milis-nakita  

[milis-nakita] efek samping imunisasi {01}

uttiek
Sun, 06 Jul 2008 23:11:31 -0700



Dear nakita-ers,
Postingan ini sebelumnya sudah pernah saya kirim ke milis, semoga
bermanfaat.

VAKSINASI SEBABKAN ANAK AUTIS, BETULKAH?
Gonjang-ganjing masalah vaksinasi sebabkan anak autis belum juga mereda.
Setelah MMR dituding sebagai biang keladinya, kini thimerosal sebagai zat
pengawet dalam vaksin pun ikut dikambinghitamkan. Bagaimana duduk
permasalahan yang sebenarnya?

     Isu memang selalu meresahkan. Seorang ibu menulis lewat e-mail
bagaimana anaknya mengidap autis setelah divaksinasi. Ditanggapi di sana,
diprotes di sini, justru membuat e-mail itu makin populer. Belum reda isu
itu, muncul buku terjemahan yang berjudul Children With Starving Brains
(Grasindo, 2002) hasil tulisan seorang dokter yang kebetulan memiliki cucu
autis akibat vaksinasi. Banyak kalangan, terutama orang tua, menjadi resah
setelah membacanya. Apa yang sebenarnya terjadi?

     "Isu seputar vaksinasi itu selalu ada dan tidak pernah berhenti.
Bahkan ada perkumpulan yang terang-terangan mendeklarasikan diri sebagai
kelompok antivaksinasi," tanggap Dr. Adi Tagor, Sp.A. DPH., dari RS Pondok
Indah, Jakarta. Namun, ia meminta kita agar tidak menutup mata terhadap
manfaat vaksin yang merupakan salah satu penemuan terbesar. Sejarah
mencatat, vaksinasi menyelamatkan banyak generasi dan memperpanjang
kemungkinan hidup seseorang. Salah satunya vaksin cacar yang berhasil
melenyapkan penyakit itu dari muka bumi pada tahun 1970.
     Vaksinasi pun tidak hanya bermanfaat bagi orang yang menjalankannya,
tapi bermanfaat bagi orang di seluruh dunia. "Dengan vaksinasi, kemungkinan
penularan penyakit dapat diperkecil dan akhirnya bermanfaat untuk seluruh
umat manusia," tandasnya. Bahkan di Indonesia manfaat vaksin ini angkanya
sangat fantastis, "Vaksinasi sudah terbukti mengurangi angka kematian bayi
sampai 4.000 %, tentunya dibarengi dengan perbaikan gizi dan sebagainya."

     THIMEROSAL SEBAGAI BIANG KELADI?

     Jika kemudian vaksin yang membawa banyak manfaat dituding memicu
autisme pada anak, hal itu karena ada beberapa pihak seperti Jaquelyn
McCandless, MD, yang menyebutkan bahwa thimerosal yang terdapat pada vaksin
sebagai zat pengawet mengandung etilmerkuri hingga melebihi ambang batas.
Kelebihan itu tidak dapat ditoleransi oleh tubuh sebagian anak sehingga
menjadi berbahaya dan kemudian memicu autisme. Sebenarnya, apa sih fungsi
thimerosal dalam vaksin itu?

     Farmakolog Prof. DR. Iwan Darmansjah, SpFK, menjelasksan, "Thimerosal
atau dikenal pula dengan istilah mercurothiolate dan sodium
2-ethylmercuriothiobenzoate banyak digunakan pada vaksin untuk mencegah
perkembangbiakan jamur atau bakteri selama proses manufacturing (pembuatan,
pengemasan, pengiriman, penyimpanan, penggunaan). Terutama pada vaksin
multidosis yang telah dibuka." Senyawa ini telah digunakan untuk mengawetkan
vaksin dan obat-obatan tertentu sejak tahun 1930-an. Sampai sekarang,
thimerosal masih dianggap paling efektif membunuh virus, jamur atau bakteri
pada vaksin.
     Dikatakan Iwan, thimerosal yang digunakan dalam proses produksi
umumnya lebih kecil dari 0,5 miugram per dosis seperti yang terdapat pada
vaksin MMR, polio (oral), dan BCG. Lalu yang digunakan untuk melindungi
vaksin multidosis agar tak terkontaminasi mikroorganisme adalah antara 10
sampai 50 mimgram per dosis seperti pada DPT (dipteri pertusis), DT (dipteri
dan tetanus toksis), TT (tetanus toksis), hepatitis B dan HiB.

     Dalam kesempatan yang berbeda, Adi Tagor juga menekankan manfaat
senyawa pengawet vaksin ini, "Thimerosal bisa menangkal virus-virus lain
yang tak terkendali. Misalnya virus yang masuk ketika botol vaksin dibuka,
disuntikkan ke tubuh dan seterusnya. Virus-virus liar ini jelas lebih
berbahaya. Apalagi sekarang ada makhluk lain yang lebih kecil dari virus
yang disebut prion." Jadi manfaat utama thimerosal adalah mencegah masuknya
mikroorganisma tak diharapkan (liar) dalam proses vaksinasi, sehingga tidak
justru menjadi media penyebaran penyakit.

     Penelitian terhadap anak-anak yang telah meninggal (karena kecelakaan
dan sebagainya) untuk membandingkan kadar merkuri antara yang telah mendapat
vaksinasi lengkap dan yang kurang lengkap atau tidak sama sekali juga telah
dilakukan. Hasilnya menunjukkan kadar merkuri dalam tubuh mereka tidak
memperlihatkan perbedaan yang signifikan.

     "Kalau betul thimerosal merupakan biang keladi karena kandungan
merkurinya, harusnya anak-anak yang divaksin lengkap menunjukkan perbedaan
kadar merkuri yang cukup besar, dong. Tapi ternyata, kan, tidak," tandas
Adi. "Kalau memang ada zat yang lebih baik dari thimerosal yang dapat
digunakan untuk mencegah kontaminasi oleh virus liar, tentu lebih baik lagi.
Tapi sampai saat ini thimerosal masih bermanfaat dan belum tergantikan."

     BELUM ADA LARANGAN

     Berkat fakta pendukung tersebut FDA (Food and Drug Administration) di
Amerika Serikat sampai hari ini belum mengeluarkan larangan pemakaian
thimerosal sebagai zat pengawet vaksin. Bahkan lembaga kesehatan tertinggi
di dunia, WHO, masih mengakuinya sebagai zat yang aman.

     Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM) dalam siaran resminya
juga menyatakan tidak ada hubungan antara vaksinasi dengan autisme. Secara
tegas disebutkan bahwa kandungan merkuri yang berbahaya bagi manusia adalah
gugus merkuri yang di dalam tubuh tidak dapat dimetabolisme, sedangkan
kandungan merkuri dalam thimerosal adalah gugus etilmerkuri dari senyawa
organik yang akan dimetabolisme bila masuk ke dalam tubuh hingga kemudian
diekskresi melalui saluran cerna. Kadar thimerosal dalam vaksin yang
diperbolehkan adalah 0,005%-0,02% sesuai dengan standar WHO. Saat ini
menurut BPOM vaksin yang beredar di Indonesia sudah mengikuti persyaratan
tersebut.

     Yayasan Lembaga Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) yang
diketuai oleh dr. Marius Widjajarta S.E., sekalipun mengiyakan adanya
polemik dan isu seputar vaksin, saat ini juga cenderung menyerahkan
jawabannya kepada lembaga dunia, dalam hal ini WHO.

     Menurut Marius, YPKKI bersikap seperti itu karena dirinya tidak ingin
terjebak dengan permainan perdagangan obat. "Biasanya dalam permainan
perdagangan obat, boikot-boikotan dengan cara melempar berbagai macam isu ke
publik sering dilakukan. Apalagi antarprodusen obat yang berbeda negara,
biasanya selalu seru."

     Jadi dalam hal ini, tambah Marius, "Karena kita adalah negara anggota
WHO, ya sebaiknya ikut apa yang disarankan oleh WHO, karena ini adalah
lembaga dunia yang keputusan, sikap, dan pernyataannya masih bisa kita
percayai penuh." Menurutnya, WHO dalam membuat keputusan yang menyangkut
kepentingan orang banyak pasti tidak main-main. Pun, WHO tidak akan menutup
mata terhadap isu kesehatan yang muncul dan berkembang di dunia ini.

     Secara arif Adi menegaskan, "Tidak mungkin ada persekongkolan yang
dilakukan oleh dokter di seluruh dunia untuk menyatakan bahwa thimerosal
aman digunakan. Kalau memang sudah terbukti suatu zat mengandung bahaya,
sudah pasti FDA, BPOM, lembaga-lembaga yang berwenang maupun WHO akan cepat
tanggap. Juga misalnya sudah diputuskan bahwa zat tersebut berbahaya, maka
detik itu juga orang di seluruh dunia bisa tahu. Di dunia yang sudah
terhubung dengan jaringan internet ini tidak mungkin ada kesenjangan
informasi. (Tidak mungkin) di Amerika sekarang dilarang, sedangkan di
Indonesia masih diperbolehkan."
     Menurutnya, dokter pun punya tanggung jawab moral untuk memberikan
informasi yang benar kepada masyarakat. "Sebagai profesional, jelas salah
kalau ada dokter yang memblok pengetahuan yang harus diketahui masyarakat
luas," tandasnya.

     BAGAIMANA DENGAN MMR?

     Bagaimana dengan dugaan bahwa vaksin MMR memicu autisme? Walaupun isu
ini sudah berkembang selama beberapa tahun dan semua pihak yang berwenang
sudah memberikan bantahan, kekhawatiran masyarakat tak kunjung reda. Ibarat
pepatah, tak ada asap bila tak ada api. Mana mungkin isu vaksin pemicu
autisme ini muncul tanpa ada penyebabnya? Jadi bagaimana seharusnya
menyikapi polemik ini?

     Dalam bukunya, Jaquelyn McCandless, MD., juga menulis bahwa kombinasi
3 in 1, antara vaksin campak (Measles), gondok (Mumps), dan rubela (Rubella)
atau MMR telah dinyatakan sebagai penyelamat jutaan nyawa, tapi MMR juga
dapat berperan sebagai kontributor autisme regresif yang saat ini diderita
ribuan anak. Kesimpulan ini didapat berdasarkan data patologi usus halus
yang berhubungan dengan jenis virus dari vaksin campak.

     Dalam buku yang sama, Jacquelyn juga mengutip penelitian yang
dilakukan Dr. Andrew Wakefield yang menemukan genome virus yang berasal dari
vaksin di dalam jaringan usus halus dan sel-sel mononuklear di bagian tepian
darah dari satu subkelompok anak-anak autis. Disebutkan pula MMR memicu
reaksi autoimunitas tubuh terhadap myelin basic protein (MBP) atau protein
mielin (lemak pelindung) pada otak yang terdapat pada grup anak-anak rentan.
Disebutkan pula penelitian yang dilakukan oleh VK Singh, yang menunjukkan
presentase tinggi pada anak-anak autis yang memiliki titer antibodi yang
tinggi terhadap MBP dan bahwa titer tinggi ini sering muncul bersamaan
dengan titer tinggi terhadap virus campak atau human herpesvirus 6 (HHV-6).

     Di Indonesia, tak kurang ada juga orang tua yang giat menelisik apa
gerangan penyebab autisme. Dialah Debbie R. Sianturi, SE,Ak., ibu dari anak
autis bernama Joshua yang telah melakukan banyak usaha untuk mencari tahu
penyebab autisme. "Anak saya menderita autis di usia 2 tahun 2 bulan setelah
mendapatkan 16 kali suntikan vaksin."

     Debbie bertahan dengan pendapat kontroversial seperti ini setelah sang
anak menjalani serangkaian uji laboratorium baik di dalam dan luar negeri,
dari darah hingga biomedical treatments, "Dari uji laboratorium itu antara
lain disebutkan bahwa reaksi tubuh anak saya terhadap vaksin campak adalah
abnormal atau tidak bereaksi. Oleh karena itulah anak saya mengalami
autobrain imunity yang mengakibatkan dirinya mengalami disconections. Itulah
mengapa saya yakin sekali bahwa vaksin ada hubungannya dengan autisme." Hal
tersebut diamini oleh dokter-dokter pakar autis dari luar negeri yang
didatangkan Debbie ke Indonesia untuk menyampaikan penemuan mereka kepada
publik awam dan profesional, antara lain Prof. Sudhir Gupta, MD., Ph.D.,
F.R.C.P.(C), M.A.C.P., Edward Yazbak, MD, Jeff Brastreet, MD (nutrisionist),
dan William Walsh, MD.

     Saat itu Debbie masih mempertanyakan mengapa vaksin bisa menyebabkan
anaknya autis. Selidik punya selidik setelah mengingat-ingat kembali saat
pertama kali anaknya divaksin, ia menemukan jawabannya, "Yaitu setiap kali
divaksinasi kondisi anak saya selalu sedang sakit." Tentu saja Debbie
menyesalkan mengapa kalau memang kondisi itu akan memunculkan efek samping,
dokternya berani melakukan vaksinasi terhadap Joshua. Mengapa pula hal
seperti ini tidak diberitahukan kepada publik?

     Dari situ ia mengambil kesimpulan bahwa vaksin yang digunakan secara
salah akan menimbulkan efek negatif. Oleh karena itulah ia menyarankan agar
sebelum vaksinasi dilakukan seorang anak menjalani skrining lebih dahulu.
Dengan bahasa lain menurut Debbie, lakukanlah prosedur pemberian vaksin,
teliti ada tidaknya riwayat autoimunity, adakah penyakit asma, ada tidak
penyakit diabetes, dan kuat tidak anak menerima kandungan zat-zat yang ada
dalam vaksin termasuk thimerosal itu.

     Menanggapi hal tersebut Adi memberikan pendapat pribadinya, "MMR
sampai saat ini memang masih kontroversial. Ada yang mengatakan bahwa
penelitian itu tidak sahih karena sampelnya salah, metodologi penelitiannya
salah, statistiknya salah dan sebagainya. Walaupun begitu kita tetap harus
menghormati penelitian tersebut yang hasilnya menyebutkan bahwa kelompok
anak yang divaksinasi MMR sebelum berusia 2 tahun secara signifikan
menunjukkan angka autis yang lebih banyak dibandingkan kelompok anak yang
divaksinasi di atas usia 2 tahun."

     Sebagai dokter, sebelum memberikan vaksin MMR, Adi mengaku selalu
menanyakan orang tua pasiennya, apakah anaknya (berapa pun usianya) sudah
bisa bicara lancar? Kalau ternyata anak tersebut belum mampu bicara,
kosakatanya belum banyak, atau masih cadel dan pengucapannya tidak jelas,
"Saya akan sarankan untuk menunda vaksinasi MMR. It's allright kalau ditunda
sementara waktu, karena memang ada penelitiannya walaupun masih
kontroversial."

     Menurutnya, kalau pada usia 2 tahun anak ketahuan mengalami
keterlambatan bicara, hal itu bisa menjadi indikator bahwa ada sesuatu yang
belum berfungsi "sempurna" dalam perkembangannya. Pada kondisi seperti itu,
dikhawatirkan tubuhnya akan memberikan reaksi negatif terhadap vaksinasi
MMR.

     Namun, kalau pasien kemudian bertanya apakah vaksinasi MMR masih
perlu, Adi akan menjawab, "Jelas perlu." Mana ada vaksin yang tidak
bermanfaat. "MMR sendiri sangat bermanfaat dalam mencegah 3 penyakit yang
bisa mengakibatkan kecacatan bahkan kematian," jawabnya tegas. Jadi jangan
ada salah persepsi di sini, vaksin MMR tetap perlu diberikan, tapi kalau
anak menunjukkan keterlambatan bicara dan sebagainya, tak ada salahnya untuk
menundanya sementara waktu. Pun kalau masyarakat mendengar informasi baru
mengenai kesehatan anak yang sekiranya meragukan, sebaiknya tanyakan
kebenarannya kepada pihak yang kompeten, misalnya dokter anak yang
dipercaya.
     VAKSIN MODERN

     Pembuatan vaksin modern sudah menggunakan teknologi yang dinamakan
bioengineering. "Misalnya kalau dulu vaksin hepatitis B dibuat dari darah
atau kuman sebenarnya, sekarang sudah tidak lagi. Sekarang ini digunakan
bahan seperti ragi. Jadi yang ditiru adalah sifat dari penyakit itu yang
dikenali tubuh sebagai hepatitis B, padahal sebenarnya bukan. Hanya zat
aktifnya saja yang ditiru," ungkap Adi Tagor.

     Sebelum bisa digunakan secara luas, vaksin tentunya telah melalui
serangkaian perjalanan panjang. Setelah ditemukan, vaksin tersebut
diujicobakan pada jaringan yang "dihidupkan" seperti kulit, usus, dan
sebagainya, jadi tidak langsung pada makhluk hidup.

     Setelah menunjukkan hasil positif dan aman, baru diujicobakan pada
mencit (sejenis tikus kecil), kemudian diteruskan pada mamalia yang dekat
dengan manusia, seperti monyet. Setelah dinyatakan aman barulah diujicobakan
pada relawan. Relawan pun dibedakan menjadi 2, yaitu pada tahanan dengan
imbalan pengurangan hukuman, atau beberapa pihak juga menyebutkan dilakukan
pada tentara, dan pada relawan yang benar-benar secara sukarela mau
melakukannya dengan alasan kemanusiaan.

     Bila hasilnya positif, percobaan dilanjutkan pada kelompok terbatas,
misalnya pada penduduk satu desa, dan barulah kemudian diluncurkan untuk
masyarakat luas. Setelah digunakan oleh masyarakat luas, pemakaiannya masih
selalu dipantau. Kalau memang ada keluhan dan sebagainya akan diteliti lebih
lanjut lagi. Intinya tidak mungkin suatu zat yang berbahaya dibiarkan
beredar begitu saja dan digunakan secara luas, apalagi jika pemakainya
adalah anak-anak.



Berikut artikel yang dikirim seorang pembaca nakita pada rubrik tanya jawab
kesehatan no. 300
Putra saya umur 4 tahun. Sampai saat ini belum bisa bicara, saya sudah
membawanya ke dokter ahli THT, dicek telinganya bagus, tenggorokannya juga
bagus. Ikut rehabilitasi, tapi sampai saat ini belum ada kemajuan. Saat ini
ia sudah sekolah TK, tapi di sekolah agak pendiam, sepertinya takut bertemu
dengan guru dan teman­temannya, sedangkan kalau di rumah luar biasa aktif.
Kalau di luar pun aktif, sampai-sampai saya kewalahan menghadapi sikapnya.
Kadang dia suka meniru apa yang didapat dari sekolah. Bila minta sesuatu,
dia menarik tangan ibunya minta diambilkan. Kalau saya lagi kesal, saya
marahin, dia malah nangis. Anak saya juga senang melihat gambar mobil dan
suka menyusun permainan lego.
Yang jadi pertanyaan saya adalah:

1. Apakah benar anak yang pernah diimunisasi MMR bisa autis?

2. Jika sewaktu hamil, ibunya pernah minumobat untuk menggugurkan kandungan
berakibat anak jadi cacat?

3. Apakah benar dengan seringnya si anak bercermin jadi termotivasi untuk
menggerakkan bibirnya?



Mai Fajar - via email

Tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa imunisasi MMR dapat
mengakibatkan autis. Jika ada bukti, mungkin vaksin yang telah dipakai
selama lebih dari 30 tahun di seluruh dunia tersebut sudah ditarik dari
peredaran. Autis juga dapat timbul pada anak yang tidak diberi vaksin MMR.
Sedangkan obat yang ditujukan untuk menggugurkan kandungan memang dapat
mengakibatkan janin cacat, tetapi tidak selalu. Sebaiknya Anda membawa si
kecil ke psikiater atau ahli saraf anak untuk diperiksa lebih lanjut apakah
ada kelainan tingkah laku atau sarafnya. Sering bercermin tidak selalu
menimbulkan motivasi menggerakkan bibir, tergantung individu masing masing.

----- Original Message -----
From: "Heni" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "milis-nakita List Member" <milis-nakita@news.gramedia-majalah.com>
Sent: Monday, December 27, 2004 8:15 PM
Subject: [milis-nakita] efek samping imunisasi {02}



Memang banyak suara yang menuding bahwa beberapa vaksin membawa efek
samping berupa gangguan perkembangan. Namun tidak sedikit yang berani
membuktikan bahwa vaksin sudah melindungi jutaan anak di seluruh dunia
dari penyakit-penyakit berbahaya. Kebanyakan yang dimasalahkan malah zat
pengawet pada vaksin tersebut bukan bahan vaksinnya sendiri.

Dokter anak saya, dr Dahlan Alimusa, Sp.A(K) menjadwalkan imunisasi MMR
pada usia 18 bulan. Usia tersebut cocok dengan anjuran dr Adi Tagor Sp.A
yang dalam wawancaranya dengan nakita menjelaskan, vaksinasi MMR
sebaiknya dilakukan setelah anak menunjukkan kemampuan bicara (kurang
lebih usia 18 bulan - 2 tahun). Maksudnya, orang tua perlu yakin dulu
bahwa anaknya tidak mengalami gangguan perkembangan yang ditunjukkan
dengan kemampuan bicara di usia tersebut, barulah setelah itu mendapat
vaksin MMR.

Mungkin saja ada dokter yang menganjurkan pemberiannya sebelum usia 1,5
tahun dan si anak tidak apa-apa. Jadi anjuran itu hanya untuk
mengantisipasi jika memang anak memiliki potensi gangguan (belum terlihat
gejalanya), sementara kandungan vaksin tidak cukup bersahabat baginya.
Jadi tak perlu buru-buru memberikan vaksin MMR kepada keponakan yang
masih 7 bulan itu, pastikan saja dulu anaknya sehat dan mampu menerima
secara positif imunisasi ini.

Soal vaksi HiB, saya belum bisa kasih komentar.

-----Original Message-----
From: "Rozita SE. Ak" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "milis-nakita List Member" <milis-nakita@news.gramedia-majalah.com>
Date: Sun, 26 Dec 2004 20:58:37 -0800 (PST)
Subject: [milis-nakita] efek samping imunisasi {01}

>
>
> Dear nakita-ers,
>
> saya mo nanya ke rekan-rekan milis-nakita tentang imunisasi HiB dan MMR
> soalnya saudara bilang nanti jangan mau diimunisasi diluar dari
> imunisasi wajib karena ada efek samping. Anak saya sekarang berusia 7
> bulan. rekan-rekan ada yang punya pengalaman berkaitan dengan imunisasi
> HiB dan MMR tersebut gak, khususnya yang mempunyai efek samping?
> bagi-bagi dong pengalamannya.
> Terima kasih sebelumnya atas informasinya.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
>
>
>
> =+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+
>
> Mailing List Nakita
> milis-nakita@news.gramedia-majalah.com
> ------------------------------------------------
>
> untuk berlangganan kirim mail kosong ke :
> [EMAIL PROTECTED]
>
> untuk berhenti berlangganan kirim mail kosong ke:
> [EMAIL PROTECTED]
>





=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+

Mailing List Nakita
milis-nakita@news.gramedia-majalah.com
------------------------------------------------

untuk berlangganan kirim mail kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]

untuk berhenti berlangganan kirim mail kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]






  • [milis-nakita] efek samping imunisasi {01} uttiek