uttiek
Tue, 07 Nov 2006 20:57:19 -0800
|
Dear nakita-ers, Berikut beberapa artikel tentang ibu hamil minum obat yang pernah dimuat di Tanya Jawab nakita dan artikel terkait lainnya Semoga membantu Salam, Uttiek OBAT BEBAS UNTUK IBU HAMILDokter yang terhormat, saya (29) dengan BB 52 kg dan TB 169 cm. Anak pertama sudah berusia 23 bulan lahir lewat operasi sesar. Sewaktu hamil dulu saya terserang flu dan batuk lalu minum obat dari dokter namun tidak kunjung sembuh. Saya putuskan untuk minum obat bebas (yang dijual di warung) namun penggunaannya dibatasi ± 6 kali selama saya hamil dan menyusui. Pertanyaannya, apakah dalam waktu dekat saya sudah boleh hamil kembali? Apakah saya bisa menjalani persalinan normal? Apakah ibu hamil sama sekali tidak boleh minum obat yang tertulis "dilarang untuk ibu hamil". Apa dampaknya, karena saya pernah mengonsumsinya beberapa kali sewaktu hamil dulu? Obat bebas apa yang baik untuk ibu hamil dan menyusui? Semoga Dokter berkenan menjawabnya. Ari - Jakarta Persalinan normal pada Ibu yang pernah menjalani operasi sesar satu kali bisa saja terjadi, tetapi cukup banyak persyaratannya. Misalnya penyebab operasi yang lalu tidak menetap (misalnya panggul sempit atau abnormal), penyembuhan luka dinding rahim baik, jarak hamil lebih dari satu tahun sejak operasi yang lalu, rumah sakit mampu mempersiapkan kamar operasi dan tim operasi dalam waktu singkat (dalam waktu 30 menit bayi tersebut dapat dilahirkan bila terjadi kegawatan), dan Ibu mau mencoba lahir normal. Semua ibu hamil dilarang
makan obat-obatan yang ada tulisannya "Dilarang bagi ibu hamil dan
menyusui" karena kandungan zat kimianya sudah terbukti berbahaya bagi
janin. Obat pada prinsipnya adalah racun yang dosisnya dibuat
sedemikian rupa sehingga masih aman bagi manusia normal. Pada keadaan
tertentu, obat tersebut harus dilakukan penyesuaian dosis atau bahkan
dilarang diberikan. Mengenai apa dampaknya bagi bayi Ibu, sangat sulit
menjawabnya karena sangat tergantung kapan Ibu meminumnya, berapa
banyak dosisnya, dan zat kimia apa yang terkandung di dalamnya serta
dampaknya mungkin saja muncul sewaktu dalam kandungan, segera setelah
lahir, atau bahkan beberapa tahun kemudian atau mungkin saja tidak ada
efek sampingnya dalam jangka panjang. Sebelum Ibu minum obat, sebaiknya
Ibu berkonsultasi dulu dengan dokter. Terima kasih atas pertanyaannya. AMANKAH OBAT MIGRAIN UNTUK IBU HAMIL? Dokter Yth, Dok, sebentar lagi saya akan menikah. Menjelang hari pernikahan ini ada rasa takut yang menghantui saya. Sekitar satu tahun lalu saya mengkonsumsi sejenis obat untuk sakit saya. Menurut dokter yang merawat (spesialis penyakit dalam), saya terkena migren berat dan tensi yang selalu rendah. Setiap sebulan sekali saya kontrol. Adapun jenis obatnya antara lain; Metaneuron (untuk sakit kepala), Akrinor (untuk menaikkan tensi), Sibelium 5 ml (untuk migren). Dari konsumsi obat-obatan tersebut yang sering, apakah saya bisa hamil dan bagaimana pengaruh terhadap kandungan saya nanti? Saya sangat mengharapkan jawaban dari Dokter. Terima kasih. Puji Astuti - Semarang Migrain atau sakit kepala memang sering kambuh dan cukup sulit untuk disembuhkan sampai tuntas. Apakah obat-obatan metaneuron, akrinor dan sibelium masih dimakan hingga kini? Metaneuron mengandung zat aktif metampyrone 500 mg dan diazepam 2 mg, obat ini tidak boleh digunakan ibu hamil. Akrinor mengandung zat aktif cafedrine HCl 100 mg dan theodrenaline HCl 5 mg, obat ini harus atas indikasi medis bila akan digunakan ibu hamil artinya harus ada alasan kuat untuk memakainya. Sibelium mengandung zat aktif flunarizine dan dipergunakan untuk mengobati migrain. Sama seperti akrinor, obat sibelium hanya boleh diberikan pada ibu hamil bila ada alasan medis yang kuat. Semua wanita hamil harus menghindari pemakaian zat yang berbahaya bagi janin sebelum kehamilan 17 minggu karena pada masa ini sedang dibuat alat-alat tubuh calon bayi. Bila terjadi gangguan dalam masa ini, maka dapat terjadi kelainan bawaan pada janin tersebut. Mulai saat ini makanlah
makanan yang alami dan halal, masaklah semua daging sampai matang,
makan dengan komposisi seimbang yang mengandung unsur 4 sehat 5
sempurna dan cobalah mengkonsumsi asam folat. Asam folat berfungsi
menghindari neural tube defect cacat tabung saraf janin. Lingkungan
rumah dan tempat bekerja juga harus diperhatikan, hindari zat-zat
berbahaya, jangan merokok, dan jangan mengkonsumsi alkohol atau
narkoba. Terakhir, lakukanlah olah raga secara teratur dan jaga
mental/psikis Anda agar tetap bugar. Selamat menempuh hidup baru,
semoga berbahagia dan lekas memperoleh keturunan. Demikian jawaban dari
saya, semoga bermanfaat.
Saya (31) punya seorang putra usia 13 bulan. Sebulan setelah melahirkan saya terkena penyakit biduran yang tak kunjung sembuh sampai sekarang. Bahkan meski sudah diobati beberapa dokter, tes lab dan tes kulit. Hasil terakhir, saya alergi terhadap beberapa jenis makanan (seafood, teh, tomat dan wortel). Namun meski sudah pantang makanan tersebut toh tetap saja penyakit itu mengganggu. Saya pun rutin mengkonsumsi obat-obat antihistamin (incidal), minimal 2 hari sekali. Saat ini saya merencanakan hamil lagi. Amankah bila saya tetap mengkonsumsi obat-obatan tersebut? Apakah alternatif pengganti seafood karena seafood, kan, bagus untuk janin. Adakah hubungannya biduran ini dengan kelahiran bayi saya mengingat sebelum melahirkan saya tidak pernah menderita penyakit ini. Semisal ada yang bilang karena sisa-sisa darah kotor. Perlu dokter ketahui saya sama sekali tidak minum jamu. Obat lain yang diresepkan antara lain Telfast BD, Cimetidine, Operma, Ryzen, Tinset, Lameson. Ny. Eni - Jakarta Saat hamil, tubuh wanita mengadakan perubahan yang sangat hebat sebagai bentuk adaptasi dengan kehamilan dan janin yang dikandungnya. Sebagian komponen tubuh janin berasal dari ayahnya, dan ini dapat memicu reaksi kekebalan atau reaksi alergi. Obat-obat anti alergi tidak dianjurkan pada wanita hamil, terutama untuk pemakaian jangka panjang dan pada kehamilan trimester pertama. Saya menganjurkan Ibu berkonsultasi dengan dokter spesialis Kulit dan Kelamin di Subbagian Alergi Bagian Kulit dan Kelamin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo atau RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Selain seafood, masih banyak makanan lain yang berguna bagi ibu dan janin. Yang penting makanlah yang alami dan halal. Saat ini dianjurkan untuk memakan asam folat sebelum hamil, minimal tiga bulan sebelum hamil serta mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral yang sangat penting dalam tumbuh kembang embrio. Hindari makanan yang diawetkan, mengandung zat pewarna berbahaya dan tidak dimasak matang. IBU HAMIL PANTANG MINUM SEMBARANG OBATObat
bagi ibu hamil bak buah simalakama. Tak dimakan ibu sakit, tapi bila
dimakan janinnya terancam bahaya.
Heboh tragedi Thalidomide
belum terlupakan sampai sekarang. Thalidomide merupakan obat
pengurang dan penghilang mual, muntah, dan kecemasan yang sempat selama
10 tahun direkomendasikan sebagai obat aman bagi ibu hamil. Namun, pada
kenyataannya, obat yang dipakai sekitar tahun 50 sampai 60-an ini
dituduh sebagai biang keladi pelbagai kelainan pada janin, seperti
anomali jantung dan cacat pada mata. Kejadian lain
yang membuat banyak pihak berpikir dua kali untuk memberikan obat
kepada wanita hamil adalah peristiwa pencabutan obat Diethylstilbestrol
(DES) dari pasaran obat di Amerika Serikat pada tahun 1971. Obat untuk
mempertahankan kehamilan ini berdasarkan penelitian terbukti dapat
meningkatkan risiko kanker pada janin. Tak heran
kalau dr. Yanto Kadarusman, Sp.OG., juga mewanti-wanti agar
penggunaan obat-obatan selama kehamilan sebaiknya dihindarkan, "Jika
tidak mungkin, sebaiknya diskusikan dulu dengan dokter atau bidan yang
mengawasi kehamilan tersebut," ujar ginekolog dari Klinik Fertilitas
dan Menoandropause SamMarie, Jakarta ini. Tujuannya
bukan mau membuat ibu hamil menderita, hanya saja pemberian obat selama
kehamilan dikhawatirkan menimbulkan efek teratogenik atau dampak
kecacatan pada janin seperti dua kasus dahulu. Jadi, kalaupun suatu
obat memang diperlukan, harus bisa memberikan keuntungan maksimal bagi
ibu dan risiko minimal bagi ibu serta janinnya. "Jadi, pemberiannya
harus melalui banyak pertimbangan," tandas Yanto. Beberapa hal
yang perlu dipertimbangkan dalam pemberian obat pada ibu hamil adalah: (1) Keamanan:
meski ada obat lain yang efektivitasnya lebih baik, tapi jika
keamanannya bagi ibu hamil belum diketahui, lebih baik tidak diberikan.
(2) Dosis: pada
awalnya pemberian obat harus dalam dosis rendah. Jika perlu, penambahan
dosis diberikan sedikit demi sedikit sampai tercapai efek terapi yang
diinginkan. (3) Durasi pemberian:
jika tidak diperlukan sekali, pemberian obat tidak boleh terlalu lama.
Sampai akhirnya, pemberian bermacam obat sedapat mungkin dihindari demi
keselamatan ibu dan bayinya. OBAT YANG RELATIF AMAN diberikan
untuk mengatasi keluhan yang paling umum, seperti pusing, nyeri, demam,
serta mual. Keluhan-keluhan seperti ini, menurut Yanto, juga banyak
dialami ibu hamil di Indonesia. - Untuk menghilangkan rasa sakit dan demam Namun,
waspadai penggunaan aspirin dalam dosis tinggi karena disamping
mempengaruhi keasaman lambung yang dapat menimbulkan rasa nyeri, juga
berdampak menimbulkan perdarahan pada janin. Begitu juga dengan
parasetamol. Dalam dosis tinggi dan jangka waktu pemberian yang lama
bisa menyebabkan toksisitas atau keracunan pada ginjal. - Untuk menghilangkan keluhan mual Biasanya
dokter akan memberikan obat penghilang mual (antiemetik), serta
antimikroba dan antibiotik. Obat antimuntah (antinausea) yang umum
digunakan adalah golongan antihistamin. Sedangkan untuk antibiotik,
dipakai golongan penisilin dan golongan sepalosporin
yang relatif aman bagi ibu hamil. Golongan lain seperti tetrasiklin dan
lainnya sebaiknya dihindarkan. BILA HARUS KONSUMSI OBAT Lalu bagaimana
dengan ibu hamil yang memang perlu mengonsumsi obat karena penyakit
yang dideritanya. Menurut Yanto tentu tergantung pada kondisi
masing-masing ibu dan jenis penyakit. Obat-obatan
antituberkulosis seperti isoniazid dan rifampisin, misalnya, aman
digunakan pada kehamilan. Oleh sebab itu, ibu penderita tuberkulosis
yang hamil tak perlu menghentikan pengobatannya. Yang jelas
perlu dihindari, menurut Yanto, adalah obat-obatan penenang karena
semua golongan tersebut mempunyai pengaruh terhadap perkembangan janin
terutama pada penggunaan yang lama. KIAT PENGGUNAAN OBAT SELAMA KEHAMILAN Berikut kiat
aman penggunaan obat selama kehamilan dari Yanto: 1. Sebelum
menggunakan obat-obatan selama kehamilan sebaiknya diskusikan dulu
dengan dokter atau bidan yang mengawasi kehamilan. Beberapa pertanyaan
yang harus diajukan adalah: a. Obat yang
diberikan termasuk golongan apa, dan cara kerjanya bagaimana? b. Apakah obat
ini bisa menembus sawar pembatas plasenta? c. Apakah
golongan obat ini bisa berpengaruh terhadap mutasi gen yang berdampak
pada kecacatan bayi? d. Berapa
dosis adekuatnya dan berapa lama harus diminum? 2. Pada saat
minum obat perhatikan reaksi obat yang muncul. 3. Perhatikan
adanya penurunan gerakan janin. Jika menurun, segera hentikan dan
berkonsultasilah kembali. 4. Apakah ada
perdarahan setelah minum obat ini? Jika ya, segera hentikan dan lakukan
konsultasi kembali. BELUM ADA DAFTAR OBAT Dr. Marius
Widjajarta yang dihubungi secara terpisah, menyatakan Indonesia
sampai saat ini belum memiliki daftar mengenai obat yang boleh dan
tidak boleh dikonsumsi selama hamil. "Ketimbang negara lain seperti
Australia dan New Zealand, Indonesia memang agak ketinggalan. Tapi kami
bekerja sama dengan para farmakolog, sedang berusaha menyusun daftar
tersebut, kok, sehingga nanti bisa dijadikan bahan acuan bersama," ujar
Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia ini. Untuk
sementara tulisan dr. Chrisdiono M. Achadiat, Sp.OG., yang
pernah dimuat di Kompas Cyber-Media ini bisa menjadi bahan
referensi. Spesialis kebidanan dari Kediri, Jawa Timur ini membagi
klasifikasi obat menurut tingkat bahayanya terhadap janin berdasar
daftar dari FDA (Food and Drugs Administration) Amerika
Serikat, sejenis Dirjen POM (Pengawas Obat dan Makanan) di Indonesia: 1. Kategori A:
Obat/bahan obat yang berdasarkan penelitian (pada manusia) tidak
menunjukkan terjadinya risiko terhadap janin. Beberapa jenis vitamin
dan multivitamin yang diberikan semasa hamil termasuk dalam kategori
ini kecuali "megavitamins". 2. Kategori B:
Obat/bahan obat yang tidak menunjukkan risiko pada janin tapi
belum/tidak ada penelitian yang memadai pada manusia. Efek tak
diharapkan dapat diperlihatkan pada binatang percobaan, tetapi belum
bisa dibuktikan pada manusia. Beberapa antibiotika seperti penisilin
termasuk kategori ini. 3. Kategori C:
Belum ada penelitian yang adekuat pada manusia maupun binatang
percobaan. Atau telah dijumpai efek merugikan pada binatang, tetapi
tidak diperoleh data yang cukup meyakinkan/valid pada manusia.
Kebanyakan obat atau bahan lainnya yang sering diminum selama kehamilan
sekarang termasuk dalam kategori ini. 4. Kategori D:
telah ditemukan bukti-bukti adanya risiko bagi janin, tapi keuntungan
pemberiannya dipandang lebih besar dibandingkan risiko tersebut.
Contohnya, Carbamazepine dan Phenytoin (sejenis obat
untuk epilepsi) serta beberapa obat antikanker atau kemoterapi. 5. Kategori X:
Risiko obat/bahan obat pada janin jauh lebih besar dibanding
keuntungannya. Dengan kata lain, obat dalam kategori ini tidak boleh
diberikan selama kehamilan (istilahnya: kontraindikasi mutlak).
Contohnya adalah sejenis obat untuk jerawat yang dikenal sebagai isotretinoin,
yang dapat menyebabkan kelainan multipel pada sistem saraf, wajah,
maupun kardiovaskuler. Faras Handayani =+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+ Mailing List Nakita milis-nakita@news.gramedia-majalah.com Arsip http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/ ------------------------------------------------ untuk berlangganan kirim mail kosong ke : [EMAIL PROTECTED] untuk berhenti berlangganan kirim mail kosong ke: [EMAIL PROTECTED] |