Satrio Arismunandar
Thu, 23 Apr 2009 10:42:11 -0700
MUSIK BLUES TERNYATA BERASAL DARI TRADISI ISLAM (dikutip dari Multiply) Blues dikenal sebagai sebuah aliran musik vokal dan instrumental yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Musik yang mulai berkembang pesat pada abad ke-19 M itu muncul dari musik-musik spiritual dan pujian yang biasa dilantunkan komunitas kulit hitam asal Afrika di AS. Musik yang menerapkan blue note dan pola call and response itu diyakini publik AS dipopulerkan oleh 'Bapak Blues'--WC Handy (1873-1958).
Percayakah Anda bahwa musik Blues berakar dari tradisi kaum Muslim? Awalnya,
publik di negeri Paman Sam pun tak meyakininya. Namun, seorang penulis dan
ilmuwan serta peneliti pada Schomburg Center for Research in Black Culture di
New York, Sylviane Diouf, berhasil meyakinkan publik bahwa Blues memiliki
relasi dengan tradisi masyarakat Muslim di Afrika Barat.
Untuk membuktikan keterkaitan antara musik Blues Amerika dengan tradisi kaum
Muslim, Diouf memutar dua rekaman. Yang pertama diperdengarkannya kepada publik
yang hadir di sebuah ruangan Universitas Harvard itu adalah lantunan
adzan--panggilan bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat. Setelah itu,
Diouf memutar Levee Camp Holler.
Rekaman kedua itu adalah lagu Blues lawas yang pertama kali muncul di Delta
Mississippi sekitar 100 tahun yang lalu. Levee Camp Holler bukanlah lagu blues
yang terbilang biasa. Lagu itu diciptakan oleh komunitas kulit hitam Muslim
asal Afrika Barat yang bekerja di Amerika pasca-Perang Sipil.
Lirik lagu Levee Camp Holler yang diperdengarkan Diouf itu terdengar seperti
panggilan suara adzan--berisi tentang keagungan Tuhan. Seperti halnya lantunan
adzan, lagu Levee Camp Holler itu menekankan kata-kata yang terdengar bergetar.
Menurut Diouf, langgam yang sengau antara lagu Blues Levee Cam Holler yang
mirip adzan juga merupakan bukti adanya pertautan antara keduanya.
Publik yang hadir di ruangan itu pun takjub dengan kebenaran bukti yang
diungkapkan Diouf. "Tepuk tangan pun bergemuruh, sebab hubungan antara musik
Blues Amerika dengan tradisi Muslim jelas-jelas terbukti," papar Diouf. "Mereka
berkata, 'Wow, benar-benar terdengar sama. Blues ternyata benar berakar dari
sana (tradisi Islam)'."
Jonathan Curiel dalam tulisannya bertajuk, Muslim Roots, US Blues,
mengungkapkan bahwa publik Amerika perlu berterima kasih kepada umat Islam dari
Afrika Barat yang tinggal di Amerika. Sekitar tahun 1600 hingga pertengahan
1800 M, banyak penduduk kulit hitam dari Afrika Barat yang dibawa paksa ke
Amerika dan dijadikan budak.
Menurut para sejarawan, sekitar 30 persen budak dari Afrika Barat yang
dipekerjakan secara paksa di Amerika itu adalah Muslim. "Meski oleh tuannya
dipaksa untuk menganut Kristen, namun banyak budak dari Afrika itu tetap
menjalankan agama Islam serta kebudayaan asalnya," cetus Curiel.
Mereka tetap melantunkan ayat-ayat Alquran setiap hari. Namun, sejarah juga
mencatat bahwa para pelaut Muslim dari Afrika Barat adalah yang pertama kali
menemukan benua Amerika sebelum Columbus. "Tak perlu diragukan lagi, secara
historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika
beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya," tutur Fareed H Numan
dalam American Muslim History A Chronological Observation.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya, They Came Before Columbus,
membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam
African Presence in Early America, Van Sertima menemukan fakta bahwa para
pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang
tinggal di Amerika.
"Columbus juga tahu bahwa Muslim dari pantai barat Afrika telah tinggal lebih
dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat
Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan
menikahi penduduk asli.
Curiel menambahkan, pengaruh lainnya yang diberikan komunitas kulit hitam yang
beragama Muslim di Amerika terhadap musik Blues adalah alat-alat musik yang
bisa mereka mainkan. Pada era perbudakan di Amerika, orang kulit putih melarang
mereka untuk menabuh drum, karena khawatir akan menumbuhkan semangat perlawanan
para budak.
Namun, penggunaan alat musik gesek yang biasa dimainkan umat Islam dari Afrika
masih diizinkan untuk dimainkan karena dianggap mirip biola. Guru Besar
Ethnomusikologi dari Universitas Mainz, Jerman, bernama Prof Gehard Kubik
mengatakan alat musik banjo Amerika juga berasal dari Afrika.
Secara khusus, Prof Kubik menulis sebuah buku tentang relasi musik Blues dengan
peradaban Islam di Afrika Barat berjudul, Africa and the Blues, yang
diterbitkan University Press of Mississippi pada 1999. "Saya yakin banyak
penyanyi Blues saat ini yang tak menyadari bahwa pola musik mereka meniru
tradisi musik kaum Muslim di Arab," cetusnya.
Secara akademis Prof Kubik telah membuktikannya. "Gaya vokal kebanyakan
penyanyi Blues menggunakan melisma, intonasi bergelombang. Gaya vokal seperti
itu merupakan peninggalam masyarakat di Afrika Barat yang telah melakukan
kontak dengan dunia Islam sejak abad ke-7 dan 8 M," paparnya. Melisma
menggunakan banyak nada dalam satu suku kata.
Sedangkan, intonasi bergelombang merupakan rentetan yang beralih dari mayor ke
skala minor dan kembali lagi. Hal itu sangat umum digunakan saat kaum Muslim
melantunkan adzan dan membaca Alquran. Dengan fakta itu, papar Prof Kubik, para
peneliti musik seharusnya mengakui bahwa Blues berakar dari tradisi Islam yang
berkembang di Afrika Barat.
Meski telah dibuktikan secara akademis, namun masih banyak pula yang tak
mengakui adanya pengaruh tradisi masyarakat Muslim Afrika dalam musik Blues.
"Non-Muslim sangat sulit untuk meyakini fakta itu, karena mereka tak memiliki
pengetahuan yang cukup tentang peradaban Islam dan musik Islami," ungkap Barry
Danielian, seorang pemain terompet yang tampil bersama Paul Simon, Natalie
Cole, dan Tower of Power.
Suara lantunan adzan dan ayat-ayat Alquran yang biasa dilantunkan para Muslim
kulit hitam di Amerika mengandung musikalitas. "Dalam jamaah saya, kata
Danielian yang tinggal di Jersey City, New Jersey, 'Ketika kami berkumpul dan
sang imam datang ada ratusan orang dan kami melantunkan doa, pasti terdengar
sangat musikal. Anda akan mendengar musikal itu seperti orang Amerika menyebut
Blues.'" Begitulah tradisi Islam di AS telah melahirkan sebuah aliran musik
bernama Blues. N hri
Musik dalam Peradaban Islam
Bagaimanakah Islam memandang musik? Ada dua pandangan di dalam Islam terhadap
musik. Ada ulama yang membolehkan dan ada pula yang melarangnya. Perbedaan ini
muncul lantaran Alquran tak membolehkan dan melarangnya.
Ulama terkemuka Dr Yusuf Al-Qardawi dalam bukunya, Al-Halaal wal Haraam fil
Islam, memperbolehkan musik dengan sejumlah syarat. Sebenarnya, sejumlah ritual
keagamaan yang dijalankan umat Islam mengandung musikalitas. Salah satu
contohnya adalah alunan adzan. Selain itu, ilmu membaca Alquran atau ilm
al-qiraah juga mengandung musik.
Meski begitu, Al-Albani melarang umat Islam untuk bermusik. Ia mendasarkannya
pada salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. "Akan ada dari ummatku
kaum yang menghalalkan zina, memakai sutra, minuman keras, dan alat-alat musik."
Secara umum, umat Islam memperbolehkan musik. Bahkan, di era kejayaannya, umat
Islam mampu mencapai kemajuan dalam bidang seni musik. Terlebih lagi, musik dan
puisi menjadi salah satu tradisi yang berkembang di Semenanjung Arab sebelum
kedatangan Islam.
Pencapaian peradaban Islam dalam bidang musik tercatat dalam Kitab Al-Aghani
yang ditulis oleh Al-Isfahani (897 M-967 M). Dalam kitab itu, tertulis sederet
musisi di zaman kekhalifan, seperti Sa'ib Khathir (wafat 683 M), Tuwais (wafat
710 M), dan Ibnu Mijjah (wafat 714 M). Penyebaran Islam ke seluruh penjuru
jazirah Arab, Persia, Turki, hingga India, semuanya memilik tradisi musik.
Seni musik berkembang pesat di era kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Para ilmuwan
Muslim banyak menerjemahkan risalah musik dari Yunani terutama ketika Khalifah
Al-Ma'mun berkuasa. Para Khalifah Abbasiyah pun turut mensponsori para penyair
dan musisi. Salah satu musisi yang karyanya diakui dan disegani adalah Ishaq
Al-Mausili (767 M-850 M).
Pada awal berkembangnya Islam, musik diyakini sebagai cabang dari matematika
dan filsafat. Tak heran, jika matematikus dan filosof Muslim terkemuka,
Al-Kindi (800 M-877 M), adalah ahli teori musik yang kesohor. Al-Kindi juga
tercatat sebagai ilmuwan yang menjadikan musik untuk pengobatan dan penyembuhan
penyakit. Ia menulis tak kurang dari 15 kitab tentang musik, namun yang masih
ada tinggal lima. Al-Kindi adalah orang pertama yang menyebut kata 'musiqi'.
Tokoh Muslim lainnya yang juga banyak menyumbangkan pemikirannya bagi musik
adalah Al-Farabi (870 M-950 M). Ia tinggal di Istana Saif al-Dawla Al-Hamdan¡
di kota Aleppo. Matematikus dan filosof ini juga sangat menggemari musik serta
puisi. Selama tinggal di istana itu, Al-Farabi mengembangkan kemampuan musik
serta teori tentang musik.
Al-Farabi juga diyakini sebagai penemu dua alat musik, yakni rabab dan qanun.
Ia menulis tak kurang dari lima judul kitab tentang musik. Salah satu buku
musiknya yang populer bertajuk, Kitabu al-Musiqa to al-Kabir, atau The Great
Book of Music. Berisi teori-teori musik dalam Islam.
Pemikiran Al-Farabi dalam bidang musik masih kuat pengaruhnya hingga abad ke-16
M. Kitab musik yang ditulisnya itu sempat diterjemahkan oleh Ibnu Aqnin (1160
M-1226 M) ke dalam bahasa Ibrani. Selain itu, karyanya itu juga dialihbahasakan
ke dalam bahasa latin berjudul De Scientiis dan De Ortu Scientiarum. Salah satu
ahli teori musik Muslim lainnya adalah Ibnu Sina.