Dimas Mohammad Ario
Sun, 21 Jan 2007 22:23:33 -0800
Wah wah wah, kayanya ada yg sedang mengalami kebingungan dan kekalutan tingkat
tinggi nih.
Tapi tenang aja bos, lo gak sendirian kok...gw juga pernah bingung kaya
gitu...istilah kerennya gw jg pernah disorientasi kaya gitu.
Melihat "realita" (realita yg dipapar oleh media, karena gw gak menyaksikan
langsung), gw juga agak bingung "ngeliat" keadaan Indonesia yg sekarang yg
kayanya kok "nothing is right, now".
Kok kayanya sekarang gak ada yg bener. kalo udah kaya gitu lantas pertanyaan yg
muncul adalah, "pernah gak sih di Indonesia ini pernah ada sesuatu yg bener?".
Indonesia yg konon kemerdekaannnya diproklamirkan pada hari Jumat pagi di bulan
puasa, 17 Agustus 1945...salahkah cita2 kemerdekaan yg diperjuangkan oleh
tumpah darah & airmata??
Dalam hidup ini kita tentunya membutuhkan referensi, membutuhkan pijakan...buat
apa? Ya buat melangkahkan kaki ke depan.
Kita butuh referensi untuk bisa melakukan proyeksi. Supaya tidak disorientasi.
We've got to have faith.
Oke mas, kalo boleh saran, ketika begitu banyak pertanyaan yg muncul tentang
negeri tercinta ini, baiknya dimulai dari pertanyaan...
1. Pernahkah ada sesuatu yg benar dalam perjalanan bangsa Indonesia ini?
2. Jika anda memilih untuk berkeyakinan, YA! Pernah ada sesuatu yg benar dalam
perjalanan bangsa & Negara ini. Maka pertanyaan berikutnya adalah, sejak kapan
menjadi salah??
Benar & salah adalah relatif, tapi tetap kita harus memilih pijakan/dasar yg
kita pilih.
Salam pertanyaan,
DIMAS
________________________________________
From: mediacare@yahoogroups.com [EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
mochammad arief sw
Sent: Monday, January 22, 2007 3:07 AM
To: mediacare@yahoogroups.com
Cc: mediacare Moderator
Subject: [mediacare] KETIKA INDONESIA SUDAH TIDAK INDONESIA LAGI!
Katanya Indonesia negeri yang nyaman. Masyarakatnya ramah dan
tolong-menolong. Saling menghargai dengan budayanya yang luhur. Indonesia yang
awalnya disebut Nusantara memang sebuah negeri yang sangat menjunjung tinggi
budaya lokal. Dimana setiap daerah meski berbeda kultur tapi ada kesamaan
kebiasaan atau adat budaya. Yaitu, keberagaman yang disertai dengan saling
menghargai dan menjaganya sebagai bagian dari sebuah komunitas bangsa.
Tapi cerita itu sekarang menjadi sebuah nostalgia, dongeng atau mungkin
sudah menjadi legenda! Sedih, miris atau juga nelangsa memang. Dulu negeri ini
memang benar-benar kaya, dalam arti yang sesungguhnya, yaitu kaya lahir dan
kaya batin. Kini Indonesia menjadi negara yang miskin, bahkan bangkrut!
Sekarang ini, setiap anak yang lahir di tanah air tercinta ini, secara otomatis
langsung dibebani hutang, karena ulah kita sendiri. Secara batin, saat ini
orang Indonesia sudah tidak seperti orang Indonesia. Alih-alih beralasan karena
modernitas - bila tidak disebut westernisasi. Lalu dimana keindonesiaannya?
Dimana kedaerahannya? Masa rasa keindonesiaan hanya muncul saat kita menonton
Taufik Hidayat berlaga di arena internasional saja! Atau rasa kedaerahan hanya
muncul ketika tawuran kampung atau saat rusuh di tiap pertandingan sepak bola?
Anak-anak Indonesia sekarang sudah lupa dengan "bahasa ibunya". Mereka
sudah tidak mengenal permainan tradisional daerahnya. Mereka juga sangat jauh
dengan budaya kampung halamannya. Para pejabatnya yang notabene juga berasal
dari kampung tidak peduli dengan budaya etnik daerahnya masing-masing. Para
pengusahanya malah menghilangkan budaya tersebut dengan alasan sudak tidak
cocok dengan pasar global! Dan rakyatnya, sebagian acuh, sebagian lagi malah
lupa atau tidak mengenal lagi.
Konon kabarnya - jika saya tidak salah - makanan khas TEMPE yang sangat
populer di negeri ini sudah dihak-patenkan oleh negeri Samurai, Jepang. BATIK
yang selalu kita bangga-banggakan sebagai kain khas dari Indonesia sudah
dihak-patenkan milik negeri jiran, Malaysia. Lambat-laun mungkin saja - meski
saya dan kita semua berharap tidak terjadi - gamelan, kebaya, rujak cingur,
kerak telor, pencak silat atau tari piring dan tari kecak jadi milik bangsa
lain. Jangankan soal itu, yang dianggap remeh oleh para petinggi ini, INDOSAT
saja yang jelas-jelas milik kita sejak dulu dan digunakan oleh seluruh elemen
bangsa ini, DIJUAL! Apa kita memang benar-benar sedang butuh uang saat itu?
Kita ini hidup di negeri kaya-raya, cuma jiwa, hati, nurani dan mental
kita yang miskin (dimiskinkan). Jangan-jangan kelak kita hanya bisa jadi
penonton atau bernostalgia saja di panggung dunia ini. Rakyat Indonesia tak
berbendera lagi! Rakyat Indonesia tersebar di seluruh daratan di muka bumi ini.
Mungkin kita baru akan menitikkan air mata saat kita mengenang lagu Indonesia
Raya ketika keturunan kita sudah berbeda ras, berbahasa negeri dimana kita
tinggal, kita sudah jadi warganegara asing. Kalau dulu orang asing hanya
mengenal Bali dan tidak tahu Indonesia, Jangan-jangan nanti Indonesia malah
sudah tidak ada di atas gambar peta.
Kalau pun ada budaya kita yang masih dipakai, justru yang negatif yang
terus awet. Misalnya, budaya memberi "upeti" kepada para penguasa atau
pengusaha. Tunduk dan patuh kepada orang yang lebih tinggi jabatan atau
hartanya secara absolut, meskipun dia salah, alias ABS (Asal Bapak Senang).
Bahasa kita pun sudah tidak kita pakai atau kita hargai. Padahal Bahasa
Indonesia adalah salah satu elemen pemersatu bangsa ini. Bahasa Indonesia hanya
dipakai di atas kertas resmi atau acara resmi. Selebihnya kacau-balau! Lihat
saja di televisi, di koran-koran, di dalam radio bahasa Indonesia sudah
bercampur dengan bahasa Inggris dan bahasa pergaulan (bahasa gaul) sehari-hari.
Bagaimana bahasa ini bisa terjaga jika pemimpin negara, pejababat, tokoh-tokoh
nasional dan para artis senang sekali "memuncratkan" bahasa Inggris dalam
dialog dan percakapannya.
Namun saya masih bisa berbangga dan tersenyum, karena masih ada anak-anak
bangsa yang peduli dengan etika berbudaya dan berbangsa di negeri ini. Meski
itu mungkin hanya sedikit jumlahnya. Saya paham, sebagian lagi hanya karena
tidak tahu karena makin sulitnya hidup di negeri ini yang katanya makmur. Kita
hanya terseret oleh arus global yang kita sendiri tidak siap menghadapi itu.
Para petinggi negeri ini merasa gengsi bila tidak ikut percaturan dunia.
Padahal kita tidak tahu mau berbuat apa dengan "makhluk" globalisasi itu?
Negara lain mengikuti arus karena memiliki rencana yang jelas dan matang.
Dengan percaya diri mereka bekerja keras untuk mencapai dan mewujudkan mimpi
yang mereka rencanakan itu! Para petinggi negeri ini tidak begitu. Mereka tidak
melihat ke depan dan ke bawah, tapi ke samping dan ke atas. Jadi, yang ada cuma
egois dan rakus!
Seharusnya kita optimis dan percaya diri bahwa globalisasi bukan berarti
kita harus menyerap segala yang ditawarkan dunia pada kita secara absolut, tapi
kita harus berani memberikan posisi tawar kita dengan kekuatan kita sendiri.
Jangan lagi kita mau diatur-atur oleh bangsa lain. Bukankah kita sudah sangat
berpengalaman bahwa kita pernah diinjak-injak dan dijajah beratus-ratus tahun?
Mengapa kita tidak mengambil pelajaran berharga dari pengalaman buruk itu?
Indonesia akan menjadi Indonesia, jika Indonesia yakin dengan kekuatan
Indonesia! -reef*