Bambang Tata Samiadji
Thu, 18 Oct 2007 09:10:52 -0700
Halo Bung Andri, sudah lama nggak muncul? Ysh rekan milis lainnya. Bung Andri, saya mau tanggapi langsung pada artikel yang dimaksud :
Biar Bopeng dan Kejam, Jakarta Tetap Magnet SETIAP hari, berita orang mati ditikam di Jakarta adalah hal biasa. Pembunuhan, pencurian, penjambretan, perampokan, pemerkosaan, dan sejumlah aksi kejahatan lain sudah menjadi kejadian sehari-hari. Tidak jarang, pencuri atau pelaku tindak kejahatan lain yang tertangkap akan dihajar beramai-ramai hingga tewas, bahkan mayatnya dibakar. BERBAGAI stasiun televisi terus-menerus juga mempertontonkan wajah brutal dan semrawut Jakarta, dan dengan melihatnya saja orang sudah stres. Gambaran mencekam itu ternyata tidak menyurutkan langkah para pendatang dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengadu nasib dan menyambung nyawa di Ibu Kota. Kampung halaman yang tidak lagi memberi pengharapan akan masa depan dan slogan bahwa Ibu Kota milik semua warga bangsa ini, membuat setiap tahun orang terus berbondong- bondong menyerbu Ibu Kota. Sejumlah pengamat asing menyebut Jakarta dengan segudang persoalan ruwetnya dan situasi kehidupan yang tidak lagi manusiawi dan beradap untuk tempat tinggal, sebagai gambaran utuh sebuah kota dalam krisis. "Di Jakarta, setidaknya saya punya peluang. Saya tidak akan pulang sebelum berhasil," tutur Iwan, seorang pemuda pengangguran berusia sekitar 20-an yang sehari-hari mengisi waktunya dengan menjadi "Polisi Cepek" di sebuah pertigaan di kawasan Rawa Sari, Jakarta Pusat. "Sehari paling dapat Rp 5.000-Rp 8.000. Itu pun dibagi bertiga. Kadang masih ada yang malak juga. Makan dua kali sehari pun belum tentu. Tidur ya sekenanya. Kadang di emperan, kadang di rumah kenalan di ujung sana," ujar pemuda jebolan SMP kelas I di Klaten, Jawa Tengah, itu menunjuk ke permukiman padat dan kumuh di ujung gang. Jika kebetulan sedang tidak menjadi "Polisi Cepek", ia kerja serabutan, yang penting dapat uang. Beruntung ia belum punya tanggungan sehingga hidup menggelandang pun tak masalah. Komeng, asal sebuah desa pelosok di Purworejo, memilih menjadi pedagang asongan untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Pria 30-an tahun yang Kamis siang lalu tampak sibuk berlari ke sana kemari menawarkan dagangan permen dan rokoknya bersama sekelompok pengasong lain di antara kemacetan ruas tol Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, itu sudah empat tahun melakoni profesi ini di Jakarta. Ia mengaku "tidak bakat" dan tidak betah kerja di pabrik sebagai kuli karena penyakit encok yang sudah dideritanya sejak usia muda. Dengan pendapatan pas-pasan (ia menolak menyebutkan jumlahnya), ia bisa bertahan hampir sepuluh tahun di Ibu Kota dengan menumpang tinggal berdesakan di rumah kontrakan saudaranya di kawasan Tanah Abang. Anak sulungnya yang sudah memasuki usia sekolah pun hingga kini belum didaftarkan ke sekolah karena ia tak punya uang. Kendati demikian, ia bertekad bertahan di Jakarta. "Mau pulang malu dan paling jadi petani," ujarnya. Entah perubahan nasib seperti apa yang mereka harapkan di Ibu Kota. Kisah Iwan dan Komeng adalah secuil dari kisah kehidupan kaum ekonomi bawah Jakarta dan potret pergulatan warga pendatang untuk menaklukkan Ibu Kota. Kisah Supriyono yang terpaksa harus membawa keluarganya menjadi pemulung di Jakarta dan cerita mengharukan bagaimana ia harus menggendong sendiri mayat anaknya ke sana kemari karena ia tak mampu membayar ambulans dan biaya penguburannya, menyadarkan kita akan sisi lain wajah Jakarta yang menjadi rumah kita selama ini dan memahami mengapa orang tetap berdatangan ke Ibu Kota. BTS : Ya begitulah Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Memang kota-kota besar serasa sangat kejam, terutama bagi kaum miskin dan pencari kerja. Tapi Jakarta tetap lebih ramah daripada di pedesaan atau kota-kota kecil yang tak memberi kesempatan apa-apa. Sebagian kaum miskin dan pencari kerja ada yang berhasil (setidaknya berhasil bertahan), ada juga yang gagal kemudian menjadi pengemis dan kriminal. Hidup memang pilihan dan yang gagal itu memilih menjadi pengemis dan kriminal. Jakarta dan kota-kota besar tersedia kesempatan untuk mengemis dan kriminal. BERDASARKAN Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Jakarta meningkat dari 2,7 juta tahun 1960 menjadi 4,6 juta tahun 1971, lalu 6,5 juta tahun 1980, dan 8,3 juta tahun 1990. Pada sensus terakhir (2000), jumlah penduduk Jakarta per 30 Juni 2000 masih 8.389.443 orang, tak banyak bergeming dari tahun 1990 (8.259.266 orang), bahkan menciut dibandingkan angka tahun 1995 (9.112.652 orang). BTS : Memang benar bahwa penduduk tahun 2000 tidak banyak bertambah dibanding 10 tahun sebelumnya. Tapi tidak benar kalau jumlah penduduk tahun 2000 tersebut (8.389.443) menciut dibanding jumlah penduduk tahun 1995 (sebesar 9.112.695) karena data tahun 1995 tersebut bukanlah data, tetapi estimasi dari data penduduk tahun 1990 (8,3 juta) dengan laju 2%. Pertumbuhan penduduk 1990-2000 yang begitu rendah disebabkan karena banyaknya perpindahan penduduk ke Bodetabek. Terbukti pertumbuhan penduduk Bodetabek sekitar 4%, artinya pertumbuhan Bodetabek yang tinggi tersebut kecuali berasal dari pertumbuhan alami (lahir-mati) juga berasal dari migrasi, antara lain sebagian perpindahan dari Jakarta. Namun, angka hasil sensus tahun 2000 ini disinyalir berbagai kalangan terlalu undercount. Banyak yang tidak tercacah karena karakteristik penduduk Jakarta yang mobilitasnya sangat tinggi. Dewasa ini, jumlah penduduk Jakarta diperkirakan sudah mendekati 13 juta orang. Pada siang hari jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi hampir dua kali lipat, karena banyak warga yang bertempat tinggal di luar Jakarta bekerja di Jakarta pada siang hari. BTS : Tidak benar kalau undercount. Hasil sensus itu dilakukan tidak hanya mereka yang berdomisili, tetapi juga termasuk penghuni liar dan gelandangan. Jadi pada waktu sensus semua tercacah, termasuk mereka yang penghuni liar. Yang benar, penduduk siang hari itu sekitar 13 juta (tidak sampai menjadi dua kalilipat, 26 juta?), tetapi malam hari sekitar 8 juta saja, Meskipun pertumbuhan penduduk per tahun terus menurun drastis dari rata-rata 3,93 persen (1971-1980) menjadi 2,38 persen (1980-1990), dan 0,17 persen (1990-2000), penghuni Jakarta diperkirakan masih akan terus membengkak pada tahun-tahun mendatang, walaupun agak teredam oleh pertumbuhan pesat wilayah sekitarnya, yakni Bogor-Tangerang-Depok-Bekasi (Botadebek). BTS : Lho gimana sih, pertumbuhan penduduk Jakarta memang menurun karena adanya "spill over" ke daerah pinggiran (Bodetabek). Diperkirakan periode 2000-2007 ini pertumbuhannya sudah negatif. Jadi tahun-tahun mendatang penghuni Jakarta (seluas batas administratsinya) tidak membengkak, tapi justru menciut. Wilayah perluasan metropolitan ini mampu menjadi penyangga wilayah Ibu Kota, terutama untuk menampung pertumbuhan penduduk, kebutuhan lahan untuk perumahan dan aktivitas ekonomi lain yang sebelumnya menumpuk di Jakarta. Ditambah Botadebek, Jakarta yang hanya seluas 664 kilometer persegi atau 0,04 persen dari total wilayah Indonesia, dihuni oleh sekitar 10 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Ibarat kapal, Jakarta sudah penuh sesak dan tinggal menunggu tenggelam jika terus dijejali. BTS : Kalau siang hari Jakarta memang penuh sesak, tapi kalau malam hari tidak, sepi, karena "penumpangnya" sudah "mendarat" di Bodetabek. Ibarat kapal, Jakarta tidak akan tenggelam. Jangan khawatir! Dengan penduduk yang di atas 10 juta jiwa, Jakarta dewasa ini termasuk salah satu dari 20 kota terbesar di dunia dan bahkan terbesar di Asia Tenggara. Tahun 1980, menurut United National Council for Human Settlements, Jakarta masih di urutan ke-21 kota terbesar dunia. Tahun 2000 naik ke urutan 14 dan tahun 2010 diperkirakan urutan ke-10 dengan jumlah penduduk saat itu 15,3 juta. BTS : Nggak sampai sebesar itu ah! Dasarnya apa? Jakarta tahun 2010 menurun menjadi sekitar 8 juta saja. Bahkan, jika daerah perluasan metropolitan (Jabotadebek) dimasukkan, Jakarta sudah masuk 10 kota terbesar di dunia. Richard L Forstall dalam peringkat tahun 2001 menempatkan Jakarta di urutan ketiga kota terbesar di dunia, sementara demographia.com (2000) menempatkan di urutan keempat, world-gazetteer di urutan keenam, dan mongabay.com di urutan ketujuh, dan citypopulation.de di urutan kesepuluh. CONTOH sukses mereka yang berhasil menaklukkan Jakarta selama ini menjadi inspirasi bagi warga daerah lainnya untuk tetap datang ke Jakarta, kendati di sini mereka sering menemukan kenyataan pahit sebagai pendatang liar. Survei yang pernah dilakukan oleh sebuah lembaga belasan tahun lalu menyebutkan setiap penduduk yang pulang kampung pada saat Lebaran, akan membawa satu anggota keluarga atau kerabatnya dari kampung halaman waktu ia kembali ke Jakarta. BTS : Sehabis lebaran, tidak banyak yang membawa saudaranya dari kampung ke Jakarta. Yang mungkin benar, mereka tidak ke Jakarta, tetapi ke Bodetabek. Kecenderungan seperti ini diyakini masih berlangsung sampai sekarang. Upaya Pemerintah Daerah DKI membatasi jumlah penduduk, dengan membatasi masuknya para pendatang liar, tidak pernah berhasil. Laju pertumbuhan penduduk yang sangat pesat-melampaui daya dukung kota dan kemampuan pemerintah setempat dalam menyediakan kebutuhan dan prasarana dasar untuk penduduknya-menyebabkan kualitas hidup Jakarta juga terus mengalami kemerosotan. BTS : Kualitas penduduk Jakarta tidak merosot, sebaliknya semakin meningkat. Mengapa, karena mereka yang kualitas hidupnya rendah semakin tersingkir ke luar Jakarta, entah karena maunya sendiri atau karena rumahnya terbakar, atau tergusur. Tingkat pengangguran, permukiman kumuh, angka kriminal, tingkat kemacetan dan polusi, buruknya sanitasi, ketersediaan air bersih, kualitas pelayanan umum, seluruhnya mempertegas kecenderungan itu. Jakarta yang semrawut serta kehidupan di Jakarta yang tidak lagi manusiawi membuat survei yang dilakukan oleh sebuah lembaga beberapa waktu lalu menempatkan kota ini di urutan ke-35 daftar kota terbaik di Asia, jauh di belakang kota-kota pesaing terdekat seperti Singapura (urutan 4), Kuala Lumpur (9), Beijing (10), Metro Manila (14), dan Bangkok (26). Martin Brockerhoff dalam laporan Population Brief 1997 mengungkapkan, karena pertumbuhan penduduk yang begitu tidak terkendali, kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya tidak lagi menawarkan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan di pedesaan. Meskipun kualitas hidup penduduknya terus menurun, berbagai indikator masih menunjukkan penduduk perkotaan memiliki tingkat kesejahteraan jauh lebih baik dibandingkan dengan penduduk di pedesaan. Ini menjadi gula yang mampu menarik orang-orang dari luar daerah untuk terus berdatangan. Dalam kasus Indonesia, fakta yang ada sekitar 70-80 persen uang beredar secara nasional, masih berputar-putar di Jakarta. Jakarta bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi, pusat perdagangan, pusat jasa, pusat pendidikan, pusat industri, pusat investasi, dan segalanya. BTS : Saya setuju kalau 70-80% uang kartal ada di Jakarta. Alasannya, semua bank besar seperti BCA, BNI 46, Mandiri, BRI, BII, dan Permata ada di Jakarta. Jadi setiap kali Anda menabung, atau deposito, atau menyimpan dalam giro di luar Jakarta di bank-bank tersebut, maka secara otomatis (secara virtual) dan seketika sudah tercatat di bank-bank yang berlokasi di Jakarta. Jumlah uang yang tercatat di Jakarta itu bisa langsung ditransaksikan oleh bank bersangkutan. Sebelum krisis 1997, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Jakarta tiga persen lebih tinggi dari PDB nasional. Tahun 1999, Jakarta menyumbang 9 persen dari PDB nasional, 14 persen transportasi dan komunikasi, 15 persen manufaktur, 25 persen perdagangan dan jasa, dan 65 persen kegiatan industri perbankan. BTS : Hasil perhitungan saya lebih besar, tahun 2002 sekitar 11,7% dari PDB. Catatan tambahan hasil penelitian saya : 1. Sekitar 40-50% PDB Nasional disumbang oleh 90 kota (kota otonom) atau sekitar 20% dari 430 kabupaten/kota di Indonesia 2. Peranan ekonomi kota semakin menonjol pada kota-kota besar/metropolitan. Sekitar 14 kota-kota metropolitan atau 3% dari seluruh daerah menyumbang 30% PDB Nasional. 3. Kota-kota besar/metropolitan juga mempunyai peran besar sebagai sumber fiskal nasional. Sekitar 50% dari APBN berasal dari pajak-pajak di kota-kota besar. (Baca : Bambang Tata S. "Ekonomi Perkotaan" dalam kumpulan "Metropolitan di Indonesia, kenyataan dan tantangan dalam penataan ruang") Ketersediaan dan akses yang lebih mudah ke berbagai infrastruktur dan jasa seperti kredit, sumber daya manusia dalam jumlah besar dan terampil, listrik, telekomunikasi, suplai air bersih dan prasarana lain, membuat pembangunan industri dan pertumbuhan ekonomi selama ini terkonsentrasi di Ibu Kota dan sekitarnya. Konsentrasi pembangunan ini selanjutnya memunculkan permintaan lebih besar akan tenaga kerja, perumahan, dan jasa, begitu seterusnya. Ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah, antara perkotaan dan pedesaan, antara sektor pertanian dan sektor modern seperti industri dan jasa, membuat proses urbanisasi dan aglomerasi masih sulit dibendung. Ekonom M Chatib Basri mengatakan, Jakarta, sebagaimana kota besar lainnya di dunia, akan selalu memiliki daya tariknya tersendiri. Ada beberapa alasan. Pertama, Jakarta merupakan sektor formal perkotaan (urban formal sector). Salah satu alasan utama mengapa orang tertarik untuk bekerja di sektor formal perkotaan adalah tingkat upahnya relatif lebih tinggi dibandingkan sektor formal di pedesaan atau di kota kecil. Selain itu, pola pekerjaannya juga memberikan kondisi kerja yang relatif lebih baik. Kedua, fasilitas modern yang lebih baik dan juga hubungan dengan pusat kekuasaan atau pusat bisnis membuat daya tarik Jakarta menjadi jauh lebih kuat. Ketiga, peluang untuk pengembangan diri juga relatif lebih besar di Jakarta. Beberapa faktor lain yang juga menjadi pendorong adalah, situasi di pedesaan yang semakin sulit, dengan taraf hidup yang subsisten, serta terbatasnya fasilitas dan infrastruktur. Faktor ekonomi, menurut Chatib, sebenarnya bukan satu-satunya faktor yang menentukan mengapa terjadi urbanisasi ke Jakarta. Beberapa studi di kota besar lain menunjukkan bahwa jarak dan hubungan sosial antarpekerja yang tinggal di kota juga memengaruhi meningkatnya urbanisasi. Migran yang datang ke kota besar banyak yang sudah memiliki keluarga atau kenalan yang sudah menetap di kota besar. Pendatang yang semakin besar juga membawa implikasi semakin ketatnya pasar persaingan tenaga kerja formal. Mereka yang tersingkir dari pasar tenaga kerja formal akhirnya harus masuk ke sektor informal. Studi yang pernah dilakukan Centre for Policy and Implementation Study (CPIS) menunjukkan pekerja sektor informal di Jakarta ternyata memperoleh pendapatan yang cukup sebanding dengan pekerja di sektor formal (tentunya bukan pada level manajerial). Hal ini yang semakin mendorong tingginya urbanisasi ke Jakarta. Kelompok pekerja sektor informal biasanya menghasilkan barang-barang yang murah dan juga menyediakan jasa seperti transportasi jarak pendek, input untuk industri menengah kecil. Pasar untuk jenis barang-barang seperti ini selalu eksis karena mereka yang berpendapatan relatif rendah di kota juga membutuhkan barang-barang seperti ini. Oleh karena itu, walaupun Jakarta penuh sesak dengan pelbagai rintangan dan kesulitan, arus pendatang tetap mengalir. Tulus Tambunan dari LP3E Kadin Indonesia dalam makalah "Urban Poverty, Informal Sector and Poversty Alleviation Policies in Indonesia", juga menyebutkan sumber utama kemiskinan di perkotaan adalah kemiskinan dan kemunduran ekonomi di pedesaan. Karena ekonomi pedesaan didominasi oleh pertanian, maka sumber utama kemiskinan pedesaan adalah sektor pertanian yang dulu menjadi rumah bagi 70 persen penduduk Indonesia. Urbanisasi dan in-migrasi dari daerah pedesaan ke perkotaan semakin menjadi-jadi sejak pemerintah melucuti segala subsidi yang terkait dengan pertanian, seperti subsidi pupuk dan bibit. Kondisi ini diperburuk lagi oleh kegagalan pemerintah menjamin harga jual dan nilai tukar produk petani. Jadi, semrawutnya Jakarta bukan hanya akibat kegagalan Pemerintah Daerah DKI dalam mengatur tata ruang wilayah dan menyediakan kebutuhan serta infrastruktur dasar bagi rakyatnya, tetapi juga kegagalan pemerintah pusat memeratakan pembangunan selama 60 tahun Indonesia merdeka. BTS : Pembangunan itu tidak mungkin merata (seimbang). Kalau merata (seimbang) itu tidak efisien. Pembangunan tata ruang yang efisien akan menuju ketidakseimbangan. Persoalan Jakarta adalah miniatur dari persoalan yang dihadapi bangsa ini, karena akar kemiskinan dan persoalan yang dihadapi Jakarta ada di daerah. Artinya, masalah ini baru bisa diurai jika akar masalahnya juga dibenahi. (tat) BTS : Tidak usah diurai akar masalahnya. Semua sudah jelas. Langsung saja programnya apa! ---article ends--- ----- Original Message ----- From: Mohammad Andri Budiman To: referensi@yahoogroups.com Sent: Thursday, October 18, 2007 2:09 PM Subject: [referensi] 70-80% Uang Nasional Berputar-putar di Jakarta Rekans referensi-ers ysh, Arikel ini tahun 2005. Bila rekan mempunyai example atau counter-example untuk tahun 2007, mohon di-share. "...fakta yang ada sekitar 70-80 persen uang beredar secara nasional, masih berputar-putar di Jakarta." (kutipan artikel di bawah) Banjir? Macet? Brutalitas? Stress? Nuff said. ^_^ Salam, Andri http://mandrib.multiply.com/ http://profiles.friendster.com/mandrib Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/18/Fokus/1823142.htm ---article begins--- Recent Activity a.. 1New Members Visit Your Group Y! Messenger Instant hello Chat in real-time with your friends. Yahoo! Groups Going Green Share your passion for the planet. Endurance Zone A Fitness Group about overall better endurance. .