media-dakwah  

Re: [media-dakwah] BOCAH MISTERIUS DI KAMPUNG KETAPANG, TANGERANG

Paimun
Thu, 16 Nov 2006 21:31:12 -0800

ni fiksi atau kisah sungguhan ?

  ----- Original Message ----- 
  From: elfizar 
  To: media-dakwah@yahoogroups.com 
  Sent: Monday, November 13, 2006 10:18 AM
  Subject: [media-dakwah] BOCAH MISTERIUS DI KAMPUNG KETAPANG, TANGERANG




  Mohon maaf bagi yang tidak berkenan.

  Sadar dan ingat-ingat lah! Dalam harta kita ada harta orang lain.

  BOCAH MISTERIUS DI KAMPUNG KETAPANG, TANGERANG :

  Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang.
  Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling
  kampung.
  Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak
  remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal
  ini
  bagi orang kampung sungguh menyebalkan.
  Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda
  dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya
  memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.
  Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap
  dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang
  melekat
  diplastik es tersebut.
  Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila
  orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan
  puasa!
  Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan
  puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan
  lapar
  dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja
  menggoda orang yang melihatnya.

  Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa,
  karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu
  ada, matahari dikampung itu lebih terik dari
  biasanya.

  Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung
  mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang
  bocah
  kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan
  bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa
  dan
  roti isi daging tersebut.
  Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian
  dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan.
  Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan
  matanya
  akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat
  mundur semua orang yang akan melarangnya.

  ***********************

  Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah
  itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap
  bakda
  zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.
  Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama
  dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan
  es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

  Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang
  lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es
  kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang
  lain
  menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.
  Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu
  tadi,bukannya
  takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot,
  seakan-akan matanya akan keluar Luqman.

  "Bismillah..." ucap Luqman dengan kembali
  mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya.
  Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah
  jadi-jadian,
  ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.
  Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga
  akan cari keterangan, siapa dan dari mana
  sesungguhnya
  bocah itu.

  Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi
  mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun
  menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah
  itu,
  dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti
  dengan
  tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang
  melihatnya.

  "Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan
  menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini
  kepunyaan
  saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman,
  seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang
  kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada
  Luqman.
  "Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan
  puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu
  tahu,
  bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu
  bukannya
  ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda
  orang
  dengan tingkahmu itu.."

  Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan
  uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak
  bocah
  itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap
  Luqman
  lebih tajam lagi.
  "Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami
  semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan
  hal
  ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan
  kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan
  pada sebelas bulan diluar bulan puasa?

  Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami
  yang kelaparan, dengan menimbun harta
  sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?

  Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan
  melupakan kami yang sedang menangis?

  Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila
  sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian
  mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga
  kematian menjemput ajal..?!

  Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran
  waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?
  Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib
  terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?"

  Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi
  kesempatan pada Luqman untuk menyela.
  Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia
  berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk,
  kini ia bersuara lirih, mengiba.
  "Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa
  ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya
  bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang
  bisa
  kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang
  siang saja.

  Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang
  di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami
  dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu
  kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul
  Fithri?

  Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam
  mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi
  banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian
  menyebutnya
  denga istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?

  Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di
  saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun
  hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

  Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah
  yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali
  termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya
  lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap
  orang-orang kecil seperti kami...!

  Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?
  Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta
  secara
  berlebih?

  Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan
  orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa
  dan
  melupakan kami yang semestinya diingat?
  Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di
  sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta,
  tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan akan
  adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

  Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih
  menginjak bumi. Tuan..., jangan merasa perut kan
  tetap
  kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk
  setahun,
  jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah
  menyatu dengan bumi kelak..."

  **********************

  Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan
  hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras
  dari
  mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.
  Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut
  adalah benar adanya!
  Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini
  bukanlah bocah sembarangan.

  Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu,
  bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang
  dibuatnya terbengong-bengong.
  Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak
  ditelan bumi.
  Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah
  hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia
  edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa
  dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.
  Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua
  orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng
  bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran
  didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu
  keluar dari rumah Luqman!
  Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia
  malah
  menghilang!

  Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar
  langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan
  bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak
  masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk
  akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang
  dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi
  memberikan
  pelajaran yang berharga, betapa kita sering
  melupakan
  orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang
  tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka
  yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

  Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa
  seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang
  sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali
  menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan
  membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang
  berlebihan.
  Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan
  terjadi bila kita terus menjejali tontonan
  kemewahan,
  sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan
  lapar.

  Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah
  memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak
  mau
  menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
  Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau
  dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan
  kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus
  menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua
  orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya
  orang.
  Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi
  siapa
  saja yang menghendaki bercahayanya hati.

  Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir.
  Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya,
  selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas
  dan
  tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
  Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada
  seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia
  salah.





  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]