milis  

[IA-2404] Tambah Menjijikan

A. Yahya Sjarifuddin
Thu, 23 Sep 2004 21:07:38 -0700

Geliat Politisi Menjelang Finish (1)
Alih Profesi Anggota Dewan
Reporter: Suwarjono

detikcom - Jakarta, Ruangan Eksekutif, Hotel Hilton, Jakarta, Senin (30/8/2004) lalu, 
puluhan politisi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berkumpul. Kedatangan anggota 
legislatif beramai-ramai ini bukan untuk membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) atau 
mengadakan pertemuan setengah kamar dengan mitra kerja. Namun, pada hari itu puluhan 
anggota DPR dari berbagai fraksi mendeklarasikan berdirinya aliansi lintas fraksi DPR 
mendukung calon presiden pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.

Tampak hadir Samuel Koto, Mutammimul Ula, Antoni Amir (Fraksi Reformasi), Julius Usman 
dan Haryanto Taslam (F-PDIP), Djalam Doa, Ali Hardi Kiai Demak, Faisal Baasir (PPP), 
Syaifullah Adnawi, Chotibul Umam Wiranu, Tari Siwi Utami (FKB), Aryadi Ahmad, 
Burhanudin Napitupulu, Firman Subagio (F-PG), MS Kaban (PBB), Mudahan Hasbi (FPDU), 
Sophan Sophian, Mukhtar Adam, Saruji Tandjung, HM Nawir, Mahrus Usman dan lain-lain.

Dari 53 penandatangan dukungan kepada pasangan SBY-Kalla ini hampir seluruhnya 
merupakan anggota DPR yang tidak terpilih lagi menjadi anggota DPR periode 2004-2009. 
Tak heran, jika kemudian muncul tudingan para anggota DPR yang dulu disebut-sebut 
sebagai "koboi DPR" ini sekedar mencari cantolan baru atau mencari sekoci setelah 
mereka tak terpilih menjadi anggota DPR dalam pemilihan legislatif bulan April lalu.

Mendapat tudingan seperti ini, motor penggerak lintas fraksi pendukung SBY-Kalla, 
Samuel Koto menampik. Menurut anggota Fraksi Reformasi ini, gerakan yang mereka 
lakukan bukan untuk mencari sekoci baru setelah terlempar dari DPR. "Tudingan itu sama 
dengan stigma orde baru. Tudingan itu saya kira dilakukan oleh orang-orang yang 
kepentingannya terganggu. Itu karakter orang otoriter," kata Samuel Koto.

Sebab, lanjut Koto, gerakan lintas fraksi bagian dari gerakan konsolidasi demokrasi di 
masa transisi yang harus terus diperjuangkan. Sasarannya adalah terjadinya perubahan, 
terjadi sirkulasi elit politik yang konstruktif dan rakyat melihat figur itu ada pada 
SBY. "Kalau hanya untuk alasan mencari pekerjaan, saya sudah banyak kegiatan di jalur 
politik dan LSM," tambah Koto.

Namun, beberapa petinggi Golkar tetap melihat apa yang dilakukan lintas fraksi sebagai 
upaya politik anggota DPR yang tak masuk DPR. Apalagi anggota DPR masa bakti 1999-2004 
hasil Pemilu 1999 lalu segera akan mengakhiri tugasnya. Tepatnya tanggal 30 September 
nanti, seluruh kegiatan DPR akan berakhir. Menurut jadwal, DPR memasuki masa reses 
selama satu bulan mulai dari tanggal 17 Juli hingga 15 Agustus 2004. Setelah itu 
kembali memasuki masa sidang dari tanggal 16 Agustus hingga 30 September 2004. Tanggal 
30 September 2004 merupakan hari terakhir masa bakti anggota DPR hasil Pemilu 1999. 
Jadi, praktis hari kerja DPR tinggal sekitar 30 hari dan untuk selanjutnya digantikan 
oleh anggota DPR hasil Pemilu 2004.

Nah, yang menarik apa yang akan dilakukan para politisi yang harus angkat koper dari 
Senayan ini. Apa yang dilakukan koalisi lintas fraksi DPR mendukung pasangan SBY-Kalla 
hanya salah satu contoh konkrit untuk tetap beraktivitas di jalur politik. Tak sedikit 
calon mantan anggota DPR berganti "hobi", yakni menjadi pengusaha, menjadi tokoh 
pendidikan, pengacara, balik kampung halaman, kembali ke LSM, parpol maupun 
benar-benar istirahat setelah uang habis buat dana kampanye.

Syaifullah Adnawi dari FKB yang gagal maju ke Senayan setelah tidak terpilih di daerah 
pemilihan Riau mengaku masih akan tetap di Jakarta. Dunia politik tak akan 
ditinggalkan meski tak terpilih menjadi anggota DPR. Sebagai keseharian, ia juga akan 
fokus menjalankan usahanya, yakni beberapa perusahaan yang dimilikinya semenjak 
sebelum menjadi anggota DPR. Usaha tersebut di bidang marketing dan distribusi retail.

Lain halnya dengan Rodjil Ghufon, mantan Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa yang tak 
terpilih ke Senayan. Ia mengaku akan kembali ke Pasuruan, Jawa Timur, tempat daerah 
pemilihannya. "Rencana saya akan membangun pesantren saya. Selain itu berbagai 
kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan terdekat tempat tinggal saya. Menulis buku 
juga akan saya teruskan," kata Rodjil.

Samuel Koto yang juga harus angkat koper dari Senayan memilih tetap di jalur politik 
dan pengabdian ke masyarakat sebagai rencana pasca dari DPR. "Saya mempunyai banyak 
LSM, dari LP3ES, Gowa, PPM, LSM lingkungan hidup Citarum. Pokoknya saya akan tetap di 
jalur gerakan prodemokrasi," tegasnya.

Bagaimana dengan anggota DPR yang mempunyai background advokat? Mereka yang 
tereliminasi dari barisan ini antara lain Wakil Ketua Komisi II DPR Hamdan Zoelva 
(PBB), Dwi Ria Latifa dari (PDIP), M. Sjaiful Rahman (PPP), serta advokat asal Ambon 
Muhammad Thahir Saimima yang juga politisi PBB.

Hamdan yang tidak berhasil mengumpulkan cukup suara untuk masuk kembali ke DPR 
mengatakan bahwa untuk hari-hari ke depan ia akan kembali menekuni profesi lamanya 
sebagai advokat. Partner di kantor Hamdan Sudjana Januardi itu mengatakan, bahwa 
sebagai advokat ia cukup banyak mendapatkan pengalaman penting selama lima tahun 
menjadi anggota DPR.

Sementara itu, dua petinggi Partai Golkar dikabarkan setelah tidak masuk lagi menjadi 
anggota DPR sedang mencari posisi kabinet.  Seperti diketahui, Partai Golkar mempunyai 
jatah yang besar di Kabinet Mega, jika Megawati terpilih. Konon, setidaknya Golkar 
mendapat jatah 8 kursi menteri. Bila toh, tak dapat kursi menteri, para politisi itu 
mengincar hingga posisi staf ahli menteri.

Tak cuma para petinggi partai yang terancam pengangguran, di level big boss pun ada 
yang terancam jobless. Tercatat 3 orang petinggi partai besar kemungkinan (tbs)


Geliat Politisi Menjelang Finish (2)
Kuras Gudang si Purna Bakti
Reporter: Suwarjono

detikcom - Jakarta, Komplek perumahan anggota DPR-RI di Kawasan Kalibata, Pancoran, 
Jakarta Selatan, Selasa (31/8/2004) sore.  Suasana tampak semakin sepi. Rumah-rumah 
yang sebagian besar bercat putih, banyak yang tertutup rapat. Penghuninya seakan 
lenyap.  Hanya terlihat satu, dua orang pedagang dan para penjaga keamanan yang 
berjalan hilir mudik.

Rumah-rumah berjejer tanpa tembok pemisah di komplek DPR itu mulai tampak tak terawat. 
Di sana-sini, rumput liar mulai tumbuh. Dari 500 rumah yang ada, sebagian besar di 
antaranya tampak kosong melompong. Ketika detikcom menyusuri gang perumahan 
satu-persatu, banyak rumah yang tak terurus karena ditinggal penghuninya. Bahkan ada 
beberapa rumah, jika dilihat dari luar benar-benar tampak melompong, tirai jendelanya 
sudah tak ada lagi, apalagi perabotannya. Sudah kosong. Pemandangan ini terlibat 
mencolok di Blok B, C sampai F.

Rumah-rumah yang tampak kosong diantaranya milik anggota DPR dari Golkar, PDIP, PPP, 
PKB dan lainnya. Paling banyak rumah yang melompong berada di Blok B 1 dan 2. Di blok 
A yang banyak dihuni oleh anggota DPR dari FKB juga sepi. Demikian juga di Blok D yang 
banyak dihuni anggota FPDIP. Mereka sudah memindahkan perabotan sejak dua pekan lalu, 
dan sekarang yang tampak hanya rumah yang kosong melompong dan kotor tak terawat. 
Hanya di Blok A yang relatif masih ada rumah yang berpenghuni.

Rahmat, salah seorang penjaga keamanan kompleks perumahan DPR menuturkan bahwa 
rumah-rumah tersebut sudah ditinggalkan penghuninya sejak beberapa hari lalu. Mereka 
yang "mudik" merupakan anggota DPR atau keluarganya, yang tak terpilih kembali dalam 
pemilu legislatif, Juli 2004 lalu. Mereka yang gagal ke Senayan kembali, satu-persatu 
meninggalkan rumah dinas tersebut.

Ironisnya, sewaktu meninggalkan rumah dinas, para mantan wakil rakyat itu tak mau 
lenggang kangkung secara percuma. Berbagai fasilitas yang dipinjamkan dari badan 
urusan rumah tangga DPR ikut mereka bawa serta. Padahal itu jelas bukan miliknya, 
namun milik inventaris Sekretariat Jenderal DPR. Barang-barang seperti AC, televisi 
berwarna 21 inchi, mesin cuci, kursi tamu, sofa, kulkas, satu set meja makan, kompor, 
sofa bed (tempat tidur) sampai gorden "ikut" terbawa sewaktu para pemilik ini 
pindahan. Mungkin hanya rumah saja yang tidak mereka angkut bawa pulang.

Beberapa penghuni di komplek tersebut membenarkan adanya eksodus besar besaran setelah 
para anggota DPR ini tak terpilih kembali dengan membawa apa yang ada di rumah 
tersebut. "Meski belum resmi berakhir, saya sudah membawa barang-barang saya 
Pasuruan," kata Rodjil Ghufron anggota FKB DPR saat dihubungi detikcom di rumahnya 
Pasuruan, Jawa Timur. Rodjil yang sudah lama tak muncul di Senayan ini ternyata sudah 
pulang duluan, kembali ke daerahnya dan membangun pesantren.

Banyaknya penghuni yang sudah pulang kampung juga dibenarkan Rahmat, salah seorang 
satpam kompleks tersebut. Hal ini membuat jumlah penjaga diperketat, dengan menambah 
jumlah penjaga. Di gerbang pintu masuk terdapat pos penjagaan, dan terpampang tulisan 
"Hanya yang menggunakan kartu pengenal yang boleh masuk." Namun pada kenyataan, orang 
bebas bersliweran. Hanya pengendara mobil yang tak dikenal ditanya tujuannya kemana.

Toh, meski sudah banyak rumah yang kosong, sebagian lagi masih isi. Mereka yang tetap 
tinggal ini rata-rata anggota DPR yang terpilih kembali dan sebagian mereka yang tidak 
terpilih, namun belum pindah rumah. Seperti saat detikcom menemui Haryanto yang 
menempati rumah salah seorang anggota FPG. Menurut Haryanto, mereka masih bisa 
menempati rumah tersebut sampai akhir Desember.  "Karena dulu sewaktu masuk juga awal 
tahun baru. Maka saya perkirakan juga masuk anggota baru masuk awal bulan Januari 
nanti. Rumah pasti akan dikosongkan dulu, direnovasi baru diisi perabotan dan ada 
penghuni baru," katanya.

Meski masih ada waktu mendiami rumah sampai bulan Desember, Haryanto mengaku berencana 
pindah pekan depan. Dan seperti yang dilakukan oleh penghuni yang lain, ia akan 
membawa seluruh perabotan yang ada di rumah tersebut. "Habis tetangga-tetangga yang 
pindah juga membawa perabotan inventaris. Saya juga akan bawa, sayang kalau 
ditinggal.Ya buat kenang-kenangan kalau pernah tinggal di perumahan DPR," kata 
Haryanto yang sudah menyiapkan rumah di Tebet, Jakarta Selatan untuk menampung 
barang-barang inventaris tersebut.

Tak takut ditangkap? Haryanto dengan enteng menjawab "Ya buktinya sebelum ini 
tetangga-tetangga juga begitu. Mereka bisa angkut semua barang di kompleks perumahan 
ini. Sampai keluar Saptam juga tidak masalah. Jadi sayang kalau dibuang, barangnya 
masih bagus-bagus. Kan nanti akan disi barang-barang baru setelah direnovasi," katanya.

Angkut-angkut barang ini, menurut penuturan Haryanto, sudah menjadi tradisi setiap 
pergantian anggota DPR. Sebenarnya, menurut Haryanto, memang ada surat edaran dari 
Sekjen DPR yang menyatakan bahwa seluruh barang-barang itu bisa dimiliki dengan 
mengganti uang Rp 3 juta untuk seluruh barang dan perabotan. Namun dalam praktiknya, 
sampai sekarang tidak ada penagihan maupun pendataan dari pihak sekretariat jenderal 
DPR, sampai mereka yang pindah tak ketahuan rimbanya.

Bersih-bersih gudang ternyata tak hanya dialami anggota DPR-RI. Di DPRD juga banyak 
terjadi kasus bagi-bagi keuntungan menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai anggota 
DPRD. Di Kalimantan Timur, anggota DPRD yang dibelikan mobil dinas Jeep Cherokee 
dilelang dengan harga sangat miring. Pemakainya bisa memiliki mobil dinas dengan cukup 
mengganti biaya Rp 10 juta. Demikian juga pimpinan DPRD DKI Jakarta juga mendapat 
kemudahan untuk memiliki mobil dinas yang dipakai hanya dengan harga antara Rp 39 - 49 
juta untuk jenis Toyota Camry tahun 2002.

Beberapa daerah lain mempunyai kasus serupa tapi tak sama. DPRD Jawa Barat 
membagi-bagikan dana kaveling senilai lebih dari Rp33,4 miliar. Dana ini dibagi untuk 
seluruh anggota DPRD lama sebanyak 100 orang.Sayangnya, sampai sekarang tidak ada 
pengusutan terhadap kasus ini. Bahkan19 anggota DPRD yang diduga terlibat kasus ini, 
dilantik kembali menjadi anggota DPRD periode 2004-2009.

Di tempat lain, DPRD Lampung memberikan uang pesangon bagi anggota DPRD yang akan 
berakhir masa jabatannya. Demikian juga di Sulawesi Tenggara, anggota DPRD Kota 
Kendari berlomba-lomba menaikkan uang kesejahteraan untuk memperkaya diri.

Isu menyengat belakangan ini, anggota DPR sengaja melakukan "bancakan" menjelang 
berakhirnya masa jabatan. Mereka "mengejar setoran" sebelum masa kerjanya habis pada 
tanggal 30 September. Berbagai cara dilakukan untuk menumpuk pundi-pundi. Kasus paling 
banyak adalah tindakan DPRD-DPRD di pelbagai daerah yang mengakali APBD untuk 
memperkaya diri.

Sementara untuk di DPR RI, tak kalah seru para anggota legislatif menggenjot pendapat. 
Meski masa kerja tinggal 20 hari, berbagai pansus, panja, pembahasan RUU, rapat dengar 
pendapat dengan mitra kerja semakin gencar. Sempat ada kabar sekjen DPR akan keluarkan 
uang pesangon. Tapi ini segera dibantah oleh Alvien Lie, anggota Fraksi Reformasi. 
"Tak ada anggaran untuk uang pesangon atau dana pensiun. Jadi kalau uang itu berasal 
dari APBN ataupun sumber resmi mustahil ada," kata Alvien.

Hanya yang memungkinkan adalah melakukan farewell party. Menjelang berakhirnya masa 
berakhirnya kerja DPR, masing-masing komisi mengadakan acara perpisahan dengan mitra 
kerjanya. Seperti Komisi I melakukan di Bali, Komisi V dikabarkan akan melakukan di 
Bogor dan seterusnya. "Memang setiap komisi membuat acara perpisahan. Hanya kalau 
komisi V akan dilakukan intern. Tak ada mitra kerja," kata anggota Komisi V DPR Alvien 
Lie.

Wakil Koordinator Indonesia Corruption Wacth (ICW) Lucky Djani menilai pola korupsi 
yang dilakukan anggota DPR tak berubah. Bagi mereka yang berakhir karier politiknya, 
mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya terlebih dahulu karena merasa sudah banyak 
keluar uang sebelum pemilu.  Mereka sudah mengeluarkan modal besar, gadaikan rumah, 
barang-barang dan sebagainya. "Selalu saja mereka mencari pembenaran. Hal seperti ini 
harus mendapat pengusutan tuntas," tambah Lucky Djani.(tbs)

     
Geliat Politisi Menjelang Finish (3)
Enaknya Menjadi Anggota DPR
Reporter: Suwarjono

detikcom - Jakarta, Apa sih enaknya menjadi anggota DPR, sehingga ribuan orang berebut 
kursi empuk ini meski hanya untuk 5 tahun.  Pertanyaan ini mungkin muncul bagi orang 
awam yang keheranan ada orang rebutan kursi agar dapat duduk di legislatif. Namun, 
bagi para politikus, merebut satu kursi berarti prestise, kedudukan, jabatan dan yang 
penting adalah secara ekonomi sangat menggiurkan.

Bagaimana tak enak, orang menjadi anggota DPR bisa melenggang ke senayan, tanpa 
memikirkan berbagai kebutuhan. Ibaratnya tinggal bawa badan, maka sampai di Jakarta 
menjadi anggota DPR akan segera mendapat fasilitas setumpuk.

Sebut saja dari perumahan lengkap dengan perabotan, bahkan mesin cuci baru, tempat 
tidur superbed, sofa, AC, dll. Selain itu akan mendapat tunjangan sebuah mobil, 
telepon dan listrik gratis, pelayanan kesehatan dan lainnya. Tak hanya sampai di situ 
saja, pemerintah memberikan dana tambahan untuk mengelola staf atau satu orang asisten 
pribadi.

Bantuan diberikan mulai APBN tahun 2003, dimana setiap anggota DPR diperbolehkan 
merekrut seorang staf pribadi dengan gaji Rp 2 juta perbulan. Selain mendapat subsidi 
bantuan asisten pribadi, setiap anggota DPR juga mendapat bantuan subsidi transportasi 
Rp 70 juta, renovasi rumah Rp 20 juta, fasilitas atau tunjangan listrik, telepon dan 
PAM Rp 2 juta/bulan, dan komunikasi intensif Rp 3 juta/bulan. Jumlah ini masih 
ditambah gaji perbulan sekitar Rp 16 juta.

Di luar gaji dan tunjangan/fasilitas di atas, setiap kali mengerjakan tugas-tugas 
sebagai wakil rakyat, misalnya untuk hadir dalam persidangan ada tunjangan sidang 
sebesar Rp 150.000,-. Kemudian jika anggota dewan masuk dalam panitia khusus (Pansus), 
membahas suatu kasus atau menyiapkan rancangan undang-undang, maka mendapat tunjangan 
pansus sebesar Rp 750.000,-. Jika masa reses dan anggota DPR harus kembali ke 
daerahnya, ada tunjangan reses selama 5-8 hari sebesar Rp 150.000,-/hari plus tiket 
pesawat pulang pergi. Ini masih ditambah jatah hotel dengan platform Rp 1.200.000,-.

Tidak hanya terbatas di sini saja, ternyata masih ada tunjangan keluarga, tunjangan 
kehormatan, tunjangan kerja komisi, tunjangan kesehatan dan tunjangan inventaris yang 
besarnya bervariasi. Sayang data-data detilnya bersifat rahasia dan tidak dapat 
dipublikasikan.

Demi kelancaran kerja, hal-hal di atas masih bisa bertambah. Apabila si anggota dewan 
juga menjabat sebagai pimpinan fraksi, negara juga membayar pengadaan tenaga ahli atau 
asisten. Besarnya dana yang diberikan untuk seorang staf ahli adalah Rp 5 juta per 
bulan.

Selain bantuan staf ke masing-masing anggota DPR, ada juga bantuan buat staf ahli 
Pimpinan DPR berjumlah enam orang, staf ahli fraksi berkisar 4-10 orang per fraksi, 
staf ahli Baleg 3 orang, staf ahli komisi 33 orang, dan staf ahli Panitia Anggaran 20 
orang.  Total staf ahli mencapai 111 orang. Sehingga, total dana yang dikeluarkan 
untuk staf ahli per bulan mencapai Rp 555 juta atau Rp
6,66 miliar setahun.

Toh meski berbagai fasilitas sudah terus mengalir, kesan negatif yang ditinggalkan 
oleh DPR masa bakti 1999-2004 tak kalah seru.  Anggota DPR terkenal bolosan, sering 
absen dalam persidangan dan malas. Pimpinan DPR sendiri mengakui rendahnya etos kerja 
serta loyalitas dan dedikasi para anggotanya. Tidak kurang dari Wakil Ketua DPR, 
Tosari Wijaya terus terang menyatakan kekecewaannya terhadap disiplin anggota. Sebab 
dalam sejarah DPR-RI sebanyak 16 kali Badan Musyawarah DPR gagal melaksanakan sidang 
karena tidak memenuhi kuorum.

Jadi tidak berlebihan kalau dikatakan kesan dan pesan yang ditinggalkan oleh DPR hasil 
Pemilu 1999 ini adalah etos kerja dan disiplin yang sangat rendah. Sebaliknya 
menunjukkan arogansi karena kekuasaan yang dimiliki tidak dipergunakan semaksimal dan 
seoptimal mungkin. Sebab itu, cukup beralasan kalau dikatakan para legislator kita itu 
menjadikan forum parlemen sebagai tempat "mencari makan" atau mencari rezeki. Atau toh 
kalau datang, hanya 4D, datang, duduk, diam dan duit.

Besarnya gaji dan banyaknya dana dan tunjangan segala rupa membuat sang wakil rakyat, 
tak bisa dipungkiri menjadi kaya raya.  Beberapa di antaranya terkesan jadi mirip 
Orang Kaya Baru (OKB). Tampilan mereka menjadi perlente, sejajar pengusaha sukses. 
Jika bertandang di gedung DPR, dengan mudah akan menjumpai para politisi yang akan 
melakukan rapat memakai stelan jas, handphone, parfum sampai mobil "wah".

Sedikit menengok ke pelataran parkir basement gedung DPR RI Nusantara I, akan tampak 
tempat parkir seperti showroom mobil saja.  Berjajar berbagai mobil jenis built up 
sampai mobil-mobil baru lainnya ditunggui para sopirnya. Mulai BMW, Mercy, Opel 
Blazer, KIA Carnival, dan lain-lain.

Namun banyak anggota dewan yang keberatan jika mobil yang dipakai didapat selama 
menjadi anggota dewan. Hamka Yandhu, anggota Komisi IX dari Partai Golkar, yang juga 
seorang pengusaha mengaku sudah lama memiliki Opel Blazer."Ini memang kendaraan yang 
saya gunakan sebelum menjabat anggota dewan," ujar Hamka.

Pria berkumis ini saat ditanya mengenai tunjangan-tunjangan yang diterima anggota DPR, 
ia hanya mengatakan bahwa anggota DPR menerima dana untuk melakukan lobi seperti 
melakukan entertain sebesar Rp 1,7 juta yang akhirnya menjadi sekitar Rp 2,7 juta. 
"Dana itu belum kami terima, katanya akan dirapelkan," jelasnya.

Sedangkan Endin Soefihara, anggota DPR dari PPP membenarkan jika anggota dewan selain 
menerima gaji juga berbagai fasilitas dan tunjangan. Namun, uang yang diterima juga 
disumbangkan kepada partai. "Untuk PPP besarnya sumbangan rata-rata Rp 1 juta tiap 
bulan," katanya.

Namun beberapa orang Golkar membantah jika setiap anggota DPR berkewajiban menyumbang 
ke partai. "Itu kerelaan kita. Kan, kita juga harus melihat bahwa kita dibesarkan 
partai. Dananya tidak ditentukan jumlahnya, tapi tergantung kitanya saja," tegas Hamka.

Lebih jauh lagi, ada yang mengatakan bahwa pembahasan RUU pun tergantung materi yang 
akan dibahas. Selain menyangkut materi, juga tergantung apakah ada atau tidak sponsor 
yang mendukung pembahasan RUU itu. Buktinya, RUU yang didukung oleh sponsor selalu 
mendapat prioritas pembahasan. Dengan cara-cara seperti itu, tidak salah kalau 
dikatakan sementara kalangan anggota DPR bukan mementingkan substansi RUU yang akan 
dibahas, melainkan tergantung sejauh mana fasilitas yang disediakan sponsor yang 
menginginkan rampungnya RUU tersebut.

Akibatnya tidak mengherankan apabila RUU yang tergolong "gemuk" seperti di bidang 
keuangan, perbankan, industri dan perdagangan serta aset dan properti atau bidang 
ekuin umumnya mendapat prioritas pembahasan. Sebaliknya RUU tergolong "kering" seperti 
bidang kesra terutama menyangkut pembangunan dan pembaruan hukum nasional sangat 
tertinggal.(tbs)

     
Geliat Politisi Menjelang Finish (4)
Pusat Berulah, Daerah...Ngikut
Reporter: Suwarjono

detikcom - Jakarta, Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Itulah gambaran yang 
pas mengenai adanya budaya korupsi yang terus berkembang biak di Indonesia. Jika para 
pejabat di tingkat pusat, para petinggi melakukan korupsi, maka pejabat di tingkat 
daerah pun tak mau ketinggalan. Termasuk jika ada anggota DPR RI (tbs)

Referensi:

- 
http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/09/tgl/03/time/64638/idnews/201899/idkanal/10
 
- 
http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/09/tgl/03/time/103855/idnews/202122/idkanal/10
- 
http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/09/tgl/03/time/131727/idnews/202200/idkanal/10
- 
http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/09/tgl/03/time/141747/idnews/202237/idkanal/10

--
Salam,
A. Yahya Sjarifuddin <[EMAIL PROTECTED]>
Fingerprint: F757 FF66 5FE5 2C4A 3451  3C47 0FF1 9146 C887 1D8A

= Ikatan Alumni PKKT, Milis: [EMAIL PROTECTED], Website: www.iapkkt.org =
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau


  • [IA-2404] Tambah Menjijikan A. Yahya Sjarifuddin