Riri - Mairizal Chaidir
Wed, 04 Jul 2007 19:14:39 -0700
Referensi bagus, krn penulisnya "orang dalam". Sebelum2nya, saya selalu tertawa kalau mendengar bhw miss-miss an berperan sbg duta untuk memperkenalkan budaya, atau apalah namanya. Kalau kemaren miss kita bilang "Indonesia = CITY", nanti dia bilang apa ttg Minang?
Ada usul agar menolak pakai baju renang di tingkat dunia. Maaf, kemaren wakil kita pake one-piece diantara bikini aja kelihatan lucu. lalu pake apa? Baju kuruang? Arnoldison wrote: > Peran perempuan di minangkabau sedemikian besarnya tak ada > tandingan dengan wilayah lain. > Pertanyaan perlukah gelar miss Universe bagi wanita minangkabau ? > Untuk apa gelar itu diperoleh ? Bukankah yang dibutuhkan dari wanita > minangkabau adalah peran bundo kandung. > Saya mencoba untuk sedikit mencari gambaran tentang hal ini, saya > dapatkan tulisan yang diambil blog Angelina Sondakh mantan puteri > Indonesia tahun 2001 > http://angelinasondakh.blogs.com/angelina_sondakhs_diary/2006/02/puteri_indonesi.html > PUTERI INDONESIA > Minggu lalu, saya menerima sms dari Anggota DPR Fraksi PAN : Bpk. > Alvin Lee. Beliau menyampaikan protes keras atas apa yang dilakukan > Puteri Indonesia 2005, Nadine Chandra Winata, berikut bunyi sms-nya: > Ketum Paguyuban Puteri Indonesia, saya Alvin Lee menyampaikan PROTES > KERAS atas Nadine, Puteri Indonesia (PI) 2005-2006, yang tampil > promosikan MEROKOK, gaya hidup & anti sosial yang berbahaya untuk > kesehatan. Disamping promosikan French Kiss . Lihat IndoPos hari ini > 19 Jan 06. Saya hormati pilihan gaya hidup pribadi untuk merokok. Tapi > seorang PI ketika tampil di publik sudah bukan pribadi lagi. PI adalah > milik bangsa Indonesia, berfungsi sbg TELADAN & PANUTAN. Wakil > KARAKTER & WAJAH perempuan Indonesia selain fungsi2 sosial lain. > Pilihan Nadine untuk kejar FULUS & KARIER, lupakan tanggung jawab > sosial sungguh sangat mengecewakan. Apakah figure seperti ini patut > wakili RI dipentas Miss Universe? Selama ini saya dukung > penyelenggaraan PI karena saya nilai cukup baik manfaatnya buat > Indonesia. Namun jika gelar PI hanya untuk mempromosikan gaya hidup > negatif seperti yang dilakukan Nadine, lebih baik dihapus saja PI. > Sdri Angelina sebagai mantan PI & sekarang ketua wadah para mantan PI > berkewajiban ambil langkah korektif jika ingin jaga martabat PI. > Salam. > Saya menyadari kenapa protes ini disampaikan melalui saya. Memang, mau > tidak mau saya harus dapat menerima setiap kritik yang ditujukan > kepada Puteri Indonesia, karena image tersebut sudah melekat pada diri > saya. > Terus terang berbicara soal Puteri Indonesia mengingatkan pada > tantangan yang saya hadapi saat menulis buku : Kecantikan Bukan > Modal Utama , tahun 2002. Buku tersebut intinya memaparkan; Bagaimana > memandang dan mengartikan kecantikan itu sendiri. Bagaimana perempuan > tidak menjadi budak dari arti kecantikan lahiriah yang salah, dan > orang lain tidak berhak untuk menentukan definisi cantik itu buat > masing masing perempuan. Selain itu, ada bab yang berisikan kegiatan > saya selama menjadi Puteri Indonesia dan penjelasan tentang persepsi > saya mengenai Puteri Indonesia. Ada satu paragraf yang menjadi > kontroversi pada saat itu, yaitu tulisan tentang kekecewaan saya yang > berkaitan dengan aktivitas selama menyandang gelar Puteri Indonesia, > yang lebih banyak di dominasi dengan kegiatan-kegiatan yang menjual > kecantikan lahiriah seperti demo kecantikan di Mall. Bagian inilah > yang pada akhirnya memunculkan kontroversi. > Memang sebelum saya menyandang gelar Puteri Indonesia pernah terpikir > dibenak saya bahwa fungsi terbesar dan utama dari Puteri Indonesia > adalah bagaimana sosok Puteri Indonesia dapat melakukan hal hal yang > benar benar menyentuh masyarakat yang termarjinalkan, dan dapat > menyelesaikan sebagian permasalahan sosial yang sedang melanda bangsa > kita. Saya membayangkan seorang yang menyandang gelar Puteri Indonesia > akan berkeliling ke seluruh Indonesia untuk mengunjungi mereka yang > kurang beruntung dan membutuhkan uluran tangan. Inilah definisi > idealisme seorang Puteri Indonesia menurut saya pada saat itu. > Namun setelah muncul kontroversi dari buku tersebut, saya mencoba > mengulas balik tehadap peristiwa yang terjadi. Dan akhirnya saya > menyadari bahwa Puteri Indonesia adalah bagian dari satu kontes > kecantikan yang erat kaitannya dengan dunia entertainment, showbiz dan > commercial. Hal ini tentunya sudah sangat wajar dalam dunia bisnis > dimana satu produk berusaha melakukan positioning dan branding > yang lebih kuat dalam menghadapi era over-choices seperti sekarang > ini. Intinya Puteri Indonesia itu ada di dalam domain tersebut dengan > tidak melupakan kontribusinya untuk masalah masalah sosial. Dan kita > bersyukur Yayasan Penyelenggara Puteri Indonesia tidak semata mata > commercial oriented tapi juga berpartisipasi dalam usaha menciptakan > remaja Puteri Indonesia yang tangguh menghadapi tantangan globalisasi. > Paling tidak, seorang Puteri Indonesia membuka kesempatan bagi > perempuan Indonesia untuk bisa mewujudkan impiannya. > Sebenarnya pemilihan Puteri - Puterian telah diadakan sebelum Yayasan > Puteri Indonesia (YPI) didirikan. Kita tentunya mengenal nama Dewi > Motik (bunda ku yang selalu memberikan pandangan bagaimana me manage > cinta itu, terima kasih Bunda), Irma Hadisuryo (Sosok yang menjadi > inspirasi saya sebagai Miss Indonesia yang smart dan tetap bertahan > dengan kecantikan intelektualnya), Titi Dwi Jayanti yang sempat > membuat heboh Indonesia karena mengikuti kontes Miss World, dan > masih banyak nama lain yang sempat mewarnai dunia kontes kecantikan di > Indonesia. > Dengan berdirinya YPI ini, maka ada satu kontes Pemilihan Puteri > Indonesia (PPI) yang rutin diadakan setiap tahun sejak tahun 1992 > dengan satu tujuan mulia untuk membangun karakter perempuan Indonesia > yang memiliki 3 B Brain, Beauty and Behaviour. Puteri Indonesia > pertama tahun 1992-1993, Indira Soediro (Mba Indira yang tetap cantik > dan mampu mempertahankan sosok Puteri Indonesia yang memiliki 3 B. > Sampai saat inipun kecantikan lahiriahnya tidak luntur). Tahun 1994 > terpilih Vena Melinda, lalu Shanty Manuhutu di tahun 1995, dan Alya > Rohali tahun 1996. Setelah Alya Rohali, PPI sempat terhenti beberapa > waktu karena berbagai hal, seperti: krisis ekonomi, yang berlanjut > dengan krisis multidimensi. Penghentian ini juga berhubungan dengan > adanya pro kontra mengenai kegiatan tersebut. > Tahun 2000, PPI kembali lagi diadakan dengan pemenangnya Bernica > Ifada. Kemudian berlanjut tahun 2001 yang dimenangkan oleh Angelina > Sondakh (saya sendiri), Melanie Puteria (2002) dan Dian Krishna > (2003). Pada 2004, terpilih Artika Sari Devi, yang kembali mengikuti > pemilihan Miss Universe beberapa waktu lalu di Bangkok, Thailand. > Walaupun keberangkatan Artika ini mendapat protes dari berbagai > kelompok. Dan pada tahun 2005 terpilihlah Nadine Chandra Winata. > Ketika ada wacana untuk mengirim wakil Puteri Indonesia pada kontes > tingkat dunia, sudah dapat dipastikan pro maupun kontra akan segera > bermunculan yang tidak jarang berujung dengan berbagai aksi demontrasi > turun ke jalan. Wacana tersebut, umumnya berkutat pada sebuah pilihan > apakah Indonesia perlu mengirim wakilnya dalam kontes-kontes seperti > ini atau tidak. Salah satu alasan yang sering dijadikan dasar > pemikiran bagi mereka yang setuju adalah bahwa dengan mengikuti > kegiatan semacam ini, maka nama Indonesia akan lebih dikenal di dunia > internasional sehingga dapat meningkatkan dunia pariwisata kita. > Sedangkan bagi mereka yang kontra, antara lain berpendapat bahwa > mengikuti kontes-kontes semacam ini tidak layak untuk diikuti bangsa > Indonesia, karena tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Salah satu > dari kontroversi tersebut adalah bahwa dalam satu sessi, para peserta > harus menggunakan pakaian bikini atau swimsuit one piece (baju renang > yang bukan bikini) di atas panggung. Kontroversi abadi, begitulah saya > menyebutkan masalah pro kontra ini. Dalam konteks keglobalan tentunya > kita melihat ini sebagai ajang yang akan membangun keunggulan > kompetetif, namun bagaimana jika kita melihat dari kacamata budaya dan > toleransi beragama? Biarlah masing masing kita menjawab. Yang pasti > bagi saya, terlepas pro kontra yang ada, masalah ini harus > diselesaikan dan dicarikan jalan keluar untuk menghentikan kesimpang > siuran ini. Perlu ketegasan baik pemerintah maupun stakeholder yang > berkepentingan untuk memutuskan apakah setuju mengirim Puteri > Indonesia ke Miss Universe atau tidak. Pemerintah sebagai regulator > dan fasilitator berkewajiban untuk memutuskan dan menjelaskan kepada > masyarakat mengenai sikap yang diambil pemerintah dengan alasan-alasan > yang dapat dipertanggung jawabkan. Dalam konteks ini, pemerintah > sebetulnya telah mengeluarkan sebuah regulasi melalui sebuah SK > Mendikbud RI No.0237/U/1984 yang mengatur tentang berbagai kegiatan > pemilihan ratu kecantikan. Peraturan ini oleh beberapa pihak dipakai > sebagai alasan untuk sebaiknya tidak mengirimkan Puteri Indonesia ke > ajang Miss Universe, tapi juga menurut beberapa pihak SK Mendikbud ini > sudah usang dan seharusnya tidak berlaku lagi. Sekarang tinggal > bagaimana pemerintah menyikapi soal ini ? apakah masih relevan, atau > harus direvisi atau dicabut ? Ini semua menjadi wacana kita semua. > Sebenarnya dalam kasus Pro Kontra ini, ada beberapa usulan yang > sebenarnya bisa dijadikan jalan keluar agar semua pihak merasa > didengarkan . Mungkin akan menjadi gebrakan yang luar biasa apabila > Indonesia menjadi pioner atau penggagas usulan : semua Negara Islam > yang mengikuti Miss Universe tidak usah mengenakan busana swimsuit > diatas panggung. Dan saya rasa apabila memang prinsip pemilihan Miss > Universe itu adalah Brain maka hal ini sebenarnya bisa ditoleransi > dan harusnya bisa diterima. Apalagi sering kita mendengar bahwasannya > sesi swimsuit itu hanyalah bagian kecil dari penilaian Miss Universe > tersebut. Jika memang hanya menjadi bagian kecil dari penilaian sudah > barang tentu pihak penyelenggara pun tidak akan keberatan dengan > usulan tersebut. Justru ini akan menjadi kegerakan untuk menaikkan > harkat dan martabat Indonesia yang mampu mengambil sikap, tidak semata > mata mengikuti apa yang dikehendaki oleh pihak penyelenggara Miss > Universe. > Atau mungkin ada usulan2 yang sebenarnya bisa menengahi apa yang > selama ini menjadi Pro Kontra Miss Universe : MEMAKAI BIKINI / BAJU > RENANG DIATAS PANGGUNG. > Nah, kembali lagi kemasalah sms diatas jujur saya tidak ingin > mengomentari Nadine sebagai pribadi. Gaya hidup adalah pilihan dan > saya sangat menghargai itu. Untuk itulah saya tidak berhak menjudge > ataupun menjustifikasi perilsaya dan sikap Nadine. Nadine bagi saya > adalah sosok yang cantik dan menarik. Namun demikian, sebagai mantan > Puteri Indonesia serta image yang telah melekat pada diri saya, maka > saya tergerak untuk melihat dan memberikan pandangan soal Gelar > Puteri Indonesia sekarang ini. (mudah mudahan ini bisa dilihat > secara proposional dan tidak disalah artikan). Apakah arti selempang > Puteri Indonesia sekarang ini? > Apakah masih mencerminkan 3 B (Brain, Beauty, Behaviour), sepertinya > dengan adegan merokok dan French kiss (yang walaupun dilakukan sebelum > Nadine menjadi Puteri Indonesia) meruntuhkan sosok Puteri Indonesia > yang selama ini diandalkan menjadi icon untuk mendorong remaja Puteri > Indonesia turut menjadi pilar melestarikan budaya bangsa dan > mempertahankan identitas bangsa kita. Mungkin solusinya adalah film > tersebut ditayangkan setelah jabatan Puteri Indonesia tidak lagi di > Nadine. Kalau pendapat ini dianggap terlalu naïf, mungkin sebuah > perjanjian yang bersifat mengikat antara pihak penyelenggara dengan > pemenang Puteri Indonesia perlu dibuat?. Sudah barang tentu dalam > surat perjanjian itu memuat antara lain hal-hal yang boleh dan tidak > boleh dilakukan oleh seorang Puteri Indonesia. > Seorang Puteri Indonesia menurut pendapat saya, harus menjadi > inspirasi dan motivasi bagi remaja-remaja puteri Indonesia pada > umumnya, untuk berani dan bangga menjadi diri sendiri dengan > mengedepankan nilai-nilai luhur yang menjadi pegangan perempuan > timur . Kaum perempuan Indonesia juga harus mampu menunjukkan > kemampuan intelektualnya, sehingga dapat menjalankan peran dan > fungsinya secara maksimal di masyarakat. Pada hakekatnya kecantikan > seorang perempuan terpancar dari kebaikan hatinya (inner beauty). Oleh > sebab itu definisi cantik mempunyai kekuatan tersendiri , dalam arti > setiap orang berhak menentukan definisi 'cantik' itu sendiri. > Demikian juga dengan adanya komentar-komentar yang ditujukan kepada > saya sehubungan dengan paparan yang saya bawakan dalam sebuah > kesempatan menjadi nara sumber sosialisasi MPR di Magelang. Seperti > surat pembaca yang dimuat di sebuah harian terkemuka beberapa waktu > yang lalu, yang menuduh saya diskriminatif atas terpilihnya Nadine > sebagai Puteri Indonesia 2005. Jujur saya katakan, saya tidak pernah > bermaksud mendiskriminasikan hal apapun dan dan saya tidak > mempersoalkan keturanan asli Indonesia atau bukan. Bagi saya siapapun > yang terpilih ia harus mampu menjadi panutan bagi remaja puteri > Indonesia. Sekaligus menjadi inspirasi dan menumbuhkan harapan akan > masa depan perempuan Indonesia yang tangguh dan berkepribadian sesuai > dengan nilai nilai yang kita anut. Sehingga dalam konteks inilah > maka penyelenggaraan kontes kecantikan dan serupanya harus mempunyai > batasan idealisme definisi kecantikan Indonesia yang bagaimana yang > akan di trend setter kan dibenak remaja puteri kita. Dalam pemahaman > saya, pemilihan Puteri Indonesia dengan Puteri Indonesia yang terpilih > harus mampu menjadi trend setter yang akan diadopsi remaja puteri > Indonesia. Sehingga standar yang harus diterapkan adalah yang > mempunyai muatan membumi dengan mempertimbangkan suasana dan kondisi > physicologis dari sebagian besar perempuan Indonesia. Pemilihan Puteri > Indonesia harus mampu untuk menghargai dan mengembangkan kecantikan > Indonesia yang sangat beragam. Saya berpendapat bahwa ukuran cantik > yang kita pakai jangan selalu menjadi momok dan harus mengikuti > selera pasar yang dibentuk oleh kacamata industri (maaf) kosmetik > dan fashion. Mungkin Pemilihan Puteri Indonesia harus mampu mengambil > sikap membentuk pasar dari pada mengikuti pasar sebagai bagian > daripada tanggung jawab moril ketika kita melihat tujuan dari > pemilihan Puteri Indonesia. Dengan demikian maka akan muncul icon > Puteri Indonesia yang benar benar bisa menumbuhkan semangat cantik > Indonesia yang beragam. > Tapi sekali lagi, maaf, ini adalah pandangan saya, dan saya pun > menghargai apabila ada pendapat dan pandangan lain yang tidak sama > dengan saya. Justru perbedaan inilah yang menjadikan kita bisa > menghargai arti dari demokrasi itu sendiri. > Sebenarnya point yang ingin saya stressed out pada saat itu adalah > bagaimana kita mempertahankan nasionalisme dan kebanggaan atas bangsa > kita sendiri. Saya beri contoh: kita mulai dengan menciptakan > ikon-ikon yang betul-betul dapat memberikan semangat bagi generasi > muda Indonesia untuk cinta dengan ke-Indonesia-annya sendiri. Saya > menganggap Pemilihan Puteri Indonesia sebagai satu ajang yang dapat > membentuk jalan atau lebih daripada itu menciptakan kriteria atau > bahkan definisi dari kecantikan ala Indonesia yang sangat beragam (ada > cantik Aceh, cantik Batak, cantik Bali, cantik Jawa, cantik Manado, > cantik Maluku, dan masih banyak lagi). Daripada kita ikut memaksakan > diri untuk menjadi cantik seperti yang distandarkan oleh katakanlah > satu pemilihan bertingkat dunia seperti Miss Universe. > Semua ini dilandasi dengan harapan saya ingin melihat di masa depan > bahwa kecantikan Indonesia bisa diakui dunia sama seperti Chinese > Beauty, India s Beauty, Mexico s Beauty, bahkan sampai yang berkulit > gelap seperti Naomi Campbell diakui kecantikannya. Tidak ada sama > sekali maksud untuk mendiskriminasikan Puteri Indonesia 2005, namun > lebih kepada pemikiran dan masukan bagi penyelenggara untuk bisa > menetapkan standard Puteri Indonesia yang lebih menyentuh bumi dan > tidak mematikan harapan sebagian besar perempuan Indonesia yang jauh > dari sosok ini . > Saya tidak mempermasalahkan atau bahkan melarang seorang Puteri > Indonesia berdarah campuran (Indo), tapi justru yang ingin saya > pertanyakan bagaimana komitmen kita sebagai anak bangsa memandang > permasalahan yang menimpa sebagian besar remaja Puteri kita, yang > akhirnya minder dan bahkan melakukan upaya-upaya yang tidak sehat > untuk menjadi seperti Puteri Indonesia (maaf : berkulit putih, > hidung mancung, dll) seperti standar yang ditetapkan majalah-majalah > luar . Karena tentunya ini dilandasi keinginan saya (seperti dalam > buku saya : Kecantikan bukan modal utama saya) bahwa saya tidak ingin > melihat remaja perempuan Indonesia diperbudak oleh arti atau pandangan > mengenai kecantikan lahiriah yang salah . Karena sejujurnya yang > perlu kita dorong sekarang adalah bagaimana remaja perempuan kita > tidak lagi hanya terfokus pada kecantikan lahiriah tapi juga > kecantikan intelektual yang akan membuat perempuan Indonesia lebih > bermartabat, terhormat dan dihargai. > Dan tentunya dalam kesempatan ini, saya akan pergunakan untuk meminta > maaf apabila dalam penyampaian saya atau dalam publikasi-publikasi > yang ada di media selama ini, terkesan saya diskrimintif terhadap yang > berdarah campuran. Terus terang hal itu jauh, dari pemikiran saya. > Sekali lagi yang ingin saya utarakan, bagaimana kriteria panutan > masyarakat Indonesia seperti Puteri Indonesia bisa membantu remaja > Puteri kita untuk dapat menghargai kecantikannya sendiri dan tidak > minder maupun putus asa dengan keadaan yang dimilikinya. Puteri > Indonesia dapat mendorong remaja Puteri untuk bangga menjadi perempuan > Indonesia dan membantu menjadikan Indonesian Beauty yang beragam, > tersohor keseluruh dunia. Karena pada dasarnya, setiap perempuan > mempunyai kecantikannya sendiri-sendiri. > Tentunya tidak ada yang bisa kita salahkan selain mencoba untuk > merenungkan dan mencari solusi agar supaya generasi muda kita > menemukan sosok perempuan idaman yang bisa dijadikan panutan demi masa > depan bangsa Indonesia yang lebih baik. > Dalam kesempatan ini saya mengusulkan pihak penyelenggara Miss > Universe memberi perlakuan khusus kepada Negara-negara yang mayoritas > penduduknya beragama Islam, Negara Islam untuk tidak mengikutsertakan > sesi dimana seorang peserta harus tampil dengan pakaian swimsuit di > atas panggung, karena sekali lagi apabila memang sesi ini hanyalah > bagian kecil dari penilaian maka akan sangat bijak apabila > penyelenggara bisa memberikan toleransi bagi kontestan yang berasal > dari Negara Islam atau Negara yang berpenduduk Islam > -Angelina Sondakh- > Penerbangan Garuda Pekan Baru Jakarta 26 Jan > ____________________________________________________________________________________ Looking for earth-friendly autos? Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center. http://autos.yahoo.com/green_center/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2. ========================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---