Assl.
WW
Evi
dan sanak di RN nan terhormat. Bolehkan saya berkomentar
singkat?
Kalau
saya membaca tulisan Evi di bawah, kelihatan sekali bahwa komunikasi kita
memang telah dikuasai oleh orang non muslim. Jadi kita terbawa dengan mereka
dalam penilaian tentang yang sebenarnya kita lebih tahu dari
mereka.
Menurut
saya menjalankan syariat Islam dalam semua tingkah polah dan segala bidang
kehidupan se-hari2 adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam. Tapi jangan
diterjemahkan Syariat Islam dari satu aliran atau satu warna saja. Bagi saya
Syariat Islam adalah undang-undang tata hidup kita yang dijiwai oleh jiwa
Islami. Jadi harus dijauhkan terjemahan kata secara leterlek. Harus ada kajian
mendalam dan komprehensif dengan semua keadaan dilingkungan tempat kita
berada. Mungkin bias sedikit rujukan spt
ABSSBK.
Wass.
WW
St.P
Takabalallahu
minna waminkum
Salamiak
babuko puaso untuak nan di Ina.
-----Original
Message-----
From:
[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of -- (*o*) --
Sent: Thursday, November 20, 2003 2:08
PM
Yap
Uda!
Selama ini bila
ada yang berteriak soal penegakan syariat islam yang ditangkap sebagian
besar orang hanyalah soal potong tangan, rajam dan pakaikan kerudung
pada perempuan.Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di afganistan
sana waktu taliban mendirikan negara islam, tapi dari media yang sampai
kerumah saya, yang tertangkap kebanyakan hanyalah soal pemasungan. baik itu
pemasungan kebebasan berpendapat, kebebasan untuk mendapatkan hiburan maupun
kebebasan perempuan untuk menikmati pendidikan dan berkarya di luar rumah.
saya rasa wacana negara syariat seharusnya diperluas dan harus keluar dari
konteks pemasungan. bila media massa (barat) kita salahkan bahwa mereka
telah mamanipulasi isi berita seharusnya pertanyaan kita kembalikan pada
diri sendiri, mengapa mereka bisa memanipulasi? mengapa mereka tidak
menuliskan seperti yang kita ingin kan? jangan2 disamping emang gak jago
berdiplomasi, niat negara syariat kita memang hanya sekedar keinginan
politik temporer: memasung?
saya tertarik
tentang pernyataan Uda bahwa arab rendah tingkat kriminalitasnya. apakah ini
benar bahwa realita emang bicara demikian ataukah kita saja yang tidak
membaca. seberapa jauh sih pemerintah arab membebaskan pers mereka? saya tidak
bicara ttg statistik yang akurat, tapi dari kira-kita. perasaan kebanyakan tkw
yang mengalami penyiksaan dari arab deh. apakah ini bukan suatu cermin bahwa
masyarakat arab tidak lah seindah tampak dari jauh?
--Gm