ppiindia  

[ppiindia] Penebar Islam Liberal = Domba Kaum Zionis

sipitung68
Mon, 16 Jun 2008 20:08:49 -0700

Penebar Islam Liberal = Domba Kaum Zionis


Peran yang dimainkan oleh orang-orang liberal, para pemimpi utopis
itu, pada akhirnya akan dimainkan ketika pemerintah kita mereka akui.
Sampai saat itu, mereka akan tetap melayani kita dengan baik.


Oleh karena itu, kita akan terus mengarahkan pemikiran-pemikiran
mereka kepada segala macam konsepsi dengan teori-teori fantastis,
baru, dan nampak progresif: yang akan sia-sia, karena kita tidak akan
mengisi kepala-kepala kosong para goyim (istilah Ibrani bagi orang
non-Yahudi atau gentile menurut istilah Latin) itu dengan kemajuan
ataupun dengan keberhasilan yang sempuma; hingga tidak satu pun dari
otak para goyim itu yang mampu memahami, bahwa di dalam kata liberal
ini tersembunyi pengertian tentang keberangkatan untuk meninggalkan
segala aspek kebenaran, karena hal itu bukanlah masalah tentang
penemuan-penemuan materi, dan karena kebenaran itu hanya satu, yang di
dalamnya sudah tidak ada lagi tempat bagi kemajuan (progress).
Kemajuan itu bagaikan sebuah gagasan yang keliru, bekerja untuk
menutupi kebenaran, sehingga tak seorang pun dapat mengetahui tentang
kebenaran itu, kecuali kita, Manusia Pilihan Tuhan, yaitu
wali-wali-Nya.” (Kutipan Protokol Ke-13 dari Protocols of the
Learned Elders of Zion).

Pencipta Isme-Isme

Bila Anda pernah membaca Protocols of the Learned Elders of Zion
(Protokol Panatua Panutan Kaum Zionis), yang lazim juga disebut
Protocols of Zion, maka dengan gamblang kita akan memahami bahwa para
Panatua Panutan Zionis di abad ke-18 â€"yang mereka sebut Abad
Pencerahan (Enlightment Era), yang hampir secara bersamaan lahir
gagasan-gagasan tentang nasionalisme sebagai antithesis terhadap
feodalisme dan sosialisme sebagai antithesis terhadap kapitalisme
serta sekularisme sebagai antithesis theokratismeâ€" adalah pencipta
isme-isme dunia yang saling bertentangan itu. Jadi, semua isme dunia
yang pernah kita kenal â€"yang sebagian di antaranya sempat dianut
oleh berbagai golongan atau partai politik di Indonesiaâ€" pada
hakikatnya lahir dari Satu Ibu Kandung yang sama.

Lalu, mengapa mereka harus menciptakan dan mempromosikan isme-isme
yang saling bertabrakan itu?

Untuk mencoba mengerti hal itu, kita harus mampu memahami sistem,
struktur, dan budaya yang mereka anut. Sistem yang mereka anut disebut
Fertile Crescent System, struktur yang mereka gunakan disebut The
Golden Triangle Structure dan budaya yang mereka pakai adalah Conflict
Culture. Artinya, konflik merupakan budaya yang terkandung di dalam
sistem dan struktur yang mereka anut dan gunakan. Tanpa konflik,
struktur yang mereka gunakan akan runtuh dan secara serta-merta sistem
yang mereka anut pun akan hancur (catastrophic level). Oleh karena
selama puluhan abad sistem peradaban yang kita anut mengacu pada
Fertile Crescent System â€" yang konon didesain oleh Raja Babylonia,
Nimrod atau Namrud, 4 millennium yang laluâ€" maka dengan sendirinya
dunia kita selama puluhan pula tak pernah damai, alias selalu
terjerumus dari satu peperangan ke peperangan yang lain. Di Eropa,
Fertile Crescent System dikenal dengan Labyrinth/Knossos dan di China
disebut San Kuo.

Kebenaran Mutlak

Kalau kita berbicara tentang kebenaran, maka tentu saja hanya ada satu
kebenaran, yaitu Kebenaran dengan K besar (uppercase) yang artinya
Kebenaran Mutlak. Tentu saja Kebenaran dengan K besar hanya milik Yang
Satu pula, yaitu Sang Maha Pencipta.
Sebaliknya, bila kita berbicara tentang ‘kebenaran’ dengan ‘k’
kecil (lowercase), kita akan menemukan banyak ‘kebenaran’. Nah, di
sinilah para pemikir, penabur, penganjur, dan penganut Islam Liberal
bermain. Bermain-main dengan ‘kebenaran’ (‘k’ kecil), tetapi
mencoba menghujat Kebenaran (K besar). Tentu saja hal itu bukan
maqom-nya. Artinya tidak sepadan.

Kalau ada cendekiawan yang melayani perdebatan dengan penganut Islam
Liberal, sama dengan mereka bermain gaple, permainan akal-akalan.

Bagaimana tidak? Seorang pemain gaple yang pada gebrakan awal
mengeluarkan kartu balak empat, berharap lawan-lawannya berfikir bahwa
dialah memegang banyak kartu gacoan empat. Ketika lawan-lawannya
menutup kedua pintu empat itu, ia senang sekali, karena pada
kenyataannya kartu gacoan empatnya cuma satu itu. Tentu saja yang
‘main’ adalah kartu lain yang bukan gacoan empat. Lawan-lawannya
kecele, karena kartu empat yang ada di tangan mereka justeru tak
pernah bisa keluar lagi, karena tak diberi kesempatan untuk muncul.

Begitu pula dengan para penganut Islam Liberal, mereka menafikan hukum
wajib menutup aurat dengan pernyataan bahwa pakaian yang tertutup
merupakan budaya Bangsa Arab. Jadi, hukum menutup aurat bukan
Kebenaran, sehingga perintah tersebut boleh-boleh saja tidak diikuti.
Apalagi sekarang ini, wanita-wanita telanjang atau setengah telanjang
atau mempertontonkan pusarnya bertebaran di mana-mana. Dan, hal itu
telah ‘diterima’ zaman, karena tidak ada yang protes dan banyak
pula diikuti oleh kaum wanita dari perkotaan hingga ke pedesaan.
Konsekuensinya, agar Islam dan al-Qur’an tetap eksis, maka Islam dan
al-Qur’an harus mengintil-ngintil di belakang zaman. Inilah
pemahaman mengenai ‘kebenaran’ penganut Islam Liberal, yang
sesungguhnya bukanlah Kebenaran.
Bagi mereka yang cukup mengerti tentang hukum-hukum Islam, tentu saja
akan mampu membaca ‘permainan gaple’ tersebut. Para penganut Islam
Liberal menafikan Kebenaran Mutlak. Kata mereka, “Tidak ada itu
Kebenaran Mutlak, yang ada adalah kebenaran relatif.”

Tetapi, entah karena licik atau idiot, mereka memberikan postulat
(dalil) bahwa zaman ini pasti menuju kepada Kebenaran Mutlak,
karenanya Islam maupun al-Qur’an harus ‘mengikuti’
(mengintil-ngintil) zaman. Terbuktilah bahwa perdebatan tentang ini
hanya ‘akal-akalan’.
Sama persis dengan ‘akal-akalan’-nya para Panatua Panutan Kaum
Zionis, yang menciptakan ide liberal sebagaimana yang dikutip dari
Protocols of Zion di awal tulisan ini. Mereka mengatakan, bahwa untuk
mencapai Kebenaran Mutlak harus melalui proses liberalisasi. Padahal
mereka mengetahui dengan pasti, bahwa di dalam kata liberal itu
terkandung pengertian tentang keberangkatan untuk meninggalkan
Kebenaran yang Satu.
Kemudian, mari kita tengok postulat mereka yang lain, yakni Umat Islam
dilarang memandang dirinya sebagai masyarakat yang terpisah dari
golongan yang lain. Kata ‘terpisah’ dalam hal ini dibuat tidak
jelas. Para penganjur Islam Liberal menganggap wanita muslim yang
mengenakan pakaian tertutup (menutup aurat) sebagai ‘memisahkan
diri’ dari golongan yang lain, sementara yang mempertontonkan paha,
pusar, dan sebagian payudaranya, tidak dianggap ‘memisahkan diri’
dari golongan yang lain; dan bahkan golongan kedua ini tidak
dipermasalahkan, kalau tidak bisa dikatakan ‘didukung’.

Sebagai konsekuensi tidak memisahkan diri dari golongan yang lain,
Umat Islam harus menjadi bagian dari keluarga universal yang
berlandaskan humanisme, demikian pandangan para penganut Islam
Liberal. Humanisme adalah landasan ideal kaum Yahudi-Illuminati
(periksa Piramida Illuminati Bertingkat 13), sama dengan al-Qur’an
yang merupakan landasan ideal bagi Ummat Islam dari dulu hingga
sekarang dan nanti. Jadi, Ummat Islam diminta meninggalkan al-Qur’an
dan menggantinya dengan humanisme, agar bisa menjadi anggota keluarga
universal. Dengan demikian, secara induktif dapat disimpulkan, bahwa
Islam Liberal sama dengan Yahudi-Illuminati. Setidak-tidaknya,
penganut Islam Liberal adalah para goyim yang digembalakan oleh Kaum
Yahudi-Illuminati, atau Domba-domba Kaum Zionis. Betul, nggak ?

 

----------
Sumber: Indonesia NEWSNET, Juni 2005

  • [ppiindia] Penebar Islam Liberal = Domba Kaum Zionis sipitung68