Jimmy Okberto
Fri, 24 Jun 2005 01:59:55 -0700
-----Original Message----- From: Dewi M. S. Wakkary Prens, Ngeri deh bacanya..... Gue nggak kebayang 'jaman'nya anak gue nanti...... Jangan Kaget Anak Ngeseks! Cepatnya usia menstruasi, tiadanya pendidikan seksualitas yang benar, serta mudahnya akses terhadap pornografi, mengakibatkan banyak remaja merasa biasa dengan hubungan seks saat pacaran. Bagaimana orangtua mesti menyikapinya? "Sekarang gue lagi jomblo. Sudah dua tahun putus. Sakit juga! Habis pacaran empat tahun, dan sudah kayak suami-istri. Dulu, tiap kali ketemu, gejolak seks muncul begitu saja. Terus ML (making love) deh. Biasanya kita lakuin keglatan itu di hotel. Kadang di rumah juga, kalau orang rumah lagi pergi semua. Kalau rumah nggak lagi sepi ya paling cuma berani ciuman dan raba sana-sini. Buat gue, semua itu biasa. Gue nglakuinnya karena merasa yakin doi bakal jadi suami gue. Gue nggak takut dosa. Kan kita sama-sama mau, jadi nggak ada paksaan. Dosa terjadi kan kalau ada paksaaan. Gitu menurut gue! Waktu putus, gue nggak nyesel sudah nglakuin itu, habis, mau gimana lagi! Santai saja! Tentang pendidikan seks, gue nggak pernah terima dari orangtua. Paling dari teman, majalah, buku, atau film" Itulah penuturan Neila (samaran), pelajar kelas 3 sebuah SMA di Jakarta Timur, yang baru saja menjalani UAN (ujian akhir nasional). Tanpa beban, remaja manis bertubuh mungil ini menceritakan pengalamannya. Ia dan sang kekasih tahu harus melakukan apa supaya hubungan seks pranikah itu tidak membuatnya hamil. Sampal saat ini, Neila yakin orangtuanya sama sekali tidak tahu perilaku putri keduanya itu. "Gue nggak bakal ceritalah, bisa mati mendadak mereka. Teman malah ada yang tahu, tentu saja yang punya pengalaman samna," katanya sambil memilin-milin rambutnya. Menurutnya, ML di kalangan remaja sekarang bukan hal yang terlalu asing lagi. Malah, ada yang sengaja merayu pria dewasa yang bisa ditemui di mal dan tempat umum lain, untuk mendapatkan uang atau barang berharga, seperti telepon seluler model terbaru, jam tangan bermerek, baju, sepatu, tas, dan sebagainya. "Bükan profesi sih, cuma iseng. Hitung-hitung bisa buat gaya. Mending gue `kan, yang nglakuinnya cuma sama pacar dan bukan demi duit," sergahnya. Aktif Secara Seksual Bukannya tak mungkin kalau banyak remaja lain yang sepaham dengan Neila. Merebaknya kasus VCD Itenas, film yang dibuat sepasang mahasiswa sebuah universitas di Bandung saat mereka bethubungan seks, menjadi pertanda jelas betapa banyak remaja dan anak muda masa kini tak lagi menganggap tabu hubungan intim pranikah. Survei yang dilakukan Departemen Kesehatan di tahun 1996 di Jawa Barat dan Bali memberi informasi jelas. Sekitar 1,3 persen responden wanita kota dan 1,4 persen remaja putri di desa di Jawa Barat serta 4,4 persen responden wanita kota di Bali menyatakan melakukan hubungan seks pranikah. Menurut survei yang dilakukan LIPI tahun 1998, sekitar 2,3 persen pelajar perempuan sekolah lanjutan atas dan 7 persen pelajar laki- laki di Surabaya, juga berhubungan seks sebelum menikah. Jangan heran bila seorang ibu menemukan kondom di tas anaknya. Hubungan seks saat pacaran sudah menjadi barang biasa. Ciuman dan pernak-pernik perilaku seksual dianggap bumbu penyedap. Tanpa ciuman dan rabaan, pacaran terasa hambar. Widhi (samaran), mahasiswa usia 22 tahun, menegaskan, "Hari gini, Mas. Mana ada anak muda yang nggak ciuman kalau pacaran. Lebih dari itu aja banyak." Widhi mengakui, beberapa kali melakukan petting atan menempelkan kelamin satu sama lain untuk merangsang secara seksual. Aktivitas itu ia anggap wajar, asal tidak sampal terjadi hubungan seksual (penetrasi). Studi terakhir yang dilakukan PPK-UI (2003) dan UNICEF menunjukkan, separuh dari para pelajar SMP di Papua aktif secara seksual. Perilaku kencan umumnya berupa percakapan, memegang tangan, dan berpelukan. Sepertiga dari mereka menyatakan pernah berciuman (pipi, bibir). Sekitar 17 persen pernah meraba kelamin, dan 8 persen melakukan petting tanpa penetrasi. Dalam hal kontak seksual awal, lebih dari sepertiga, sekitar 38 persen, mengaku pernah berhubungan seks saat usia 13-15 tabun. Pasangan seks pertama mereka berusia sebaya, antara 13-15 tahun. Dr. Boyke Dian Nugraha. Sp.OG, dalam sebuah seminar bercerita, ia pernah bertemu seorang remaja SMP yang melontarkan pertanyaan yang mengagetkan. Gadis belia usia 14 tahun itu bertanya. "Bagaimana seks oral yang enak. Dok?" Bahkan, ada pertanyaan bernada menggugat muncul dari gadis berusia 17. "Kenapa boleh berpoligami, kok kami ngak boleh, ya Dok? tanya remaja itu. Menstruasi Dini Dr. Boyke menyimpulkan, perilaku seksual remaja saat ini, yang sudah mengalami pergeseran itu, akibat usia menarch (menstruasi) dini. Sepuluh tahun lalu remaja baru menstruasi di usia 17 tahun. Sekarang. di usia 13 tahun, saat anak masih duduk di kelas satu atau dua SMP, sudah menstruasi. Lebih dari itu, kondisi sosial saat ini juga sudah jauh berkembang. "Adanya pergeseran norma sosial akibat majunya teknologi informasi memengaruhi semuanya," kata dokter dari Klinik Pasutri ini. VCD porno dan informasi dari internet mudah diperoleh, buku dan majalah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan isinya dari segi pendidikan seks juga banyak. Tidak heran bila penelitian yang dilakukan Klinik Pasutri Jakarta menyebutkan hampir 100 persen remaja atau anak SMA sudah melihat atau menonton gambar porno, dari internet, VCD, atau buku-buku serta kartu porno, Ini adalah gerbang buat mereka untuk memulai aktivitas seks sebelum menikah. Retno (39), seorang ibu rumah tangga, mengaku khawatir menghadapi anaknya yang baru kelas tiga SMP. Dia pernah menemukan jejak alamat situs porno yang diakses anaknya. Karena itu, dua bulan lalu, internet di rumahnya dia cabut. "Tindakan saya ini tepat nggak ya?" tanya karyawan bank ini. "Soalnya 'kan ada warnet ada di mana-mana." Lain lagi cerita Brata (47). Tujuh bulan lalu tagihan telepon rumahnya melonjak sampai 6 juta rupiah. Ia sempat protes ke Telkom dan minta perincian pemakaian telepon itu. Alangkah kagetnya ketika ia tahu ada nomor-nomor party line, yang ternyata dihubungi putra sulungnya yang berusia 16 tahun. "Saya ngamuk, yang utama bukan masalah uang, tetapi waduh..., ngapain anak kecil telepon ngeres begitu. Lha bapaknya saja nggak pernah," kata karyawan perusahaan penerbangan yang sudah tiga tahun menduda karena ditinggal mati istri ini, dengan nada berapi-api. Tiga Juta Aborsi Para orangtua memang sering tidak tahu harus bagaimana. Kadang saking bingungnya, anak dimasukkan ke asrama yang kental dengan pendidikan agama. Padahal tindakan ini belum tentu aman. Dr. Boyke mengungkapkan, jalan yang tepat adalãh memberikan pelajaran yang benar serta terbuka mengenai seksualitas, kepada anak. "Jangan takut dengan persoalan tabu. Pendidikan seks yang benar dan sesuai kondisi masyarakat kita dapat mengurangi konflik dan mitos salah yang selama ini berkembang. Pengetahuan ini akan membantu anak mampu bersikap dewasa," paparnya. Menurut Dr. Boyke, remaja harus tahu organ-organ seksnya, cara memelihara, dan tahu berbagai macam akibat yang bakal timbul bila tidak menggunakannya dengan semestinya. Pengguguran kandungan (aborsi) di Indonesia sekarang ini tercatat tiga juta kasus setiap tahun. Sekitar 15 persen di antaranya dilakukan oleh remaja," ujarnya. Tingginya aborsi pada remaja itu akibat tak ada pendidikan seks dan kesehatan reproduksi. Aborsi yang kebanyakan dijalankan secara tidak aman itu menjadi salah satu penyebah tingginya angka kematian ibu (AKI). Saat ini AKI di Indonesia yang tertinggi se-Asia Tenggara. Wah! (Senior) http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0506/23/112720.htm [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/