Reza Ervani
Sun, 20 Jan 2008 23:42:09 -0800
Assalamu alaikum, Nyambung diskusi tentang Naruto. Saya jadi bertanya-tanya, ada nggak ya karakter tokoh fiksi yang bener-bener asli Indonesia dan pantas untuk diceritakan ke anak didik atau anak kandung kita ? Dulu waktu SD-SMP-SMA ada beberapa buku yang akrab dengan penulis. Misalnya Wiro Sableng, Dewa Arak, Pendekar Rajawali Sakti, Gatotkaca yang memang ditulis oleh penulis asli Indonesia. Apakah tokoh-tokoh ini lebih baik untuk diberikan kepada anak didik dibandingkan tokoh- tokoh asing semacam Avatar Aang dan Naruto ? Waktu kecil pula penulis mulai membaca buku-buku karya Asmaraman Kho Ping Hoo yang ceritanya panjang-panjang. Ada kemiripan antara cerita-cerita silat Kho Ping Hoo dengan cerita-cerita anima dan manga yang ada di TV-TV saat ini. Bagaimana pula dengan ini ? Apakah ia sesuatu yang tidak boleh dikonsumsi pula oleh anak usia dini ? Selain itu ada pula buku-buku Hans Christian Anderson yang juga akrab dengan masa kecil kami, yang rela bersepeda ke perpustakaan setempat. Belakangan baru penulis dapati bahwa ternyata buku-buku HCA ada refleksi dari kehidupan pribadi HCA yang tersingkirkan dari kehidupan sosial. Inilah yang menyebabkan tokoh-tokoh dalam dongeng-dongeng HCA mewakili karakter terasingkan, seperti Ugly Duck (Bebek Buruk Rupa) Thumbelina. Beberapa kritikus juga mengatakan bahwa dongeng-dongeng HCA terlalu sadis untuk dikonsumsi anak-anak. Bagaimana pendapat anda ? Selain itu ada buku-buku favorit lain masa kecil seperti TINTIN, Asterix, SMURF, Tiger Wong, Pukulan Geledek dll. Alhamdulillah, ketika masih sangat kecil pula, penulis mulai membaca buku-buku sastra lokal seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (HAMKA), Salah Asuhan, Siti Nurbaya (Marah Rusli) dan lain-lain. Ada pula fiksi asing yang diterjemahkan seperti MUSASHI dan buku-buku dari SIDNEY SHELDON. O ya, yang juga jadi favorit waktu itu adalah kisah-kisah Kang Poirot- nya Agatha Christie, juga Sherlock Holmes-nya Conan Doyle. Hmmm, masuk juga dalam daftar Lima Sekawan, Tiga Serangkai (yang waktu itu menginspirasi kami ketika kelas 3 SD untuk membuat klub detektif cilik) Kesimpulannya, perlukah kita membatasi bacaan anak-anak kita ? Atau biarkan mereka membaca semuanya ? Lalu ajak ngobrol asyik tentang bacaan-bacaan itu. Tentu saja ortu atau gurunya juga harus gila baca. Bagaimana pula dengan tokoh-tokoh Islam yang agak sulit menjadikannya dalam bentuk komik atau animasi karena alasan-alasan fiqh. Atau bagaimana ? Salam, Reza Ervani --- In rezaervani@yahoogroups.com, helmi purwanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamualaikum Wr, Wb > > Kalau komik, di indonesia juga udah ada dari dulu, saya dulu salah satu penggemar komik indonesia, dulu komik yang terkenal sih judulnya Si Buta dari Gua Hantu, trs ada juga pengarang komik yang terkenal namanya Yan Mintaraga, nah sekarang kayaknya komikus indonesia udah pada kolaps kalah sama manga dari jepang.....kalau mau lihat2 komik indonesia coba ke JL Pagar Gunung Bandung, di Komik Corner. thnx > Wassalam > > jang_adit <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamu'alaikum wr. wb. > > Sebelumnya saya mau bilang kalo semenjak kecil saya seneng ama manga > dan anime. Sejak saat itu pun saya jadi seneng ngegambar ampe-ampe > waktu SMP pernah bikin komik, ya tentunya komik jepang alias > manga.Kata pengamat komik kayak toni masdiono atau lee julian, kartun > jepang itu paling simple konsepnya, jadi amat mudah diterima oleh > masyarakat. Nggak kayak komik-komik lain (amrik, cina, korea ataw indo). > > Nggak cuma itu seh!!! dari naskah-naskah komik jepang, saya juga > nemuin insight-insight yang inspirational dan menurut saya itu cukup > mendidik. Di jepang sendiri komik dan anime adalah 'makanan' > sehari-hari anak-anak jepang. Dan ini cukup menjadi alasan bagi > mangaka (komikus jepang) untuk bikin cerita yang mendidik dan > inspirational.Meski banyak adegan perkelahian, sense yang terasa > justru adalah leadership, persahabatan, kesetiaan, kebaikan dan > nilai-nilai positif lainnya. > > Well, anime memang amat mudah diterima di masyarakat kita. Sekarang > saya tanya, berani nggak bikin anime ala Indonesia? tentunya anime > yang mendidik dan nggak kalah berkualitas!!! Ataw seenggaknya, komik > atuh lah!!! > > Kalo cuma menjadi penilai, kapan umat Islam bisa bangkit! Kita butuh > banyak kreator di banyak bidang... > > Hatur nuhun nya! Wilujeng! > > Wassalamu'alaikum wr. wb. > Adit > > --- In rezaervani@yahoogroups.com, helmi purwanti <helmipurwanti@> > wrote: > > > > Assalamualaikum, > > > > Memang sulit menjaga dan mengarahkan anak2 jaman sekarang, dengan > adanya komik-komik jepang dan film kartun jepang banyak keanehan2, > anak saya yg paling besar hampir setiap bulan ikut cosplayatau > harajukuan dia ikut festival pakai baju-baju kartun jepang dg gaya2 > nya segala dan pakai baju-baju dengan mengikuti trend mode di jepang, > ada segi positifnya, dia jadi kreatif juga, tapi udah satu kain sprei > ku jadi korban dibikin baju, yaaa kalau untuk kretaifitas gak > apa-apalah,,, tapi kalau untuk Naruto versi xxx, hiiii serem juga, > gimana niiih temen-temen di rezaervani ??? sekali-sekali bikin event > budaya kita dengan melibatkan anak-anak SMA gitu?? biar mereka tahu > budaya sendiri dan budaya kita gak sembarangan diambil negara lain. > thanx , Wassalam > > > > halley witheart <halley_phetry@> wrote: > wa'alaikumsalam > > > > sekedar kasih info > > demam "Naruto" memang banyak merajalela,..termasuk di sni > > kalau ahad .. ada saja anak anak yang saya kira belum baligh datang > ke sini cuma untuk cari info tentang naruto atau cheat gamenya,atau > apalah..macem2 > > > > dan yang mengejutkan adalah ada saja anak yang membuka site "Naruto" > versi XXX ....yah saya kira anda semua paham maksud saya... > > kaget..saya sampai berpikir darimana mereka bisa tau tentang site > XXX apalagi yang dijadikan bahan adalah tokoh kartun yang ada dalam > "Naruto" kesayangan mereka tersebut,...tak saya pungkiri,sebagai kuli > warnet saya memang sering me-monitor apa yang dilakukan oleh > client,terutama bila yang datang dan duduk adalah anak-anak > > > > tidak ada yang berfaedah dari hal itu,selain fantasy,kekerasan,juga > lebih pada sifat melalaikan,terutama pada anak.. > > > > Ingat,anak itu amanat,dan generasi penerus,jadikan dia aktif,dan > positive..bukan membiarkan mereka dalam ke-asyikan yang melalaikan,.. > > > > maaf hanya masukan saja,saya pun belum jadi orang tua,tapi saya > prihatin... > > > > wasslm. > > > > (Halley) > > > > > > > > Nurul Dwi <nurul.dwi@> wrote: > > > > Assalamuálaikum, > > Sekedar sharing tentang Naruto. > > Keinginan kuat utk menonton naruto juga dialami oleh keluarga > sepupu saya. Awalnya sang ibu tidak terlalu mengerti naruto seperti > apa. apakah sama seperti Avatar salah satu favorit sepupuku itu dan > juga favorit si bunda. Sehingga dibiarkannya utk menonton tanpa > ditemani bundanya. Akhirnya si anak mengajak nonton bersama sang bunda > dan kebetulan tayangannya adalah pembunuhan keluarga dan diperlihatkan > pedang dan darah dalam kartun tsb. Pembunuhan itu dengan alasan > pembuktian kalau dia itu hebat oleh salah satu karakter kartun tsb. > Bunda pun langsung lemes dan mengalihkan ke channel lain. Tentu saja > si anak protes keras dan marah. Bundanya hanya bilang kartun tsb tidak > baik, karena memberi contoh a, b, c dan akan memberi efek a, b, c, > dan d, plus iming2 bukan anak yg soleh jika meniru spt mereka. Namanya > juga anak2, penuh janji manis tidak akan meniru mereka asal tetap > boleh nonton. Bundanya hanya tersenyum, dan akhirnya keesokan harinya > sang bunda mendisiplinkan dirinya > > utk ikut pergi ke mesjid shalat magrib dan berdiam diri beserta > anak2nya sampai shalat isya selesai. Akhirnya sang anak pun lupa > dengan narutonya, malah sibuk bermain dengan teman2nya dibawah bulan > setelah mengaji sambil menunggu shalat isya. Sang bunda, tetap dengan > setia menunggu mereka dimesjid sambil berusaha menghatamkan alquran > dan melihat apakah mereka bermain2 sewaktu shalat berjamaah atau mulai > serius mengikuti imam. > > > > Wassalam > > DN > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > > From: rezaervani@yahoogroups.com > [EMAIL PROTECTED] On Behalf Of fiyan arjun > > Sent: Thursday, January 17, 2008 12:37 PM > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Cc: [EMAIL PROTECTED]; rezaervani@yahoogroups.com > > Subject: [rezaervani] [ARTIKEL] Aku Ingin Jadi Naruto, Om ! > > > > > > AKU INGIN JADI NARUTO, OM! > > > > Fiyan Arjun > > > > > > Saya adalah seorang Om yang cukup banyak memiliki keponakan yang > cukup nakal. Seperti Paman Donal Bebek saya mengumpamakan diri saya. > Memiliki keponakan yang nakal semacam Kwik, Kwek dan Kwak. Para > keponakan yang nakal, tapi juga perhatian dan memberi semangat kepada > sang paman jika sedang mengalamai kesusahan. > > > > Sementara saya sebaliknya. Sering kali mengernyitkan dahi. Apalagi > keponakan saya yang satu ini yang masih berusia 6 tahun dan duduk > dibangku kelas 2 SD. Memang saya ini mempunyai bermaca-macam keponakan > dalam berbagai usia.. Paling besar usianya berumur 16 tahun, duduk di > bangku kelas 2 SMEA dan yang paling kecil, ya itu tadi yang masih > duduk di bangku SD kelas 2 SD. > > > > Nah, keponakan saya inilah yang paling nakal dan susah diatur oleh > saya sebagai Om-nya. Selain itu keponakan saya ini berani sekali sama > orang lain. > > > > Suatu hari ketika saya sedang main ke rumah kakak perempuan > sayamemang kalau saya habis ke rumah kawan saya atau pergi ke toko > buku pulangnya pasti mampir ke rumah itu. Rumah kakak perempuan saya. > Ya, walau hanya sekedar melihat-lihat keadaan keponakan-keponakan saya > itu. Maklumlah namanya juga OM yang selalu peduli terhadap > perkembangan keponakannya. > > > > Namun ada yang membuat saya bikin narik urat ketika saat saya ingin > ke rumah kakak perempuan saya, yakni ketika tanpa sengaja saya melihat > keponakan saya sedang asyik main Playstation (PS) Naruto dan CS-nya > itu bersama kakaknya di rental viodeo game online yang tidak jauh dari > rumah kakak perempuan saya. Karena sebagai seorang OM yang bertanggung > jawab terhadap keponakannya, saya menyuruh mereka pulang. > > > > "Pulang, yuk! Om, bawa jeruk nih buat kamu," ujar saya membujuk > mereka agar mau menuruti apa yang saya katakan. Namun upaya saya > membujuk mereka tidak membuahkan hasil. Menolak diajak pulang! Malah > mereka lebih fokus meneruskan PS tanpa menggubris perkataan saya. > > > > "Nggak ah, Om! Enakan main PS!" tukasnya kompak. Antara kakak- adik > saling mendukung. > > > > "Lho, emangnya kalau nanti sudah besar kamu mau jadi apa sih?" > Tanya saya melihat tingkah mereka yang membuat saya jadi bete dan ilfil. > > > > "Ya, Izal mau jadi Naruto, Sasuke, Kakashi, Lee serta mau jadi > pasukan Hokage," jawab keponakanan saya yang paling kecil seenaknya > tanpa aling-aling dan tanpa mengerti. > > > > "Iya, Om Amri juga ingin seperti mereka," timpal kakaknya yang > masih duduk dibangku SD duduk dikelas 6 SD itu. Ikut menimpali > pertanyaan saya sambil menujukan gambar Naruto dengan CS-nya di cover > kaset viodeo game. > > > > Mendengar jawaban dari mereka berdua saya jadi terkejut ketika > mereka menyembutkan nama-nama tokoh di film kartun yang ditayangkan > tiap regulernya seusai adzan Maghrib itu dan juga di relay pagi hari > saat mereka mau berangkat sekolah yang menjadi idola dadakan mereka > sekarang. Lalu apa yang saya lakukan saat itu? Saya hanya bisa > termangu ketika para keponakan saya menjawab seperti itu. "Kok bisa ya > mereka tahu nama-nama film kartun itu yang saban hari ditayangkan usai > Maghrib itu di televisi swasta. Film kartun Naruto dan kawan- kawanya > itu," pikir saya saat itu. > > > > Bukannya apa-apa saya takut mereka akan terpengaruh yang tak baik. > Memang sih film kartun itu sering saya tonton juga. Makanya saya tahu > apa yang mereka katakan. Tapi yang membuat saya miris dan merasa > bersalah yakni mau jadi apa mereka nanti kalau sudah besar nanti? Toh > kalau sering bermain dan menyaksikan film kartun itu terus-terusan > yang tak memberi manfaat dan tak ada gunanya! > > > > Padahal orangtua mereka notabene kakak perempuan saya juga sudah > melarang bermain PS serta memarahinya tapi tetap saja mereka > membandel. "Diangkat pena dari tiga golongan: orang yang tidur sampai > ia bangun, orang gila sampai kembali akalnya atau sadar, dan anak > kecil hingga ia besar." (HR. Abu Dawud). Entahlah, saya juga tidak > bisa terlalu insten mengawasi mereka. Selain rumah saya dan tempat > tinggal kakak perempuan saya itu pun cukup jauh dengan dua kali naik > angkot. Ya, namanya juga anak-anak, begitu tingkahnya kadang membuat > kening berkerut! Entahlah saya sendiri juga belum bisa merasakan > bagimana menjadi seorang ayah yang sebenarnya! > > > > "Izal dan Amri mau jadi pasukan Hokage, Om?" lanjutnya. > > > > "Duh Gusti!" > > > > Ulujami, Januari 2008 > > > > > > > > --------------------------------- > > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! > Search. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. > Try it now. > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > > > > > > > > > --------------------------------- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. >