milis-nakita  

[milis-nakita] Hospital Information {04}

Suwarno
Tue, 29 Jan 2008 00:23:10 -0800

Berikut saya kirimkan artikel dari nakitaers tentang keladi tikus
 
terima kasih

-----Original Message-----
From: milis-nakita@news.gramedia-majalah.com [EMAIL PROTECTED] Behalf 
Of Rita Marlinda.s
Sent: Tuesday, January 29, 2008 10:40 AM
To: milis-nakita List Member
Cc: devi
Subject: [milis-nakita] Hospital Information {03}



Hi Mbak Devi,

 

Terima kasih banyak informasinya..ntar saya coba inform ke temen saya...tapi 
kalo boleh tau..berapa kira2 total biayanya...dan boleh saya tau nomer 
telpnya...soalnya saya dibatam mbak...dan temen saya itu di Kalimantan 
(samarinda).

 

Saya juga mohon bantuin/informasi tuk pengobatan alternative.

Saya ingat dulu ada yang pernah kirim tentang "keladi tikus" ...kalo ada yang 
punya artikelnya boleh di send balik gak...via japri aja biar gak ganggu...

 

 

 

 

Best Regards 
  
Rita Marlinda S 




  _____  


From: milis-nakita@news.gramedia-majalah.com [EMAIL PROTECTED] On 
Behalf Of devi
Sent: Tuesday, January 29, 2008 6:28 AM
To: milis-nakita List Member
Subject: [milis-nakita] Hospital Information {02}

 

Maaf...........tentang RS yg bagus di Penang, saya tidak tahu,........

kalo buat penyakit tumor...knp harus ke Penang....kenapa tidak ke RS dalam 
negeri aja....Contohnya di RS. Cikini.

Tahun 1995 saya juga pernah menjalani OPERASI TUMOR (Jinak).....Di Rs. Cikini 
dengan specialis TUMOR Dr. TOGAR SIMANJUNTAK........Alhamdullilah sampai 
sekarang tidak ada masalah.....dan saya sudah punya 2 oang anak pa-pi.

 

terima kasih

----- Original Message ----- 

From: Rita Marlinda.s <[EMAIL PROTECTED]>  

To: milis-nakita List  <mailto:milis-nakita@news.gramedia-majalah.com> Member 

Sent: Tuesday, January 29, 2008 9:42 AM

Subject: [milis-nakita] Hospital Information {01}

 

Hi All,

 

Ada gak yang tau informasi tentang RS yang bagus  di PENANG Malaysia, tuk 
nangani penyakit TUMOR. Kalo ada pls donk bagi2 alamat email ato nomer 
Telp-nya. Saya punya temen yang mengidap penyakit Tumor. 

 

Maaf kalo pertanyaan ini tidak sesuai dengan topik nakita

 

Best Regards 
  
Rita Marlinda S 

--- Begin Message ---

---------- Forwarded message ----------
From: briliyan parmawati <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 28 Nov 2007 14:58 
Subject: Fwd: [kitaTL99] Fwd: Obat Kanker [Penting]
To: [EMAIL PROTECTED]

Note: forwarded message attached.



     
____________________________________________________________________________________
 
Be a better pen pal.
Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.  
http://overview.mail.yahoo.com/

---------- Pesan Yang Diteruskan ----------
From: "Desy Sutikno" < [EMAIL PROTECTED]>
To: "Lima Jaya" <[EMAIL PROTECTED]>,  <[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL 
PROTECTED]
Date: Sat, 17 Nov 2007 10:14:55 -0500
Subject: [kitaTL99] Fwd: Obat Kanker [Penting]
---------- Forwarded message ----------
From: Edwin Lunandy < <[EMAIL PROTECTED]>  [EMAIL PROTECTED]>
Date: Nov 17, 2007 8:29 AM
Subject: Fwd: [ars_unpar_99] Obat Kanker [Penting]
To: Desy Sutikno <[EMAIL PROTECTED]>




---------- Forwarded message ----------
From: Riva Tomasowa <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Nov 16, 2007 11:55 PM
Subject: [ars_unpar_99] Obat Kanker [Penting]
To: [EMAIL PROTECTED]


TOLONG SEBARKAN
INFORMASI INI…



Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi
Kanker tidak lagi mematikan.


Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang
lebih lama dengan ditemukannya tanaman "KELADI TIKUS" (Typhonium
Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat
menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai
penyakit berat lain.


Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini
hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. 


"Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata
Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di
Indonesia .


Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris 
K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari University
Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care di Penang, Malaysia.

Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu
ribuan pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia , Selandia 
Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.


Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di
Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker
payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. 

Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri
Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh
sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.


"Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan 
wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan
rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas
Patoppoi.


Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus 
berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia
mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia
untuk mengobati kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke
Malaysia untuk membeli teh tersebut," ujar Patoppoi yang juga ahli 
biologi.

Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia , secara tidak
sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang
berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. 


"Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut.
Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi,
tapi langsung pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi sambil tersenyum. 


Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.
Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat
Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman
tersebut. 


Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya
di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka
menemukan tanaman itu di sana . Setelah mendapatkan tanaman tersebut 
dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia
untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu. Selang
beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa
tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. 


"Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai
obat," lanjut Patoppoi.


Akhirnya, dengan tekad bulat dan do ' a untuk kesembuhan, Patoppoi
mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada 
buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi
menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut
mencarikan tanaman tersebut.


"Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di 
pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman
tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi
ayahnya saat itu.


Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami 
penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya
berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang.


"Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal," lanjut Boni.


Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani
pemeriksaan kankernya.


"Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan
dokter-dokter di Jakarta ," kata Patoppoi. 


Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang
diberikan pada isterinya.


"Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis
kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. 


Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter
pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar
mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak
mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan 
pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam
bulan sekali.


"Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung
secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan 
alternatif," sambung Boni sambil tertawa.


Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan
keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian
menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk meinformasikan bahwa tanaman 
tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk
menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia.


Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu
apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung 
Patoppoi.


Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo
menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi 
dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.


Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis
mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa
Pos,Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, 
penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan
salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang
dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut
berhasil menyembuhkan pasien tersebut. 


"Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos,"
ujar Boni.


Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam
sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. 


"Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini,"
lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo.


Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim 
stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi.
Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku
dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos.


Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian
pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu
dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.


Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi 
berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno,
Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia .


Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat 
penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan
memiliki nama Indonesia .


Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi
revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku 
tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan
kanker.


Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi
mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya .


Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan
lembaga sosial Cancer Care Indonesia , yang juga disebutkan dalam
buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5,
Jakarta , telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo. 


Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut
secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus
dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai
tananaman lainnya dengan dosis tertentu.


"Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita," kata Boni.


Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir
yang menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan 
melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan
akan kami fax-kan.


Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus
obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 Ringgit 
Malaysia," lanjut Boni.


"Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik
keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan
perpanjangan waktu pembayaran." tambahnya. 


Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah
satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker
ginjal.


Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat 
sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini.


Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi
pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-
rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani 
kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan
rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah.


Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini
menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk 
membantu proses penyembuhan kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak
ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien
tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos
karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia . 


Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai
pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-
kun" atau dokter-dukun. "Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan 
konvensional dan modern," kata dokter tersebut.


Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan
bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan
sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat 
kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium
III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care.
Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat
mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan 
mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut.


"Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi
tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul
resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," 
sambung Boni sambil tertawa.


Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat
serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit
sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, 
beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa
kesakitan.


Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah
disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker 
payudara, paru-paru, usus besar-rectum,
liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak,
limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.


Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran 
Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia
kesehatan.


Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan
dengan artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga 
sosial "Cancer Care Indonesia " beralamat di :

Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta ,
telp : 021-4894745_ ,_.___


Salam,

Fanny




Yahoo! Groups Links







--
-Desy Sutikno-



Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
   http://groups.yahoo.com/group/kitaTL99/

<*> Your email settings:
   Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
   http://groups.yahoo.com/group/kitaTL99/join 
   (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
   [EMAIL PROTECTED]
   mailto: <[EMAIL PROTECTED]>  [EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
   [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: 
   http://docs.yahoo.com/info/terms/




--- End Message ---