rezaervani  

RE: [rezaervani] [ARTIKEL] [TANGGAPAN] Aku Ingin Jadi Naruto, Om !

marlina ayin
Sun, 20 Jan 2008 05:05:30 -0800

Assalamu'alaikum,
   
  Masalah komik or kartun Jepang dan mengarahkan anak-anak sekarang memang 
butuh kesabaran yang ekstra. Bagaimana tidak? waktu belajar malah digunakan 
untuk bercerita tentang Naruto or yang lainnya. Menyedihkan memang, apalagi 
anak-anak yang masih belum cukup umur untuk memahami cerita Naruto.Maklumlah 
pekerjaan saya sebagai guru juga membutuhkan perhatian ekstra dalam mendidik 
anak-anak sekarang.
   
  Sebagai orang dewasa, kita adalah busur yang akan melesatkan anak panah ( 
anak-anak ) menuju sasaran yang tepat. So, kita harus menjadi contoh dan 
membimbing mereka dalam segala hal termasuk menonton or membaca. Mungkin inilah 
jaman anak-amak sekarang. Jaman sekarang memang berbeda dengan jaman kita kecil 
dulu. ada satu hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang hal ini, " Jangan 
engkau didik anakmu seperti jamanmu." ( maaf kalo tidak lengkap, lupa).
   
  Semoga berguna.
   
  Wassalam,
   
   
  Lina
   

helmi purwanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Assalamualaikum,

Memang sulit menjaga dan mengarahkan anak2 jaman sekarang,  dengan adanya 
komik-komik jepang dan film kartun jepang banyak keanehan2, anak saya yg paling 
besar hampir setiap bulan ikut cosplayatau harajukuan dia ikut festival pakai 
baju-baju kartun jepang dg gaya2 nya segala dan pakai baju-baju dengan 
mengikuti trend mode di jepang, ada segi positifnya, dia jadi kreatif juga, 
tapi udah satu kain sprei ku jadi korban dibikin baju, yaaa kalau untuk 
kretaifitas gak apa-apalah,,, tapi kalau untuk Naruto versi xxx, hiiii serem 
juga, gimana niiih temen-temen di rezaervani ??? sekali-sekali bikin event 
budaya kita dengan melibatkan anak-anak SMA gitu?? biar mereka tahu budaya 
sendiri dan budaya kita gak sembarangan diambil negara lain. thanx , Wassalam

halley witheart <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      wa'alaikumsalam

sekedar kasih info
demam "Naruto" memang banyak merajalela,..termasuk di sni
kalau ahad .. ada saja anak anak yang saya kira belum baligh datang ke sini 
cuma untuk cari info tentang naruto atau cheat gamenya,atau apalah..macem2

dan yang mengejutkan adalah ada saja anak yang membuka site "Naruto" versi XXX 
....yah saya kira anda semua paham maksud saya...
kaget..saya sampai berpikir darimana mereka bisa tau tentang site XXX apalagi 
yang dijadikan bahan adalah tokoh kartun yang ada dalam "Naruto" kesayangan 
mereka tersebut,...tak saya pungkiri,sebagai kuli warnet saya memang sering 
me-monitor apa yang dilakukan oleh client,terutama bila yang datang dan duduk 
adalah anak-anak

tidak ada yang berfaedah dari hal itu,selain fantasy,kekerasan,juga lebih pada 
sifat melalaikan,terutama pada anak..

Ingat,anak itu amanat,dan generasi penerus,jadikan dia aktif,dan 
positive..bukan membiarkan mereka dalam ke-asyikan yang melalaikan,..

maaf hanya masukan saja,saya pun belum jadi orang tua,tapi saya prihatin...

wasslm.

(Halley)



Nurul Dwi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      
    Assalamuálaikum,
  Sekedar sharing tentang Naruto. 
  Keinginan kuat utk menonton naruto juga dialami oleh keluarga sepupu saya. 
Awalnya sang ibu tidak terlalu mengerti naruto seperti apa. apakah sama seperti 
Avatar salah satu favorit sepupuku itu dan juga favorit si bunda. Sehingga 
dibiarkannya utk menonton tanpa ditemani bundanya. Akhirnya si anak mengajak 
nonton bersama sang bunda dan kebetulan tayangannya adalah pembunuhan keluarga 
dan diperlihatkan pedang dan darah dalam kartun tsb. Pembunuhan itu dengan 
alasan pembuktian kalau dia itu hebat oleh salah satu karakter kartun tsb. 
Bunda pun langsung lemes dan mengalihkan ke channel lain. Tentu saja si anak 
protes keras dan marah. Bundanya hanya bilang kartun tsb tidak baik, karena 
memberi contoh a, b, c dan akan memberi efek a, b, c, dan d, plus iming2 bukan 
anak yg soleh jika meniru spt mereka. Namanya juga anak2, penuh janji manis 
tidak akan meniru mereka asal tetap boleh nonton.  Bundanya hanya tersenyum, 
dan akhirnya keesokan harinya sang bunda mendisiplinkan dirinya
 utk ikut pergi ke mesjid shalat magrib dan berdiam diri beserta anak2nya 
sampai shalat isya selesai. Akhirnya sang anak pun lupa dengan narutonya, malah 
sibuk bermain dengan teman2nya dibawah bulan setelah mengaji sambil menunggu 
shalat isya. Sang bunda, tetap dengan setia menunggu mereka dimesjid sambil 
berusaha menghatamkan alquran dan melihat apakah mereka bermain2 sewaktu shalat 
berjamaah atau mulai serius mengikuti imam. 
  
  Wassalam
  DN
  
  
  
      
---------------------------------
  
  From: rezaervani@yahoogroups.com [EMAIL PROTECTED] On Behalf Of fiyan 
arjun
Sent: Thursday, January 17, 2008 12:37 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; rezaervani@yahoogroups.com
Subject: [rezaervani] [ARTIKEL] Aku Ingin Jadi Naruto, Om !

  
        AKU INGIN JADI NARUTO, OM!

Fiyan Arjun


Saya adalah seorang Om yang cukup banyak memiliki keponakan yang cukup nakal. 
Seperti Paman Donal Bebek saya mengumpamakan diri saya. Memiliki keponakan yang 
nakal semacam Kwik, Kwek dan Kwak. Para keponakan yang nakal, tapi juga 
perhatian dan memberi semangat kepada sang paman jika sedang mengalamai 
kesusahan.

Sementara saya sebaliknya. Sering kali mengernyitkan dahi. Apalagi keponakan 
saya yang satu ini yang masih berusia 6 tahun dan duduk dibangku kelas 2 SD. 
Memang saya ini mempunyai bermaca-macam keponakan dalam berbagai usia.. Paling 
besar usianya berumur 16 tahun, duduk di bangku kelas 2 SMEA dan yang paling 
kecil, ya itu tadi yang masih duduk di bangku SD kelas 2 SD.

Nah, keponakan saya inilah yang paling nakal dan susah diatur oleh saya sebagai 
Om-nya. Selain itu keponakan saya ini berani sekali sama orang lain.

Suatu hari ketika saya sedang main ke rumah kakak perempuan saya—memang kalau 
saya habis ke rumah kawan saya atau pergi ke toko buku pulangnya pasti mampir 
ke rumah itu. Rumah kakak perempuan saya. Ya, walau hanya sekedar melihat-lihat 
keadaan keponakan-keponakan saya itu. Maklumlah namanya juga OM yang selalu 
peduli terhadap perkembangan keponakannya.

Namun ada yang membuat saya bikin narik urat ketika saat saya ingin ke rumah 
kakak perempuan saya, yakni ketika tanpa sengaja saya melihat keponakan saya 
sedang asyik main Playstation (PS) Naruto dan CS-nya itu bersama kakaknya di 
rental viodeo game online yang tidak jauh dari rumah kakak perempuan saya. 
Karena sebagai seorang OM yang bertanggung jawab terhadap keponakannya, saya 
menyuruh mereka pulang.

“Pulang, yuk! Om, bawa jeruk nih buat kamu,” ujar saya membujuk mereka agar mau 
menuruti apa yang saya katakan. Namun upaya saya membujuk mereka tidak 
membuahkan hasil. Menolak diajak pulang! Malah mereka lebih fokus meneruskan PS 
tanpa menggubris perkataan saya.

“Nggak ah, Om! Enakan main PS!” tukasnya kompak. Antara kakak-adik saling 
mendukung.

“Lho, emangnya kalau nanti sudah besar kamu mau jadi apa sih?” Tanya saya 
melihat tingkah mereka yang membuat saya jadi bete dan ilfil.

“Ya, Izal mau jadi Naruto, Sasuke, Kakashi, Lee serta mau jadi pasukan Hokage,” 
jawab keponakanan saya yang paling kecil seenaknya tanpa aling-aling dan tanpa 
mengerti. 

“Iya, Om Amri juga ingin seperti mereka,” timpal kakaknya yang masih duduk 
dibangku SD duduk dikelas 6 SD itu. Ikut menimpali pertanyaan saya sambil 
menujukan gambar Naruto dengan CS-nya di cover kaset viodeo game.

Mendengar jawaban dari mereka berdua saya jadi terkejut ketika mereka 
menyembutkan nama-nama tokoh di film kartun yang ditayangkan tiap regulernya 
seusai adzan Maghrib itu dan juga di relay pagi hari saat mereka mau berangkat 
sekolah yang menjadi idola dadakan mereka sekarang. Lalu apa yang saya lakukan 
saat itu? Saya hanya bisa termangu ketika para keponakan saya menjawab seperti 
itu. ”Kok bisa ya mereka tahu nama-nama film kartun itu yang saban hari 
ditayangkan usai Maghrib itu di televisi swasta. Film kartun Naruto dan 
kawan-kawanya itu,” pikir saya saat itu.

Bukannya apa-apa saya takut mereka akan terpengaruh yang tak baik. Memang sih 
film kartun itu sering saya tonton juga. Makanya saya tahu apa yang mereka 
katakan. Tapi yang membuat saya miris dan merasa bersalah yakni mau jadi apa 
mereka nanti kalau sudah besar nanti? Toh kalau sering bermain dan menyaksikan 
film kartun itu terus-terusan yang tak memberi manfaat dan tak ada gunanya!

Padahal orangtua mereka notabene kakak perempuan saya juga sudah melarang 
bermain PS serta memarahinya tapi tetap saja mereka membandel. “Diangkat pena 
dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, orang gila sampai 
kembali akalnya atau sadar, dan anak kecil hingga ia besar.” (HR. Abu Dawud). 
Entahlah, saya juga tidak bisa terlalu insten mengawasi mereka. Selain rumah 
saya dan tempat tinggal kakak perempuan saya itu pun cukup jauh –dengan dua 
kali naik angkot. Ya, namanya juga anak-anak, begitu tingkahnya kadang membuat 
kening berkerut! Entahlah saya sendiri juga belum bisa merasakan bagimana 
menjadi seorang ayah yang sebenarnya!

“Izal dan Amri mau jadi pasukan Hokage, Om?” lanjutnya.

“Duh Gusti!”

Ulujami, Januari 2008



---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

  



  


  
  
---------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it 
now.  


    
---------------------------------
  Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.   

                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.