H. M. Nur Abdurahman
Fri, 19 Mar 2010 19:24:41 -0700
Fyi, because you have right to know, don't you? Salam HMNA ----- Original Message ----- From: Nanang Heriyanto To: hangouti...@yahoogroups.com ; traxmagaz...@yahoogroups.com ; Forum Lintas Milis Sent: Saturday, March 20, 2010 03:48 Subject: Aneh & Lucu: Lapangan Kerja Mode Baru: Alim Tualeka Ancam Gugat Demokrat
Aneh & Lucu
Sekaligus memprihatinkan, krn menunjukkan watak premanisme & jiwa koruptor
Nanti kalau sdh dipenuhi keinginannya, yakni dapat uang, paling2 gugatan
dicabut dan akan berakrab2 lagi dg yg digugat, sambil liat kesempatan, kapan &
bagaimana ya orang2 ini bisa diperas lagi..
Tapi biarlah... namanya saja... Buaya makan Buaya
_____________________
From: Indra Priangkasa <indrap...@yahoo.com>
Subject: heheee.. Lapangan Kerja Model Baru?: Alim Tualeka Ancam Gugat
Demokrat
Date: Thursday, March 18, 2010, 1:33 PM
wah ini aneh... orang mendaftarkan diri untuk jadi kepala daerah,
begitu tidak mendapat rekomendasi dari partai dimana dia mendaftar, maka dia
minta ganti rugi uang atau kompensasi lain.
kalau tidak akan mengancam lewat media massa atau menggugat ke
pengadilan dengan harapan mendapat uang atau kompensasi dalam bentuk lain,
karena partai yang bersangkutan takut tercemar atau tidak mau direpotkan
Ini namanya lapangan pekerjaan baru
patut ditiru ya heheheheeeeeeeeeeeeeeeeeeee
***************
Dari: Kompak Group <kompakgr...@yahoo.co.id>
Judul: Demokrat Jatim, Bukalah Dialog!!! : Basa Alim Tualeka Ancam
Gugat Demokrat
Tanggal: Kamis, 25 Februari, 2010, 7:42 PM
Harusnya partai Demokrat Jatim, tidak menutup dialog dg pak Alim
Tualeka
apalagi pak Alim adalah ketua Pembina organisasi generasi muda
partai Demokrat Jawa Timur, yakni Angkatan Muda Demokrat Indonesia (AMDI)
Sebab harus dipahami, bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pak Alim
untuk proses penjaringan Calon Walikota Surabaya sudah cukup banyak. hal ini
bisa dilihat dari betapa sudah merakyat nama pak alim di surabaya, dengan
banyaknya baliho, poster, spanduk, brosur Obasa (Basa Alim Tualeka - calon
Wakil Walikota Surabaya)
Maka kami mendukung langkah pak alim yang akan terus menggugat
petinggi Partai Demokrat Jawa Timur, yang telah salah langkah dalam proses
penjaringan calon walikota surabaya. Agar persoalan ini diketahui dengan benar
oleh DPP partai demokrat.
Sebenarnya persoalannya mudah saja, Partai Demokrat Jatim harus
mendengarkan pak alim yang juga tokoh baru yang langsung terkenal di surabaya,
karena kampanye beliau yang bagus. Sebagai sesama kader partai demokrat
tentunya pak alim tidak akan benar2 menyeret para pengurus partai demokrat di
pengadilan, hanya karena Partai Demokrat jatim berkoalisi dengan Golkar Jatim
yang personelnya ditetapkan sebagai wakil walikota mendampingi Arif Afandi yang
merupakan calon walikota dari partai Demokrat.
Kuncinya adalah dialog. dengan dialog tentu ditemukan solusi.
Karena sebagaimana dalam pemberitaan koran yang sama pada hari sebelumnya
pernah disampaikan oleh pak Alim, bahwa biaya yang dikeluarkannya sudah cukup
banyak. Sehingga menurut beliau biaya itu harus diganti dan ditambah dengan
biaya ganti rugi karena besarnya kemungkinan pak alim akan terpilih jika
rekomendasi itu diberikan kepada pak alim. Jadi bukan karena apriori pada
partai Golkar sebagaimana isu2 miring dari petinggi Partai demokrat jatim.
Sebab pak Alim juga pernah mengajukan diri melalui Partai Golkar
sebagai Wakil Walikota Ambon, juga pernah mencalonkan sebagai Wakil Gubernur
maluku beberapa saat yg lalu dari Partai Golkar. dan tidak terjadi masalah,
meski rekomendasi dari Partai Golkar akhirnya diberikan kepada orang lain. Tapi
semua diselesaikan dengan bijak dimana akhirnya diberikanlah kompensasi atas
biaya dan kerugian kepada pak Alim, sebab sudah banyak biaya yang dikeluarkan
saat itu untuk membuat spanduk, baliho, poster aupun pembuatan iklan disejumlah
media massa. Dan kompensasi waktu itu juga menghitung kemungkinan kerugian jika
pak Alim terpilih karena dengan langkah2nya yg jitu, namanya sudah sangat
populer di masyarakat Ambon waktu itu.
Untuk itu agar para petinggi Demokrat Jatim, harus bijak, dan mau
membuka pintu dialog dengan pak alim, apalagi beliau adalah sesama kader partai
demokrat. jangan hanya terus berdiam diri dan membuat cemar nama partai dengan
keributan dan opini negatif yang tidak perlu. Kalau tidak ada kompensasi
kerugian materiil maupun immateriil, maka para pengacara pak Alim akan siap
menyeret para oknum petinggi partai demokrat ke pengadilan (ingat ini oknum,
bukan partai). dan siap2 saja para oknum itu berhadapan di pengadilan
Jika tidak segera diselesaikan dengan cara kekeluargaan dengan
memberikan kompensasi yang memadai, sehingga membuat opini yang mencemarkan
nama partai, maka itu adalah kesalahan oknum2 petinggi Demokrat dijatim. Dan
tentunya harus ada tindakan tegas dari DPP Partai Demokrat Jatim pada oknum2
petinggi Demokrat jatim
*******************
From: adinan...@ymail.com <adinan...@ymail.com>
Subject: Basa Alim Tualeka dan Abimanyu Ancam Gugat Demokrat
Harian Jawa Pos
http://www.jawapos. com/metropolis/ index.php?
act=detail&nid=118338
Basa Alim Tualeka dan Abimanyu Ancam Gugat Demokrat
Rekomendasi Arif Masih Picu Polemik
SURABAYA - Rekomendasi DPP Partai Demokrat untuk Arif Afandi
sebagai calon Walikota Surabaya kembali memicu konflik. Dua pendaftar cawali
Demokrat, yakni Basa Alim Tualeka dan Abimanyu, merasa diperlakukan tidak adil.
Sebab, rekomendasi itu terbit ketika penjaringan masih berlangsung.
Basa Alim Tualeka Pria yang memperkenalkan namanya sebagai Obasa
(pelesetan dari Barrack Obama, Red) itu menyebut Partai Demokrat membohongi
publik. "Jujur, saya selaku peserta yang ikut mendaftar merasa tertipu,"
urainya. Obasa kemudian mendasarkan pernyataannya pada rekomendasi DPP pada 30
Januari lalu atau dua hari setelah pendaftaran cawali Demokrat ditutup. "Ini
berarti, sejak awal tidak ada niat untuk melakukan pendaftaran, " urainya.
Apalagi, kemudian muncul indikasi sangat kuat adanya koalisi dengan Partai
Golkar. Itu dibuktikan dengan kedatangan Ketua DPD Partai Golkar Jatim Martono
ke Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Ibnu Hajar.
"Kami minta rekomendasi dan rencana koalisi tersebut dibatalkan,
dicabut, atau ditarik kembali. Sebab, mekanisme penjaringan belum selesai,"
katanya. Tak tanggung-tanggung, Obasa bahkan menyiapkan pengacara untuk
memproses hal itu. "Bila tidak dikabulkan, siap-siap saja berhadapan di
pengadilan," ancam pria yang juga menjabat sebagai ketua pembina DPD AMDI
(Angkatan Muda Demokrat Indonesia) Jatim itu.
Ambimanyu, salah satu ketua tim pemenangan SBY-JK dalam Pilpres
2004, sependapat dengan Obasa. Jika rekomendasi untuk Arif sudah keluar,
menurut Abimanyu, penjaringan cawali adalah pembohongan publik. Abimanyu bahkan
yakin jika rekomendasi untuk Arif belum seratus persen turun. Untuk itu,
Abimanyu ngotot menjalin komunikasi intensif dengan Ketua Umum Partai Demokrat
Hadi Utomo. Abimanyu menegaskan, dirinya tetap akan mengikuti tahap penjaringan
dan berpasangan dengan penyanyi Maia Estianty. "Kami akan terus perjuangkan, "
tegasnya. (ano/nur/oni)