PRAKATA
  
  
                                                          Pembangunan ilmu di 
kalangan umat Islam merupakan perkara  yang tidak boleh dipinggirkan. Malah 
penekanan terhadapnya harus seiring dengan  aspek-aspek pembangunan fizikal 
yang lain. Dalam konteks masyarakat Islam di  Malaysia, antara perkara yang 
tidak dapat dinafikan menjadi elemen penyumbang  ke arah pembangunan ilmu dan 
pengisian rohaniyyah ialah program-program  pengajian dan tadahan kitab di 
masjid-masjid, surau-surau dan di tempat-tempat  pengajian tidak formal 
lainnya. Namun yang kerap menjadi persoalan ialah  pemilihan kitab yang sesuai 
untuk ditelaah dan dibahaskan serta bersifat  kotemporari bagi mencapai hasrat 
tersebut. 
       
      Bertolak dari senario tersebut, Persatuan Ulama Malaysia (PUM) dan  Intel 
MULTIMEDIA AND PUBLICATION (iMAP) merasa terpanggil melakukan usaha  
penterjemahan Kitab Tafsir al-Munir, dengan hasrat melonjakkan lagi tahap  
kefahaman masyarakat dalam menanggapi pelbagai persoalan yang berhubungkait  
dengan Islam. Disamping menyegarkan lagi budaya cintakan ilmu dalam kerangka  
membantu merealisasikan masyarakat madani. 
       
      Berikutan itu, PUM dan iMAP telah berkerjasama membentuk satu  panel 
penterjemah yang terdiri daripada ahli akademik yang berwibawa dari  pelbagai 
bidang kepakaran agama untuk memastikan bahawa hasil penterjemahan  tafsir ini 
akan merangkumi semua aspek. Dalam pada itu, kerja-kerja merisik dan  memohon 
kebenaran mendapatkan Hak Penterjemahan dan Penerbitan Eksklusif Tafsir  
al-Munir bagi kesemua 16 jilid kitab asal Tafsir al-Munir dari Dar El-Fikr,  
Syiria juga dilakukan serentak.
       
      Alhamdulillah, keizinan mendapatkan hak penterjemahan dan  penerbitan 
eksklusif telah dicapai dengan termeterinya satu perjanjian bertulis  di Kuala 
Lumpur di antara Dar El-Fikr, Syiria (yang diwakili sendiri oleh  Pengarang 
kitab asal, Prof Dr. Wahbah Mustafa al-Zuhaily dan PUM/iMAP (yang  diwakili 
oleh Pengarah Urusan iMAP) pada 23hb. Jun 2001.
       
      KANDUNGAN
       
      Tafsir  ini membahas seluruh ayat al-Qur'an dari awal surat al-Fâtihah 
sampai akhir surat an-Nâs. Muhammad Ali Iyazi dalam bukunya, Al-Mufassirûn  
Hayâtuhum wa Manhajuhum, mengatakan bahwa pembahasan kitab tafsir ini  
menggunakan gabungan antara corak tafsîr bi al-Ma'tsûr dengan tafsîr bi  
ar-ra'yi, serta menggunakan gaya  bahasa dan ungkapan yang jelas, yakni gaya 
bahasa kontemporer yang mudah dipahami bagi generasi  sekarang ini. Oleh sebab 
itu, beliau membagi ayat-ayat berdasarkan topik untuk  memelihara bahasan dan 
penjelasan di dalamnya.
       
      Tentang  tafsirnya ini, Wahbah az-Zuhaili menyatakan: "Tafsir al-Munir 
ini bukan  hanya sekedar kutipan dan kesimpulan dari beberapa tafsir, melainkan 
sebuah  tafsir yang ditulis dengan dasar selektifitas yang lebih shahih, 
bermanfaat,  dan mendekati ruh (inti sari) kandungan ayat al-Qur'an, baik dari 
tafsir klasik  maupun modern dan tafsir bi al-ma’tsur ataupun tafsir rasional. 
Di dalamnya  juga diupayakan untuk menghindari perbedaan teori atau pandangan 
teologi yang  tidak dibutuhkan dan tidak berfaedah.
       
      Tafsir  ini ditulis setelah beliau selesai menulis dua buku lainnya, 
yaitu Ushul Fiqh  al-Islamy (2 jilid) dan al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu (8 
Jilid). Sebelum  memulai penafsiran terhadap surat  pertama (al-Fatihah), 
Wahbah az-Zuhaili terlebih dahulu menjelaskan wawasan  yang berhubungan dengan 
ilmu al-Qur'an.
       
      Dalam  Muqaddimah, beliau mengatakan bahwa tujuan dari penulisan tafsir 
ini adalah  menyarankan kepada umat Islam agar berpegang teguh kepada al-Qu'ran 
secara  ilmiah.
       
      Dalam  hal ini, Ali Iyazi menambahkan bahwa tujuan penulisan Tafsir 
al-Munir ini  adalah memadukan keorisinilan tafsir klasik dan keindahan tafsir 
kontemporer, karena  menurut Wahbah az-Zuhaili banyak orang yang menyudutkan 
bahwa tafsir klasik  tidak mampu memberikan solusi terhadap problematika 
kontemporer, sedangkan para  mufassir kontemporer banyak melakukan penyimpangan 
interpretasi terhadap ayat  al-Quran dengan dalih pembaharuan. Oleh karena itu, 
menurutnya, tafsir klasik  harus dikemas dengan gaya bahasa kontemporer dan 
metode yang konsisten sesuai  dengan ilmu pengetahuan modern tanpa ada 
penyimpangan interpretasi.
       
      Secara  metodis sebelum memasuki bahasan ayat, Wahbah az-Zuhaili pada 
setiap awal surat selalu mendahulukan penjelasan tentang keutamaan dan  
kandungan surat tersebut, dan sejumlah tema yang terkait dengannya  secara 
garis besar. Setiap tema yang diangkat dan dibahas mencakup tiga aspek,  yaitu: 
Pertama, aspek bahasa, yaitu menjelaskan beberapa istilah yang termaktub  dalam 
sebuah ayat, dengan menerangkan segi-segi balaghah dan gramatika  bahasanya.
       
      Kedua,  tafsir dan bayan, yaitu deskripsi yang komprehensif terhadap 
ayat-ayat,  sehingga mendapatkan kejelasan tentang makna-makna yang terkandung 
di dalamnya  dan keshahihan hadis-hadis yang terkait dengannya. Dalam kolom 
ini, beliau  mempersingkat penjelasannya jika dalam ayat tersebut tidak 
terdapat masalah,  seperti terlihat dalam penafsirannya terhadap surat 
al-Baqarah ayat 97-98. Namun, jika ada permasalahan  diulasnya secara rinci, 
seperti permasalahan nasakh dalam ayat 106 dari surat al-Baqarah.  
       
      Ketiga,  fiqh al-hayat wa al-ahkam, yaitu perincian tentang beberapa 
kesimpulan yang  bisa diambil dari beberapa ayat yang berhubungan dengan 
realitas kehidupan  manusia. 
       
      Az-Zuhaili  sendiri menilai bahwa tafsirnya adalah model tafsir al-Qur’an 
yang didasarkan  pada al-Qur’an sendiri dan hadis-hadis shahih, mengungkapkan 
asbab an-nuzul dan  takhrij al-hadis, menghindari cerita-cerita Isra’iliyat, 
riwayat yang buruk,  dan polemik, serta bersikap moderat.
       
      Sedangkan  dalam masalah teologis, beliau cenderung mengikuti faham ahli 
al-Sunnah, tetapi  tidak terjebak pada sikap fanatis dan menghujat madzhab 
lain. Ini terlihat  dalam pembahasannya tentang masalah "Melihat Tuhan" di 
dunia dan  akhirat, yang terdapat pada surat  al-An'am ayat 103
       
      Tafsir  ini sesuai ini bukan sahaja sesuai untuk digunakan di peringkat 
pengajian  separuh masa di masjid-masjid, malah ia juga sesuai dijadikan bahan 
bacaan di  peringkat sekolah-sekolah sehinggalah peringkat yang tertinggi.
       
      PENULIS
       
      Prof.  Dr. Wahbah Mustaffa al-Zuhaily merupakan seorang ualama’ akademis 
dan tokoh  ilmuan Islam tersohor. Berasal dari Damsyik, Syria. Belia telah 
menulis sekian banyak kitab yang  menjadi rujukan. Selain daripada kitab Tafsir 
al-Munir ini, karangan beliau  yang paling utama ialah kitab al-Fiqh al-Islami 
wa Adilatuhu dan lain-lain.
       
      Terjemahan  Tafsir al-Munir ini telah diusahakan oleh sekumpulan panel 
penterjemah serta  disemak oleh panel penyemak yang berwibawa. Penterjemahan 
ini diharap dapat  membantu para pembaca mendekati makna dan kandungan 
ayat-ayat al-Quran dengan  lebih mendalam lagi.
       
      NASKAH  TERJEMAHAN YANG BOLEH DIPEROLEHI:
       
                    
            TEBAL
            NIPIS
                  Tafsir    al-Munir - Juz 1
            RM 40.00
            RM30.00
                  Tafsir    al-Munir - Juz 27
            RM 37.00
            RM27.00
                  Tafsir    al-Munir - Juz 28
            RM40.00
            RM30.00
                  Tafsir    al-Munir - Juz 29
            RM45.00
            RM35.00
                  Tafsir    al-Munir - Juz 30
            RM40.00
            RM30.00
                 *Harga berdasrkan ketebalan                 
       
      Untuk  pembelian dan pertanyaan hubungi:
       
      Sekretariat
      PERSATUAN  ULAMA’ MALAYSIA 
      8-4,  Jalan 14/22, The Right Angle, Seksyen 14,
      46100  Petaling Jaya, Selangor Darul Ehsan.
       
      Tel/Faks  : 03-7955 4300 H/P : 019-384 2920
      Email  : [EMAIL PROTECTED]
    
       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke