Yuliana Dewi
Tue, 08 Aug 2006 02:02:56 -0700
Saya pernah dapat forward artikel ini dari milis nakita dulu ttg pentingnya ASI eksklusif 6 bulan. Semoga bermanfaat bagi yang memerlukan :-).
brgds, yuli >> ASI Eksklusif, Hindarkan Bayi dari Penyakit Berbahaya >> >> Rugi bila bayi Anda tak diberi ASI Eksklusif. Sebab, >> menurut penelitian terbaru, ASI yang diberikan secara >> eksklusif, melindungi tubuh anak dari berbagai >> penyakit kronis. >> >> Jika sejak dulu para orangtua tahu betapa besarnya >> manfaat air susu ibu (ASI), pastilah sayang bila harus >> memberi tambahan susu formula atau pisang lumat pada >> buah hati mereka. Khasiatnya, menurut penelitian >> terbaru, mencegah anak dari serangan penyakit akut dan >> kronis. >> >> Tentu saja bukan sembarang ASI yang punya manfaat >> luarbiasa tersebut. Tetapi terutama ASI yang >> dikonsumsi bayi secara eksklusif. Yakni, ASI diberikan >> sejak bayi baru lahir sampai usia 6 bulan tanpa >> dicampur dengan makanan atau cairan lain meski air >> putih sekalipun. "Manfaatnya akan terserap tubuh >> sangat baik dan memberi perlindungan yang diperlukan >> bayi. ASI masih tetap perlu diberikan sampai usia bayi >> 2 tahun, tapi bayi harus mendapat makanan pendamping," >> ujar Dr. Utami Rusli, SPA, MBA, IBCLC, pakar ASI. >> >> Sayangnya, informasi tentang ASI buat ibu-ibu hamil >> dan melahirkan masih sangat kurang. Laporan Departemen >> Kesehatan sangat memprihatinkan. Pemberian ASI >> ekslusif selama enam bulan mengalami penurunan. Pada >> tahun 1997 sebanyak 42,4% dan turun menjadi 39,5% pada >> tahun 2002. Hal serupa juga terjadi pada bayi yang >> mendapat ASI dalam satu jam pertama setelah >> dilahirkan. Pada 1997 jumlahnya hanya 8% dan turun >> menjadi 3,7% pada tahun 2002. Sebaliknya dengan susu >> formula justru mengalami peningkatan 10,8% menjadi >> 32,45%. >> >> Padahal, bila diberika ASI eksklusif, Anda tak perlu >> beli susu formula lho. Belum lagi bonusnya. Sebab, >> berbagai penelitian telah membuktikan kalau bayi usia >> 0 - 6 bulan diberikan hanya ASI saja, pertumbuhannya >> jauh lebih baik dibanding bayi yang tidak mendapatkan >> ASI. Mengapa demikian? Di dalam ASI mengandung zat >> kekebalan yang dapat meningkatkan daya tahan anak >> terhadap penyakit yang cukup baik. Diantaranya, >> mengandung lemak, protein, karbohidrat, vitamin dan >> mineral yang sangat dibutuhkan bayi. >> >> Hindarkan Bayi dari Penyakit Berbahaya >> ASI, jelas Utami, sebenarnya bahan atau cairan hidup. >> Sekitar 80 % lemak ASI merupakan bakal DHA-AA yang >> selama ini banyak digaungkan produsen susu formula. >> Uniknya, 90% DHA-AA dari ASI dapat diserap oleh usus >> bayi ketimbang yang ada pada susu formula. "ASI itu >> zat yang sangat baik untuk pertumbuhan otak. Salah >> satu buktinya, menurut penelitian, anak yang diberikan >> ASI, tingkat IQ-nya berbeda 12,9 poin di atas anak >> yang tidak diberi ASI pada anak usia 9,5 tahun," jelas >> Tami mengurai data. >> >> Selain kandungan gizinya yang lengkap, di dalam ASI >> terdapat enzim pencernaan. Enzim inilah yang dapat >> membantu pencernaan mencerna berbagai nutrisi dan >> kandungan zat imun (anti infeksi) lebih >> maksimal. Zat inilah kelak yang dapat menjadi perisai >> tangguh anak dari berbagai penyakit infeksi yan >> berbahaya. >> >> Zat anti infeksi ini banyak terdapat pada kolostrum >> atau susu jolong, cairan kuning kental yang muncul di >> awal-awal menyusui sampai hari ke 4 atau 7. Susu ini >> tinggi protein rendah lemak. Keluarnya di awal-awal >> ASI keluar, makanya begitu bayi lahir susui terus >> meski (rasanya) ASI belum keluar. Sebab, rugi bila >> kolostrum ini merembes keluar dan terlewati bayi. >> >> Berbagai penyakit berbahaya di masa bayi maupun usia >> dewasa bisa dihindari bila bayi diberi ASI eksklusif. >> Contohnya penyakit seperti infeksi, diare, radang >> paru-paru (pneumonia), radang otak (meningitis), >> diabetes dan kanker. >> >> Menurut Utami, bayi yang diberikan ASI, 20 kali lipat >> jarang terkena diare akut ketimbang bayi yang >> diberikan susu formula. 7 kali jarang kena radang >> paru-paru, 4 kali tidak terkena radang otak atau >> meningitis. >> >> Sederhananya begini. Komposisi kandungan ASI berubah >> sesuai dengan pertambahan usia dan kondisi bayi. Kalau >> seorang bayi terserang diare dengan sendirinya >> komposisi zat gizinya berubah. Komposisi kandungan ASI >> akan bereaksi terhadap penyakit diare yang diderita >> bayi. Sehingga mengurangi bahkan menyembuhkan diare >> bayi. >> >> Komposisi ASI huga akan berubah sesuai dengan >> kebutuhan bayi pada setiap usia. Misalnya ASI yang >> keluar pada minggu pertama (kolostrum) beda >> komposisinya dengan ASI pada minggu kedua, bahkan >> berbeda dari menit ke menit. Bahkan ASI yang >> dihasilkan ibu yang melahirkan kurang bulan juga >> berbeda dengan ASI yang dihasilkan oleh ibu yang >> melahirkan cukup bulan. Nah, tak mungkin dicontek susu >> formula, bukan? >> >> Mendidik dengan ASI >> ASI memang dapat menambah kecerdasan anak. Tapi, >> menurut Utami, ASI saja tak cukup untuk kecerdasan >> anak. Ibarat komputer, otak adalah hardwarenya, >> sedangkan pendidikan bagi anak adalah softwarenya. >> "Jadi, jangan hanya salah satunya saja," tandas Dr >> Utami. >> >> Saat ibu menyusui bayinya tak hanya memberikan makan >> pada bayi, tapi di dalamnya memiliki nilai-nilai >> pendidikan. Kata Utami, menyusui itu adalah sebuah >> pekerjaan pendidikan. Saat itu terjadi kontak emosi >> dan psikologis antara ibu dan anaknya. Sambil >> menyusui, seorang ibu akan membelai-belai, menyanyi >> atau pun melantunkan ayat-ayat suci yang akan >> merangsang otak kiri dan kanan bayi. >> >> Saat menyusu pula, kelima panca indera bayi mencoba >> merasakan, mendengar, melihat, membaui apa yang ada di >> sekelilingnya. Bayi akan merasa sang ibu sedang >> berbicara padanya, menyayanginya. "Makanya sangat >> berbeda antara anak yang diberi ASI dengan yang tidak. >> Anak yang diberi ASI akan tumbuh lebih cerdas, sehat, >> 16 kali jarang dirawat di rumah sakit ketimbang bayi >> dengan susu formula," terang ketua Sentra Laktasi >> Indonesia (SELI) tersebut. >> >> Selain lebih tinggi secara IQ, bayi ASI memiliki >> emotional quetient (EQ) dan spiritual quentient (SQ) >> yang baik. "Syaratnya jangan hanya payudara yang >> diberikan tapi ibu harus proaktif mengekspresikan >> kasih sayang ibu pada bayi, begitu juga ayah." Bila >> ibu sibuk berkarir, ASI serta pendidikan tetap bisa >> diberikan. "Perahlah ASI ibu, terus berikan dengan >> penuh kasih sayang oleh nenek atau pengasuh bayi. >> Memberikan ASI itu hak anak lho. Bayi yang sehat >> fisik, intelektual dan emosional, sang ibu turut >> menciptakan generasi sehat bagi bangsanya." *anggi >> >> Ibu Juga Mendapat Manfaat ASI >> Tak hanya bayi yang diuntungkan dengan ASI, tapi juga >> sang ibu. Apa saja? Menurut dr Utami, ibu yang >> menyusui akan mendapat beberapa manfaat. >> >> Mencegah terjadinya kurang darah atau anemia >> defisiensi zat besi. Dengan menyusui ekslusif selama >> enam bulan, akan berpengaruh terhadap penundaan haid. >> Dengan menunda timbulnya haid, ibu dapat menyimpan zat >> besi dan mencegah anemia defisiensi zat besi >> >> Mencegah perdarahan saat ibu baru saja usai melahirkan >> dan mempercepat involusi uterus (pengecilan rahim >> seperti semula). Hal ini disebabkan karena pada saat >> bayi lahir dan segera disusukan ke ibunya, maka >> rangsangan hisapan bayi pada payudara ibu akan >> diteruskan ke hipofisis pars posterior yang akan >> mengeluarkan hormon progesteron >> >> Mempercepat ibu kembali ke berat sebelum hamil. Dengan >> menyusui, timbunan lemak pada tubuh ibu akan >> dipergunakan untuk pembentukan ASI sehingga berat >> badan ibu akan lebih cepat kembali ke berat sebelum >> hamil >> >> Mengurangi resiko terkena kanker payudara dan ovarium. >> Cukup banyak penelitian yang membuktikan bahwa ada >> korelasi antara infertilitas dan tidak menyusui dengan >> peningkatan risiko terkena kanker, baik itu kanker >> payudara ataupun kanker ovarium >> >> Mempererat jalinan kasih sayang dan hubungan emosional >> ibu dan anak >> >> Memiliki pengaruh emosional. Sebab dengan memberikan >> ASI juga mempunyai pengaruh emosional bagi ibu dan >> bayi >> >> Lebih murah dan hemat. Coba dihitung, berapa biaya >> yang harus dikeluarkan selama sebulan untuk memberi >> susu formula ketimbang ASI yang murah dan lebih bagus >> nilai gizinya. >> >> Membuat hubungan seksual lebih hangat. Sebab, menyusui >> bayi akan mempercepat rahim untuk kembali ke bentuk >> semula. Sehingga hubungan seksual dengan pasangan pun >> akan lebih nikmat. >> >> Dapat menunda kehamilan. Dengan menyusui secara >> eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga >> dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang >> secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi >> (MAL). >> Manfaat ASI bagi Bayi >> Begitu besar manfaat ASI bagi bayi baik untuk >> kesehatan maupun kecerdasan anak: >> a. Untuk kesehatan: >> >> ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas >> kontaminasi. >> Selama dalam kandungan bayi mendapatkan zat pelindung >> dari ibunya melalui plasenta. Setelah lahir, suplai >> zat pelindung ini terhenti digantikan ASI. Zat >> protektif seperti makrofag, limfosit, laktoferin, >> imunoglobulin, laktobasilus bifidus, dll dapat >> melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi yag >> disebabkan bakteri, virus, ataupun jamur. >> >> Immunoglobulin A (Ig.A) dalam kolostrum atau ASI >> kadarnya cukup tinggi. Sekretori Ig.A tidak diserap >> tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan >> berbagai virus pada saluran pencernaan. >> >> Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan >> komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di >> saluran pencernaan. >> >> Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri >> (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim >> dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi. >> >> Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih >> dari 4000 sel per mil. Terdiri dari Brochus-Asociated >> Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut >> Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran >> pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue >> (MALT) antibodi jaringan payudara ibu. >> >> Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung >> nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus >> bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi >> dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang >> merugikan. >> >> Dari aspek Neurologis. Dengan menghisap payudara, >> koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang >> terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna. >> >> Untuk Kecerdasan >> >> Perkembangan psikomotorik lebih cepat. Penelitian di >> Inggris mendapatkan bahwa bayi yang mendapat ASI, dua >> bulan lebih cepat kemampuan jalannya dibandingkan bayi >> yang diberi susu formula >> >> Menunjang perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif >> anak, daya ingat dan kemampuan bahasa pada anak yang >> mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang >> mendapat susu formula >> >> Kandungan Taurin-sejenis asam amino kedua terbanyak >> dalam ASI; berfungsi sebagai neuro-transmitte. >> Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi >> taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina >> mata. >> >> Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) >> adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang yang >> diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang >> optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi >> untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. >> Disamping itu DHA dan AA tersebut dapat >> dibentuk/disintesa dari substansi pembentuknya >> (precursor), yaitu dari Omega 3 (asam linolenat) dan >> Omega 6 (asam linoleat). >> >> Ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai >> rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin >> contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi >> merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut >> jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam >> rahim. >> Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi >> ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia >> 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, >> dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, >> dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI. >> >> Majalah Ayahbunda Edisi/No.01 Januari 2005. >> >> Stop MP-ASI terlalu dini >> >> Anies Irawati, peneliti pada Pusat Penelitian dan >> Pengembangan Gizi dan >> Makanan, Departemen Kesehatan, Desember 2004 lalu >> melaporkan hasil >> penelitiannya tentang pengaruh makanan pendamping ASI >> yang diberikan terlalu >> dini, terhadap tumbuh kembang bayi. Penelitian yang >> dilakukan dlm rangka >> menyelesaikan program doktoralnya pada Fakultas >> Kesehatan Masyarakat >> Universitas Indonesia ini dimulai pada th 1999. >> Penelitian melibatkan 270 >> orang ibu hamil di kawasan Sukaraja, Bogor, yg >> dipantau sampai bayinya lahir >> dan berusia 4 bln. >> >> Susahnya ASI eksklusif >> >> Sekalipun WHO dan Departemen Kesehatan sudah lama >> mencanangkan anjuran bagi >> para ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif kpd >> bayinya, tapi pada >> kenyataannya, pelaksanaan anjuran tsb masih jauh dari >> harapan. Dan berbagai >> studi, diinformasikan bahwa masih banyak ibu yang >> memberikan ASI kepada >> bayinya secara tidak benar. Lebih dari 50% bayi di >> Indonesia sudah mendapat >> makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada umur kurang dari >> satu bln. Bahkan pada >> umur 2-3 bulan, bayi ada yang sudah mendapat makanan >> padat. Bayi yang >> mendapat ASI dan MP-ASI berupa cairan, termasuk >> vitamin, mineral, atau >> obat-obatan, digolongkan sebagai predominant >> breast-feeding baby (bayi ASI >> predominan). Sedangkan bayi yang mendapat ASI dan >> MP-ASI berupa makanan >> pada, semi padat, atau cairan, termasuk vitamin, >> mineral, atau obat-obatan, >> didefinisikan sebagai partial beast-feeding baby (bayi >> ASI parsial). >> Tingkat pendidikan ibu yg rendah, wawasan pengetahuan >> terbatas dan tradisi >> turun-temurun merupakan faktor yang mendukung >> timbulnya anggapan bahwa ASI >> saja tidak cukup sebagai makanan bayi. Akibatnya, para >> ibu memberikan bentuk >> cairan sebagai makanan pendamping ASI sebelum bayinya >> mencapai umur 4 bulan. >> Jadilah anjuran pemberian ASI eksklusif minimal 6 >> bulan sangat sulit >> dilaksanakan sesuai harapan. >> >> Dampaknya pada bayi >> >> Dari riset yang dilakukan selama 21 bulan ini >> diketahui, bayi ASI parsial >> lebih banyak terserang diare, batuk-pilek, dan panas >> dibandingkan bayi ASI >> predominan. Semakin bertambah umur bayi, frekuensi >> terserang diare, >> batuk-pilek, dan panas semakin meningkat. >> Kondisi itu ternyata disebabkan oleh MP-ASI yg tidak >> terjaga kebersihannya, >> sehingga mudah terkontaminasi mikroba patogen penyebab >> diare. Hal ini >> diperkuat dengan kenyataan bahwa sebagian besar bayi >> ASI parsial dan bayi >> ASI predominan tidak mendapat kolostrum. Padahal kita >> tau, bahwa di dlm >> kolostrum terkandung zat antibodi. >> Berbagai penyakit infeksi yg diderita kedua kelompok >> bayi tsb menyebabkan >> mereka menderita kekurangan zat gizi (malnutrisi). >> Dampaknya terlihat pada >> gangguan berat badan dan panjang tubuh bayi. Ini sudah >> mulai tampak sejak >> bayi berumur satu bulan dan berlanjut sampai bayi >> berumur 4 bulan dan >> kemungkinan masih berlanjut pada interval umur >> selanjutnya. >> Hasil penelitian ini merupakan bukti lain yang >> menunjukkan bahwa ASI tetap merupakan makanan terbaik >> bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya. >> >> Resiko Pemberian MPASI Terlalu Dini >> * >> (Dirangkum & ditulis bebas oleh Luluk Lely Soraya I, >> 26 March 2005) >> >> Banyak sekali pertanyaan dan kritik yang timbul >> mengenai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) di >> usia < 6 bl. Bahkan banyak dari kita tidak pernah >> tahu mengapa WHO & IDAI mengeluarkan statement bahwa >> ASI eksklusif (ASI saja tanpa tambahan apapun bahkan >> air putih sekalipun) diberikan pada 6 bl pertama >> kehidupan seorg anak. Kemudian setelah umur 6 bulan >> anak baru mulai mendapatkan MPASI berupa bubur >> susu, nasi tim, buah, dsb. >> >> *Alasan menunda pemberian MPASI* >> >> Mengapa harus menunda memberikan MPASI pada anak >> sampai ia berumur 6 bl ?! Kalo jaman dulu (baca : >> sebelum diberlakukan ASI eksklusif 6 bl) umur 4 bl >> aja dikasih makan bahkan ada yg umur 1 bl. Dan banyak >> yang berpendapat gak ada masalah apa-apa tuh dg >> anaknya. >> >> Satu hal yg perlu diketahui bersama bahwa jaman terus >> berubah. Demikian juga dengan ilmu & teknologi. Ilmu >> medis juga terus berkembang dan berubah berdasarkan >> riset2 yg terus dilakukan oleh para peneliti. Sekitar >> lebih dari 5th yg lalu, MPASI disarankan >> diperkenalkan pada anak saat ia berusia 4 bl. Tetapi >> kemudian beberapa penelitian tahun2 terakhir >> menghasilkan banyak hal sehingga MPASI sebaiknya >> diberikan >6bl. >> >> *Mengapa umur 6 bl adalah saat terbaik anak mulai >> diberikan MPASI ?!* >> >> 1. Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan >> memberikan perlindungan ekstra & besar dari berbagai >> penyakit. >> Hal ini disebabkan sistem imun bayi < 6 bl belum >> sempurna. Pemberian MPASI dini sama saja dg membuka >> pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman. Belum >> lagi jika tidak disajikan higienis. >> Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia >> menunjukkan bahwa bayi yg mendapatkan MPASI sebelum >> ia berumur 6 bl, lebih banyak terserang diare, >> sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yg >> hanya mendapatkan ASI eksklusif. Belum lagi penelitian >> dari badan kesehatan dunia lainnya. >> >> 2. Saat bayi berumur 6 bl keatas, sistem >> pencernaannya sudah relatif sempurna dan siap >> menerima MPASI. >> Beberapa enzim pemecah protein spt asam lambung, >> pepsin, lipase, enzim amilase, dsb baru akan >> diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bl. >> >> 3. Mengurangi resiko terkena alergi akibat pada >> makanan >> Saat bayi berumur < 6 bl, sel2 di sekitar usus belum >> siap utk kandungan dari makanan. Sehingga makanan yg >> masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi >> alergi. >> >> 4. Menunda pemberian MPASI hingga 6 bl melindungi >> bayi dari obesitas di kemudian hari. Proses pemecahan >> sari2 makanan yg belum sempurna. >> >> Pada beberapa kasus yg ekstrem ada juga yg perlu >> tindakan bedah akibat pemberian MPASi terlalu dini. >> Dan banyak sekali alasan lainnya mengapa MPASI baru >> boleh diperkenalkan pada anak setelah ia berumur 6 >> bl. >> >> *Masih banyak yg mengenalkan MPASI < 6 bl* >> >> Kalo begitu kenapa masih banyak orangtua yg telah >> memberikan MPASI ke anaknya sebelum berumur 6 bl ? >> Banyak sekali alasan kenapa ortu memberikan MPASI < 6 >> bl. Umumnya banyak ibu yg beranggapan >> kalo anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika >> diberi makan. Meski gak ada relevansinya banyak yg >> beranggapan ini benar. Kenapa ? Karena belum sempurna, >> sistem pencernaannya harus bekerja lebih keras utk >> mengolah & >> memecah makanan. Kadang anak yg menangis terus >> dianggap sbg anak gak kenyang. Padahal menangis bukan >> semata2 tanda ia lapar. >> >> Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat kita >> spt ortu terdahulu bahwa anak saya gak papa tuh >> dikasih makan pisang pas kita umur 2 bl. Malah sekrg >> jadi orang. >> >> Alasan lainnya juga bisa jadi juga tekanan dari >> lingkungan dan gak ada dukungan spt alasan di atas. >> Dan gencarnya promosi produsen makanan bayi yg belum >> mengindahkan ASI eksklusif 6 bl. >> >> *_Aturan MPASI setelah 6 bulan : Karena < 6 bl >> mengandung resiko_* >> >> Sekali lagi tidak mungkin ada saran dari WHO & IDAI >> jika tidak dilakukan penelitian panjang. Lagipula tiap >> anak itu beda. Bisa jadi gak jadi masalah utk kita >> tapi belum tentu utk yg lain. Misalkan, >> ilustrasinya sama spt aturan cuci tangan sebelum >> makan. Ada anak yg dia tidak terbiasa cuci tangan >> sebelum makan. Padahal ia baru bermain2 dengan tanah >> dsb. Tapi ia tidak apa2. Sedangkan satu waktu atau di >> anak yg lain, begitu ia melakukan hal tsb ia langsung >> mengalami gangguan pencernaan karena kotoran yg masuk >> ke makanan melalui tangannya. Demikian juga dengan >> pemberian MPASI pada anak terlalu dini. Banyak yang >> merasa "anak saya gak masalah tuh saya kasih makan >> dari umur 3 bulan". Sehingga hal tsb menjadi "excuse" >> atau alasan utk tidak mengikuti aturan yg berlaku. >> Padahal aturan tsb dibuat karena ada resiko sendiri. >> Lagipula penelitan ttg hal ini terus berlanjut. Saat >> ini mungkin pengetahuan dan hasil riset yg ada masih >> terbatas dan "kurang" bagi beberapa kalangan. Tapi di >> kemudian hari kita tidak tahu. Ilmu terus berkembang. >> >> >> Dan satu hal yg penting. Aturan agar menunda >> memberikan MPASi pada anak < 6 bulan bukan hanya >> berlaku utk bayi yg mendapatkan ASI eksklusif. Tetapi >> juga bagi bayi yg tidak mendapatkan ASI (susu formula >> atau mixed). Semuanya akan kembali kepada ayah & ibu. >> Jika kita tahu ada resiko dibalik pemberian MPASI < 6 >> bl, maka mengapa tidak kita menundanya. Apalagi >> banyak sekali penelitian & kasus yang mendukung hal >> tsb. >> >> Apapun keputusan ibu & ayah, apakah mau memberikan >> MPASi < 6 bl ataupun > 6bl, alangkah baiknya >> dipertimbangkan dg baik untung ruginya bagi anak, >> bukan bagi orang tuanya. Sehingga keputusan yg diambil >> adalah yg terbaik utk sang anak. __,_._,___ =+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+ Mailing List Nakita milis-nakita@news.gramedia-majalah.com Arsip http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/ ------------------------------------------------ untuk berlangganan kirim mail kosong ke : [EMAIL PROTECTED] untuk berhenti berlangganan kirim mail kosong ke: [EMAIL PROTECTED]