Nurul Dwi
Thu, 17 Jan 2008 00:31:46 -0800
Assalamuálaikum, Sekedar sharing tentang Naruto.
Keinginan kuat utk menonton naruto juga dialami oleh keluarga sepupu saya. Awalnya sang ibu tidak terlalu mengerti naruto seperti apa. apakah sama seperti Avatar salah satu favorit sepupuku itu dan juga favorit si bunda. Sehingga dibiarkannya utk menonton tanpa ditemani bundanya. Akhirnya si anak mengajak nonton bersama sang bunda dan kebetulan tayangannya adalah pembunuhan keluarga dan diperlihatkan pedang dan darah dalam kartun tsb. Pembunuhan itu dengan alasan pembuktian kalau dia itu hebat oleh salah satu karakter kartun tsb. Bunda pun langsung lemes dan mengalihkan ke channel lain. Tentu saja si anak protes keras dan marah. Bundanya hanya bilang kartun tsb tidak baik, karena memberi contoh a, b, c dan akan memberi efek a, b, c, dan d, plus iming2 bukan anak yg soleh jika meniru spt mereka. Namanya juga anak2, penuh janji manis tidak akan meniru mereka asal tetap boleh nonton. Bundanya hanya tersenyum, dan akhirnya keesokan harinya sang bunda mendisiplinkan dirinya utk ikut pergi ke mesjid shalat magrib dan berdiam diri beserta anak2nya sampai shalat isya selesai. Akhirnya sang anak pun lupa dengan narutonya, malah sibuk bermain dengan teman2nya dibawah bulan setelah mengaji sambil menunggu shalat isya. Sang bunda, tetap dengan setia menunggu mereka dimesjid sambil berusaha menghatamkan alquran dan melihat apakah mereka bermain2 sewaktu shalat berjamaah atau mulai serius mengikuti imam. Wassalam DN ________________________________ From: rezaervani@yahoogroups.com [EMAIL PROTECTED] On Behalf Of fiyan arjun Sent: Thursday, January 17, 2008 12:37 PM To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED]; rezaervani@yahoogroups.com Subject: [rezaervani] [ARTIKEL] Aku Ingin Jadi Naruto, Om ! AKU INGIN JADI NARUTO, OM! Fiyan Arjun Saya adalah seorang Om yang cukup banyak memiliki keponakan yang cukup nakal. Seperti Paman Donal Bebek saya mengumpamakan diri saya. Memiliki keponakan yang nakal semacam Kwik, Kwek dan Kwak. Para keponakan yang nakal, tapi juga perhatian dan memberi semangat kepada sang paman jika sedang mengalamai kesusahan. Sementara saya sebaliknya. Sering kali mengernyitkan dahi. Apalagi keponakan saya yang satu ini yang masih berusia 6 tahun dan duduk dibangku kelas 2 SD. Memang saya ini mempunyai bermaca-macam keponakan dalam berbagai usia.. Paling besar usianya berumur 16 tahun, duduk di bangku kelas 2 SMEA dan yang paling kecil, ya itu tadi yang masih duduk di bangku SD kelas 2 SD. Nah, keponakan saya inilah yang paling nakal dan susah diatur oleh saya sebagai Om-nya. Selain itu keponakan saya ini berani sekali sama orang lain. Suatu hari ketika saya sedang main ke rumah kakak perempuan saya-memang kalau saya habis ke rumah kawan saya atau pergi ke toko buku pulangnya pasti mampir ke rumah itu. Rumah kakak perempuan saya. Ya, walau hanya sekedar melihat-lihat keadaan keponakan-keponakan saya itu. Maklumlah namanya juga OM yang selalu peduli terhadap perkembangan keponakannya. Namun ada yang membuat saya bikin narik urat ketika saat saya ingin ke rumah kakak perempuan saya, yakni ketika tanpa sengaja saya melihat keponakan saya sedang asyik main Playstation (PS) Naruto dan CS-nya itu bersama kakaknya di rental viodeo game online yang tidak jauh dari rumah kakak perempuan saya. Karena sebagai seorang OM yang bertanggung jawab terhadap keponakannya, saya menyuruh mereka pulang. "Pulang, yuk! Om, bawa jeruk nih buat kamu," ujar saya membujuk mereka agar mau menuruti apa yang saya katakan. Namun upaya saya membujuk mereka tidak membuahkan hasil. Menolak diajak pulang! Malah mereka lebih fokus meneruskan PS tanpa menggubris perkataan saya. "Nggak ah, Om! Enakan main PS!" tukasnya kompak. Antara kakak-adik saling mendukung. "Lho, emangnya kalau nanti sudah besar kamu mau jadi apa sih?" Tanya saya melihat tingkah mereka yang membuat saya jadi bete dan ilfil. "Ya, Izal mau jadi Naruto, Sasuke, Kakashi, Lee serta mau jadi pasukan Hokage," jawab keponakanan saya yang paling kecil seenaknya tanpa aling-aling dan tanpa mengerti. "Iya, Om Amri juga ingin seperti mereka," timpal kakaknya yang masih duduk dibangku SD duduk dikelas 6 SD itu. Ikut menimpali pertanyaan saya sambil menujukan gambar Naruto dengan CS-nya di cover kaset viodeo game. Mendengar jawaban dari mereka berdua saya jadi terkejut ketika mereka menyembutkan nama-nama tokoh di film kartun yang ditayangkan tiap regulernya seusai adzan Maghrib itu dan juga di relay pagi hari saat mereka mau berangkat sekolah yang menjadi idola dadakan mereka sekarang. Lalu apa yang saya lakukan saat itu? Saya hanya bisa termangu ketika para keponakan saya menjawab seperti itu. "Kok bisa ya mereka tahu nama-nama film kartun itu yang saban hari ditayangkan usai Maghrib itu di televisi swasta. Film kartun Naruto dan kawan-kawanya itu," pikir saya saat itu. Bukannya apa-apa saya takut mereka akan terpengaruh yang tak baik. Memang sih film kartun itu sering saya tonton juga. Makanya saya tahu apa yang mereka katakan. Tapi yang membuat saya miris dan merasa bersalah yakni mau jadi apa mereka nanti kalau sudah besar nanti? Toh kalau sering bermain dan menyaksikan film kartun itu terus-terusan yang tak memberi manfaat dan tak ada gunanya! Padahal orangtua mereka notabene kakak perempuan saya juga sudah melarang bermain PS serta memarahinya tapi tetap saja mereka membandel. "Diangkat pena dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, orang gila sampai kembali akalnya atau sadar, dan anak kecil hingga ia besar." (HR. Abu Dawud). Entahlah, saya juga tidak bisa terlalu insten mengawasi mereka. Selain rumah saya dan tempat tinggal kakak perempuan saya itu pun cukup jauh -dengan dua kali naik angkot. Ya, namanya juga anak-anak, begitu tingkahnya kadang membuat kening berkerut! Entahlah saya sendiri juga belum bisa merasakan bagimana menjadi seorang ayah yang sebenarnya! "Izal dan Amri mau jadi pasukan Hokage, Om?" lanjutnya. "Duh Gusti!" Ulujami, Januari 2008 --------------------------------- Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.