah : Jangan percaya apa yang dikatakan orang termasuk Budha sendiri, namun "Datang, Lihat dan Buktikan....." (Simple n logic but very deep!). Btw saya bukan penganut Budha, hanya sekedar memberikan input tambahan sepanjang yang saya tahu......... Dialektika dengan Alam Ajaran Budha mirip namun tak sama dengan ajaran Tao (Dao = Taoisme) yang muncul sejak 4000-4500 tahun silam (lebih awal dari munculnya Budha Sakyamuni dan kelahirannya setara dengan Hindu Kuno). Dao mengajarkan Keselarasan n Keseimbangan Alam, tidak heran jika ahli2 Dao mempunyai kemampuan2 supranatural yang luar biasa pada jaman dulu karena inti filsafat Dao adalah "Bekerja Sama" bukan "Mempertentangkan". Hasil "Kolaborasi" dengan Alam inilah melahirkan berbagai jenis cabang ilmu utama dan turunannya (derivative) yang tetap eksis hingga kini : Fengshui, Gongfu, Jing Zuo, Qiqong dll.....Jadi sejak ribuan tahun hingga kini, sebenarnya nenek moyang kita sudah Tahu dan Sadar akan tata cara berkomunikasi dengan Alam Semesta...Cuma sayangnya, seiring dengan berkembangnya eksistensi diri, maka muncullah EGO Manusia untuk menguasai alam termasuk sesama...... Kiamat Dalam hal Kiamat, saya sangat setuju dengan opini anda. Bicara soal kiamat, bukanlah dalam arti bahwa Bumi ini akan hancur lebur menjadi abu di antariksa or menjadi debu di Galaksi Bima Sakti ini. Kiamat dalam arti sebenarnya adalah proses penghancuran n pembangunan kembali yang terjadi setiap hari baik dalam skala kecil maupun skala besar, namun tidak semua mahluk hidup akan mengalami kejadian tersebut di tempat yang sama. Tidak ada kehancuran yang permanen dan tidak ada pula kehidupan yang permanen. Di dunia ini tidak ada yang tetap (permanen), yang tetap hanyalah "PERUBAHAN". Ex: Gempa bumi Chili adalah kiamat bagi mereka yang menjadi korban (penulis tidak bermaksud mengecilkan arti korban). Tsunami di Aceh, Thailand, Srilanka, Perang Dunia I, II, Irak dll adalah kiamat bagi mereka yang terjebak pada kondisi saat itu dan menjadi korban. Namun kejadian tersebut tidak terjadi diseluruh dunia. Pada saat yang bersamaan, di belahan dunia lain justru hidup tenang....So? Tidak perlu pusing dengan Kiamat, Surga, Neraka dll....Semuanya ada didunia ini. Nikmati n hargai hidup ini...Surga dan Neraka ada didunia ini, gak kemana-mana koq......
Best Regards,
Hendra Bujang
Mobile I : 0878 7828 7808
Mobile II : 0856 190 9109
"Knowing Is Not Enough, We Must Apply"
"Willing Is Not Enough, We Must Do"
--- On Wed, 3/10/10, Sony H Waluyo <ason...@gmail.com> wrote:
From: Sony H Waluyo <ason...@gmail.com>
Subject: [Mayapada Prana] Planet bumi adalah suatu bentuk kesadaran kolektif
To: "Sony H Waluyo" <ason...@gmail.com>
Date: Wednesday, March 10, 2010, 2:09 PM
Planet bumi adalah suatu kesadaran kolektif yg lebih tinggi drpd kesadaran
manusia, shg disebut “ibu pertiwi’… ibu yg melahirkan dan menghidupi kehidupan
di atasnya. Saat pikiran manusia sbgmana diajarkan banyak agama, bhw di dunia
ini ada pertarungan antara kelompok setan dg nerakanya dan kelompok malaekat
pembantu tuhan dg surganya; pada kenyataannya toh Sang Pencipta menciptakan
nyamuk, yg oleh manusia dianggap sbg binatang “jahat” krn menyebarkan penyakit.
Bumi menumbuhkan berbagai bentuk kehidupan yg seringkali dirasa “mengganggu”
kehidupan manusia shg perlu dilakukan penyemprotan nyamuk. Manusia tdk memahami
cara kerja alam, itu yg mjd masalah timbulnya konflik antara manusia dg
alamnya. Ajaran2 agama kurang memahami dialektika dg alam. Cukup sulit dipahami
bhw ritual kuno spt yg tersisa di Bali dlm bentuk penghormatan pohon, spt
menutupi batang pohon dg kain serta doa dan tabur bunga di pohon besar,
sebenarnya adalah bagian dr dialog
dg alam. Alam ini yg berupa batu, pohon, binatang spt nyamuk dan tikuspun bisa
diajak bicara. Aku kira ada bagian di Alkitab yg menyebutkan hal ini…nabi yg
bisa bicara dg binatang…
Terkait dg pikiran, ada banyak hal terkait dg berbagai ajaran... termasuk
"ajaran mematikan pikiran" spt pada buddha... aku kira lebih tepat
"mengendalikan pikiran".... basis pikirnya adalah... setiap keberadaan itu
sendiri adalah bagian dr kesadaran Sang Pencipta... artinya jika pikiran sbg
bagian dr keberadaan Sang Pencipta semacam itu, yg diwakili oleh
pikiran/kesadaran ciptaan... mematikan pikiran sama saja dg bunuh diri...
hmm... Setiap keberadaan kesadaran ciptaan dlm masing2 bentuknya yg unik
mengemban sustu misi yg merupakan bagian dr keberadaan Sang Pencipta, shg
pengendalian pikiran sbg ujud kesadaran mungkin lebih tepat dlm skenario
penciptaan.. ., kecuali jika Sang Pencipta sendiri memang sudah memutuskan utk
istirahat... upsss....
Tulisan di atas tentu saja sama sekali berkebalikan dg ajaran agama2, dimana
diajarkan utk mencari jalan pulang (keselamatan) dan malah ada yg dg
mengharapkan bantuan datangnya sang Juru Selamat… sedangkan uraian di atas,
justru mengatakan bhw kehadiran manusia dan ciptaan lainnya adalah ujud dr
kehadiran sang Pencipta yg sedang berkarya di dunia fisik dg berbagai rupa
keunikannya. Jadi mengapa mikirin pulang kesana (mikirin surga), wong kita ada
disini utk menjalankan suatu misi masing2 sampe tuntas (bio-machine/ tubuh ini
expired) hmm…..Permainan jailangkung memperlihatkan bagaimana suatu kesadaran
bisa diinstall ke suatu benda mati, dan itu menguak suatu misteri ttg cara
kerja alam dan penciptaan makluk2, dan memperlihatkan bhw manusia bisa
“mengundang/menginst al” kesadaran…
"Kiamat", hanyalah proses perubahan zaman, sbgmana dikatakan dlm spiritual jawa
sbg jagad gumelar, jagad gumulung…. gumelar lagi ntar gumulug lagi… begitu
seterusnya berulang2 terjadi…
Dan setiap akhir zaman, akan menyisakan manusia2 yg meneruskan proses
penciptaan utk memasuki babak baru…yg pasti bumi ini akan masih terus ada dan
menumbuhkan kehidupan yg mungkin jauh berbeda dari waktu ke waktu, zaman ke
zaman, peradaban ke peradaban, tergantung dr kreativitas makluk2nya yg hidup
dan berkembang di atasnya.
Love and light always be with you,
Sony H Waluyo
* You are what you think about. Beware of your mind.
[kesadaran ada di rasa, sulit utk memahaminya dg pikiran. Kita bisa bebas
menyimpulkan apa yg kita lihat dan rasakan. Namun tetaplah sulit mendefinisikan
rasa garam dengan kata2, tapi dg rasa di lidah semua orang sepakat itulah rasa
garam, asin itu pasti asin, pahit itu pasti pahit. Demikian juga saat dirasa di
hati, kasih itu pasti kasih.
Olah rasa akan dg jelas mendefinikan kesadaran. Olah rasa...olah kesadaran...
intuisi yg akan bermain...menyalurk an cahaya... cahaya adalah ilmu pengetahuan
dan pengetahuan mjd landasan utk bertindak bijaksana dlm mengolah alam dan
kehidupan].
============ ======