rantaunet  

[EMAIL PROTECTED] Re: Bundo Kanduang atau Miss Universe

Riri - Mairizal Chaidir
Wed, 04 Jul 2007 19:14:39 -0700

Referensi bagus, krn penulisnya "orang dalam". 

Sebelum2nya, saya selalu tertawa kalau mendengar bhw miss-miss an berperan sbg 
duta untuk memperkenalkan budaya, atau apalah namanya. Kalau kemaren miss kita 
bilang "Indonesia  = CITY", nanti dia bilang apa ttg Minang?

Ada usul agar menolak pakai baju renang di tingkat dunia. Maaf, kemaren wakil 
kita pake one-piece diantara bikini aja kelihatan lucu. lalu pake apa? Baju 
kuruang?

Arnoldison wrote: 
> Peran perempuan di minangkabau sedemikian besarnya tak ada
> tandingan dengan wilayah lain.
> Pertanyaan perlukah  gelar miss Universe bagi wanita minangkabau ?
> Untuk apa gelar itu diperoleh ? Bukankah yang dibutuhkan dari wanita
> minangkabau adalah peran bundo kandung.
> Saya mencoba untuk sedikit mencari gambaran tentang hal ini, saya
> dapatkan tulisan yang diambil blog Angelina Sondakh mantan puteri
> Indonesia tahun 2001
> http://angelinasondakh.blogs.com/angelina_sondakhs_diary/2006/02/puteri_indonesi.html
> PUTERI INDONESIA
> Minggu  lalu,  saya  menerima  sms  dari Anggota DPR Fraksi PAN : Bpk.
> Alvin  Lee.  Beliau  menyampaikan protes keras atas apa yang dilakukan
> Puteri Indonesia 2005, Nadine Chandra Winata, berikut bunyi sms-nya:
>  Ketum  Paguyuban Puteri Indonesia, saya Alvin Lee menyampaikan PROTES
> KERAS  atas  Nadine,  Puteri  Indonesia  (PI)  2005-2006,  yang tampil
> promosikan  MEROKOK,  gaya  hidup  &  anti sosial yang berbahaya untuk
> kesehatan.  Disamping promosikan  French Kiss . Lihat IndoPos hari ini
> 19 Jan 06. Saya hormati pilihan gaya hidup pribadi untuk merokok. Tapi
> seorang PI ketika tampil di publik sudah bukan pribadi lagi. PI adalah
> milik  bangsa  Indonesia,  berfungsi  sbg  TELADAN  &  PANUTAN.  Wakil
> KARAKTER  &  WAJAH  perempuan  Indonesia  selain  fungsi2 sosial lain.
> Pilihan  Nadine  untuk  kejar  FULUS  & KARIER, lupakan tanggung jawab
> sosial  sungguh  sangat  mengecewakan. Apakah figure seperti ini patut
> wakili   RI   dipentas   Miss   Universe?   Selama   ini  saya  dukung
> penyelenggaraan  PI  karena  saya  nilai  cukup  baik  manfaatnya buat
> Indonesia.  Namun  jika  gelar PI hanya untuk mempromosikan gaya hidup
> negatif  seperti  yang  dilakukan  Nadine, lebih baik dihapus saja PI.
> Sdri  Angelina sebagai mantan PI & sekarang ketua wadah para mantan PI
> berkewajiban  ambil  langkah  korektif  jika  ingin  jaga martabat PI.
> Salam. 
> Saya menyadari kenapa protes ini disampaikan melalui saya. Memang, mau
> tidak  mau  saya  harus  dapat  menerima  setiap kritik yang ditujukan
> kepada Puteri Indonesia, karena image tersebut sudah melekat pada diri
> saya.
> Terus   terang  berbicara  soal  Puteri  Indonesia  mengingatkan  pada
>  tantangan   yang  saya  hadapi  saat menulis buku :  Kecantikan Bukan
> Modal  Utama , tahun 2002. Buku tersebut intinya memaparkan; Bagaimana
> memandang  dan mengartikan kecantikan itu sendiri. Bagaimana perempuan
> tidak  menjadi  budak  dari  arti  kecantikan lahiriah yang salah, dan
> orang  lain  tidak  berhak  untuk  menentukan definisi cantik itu buat
> masing   masing perempuan. Selain itu, ada bab yang berisikan kegiatan
> saya  selama  menjadi Puteri Indonesia dan penjelasan tentang persepsi
> saya  mengenai  Puteri  Indonesia.  Ada  satu  paragraf  yang  menjadi
> kontroversi  pada saat itu, yaitu tulisan tentang kekecewaan saya yang
> berkaitan  dengan  aktivitas selama menyandang gelar Puteri Indonesia,
> yang  lebih banyak di dominasi dengan kegiatan-kegiatan yang  menjual 
> kecantikan  lahiriah  seperti  demo  kecantikan di Mall. Bagian inilah
> yang pada akhirnya memunculkan kontroversi.
> Memang  sebelum saya menyandang gelar Puteri Indonesia pernah terpikir
> dibenak  saya  bahwa  fungsi  terbesar dan utama dari Puteri Indonesia
> adalah  bagaimana  sosok Puteri Indonesia dapat melakukan hal hal yang
> benar benar   menyentuh  masyarakat  yang  termarjinalkan,  dan  dapat
> menyelesaikan  sebagian permasalahan sosial yang sedang melanda bangsa
> kita. Saya membayangkan seorang yang menyandang gelar Puteri Indonesia
> akan  berkeliling  ke  seluruh Indonesia untuk mengunjungi mereka yang
> kurang  beruntung  dan  membutuhkan  uluran  tangan.  Inilah  definisi
> idealisme seorang Puteri Indonesia menurut saya pada saat itu.
> Namun  setelah  muncul  kontroversi  dari  buku tersebut, saya mencoba
> mengulas  balik  tehadap  peristiwa  yang  terjadi.  Dan akhirnya saya
> menyadari  bahwa  Puteri  Indonesia  adalah  bagian  dari  satu kontes
> kecantikan yang erat kaitannya dengan dunia entertainment, showbiz dan
> commercial.  Hal  ini  tentunya  sudah sangat wajar dalam dunia bisnis
> dimana  satu  produk  berusaha  melakukan  positioning  dan  branding 
> yang  lebih  kuat dalam menghadapi era  over-choices  seperti sekarang
> ini.  Intinya Puteri Indonesia itu ada di dalam domain tersebut dengan
> tidak melupakan kontribusinya untuk masalah   masalah sosial. Dan kita
> bersyukur  Yayasan  Penyelenggara Puteri Indonesia tidak semata   mata
>  commercial oriented  tapi juga berpartisipasi dalam usaha menciptakan
> remaja Puteri Indonesia yang tangguh menghadapi tantangan globalisasi.
> Paling  tidak,  seorang   Puteri  Indonesia   membuka  kesempatan bagi
> perempuan Indonesia untuk bisa mewujudkan impiannya.
> Sebenarnya  pemilihan Puteri - Puterian telah diadakan sebelum Yayasan
> Puteri  Indonesia  (YPI)  didirikan.  Kita tentunya mengenal nama Dewi
> Motik  (bunda ku yang selalu memberikan pandangan bagaimana me manage 
> cinta  itu,  terima  kasih  Bunda), Irma Hadisuryo (Sosok yang menjadi
> inspirasi  saya  sebagai  Miss Indonesia yang smart dan tetap bertahan
> dengan  kecantikan  intelektualnya),  Titi  Dwi  Jayanti  yang  sempat
> membuat   heboh   Indonesia  karena  mengikuti  kontes Miss World, dan
> masih banyak nama lain yang sempat mewarnai dunia kontes kecantikan di
> Indonesia.
> Dengan  berdirinya  YPI  ini,  maka  ada  satu kontes Pemilihan Puteri
> Indonesia  (PPI)  yang  rutin  diadakan  setiap tahun sejak tahun 1992
> dengan  satu tujuan mulia untuk membangun karakter perempuan Indonesia
> yang  memiliki  3  B     Brain, Beauty and Behaviour. Puteri Indonesia
> pertama  tahun 1992-1993, Indira Soediro (Mba Indira yang tetap cantik
> dan  mampu  mempertahankan  sosok  Puteri Indonesia yang memiliki 3 B.
> Sampai  saat  inipun  kecantikan lahiriahnya tidak luntur). Tahun 1994
> terpilih  Vena  Melinda,  lalu Shanty Manuhutu di tahun 1995, dan Alya
> Rohali  tahun  1996. Setelah Alya Rohali, PPI sempat terhenti beberapa
> waktu  karena  berbagai  hal,  seperti: krisis ekonomi, yang berlanjut
> dengan  krisis  multidimensi.  Penghentian ini juga berhubungan dengan
> adanya pro kontra mengenai kegiatan tersebut.
> Tahun  2000,  PPI  kembali  lagi  diadakan  dengan pemenangnya Bernica
> Ifada.  Kemudian  berlanjut  tahun 2001 yang dimenangkan oleh Angelina
> Sondakh  (saya  sendiri),  Melanie  Puteria  (2002)  dan  Dian Krishna
> (2003).  Pada  2004, terpilih Artika Sari Devi, yang kembali mengikuti
> pemilihan  Miss  Universe  beberapa  waktu  lalu di Bangkok, Thailand.
> Walaupun  keberangkatan  Artika  ini  mendapat  protes  dari  berbagai
> kelompok. Dan pada tahun 2005 terpilihlah Nadine Chandra Winata.
> Ketika  ada  wacana  untuk mengirim wakil Puteri Indonesia pada kontes
> tingkat  dunia,  sudah  dapat dipastikan pro maupun kontra akan segera
> bermunculan yang tidak jarang berujung dengan berbagai aksi demontrasi
> turun  ke jalan. Wacana tersebut, umumnya berkutat pada sebuah pilihan
> apakah  Indonesia  perlu mengirim wakilnya dalam kontes-kontes seperti
> ini  atau  tidak.  Salah  satu  alasan  yang  sering  dijadikan  dasar
> pemikiran  bagi  mereka  yang  setuju  adalah  bahwa  dengan mengikuti
> kegiatan  semacam ini, maka nama Indonesia akan lebih dikenal di dunia
> internasional  sehingga  dapat  meningkatkan  dunia  pariwisata  kita.
> Sedangkan  bagi  mereka  yang  kontra,  antara  lain berpendapat bahwa
> mengikuti  kontes-kontes  semacam ini tidak layak untuk diikuti bangsa
> Indonesia,  karena  tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Salah satu
> dari  kontroversi tersebut adalah bahwa dalam satu sessi, para peserta
> harus  menggunakan pakaian bikini atau swimsuit one piece (baju renang
> yang bukan bikini) di atas panggung. Kontroversi abadi, begitulah saya
> menyebutkan  masalah pro kontra ini. Dalam konteks keglobalan tentunya
> kita   melihat  ini  sebagai  ajang  yang  akan  membangun  keunggulan
> kompetetif, namun bagaimana jika kita melihat dari kacamata budaya dan
> toleransi  beragama? Biarlah masing   masing kita menjawab. Yang pasti
> bagi   saya,   terlepas   pro  kontra  yang  ada,  masalah  ini  harus
> diselesaikan  dan  dicarikan jalan keluar untuk menghentikan kesimpang
> siuran  ini.  Perlu  ketegasan baik pemerintah maupun stakeholder yang
> berkepentingan   untuk   memutuskan   apakah  setuju  mengirim  Puteri
> Indonesia  ke  Miss  Universe atau tidak. Pemerintah sebagai regulator
> dan  fasilitator  berkewajiban untuk memutuskan dan menjelaskan kepada
> masyarakat mengenai sikap yang diambil pemerintah dengan alasan-alasan
> yang  dapat  dipertanggung  jawabkan.  Dalam  konteks  ini, pemerintah
> sebetulnya  telah  mengeluarkan  sebuah  regulasi  melalui  sebuah  SK
> Mendikbud  RI  No.0237/U/1984  yang mengatur tentang berbagai kegiatan
> pemilihan  ratu  kecantikan. Peraturan ini oleh beberapa pihak dipakai
> sebagai  alasan  untuk sebaiknya tidak mengirimkan Puteri Indonesia ke
> ajang Miss Universe, tapi juga menurut beberapa pihak SK Mendikbud ini
> sudah  usang  dan  seharusnya  tidak  berlaku  lagi.  Sekarang tinggal
> bagaimana  pemerintah  menyikapi soal ini ? apakah masih relevan, atau
> harus  direvisi  atau  dicabut  ? Ini semua menjadi wacana kita semua.
> Sebenarnya  dalam  kasus  Pro  Kontra  ini,  ada  beberapa usulan yang
> sebenarnya  bisa  dijadikan  jalan  keluar  agar  semua  pihak  merasa
>  didengarkan .  Mungkin  akan menjadi gebrakan yang luar biasa apabila
> Indonesia menjadi  pioner  atau  penggagas usulan : semua Negara Islam
> yang  mengikuti  Miss  Universe  tidak usah mengenakan busana swimsuit
> diatas  panggung.  Dan saya rasa apabila memang prinsip pemilihan Miss
> Universe  itu  adalah  Brain  maka hal ini sebenarnya bisa ditoleransi
> dan  harusnya bisa diterima. Apalagi sering kita mendengar bahwasannya
> sesi  swimsuit  itu hanyalah bagian kecil dari penilaian Miss Universe
> tersebut.  Jika memang hanya menjadi bagian kecil dari penilaian sudah
> barang  tentu  pihak  penyelenggara  pun  tidak  akan keberatan dengan
> usulan  tersebut.  Justru  ini  akan menjadi kegerakan untuk menaikkan
> harkat dan martabat Indonesia yang mampu mengambil sikap, tidak semata
>    mata  mengikuti  apa yang dikehendaki oleh pihak penyelenggara Miss
> Universe.
> Atau  mungkin  ada  usulan2  yang  sebenarnya  bisa menengahi apa yang
> selama  ini  menjadi  Pro Kontra Miss Universe : MEMAKAI BIKINI / BAJU
> RENANG DIATAS PANGGUNG.
> Nah,  kembali  lagi  kemasalah  sms  diatas   jujur  saya  tidak ingin
> mengomentari  Nadine  sebagai  pribadi.  Gaya hidup adalah pilihan dan
> saya  sangat  menghargai  itu. Untuk itulah saya tidak berhak menjudge
> ataupun  menjustifikasi  perilsaya  dan sikap Nadine. Nadine bagi saya
> adalah  sosok  yang cantik dan menarik. Namun demikian, sebagai mantan
> Puteri  Indonesia  serta image yang telah melekat pada diri saya, maka
> saya  tergerak  untuk  melihat  dan  memberikan  pandangan soal  Gelar
> Puteri  Indonesia   sekarang  ini.  (mudah    mudahan ini bisa dilihat
> secara  proposional  dan tidak disalah artikan). Apakah arti selempang
> Puteri Indonesia sekarang ini?
> Apakah  masih  mencerminkan 3 B (Brain, Beauty, Behaviour), sepertinya
> dengan adegan merokok dan French kiss (yang walaupun dilakukan sebelum
> Nadine  menjadi  Puteri  Indonesia) meruntuhkan sosok Puteri Indonesia
> yang  selama ini diandalkan menjadi icon untuk mendorong remaja Puteri
> Indonesia   turut   menjadi   pilar  melestarikan  budaya  bangsa  dan
> mempertahankan  identitas  bangsa  kita. Mungkin solusinya adalah film
> tersebut  ditayangkan  setelah  jabatan Puteri Indonesia tidak lagi di
> Nadine.  Kalau  pendapat  ini  dianggap  terlalu  naïf, mungkin sebuah
> perjanjian  yang  bersifat  mengikat antara pihak penyelenggara dengan
> pemenang  Puteri  Indonesia  perlu  dibuat?.  Sudah barang tentu dalam
> surat  perjanjian  itu memuat antara lain hal-hal yang boleh dan tidak
> boleh dilakukan oleh seorang Puteri Indonesia.
> Seorang   Puteri  Indonesia   menurut  pendapat  saya,  harus  menjadi
> inspirasi  dan  motivasi  bagi  remaja-remaja  puteri  Indonesia  pada
> umumnya,   untuk   berani  dan  bangga  menjadi  diri  sendiri  dengan
> mengedepankan  nilai-nilai  luhur  yang  menjadi  pegangan   perempuan
> timur .   Kaum   perempuan  Indonesia  juga  harus  mampu  menunjukkan
> kemampuan   intelektualnya,   sehingga  dapat  menjalankan  peran  dan
> fungsinya  secara  maksimal  di masyarakat. Pada hakekatnya kecantikan
> seorang perempuan terpancar dari kebaikan hatinya (inner beauty). Oleh
> sebab  itu definisi cantik mempunyai kekuatan  tersendiri , dalam arti
> setiap orang berhak menentukan definisi 'cantik' itu sendiri.
> Demikian  juga  dengan  adanya komentar-komentar yang ditujukan kepada
> saya   sehubungan  dengan  paparan  yang  saya  bawakan  dalam  sebuah
> kesempatan  menjadi  nara  sumber sosialisasi MPR di Magelang. Seperti
> surat  pembaca  yang  dimuat di sebuah harian terkemuka beberapa waktu
> yang  lalu,  yang  menuduh  saya diskriminatif atas terpilihnya Nadine
> sebagai  Puteri  Indonesia 2005. Jujur saya katakan, saya tidak pernah
> bermaksud   mendiskriminasikan   hal   apapun   dan   dan  saya  tidak
> mempersoalkan  keturanan asli Indonesia atau bukan. Bagi saya siapapun
> yang  terpilih  ia  harus  mampu  menjadi  panutan  bagi remaja puteri
> Indonesia.  Sekaligus  menjadi  inspirasi dan menumbuhkan harapan akan
> masa  depan perempuan Indonesia yang tangguh dan berkepribadian sesuai
> dengan  nilai     nilai  yang kita anut. Sehingga dalam konteks inilah
> maka  penyelenggaraan  kontes kecantikan dan serupanya harus mempunyai
> batasan  idealisme  definisi  kecantikan Indonesia yang bagaimana yang
> akan  di trend  setter kan dibenak remaja puteri kita. Dalam pemahaman
> saya, pemilihan Puteri Indonesia dengan Puteri Indonesia yang terpilih
> harus  mampu  menjadi   trend setter  yang akan diadopsi remaja puteri
> Indonesia.   Sehingga   standar  yang  harus  diterapkan  adalah  yang
> mempunyai muatan  membumi  dengan mempertimbangkan suasana dan kondisi
> physicologis dari sebagian besar perempuan Indonesia. Pemilihan Puteri
> Indonesia  harus  mampu untuk menghargai dan mengembangkan  kecantikan
> Indonesia   yang  sangat beragam. Saya berpendapat bahwa ukuran cantik
> yang  kita  pakai  jangan  selalu  menjadi  momok  dan harus mengikuti
> selera   pasar  yang dibentuk oleh  kacamata  industri (maaf) kosmetik
> dan  fashion. Mungkin Pemilihan Puteri Indonesia harus mampu mengambil
> sikap   membentuk  pasar   dari  pada  mengikuti pasar  sebagai bagian
> daripada   tanggung  jawab  moril  ketika  kita  melihat  tujuan  dari
> pemilihan  Puteri  Indonesia.  Dengan  demikian maka akan muncul icon 
> Puteri Indonesia  yang benar   benar bisa menumbuhkan semangat  cantik
> Indonesia  yang beragam.
> Tapi  sekali  lagi,  maaf,  ini  adalah  pandangan  saya, dan saya pun
> menghargai  apabila  ada  pendapat  dan pandangan lain yang tidak sama
> dengan  saya.  Justru  perbedaan  inilah  yang  menjadikan  kita  bisa
> menghargai arti dari demokrasi itu sendiri.
> Sebenarnya  point  yang  ingin  saya stressed out pada saat itu adalah
> bagaimana  kita mempertahankan nasionalisme dan kebanggaan atas bangsa
> kita   sendiri.  Saya  beri  contoh:  kita  mulai  dengan  menciptakan
> ikon-ikon  yang  betul-betul  dapat  memberikan semangat bagi generasi
> muda  Indonesia  untuk  cinta  dengan ke-Indonesia-annya sendiri. Saya
> menganggap  Pemilihan  Puteri  Indonesia sebagai satu ajang yang dapat
> membentuk  jalan  atau  lebih  daripada  itu menciptakan kriteria atau
> bahkan definisi dari kecantikan ala Indonesia yang sangat beragam (ada
> cantik  Aceh,  cantik  Batak, cantik Bali, cantik Jawa, cantik Manado,
> cantik  Maluku,  dan masih banyak lagi). Daripada kita ikut memaksakan
> diri  untuk  menjadi  cantik seperti yang distandarkan oleh katakanlah
> satu pemilihan bertingkat dunia seperti Miss Universe.
> Semua  ini  dilandasi  dengan harapan saya ingin melihat di masa depan
> bahwa  kecantikan  Indonesia  bisa  diakui  dunia sama seperti Chinese
> Beauty,  India s  Beauty, Mexico s Beauty, bahkan sampai yang berkulit
> gelap  seperti  Naomi  Campbell  diakui  kecantikannya. Tidak ada sama
> sekali  maksud  untuk  mendiskriminasikan Puteri Indonesia 2005, namun
> lebih  kepada  pemikiran  dan  masukan  bagi  penyelenggara untuk bisa
> menetapkan  standard  Puteri Indonesia yang lebih  menyentuh bumi  dan
> tidak mematikan harapan sebagian besar perempuan Indonesia yang  jauh 
> dari  sosok ini .
> Saya  tidak  mempermasalahkan  atau  bahkan  melarang  seorang  Puteri
> Indonesia  berdarah  campuran  (Indo),  tapi  justru  yang  ingin saya
> pertanyakan  bagaimana  komitmen  kita  sebagai  anak bangsa memandang
> permasalahan  yang  menimpa  sebagian  besar  remaja Puteri kita, yang
> akhirnya  minder  dan  bahkan  melakukan  upaya-upaya yang tidak sehat
> untuk  menjadi  seperti   Puteri  Indonesia   (maaf  : berkulit putih,
> hidung  mancung, dll) seperti standar yang ditetapkan  majalah-majalah
> luar .  Karena  tentunya  ini  dilandasi keinginan saya (seperti dalam
> buku  saya : Kecantikan bukan modal utama saya) bahwa saya tidak ingin
> melihat remaja perempuan Indonesia diperbudak oleh arti atau pandangan
> mengenai  kecantikan  lahiriah  yang  salah   . Karena sejujurnya yang
> perlu  kita  dorong  sekarang  adalah  bagaimana remaja perempuan kita
> tidak   lagi   hanya  terfokus  pada  kecantikan  lahiriah  tapi  juga
> kecantikan  intelektual  yang  akan  membuat perempuan Indonesia lebih
> bermartabat, terhormat dan dihargai.
> Dan  tentunya dalam kesempatan ini, saya akan pergunakan untuk meminta
> maaf  apabila  dalam  penyampaian  saya atau dalam publikasi-publikasi
> yang ada di media selama ini, terkesan saya diskrimintif terhadap yang
> berdarah  campuran.  Terus  terang  hal itu jauh, dari pemikiran saya.
> Sekali  lagi  yang  ingin  saya utarakan, bagaimana kriteria  panutan 
> masyarakat  Indonesia  seperti  Puteri  Indonesia bisa membantu remaja
> Puteri  kita  untuk dapat  menghargai kecantikannya sendiri  dan tidak
> minder  maupun  putus  asa  dengan  keadaan  yang  dimilikinya. Puteri
> Indonesia dapat mendorong remaja Puteri untuk bangga menjadi perempuan
> Indonesia  dan  membantu  menjadikan  Indonesian Beauty  yang beragam,
> tersohor  keseluruh  dunia.  Karena  pada  dasarnya,  setiap perempuan
> mempunyai kecantikannya sendiri-sendiri.
> Tentunya  tidak  ada  yang  bisa  kita  salahkan  selain mencoba untuk
> merenungkan   dan  mencari  solusi  agar  supaya  generasi  muda  kita
> menemukan sosok perempuan idaman yang bisa dijadikan panutan demi masa
> depan bangsa Indonesia yang lebih baik.
> Dalam   kesempatan  ini  saya  mengusulkan  pihak  penyelenggara  Miss
> Universe  memberi perlakuan khusus kepada Negara-negara yang mayoritas
> penduduknya  beragama Islam, Negara Islam untuk tidak mengikutsertakan
> sesi  dimana  seorang  peserta harus tampil dengan pakaian swimsuit di
> atas  panggung,  karena  sekali  lagi apabila memang sesi ini hanyalah
> bagian   kecil   dari   penilaian   maka  akan  sangat  bijak  apabila
> penyelenggara  bisa memberikan  toleransi  bagi kontestan yang berasal
> dari Negara Islam atau Negara yang berpenduduk Islam
> -Angelina Sondakh-
> Penerbangan Garuda Pekan Baru   Jakarta 26 Jan 
> 


 
____________________________________________________________________________________
Looking for earth-friendly autos? 
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.
http://autos.yahoo.com/green_center/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

  • [EMAIL PROTECTED] Re: Bundo Kanduang atau Miss Universe Riri - Mairizal Chaidir