Surjaning Brotorahardjo
Fri, 12 Mar 2010 00:31:42 -0800
Dalam film Awake diceritakan orang yg sdg mengalami mati suri masih dpt mendengar orang2x yang berbicara disekitarnya. Film ini adalah fiksi ilmiah dari pengalaman orang2 yang dibius tetapi sebenarnya masih belum benar2x tdk sadar....
--- On Wed, 3/10/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id> wrote:
From: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id>
Subject: Re: [Mayapada Prana] Tuhan itu hasil ciptaan Otak? - Bag. 2
To: mayapadaprana@yahoogroups.com
Date: Wednesday, March 10, 2010, 6:25 AM
----- Original Message -----
From:
MANG UCUP
To: maya ; Zaman
Sent: Wednesday, March 10, 2010
04:28
Subject: [Mayapada Prana] Tuhan itu hasil
ciptaan Otak? - Bag. 2
Filsuf
dan Matematikawan Perancis, Rene Descartes berkesimpulan untuk mencari
kebenaran sejati harus selalu dimulai dengan cara meragukan apa saja;
meragukan yang dikatakan gurunya, meragukan kepercayaan, bahkan meragukan
eksistensinya dirinya sendiri. Pokoknya, meragukan segala-galanya. Maka dari
itulah muncul Proposisi: “Ketika aku berpikir, maka aku ada” –Cogito Ergo
Sum.
Mang Ucup pribadi tidak sepaham dengan pandangan Descartes,
cobalah renungkan oleh Anda, bisakan Anda memulai suatu usaha dengan penuh
keraguan. Siapapun juga tidak akan mau melakukan investasi entah dalam bentuk
apapun juga apabila ia meragukan akan hasilnya.
Manusia bisa
menciptakan kapal terbang, bahkan sampai bisa meraih bulan, bukannya diawali
dengan keraguan melainkan berdasarkan kepercayaan akan keberhasilannya.
Begitu
juga Martin Luther King Jr, ia memulai gerakannya dimana ia percaya dan yakin
bisa mewujukan impiannya: “I Have A Dream!” Tanpa adanya kepercayaan ini;
tidak mungkin ia akan bisa berhasil.
Pandangan tersebut diatas sesuai
dengan kredo dari Anselmus, Uskup Agung Canterbury (1033 – 1109) dimana ia
menyatakan: “Saya percaya agar dapat mengerti - Credo ut intelligum” (Believe
than understand). Melalui pernyataan ia ingin menganjurkan bagi mereka yang
ingin mencari kebenaran (baca Allah) harus diawali dengan beriman dahulu,
jadi
bukanlah sebaliknya seperti Decrates. Percaya itu menjadi kunci utama, maka
seluruh kepercayaan itu akan membangun seluruh pengertian yang
sejati.
Tapi rasanya sukar untuk bisa percaya akan keberadaanNya Allah
yang tidak pernah menampakan diri-Nya. Bahkan di tahap awal Masa Aufklärung
(Masa Pencerahan) Immanuel Kant sendiri pernah menyatakan, bahwa Allah tidak
memiliki tempat dalam lingkungan rasio. Walaupun demikian ia mengakui adalah
suatu hal yang tidak mungkin bagi Allah sehingga bisa masuk dalam kategori
rasio kita. Sebab pada saat dimana Dia "membatasi" diri masuk kategori
terbatas, atribut ke-TAK-TERBATAS- an-Nya otomatis terlucuti alias
ke-illahi-an- Nya terlukai. Jadi jelas ini tidak mungkin, bagaimana rasio
manusia yang terbatas bisa mengenal Allah yang tak terbatas.
Seorang
ahli bedah bisa mengetahui semua bagian otak manusia, tetapi hingga kapanpun
juga ia tidak akan pernah bisa mengetahui impian pasiennya.
Bisakah
Anda percaya, bahwa walaupun otak sudah mati, kenyataannya pikiran orang itu
masih tetap bisa berjalan terus? Bahkan hal ini telah dibuktikan secara sains
oleh Dr Levi-Montalcini pemenang hadiah Nobel yang bekerja di EBRI (European
Brain Research Institute) – Roma. Ia pernah melakukan sebuah studi prospektif
dimana ia mewawancarai lebih dari seratus orang yang pernah mengalami mati
suri (Pengalaman Dekat-Ajal – Near Death Experience).
Jelas seorang
yang sudah benar-benar dinyatakan mati klinis, seharusnya tidak bisa melihat,
mendengar ataupun berpikir apapun juga, karena otaknya sudah mati secara
klinis. Orang baru dinyatakan mati klinis; apabila jantungnya berhenti,
gelombang otak EEG-nya menjadi datar total. Batang otak dan belahan
kiri-kanan
korteks serebral menjadi tidak responsif, lalu suhu tubuh turun menjadi
dingin
16 C yang biasanya sekitar 36,6 C.
############ ######### ######### ######### ######### ######### #########
######### ######### ######### #
HMNA:
Menurut ajaran
Islam:
Orang mati
kalau:
1. Otaknya tidak
berfungdi lagi
2. Ruhnya sudah
meninggalkan jasadnya.
Jadi walaupun otaknya sudah tidak
berfungsi lagi, namun ruhnya BELUM meninggalkan jasadnya, yang
bersangkutan itu BELUM mati, ajalnya BELUM sampai.
############ ######### ######### ######### ######### ######### #########
######### ######### ######### ###
Namum
18% dari sang pasien yang diwawancarai melaporkan, bahwa kenyatannya mereka
masih bisa mengingat dengan baik mengenai hal-hal apa saja yang mereka lihat
dan dengar selama mereka mati klinis. Dan pernyataan mereka itu benar semua.
Dari sinilah terbuktikan, bahwa manusia itu memiliki jiwa yang tidak pernah
bisa dijelaskan secara rasio maupun sains.
Mang Ucup
Email: mang.u...@gmail. com
Homepage: www.mangucup. org