rezaervani  

Re: [rezaervani] [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak ya ? (sambungan diskusi Naruto)

helmi purwanti
Mon, 21 Jan 2008 18:18:55 -0800

Assalamualaikum.
  Apa kabar bang Reza?? kapan diskusi E-Library lagi?
   
  Banyak sekali bacaan-bacaan yang diperuntukan untuk anak-anak, anak2 saya 
hobby banget membaca bahkan anak saya yang pertama suka terobsesi kalau selesai 
membaca satu buku, tinggal kita orang tua yang harus dapat mengarahkan buku apa 
yang pantas untuk mereka sesuai umurnya, hanya satu kekhawatiran kita adalah 
kalau anak2 sudah mulai mengenal internet, dan fasilitas  ini digunakan untuk 
hal-hal yang negatif seperti mencari Naruto xxx (apakah ini berbau 
pornografi???), kita tidak akan pernah bisa tahu 100% apa yang dilakukan 
anak-anak kita seusia SMP-SMA diluar rumah, pegangan saya hanyalah mengetahui 
siapa teman2 anak saya dan setiap kegiatannya, ada hal yang menarik yang ingin 
saya sampaikan anak saya yang pertama usianya 16 thn (SMA); dia sering ikut 
cosplay, kadang sampai diundang  oleh cosplayers dari jakarta, karena saya gak 
ngerti apa itu cosplay saya sampai cari informasi dr majalah animonster, 
internet,,dll; alhamdullillah sekarang setiap dia mau ikut cosplay  saya
 suka ikut nimbrung juga utk komentari bajunya, karena saya ingin tahu juga 
bajunya kayak apa, maka saya akhirnya ikut-ikutan nonton film kartun Naruto di 
Global TV setiap sore, ya hitung-hitung mendampingi si kecil juga yg suka 
nonton film kartun, hal positif yang saya ambil dari cosplay ini adalah anak 
saya bisa belajar  berorganisasi (satu group bisa sampai 5-10 orang), 
kepemimpinan, kreatifitas, dari sini juga dia bisa menjual design-design baju 
cosplay atau harajuku pada teman-teman satu sekolahnya, dan dia bisa menentukan 
sendiri kemana nanti melanjutkan sekolah.
   
  Banyak hal-hal yang positif dan sekaligus banyak pula hal yang negatif dengan 
adanya arus informasi, yang tidak bisa dibendung oleh kita, tinggal kita 
sebagai orang tua atau teman-teman yang sudah lebih dulu tahu ttg positive dan 
negative nya budaya luar yang harus bisa memberikan arahan pada anak-anak kita, 
atau teman-teman kita sendiri.
   
  Mungkin ada baiknya sekali-sekali mereka yang suka cosplay atau yang senang 
dengan komik jepang (manga) kita perkenalkan juga dengan komik asli indonesia, 
karena saya juga diksusi dengan anak saya kenapa gak bikin cosplay dari  
komik-komik indonesia juga.
  Dia agak bingung juga dia bilang  belum pernah ada kayaknya sih.... 
   
  Thanx
   
  

Reza Ervani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Assalamu alaikum, 
Nyambung diskusi tentang Naruto.
Saya jadi bertanya-tanya, ada nggak ya karakter tokoh fiksi yang 
bener-bener asli Indonesia dan pantas untuk diceritakan ke anak didik 
atau anak kandung kita ?

Dulu waktu SD-SMP-SMA ada beberapa buku yang akrab dengan penulis. 
Misalnya Wiro Sableng, Dewa Arak, Pendekar Rajawali Sakti, Gatotkaca 
yang memang ditulis oleh penulis asli Indonesia. Apakah tokoh-tokoh 
ini lebih baik untuk diberikan kepada anak didik dibandingkan tokoh-
tokoh asing semacam Avatar Aang dan Naruto ?

Waktu kecil pula penulis mulai membaca buku-buku karya Asmaraman Kho Ping Hoo 
yang ceritanya panjang-panjang. Ada kemiripan antara cerita-cerita silat Kho 
Ping Hoo dengan cerita-cerita anima dan manga yang ada di TV-TV saat ini. 
Bagaimana pula dengan ini ? Apakah ia sesuatu yang tidak boleh dikonsumsi pula 
oleh anak usia dini ?

Selain itu ada pula buku-buku Hans Christian Anderson yang juga akrab 
dengan masa kecil kami, yang rela bersepeda ke perpustakaan setempat. 
Belakangan baru penulis dapati bahwa ternyata buku-buku HCA ada 
refleksi dari kehidupan pribadi HCA yang tersingkirkan dari kehidupan 
sosial. Inilah yang menyebabkan tokoh-tokoh dalam dongeng-dongeng HCA 
mewakili karakter terasingkan, seperti Ugly Duck (Bebek Buruk Rupa) 
Thumbelina. Beberapa kritikus juga mengatakan bahwa dongeng-dongeng 
HCA terlalu sadis untuk dikonsumsi anak-anak. Bagaimana pendapat 
anda ?

Selain itu ada buku-buku favorit lain masa kecil seperti TINTIN, 
Asterix, SMURF, Tiger Wong, Pukulan Geledek dll.

Alhamdulillah, ketika masih sangat kecil pula, penulis mulai membaca 
buku-buku sastra lokal seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah, 
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (HAMKA), Salah Asuhan, Siti Nurbaya 
(Marah Rusli) dan lain-lain. Ada pula fiksi asing yang diterjemahkan 
seperti MUSASHI dan buku-buku dari SIDNEY SHELDON.

O ya, yang juga jadi favorit waktu itu adalah kisah-kisah Kang Poirot-
nya Agatha Christie, juga Sherlock Holmes-nya Conan Doyle. Hmmm, 
masuk juga dalam daftar Lima Sekawan, Tiga Serangkai (yang waktu itu 
menginspirasi kami ketika kelas 3 SD untuk membuat klub detektif 
cilik)

Kesimpulannya, perlukah kita membatasi bacaan anak-anak kita ? Atau 
biarkan mereka membaca semuanya ? Lalu ajak ngobrol asyik tentang 
bacaan-bacaan itu. Tentu saja ortu atau gurunya juga harus gila baca.

Bagaimana pula dengan tokoh-tokoh Islam yang agak sulit menjadikannya 
dalam bentuk komik atau animasi karena alasan-alasan fiqh.

Atau bagaimana ?

Salam,
Reza Ervani

--- In rezaervani@yahoogroups.com, helmi purwanti <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Assalamualaikum Wr, Wb
> 
> Kalau komik, di indonesia juga udah ada dari dulu, saya dulu salah 
satu penggemar komik indonesia, dulu komik yang terkenal sih judulnya 
Si Buta dari Gua Hantu, trs ada juga pengarang komik yang terkenal 
namanya Yan Mintaraga, nah sekarang kayaknya komikus indonesia udah 
pada kolaps kalah sama manga dari jepang.....kalau mau lihat2 komik 
indonesia coba ke JL Pagar Gunung Bandung, di Komik Corner. thnx
> Wassalam
> 
> jang_adit <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Assalamu'alaikum wr. wb.
> 
> Sebelumnya saya mau bilang kalo semenjak kecil saya seneng ama 
manga
> dan anime. Sejak saat itu pun saya jadi seneng ngegambar ampe-ampe
> waktu SMP pernah bikin komik, ya tentunya komik jepang alias
> manga.Kata pengamat komik kayak toni masdiono atau lee julian, 
kartun
> jepang itu paling simple konsepnya, jadi amat mudah diterima oleh
> masyarakat. Nggak kayak komik-komik lain (amrik, cina, korea ataw 
indo).
> 
> Nggak cuma itu seh!!! dari naskah-naskah komik jepang, saya juga
> nemuin insight-insight yang inspirational dan menurut saya itu 
cukup
> mendidik. Di jepang sendiri komik dan anime adalah 'makanan'
> sehari-hari anak-anak jepang. Dan ini cukup menjadi alasan bagi
> mangaka (komikus jepang) untuk bikin cerita yang mendidik dan
> inspirational.Meski banyak adegan perkelahian, sense yang terasa
> justru adalah leadership, persahabatan, kesetiaan, kebaikan dan
> nilai-nilai positif lainnya.
> 
> Well, anime memang amat mudah diterima di masyarakat kita. Sekarang
> saya tanya, berani nggak bikin anime ala Indonesia? tentunya anime
> yang mendidik dan nggak kalah berkualitas!!! Ataw seenggaknya, 
komik
> atuh lah!!! 
> 
> Kalo cuma menjadi penilai, kapan umat Islam bisa bangkit! Kita 
butuh
> banyak kreator di banyak bidang...
> 
> Hatur nuhun nya! Wilujeng!
> 
> Wassalamu'alaikum wr. wb.
> Adit
> 
> --- In rezaervani@yahoogroups.com, helmi purwanti <helmipurwanti@>
> wrote:
> >
> > Assalamualaikum,
> > 
> > Memang sulit menjaga dan mengarahkan anak2 jaman sekarang, 
dengan
> adanya komik-komik jepang dan film kartun jepang banyak keanehan2,
> anak saya yg paling besar hampir setiap bulan ikut cosplayatau
> harajukuan dia ikut festival pakai baju-baju kartun jepang dg gaya2
> nya segala dan pakai baju-baju dengan mengikuti trend mode di 
jepang,
> ada segi positifnya, dia jadi kreatif juga, tapi udah satu kain 
sprei
> ku jadi korban dibikin baju, yaaa kalau untuk kretaifitas gak
> apa-apalah,,, tapi kalau untuk Naruto versi xxx, hiiii serem juga,
> gimana niiih temen-temen di rezaervani ??? sekali-sekali bikin 
event
> budaya kita dengan melibatkan anak-anak SMA gitu?? biar mereka tahu
> budaya sendiri dan budaya kita gak sembarangan diambil negara lain.
> thanx , Wassalam
> > 
> > halley witheart <halley_phetry@> wrote: 
> wa'alaikumsalam
> > 
> > sekedar kasih info
> > demam "Naruto" memang banyak merajalela,..termasuk di sni
> > kalau ahad .. ada saja anak anak yang saya kira belum baligh 
datang
> ke sini cuma untuk cari info tentang naruto atau cheat gamenya,atau
> apalah..macem2
> > 
> > dan yang mengejutkan adalah ada saja anak yang membuka 
site "Naruto"
> versi XXX ....yah saya kira anda semua paham maksud saya...
> > kaget..saya sampai berpikir darimana mereka bisa tau tentang site
> XXX apalagi yang dijadikan bahan adalah tokoh kartun yang ada dalam
> "Naruto" kesayangan mereka tersebut,...tak saya pungkiri,sebagai 
kuli
> warnet saya memang sering me-monitor apa yang dilakukan oleh
> client,terutama bila yang datang dan duduk adalah anak-anak
> > 
> > tidak ada yang berfaedah dari hal itu,selain 
fantasy,kekerasan,juga
> lebih pada sifat melalaikan,terutama pada anak..
> > 
> > Ingat,anak itu amanat,dan generasi penerus,jadikan dia aktif,dan
> positive..bukan membiarkan mereka dalam ke-asyikan yang 
melalaikan,..
> > 
> > maaf hanya masukan saja,saya pun belum jadi orang tua,tapi saya
> prihatin...
> > 
> > wasslm.
> > 
> > (Halley)
> > 
> > 
> > 
> > Nurul Dwi <nurul.dwi@> wrote:
> > 
> > Assalamuálaikum,
> > Sekedar sharing tentang Naruto. 
> > Keinginan kuat utk menonton naruto juga dialami oleh keluarga
> sepupu saya. Awalnya sang ibu tidak terlalu mengerti naruto seperti
> apa. apakah sama seperti Avatar salah satu favorit sepupuku itu dan
> juga favorit si bunda. Sehingga dibiarkannya utk menonton tanpa
> ditemani bundanya. Akhirnya si anak mengajak nonton bersama sang 
bunda
> dan kebetulan tayangannya adalah pembunuhan keluarga dan 
diperlihatkan
> pedang dan darah dalam kartun tsb. Pembunuhan itu dengan alasan
> pembuktian kalau dia itu hebat oleh salah satu karakter kartun tsb.
> Bunda pun langsung lemes dan mengalihkan ke channel lain. Tentu 
saja
> si anak protes keras dan marah. Bundanya hanya bilang kartun tsb 
tidak
> baik, karena memberi contoh a, b, c dan akan memberi efek a, b, c,
> dan d, plus iming2 bukan anak yg soleh jika meniru spt mereka. 
Namanya
> juga anak2, penuh janji manis tidak akan meniru mereka asal tetap
> boleh nonton. Bundanya hanya tersenyum, dan akhirnya keesokan 
harinya
> sang bunda mendisiplinkan dirinya
> > utk ikut pergi ke mesjid shalat magrib dan berdiam diri beserta
> anak2nya sampai shalat isya selesai. Akhirnya sang anak pun lupa
> dengan narutonya, malah sibuk bermain dengan teman2nya dibawah 
bulan
> setelah mengaji sambil menunggu shalat isya. Sang bunda, tetap 
dengan
> setia menunggu mereka dimesjid sambil berusaha menghatamkan alquran
> dan melihat apakah mereka bermain2 sewaktu shalat berjamaah atau 
mulai
> serius mengikuti imam. 
> > 
> > Wassalam
> > DN
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ---------------------------------
> > 
> > From: rezaervani@yahoogroups.com
> [EMAIL PROTECTED] On Behalf Of fiyan arjun
> > Sent: Thursday, January 17, 2008 12:37 PM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Cc: [EMAIL PROTECTED]; 
rezaervani@yahoogroups.com
> > Subject: [rezaervani] [ARTIKEL] Aku Ingin Jadi Naruto, Om !
> > 
> > 
> > AKU INGIN JADI NARUTO, OM!
> > 
> > Fiyan Arjun
> > 
> > 
> > Saya adalah seorang Om yang cukup banyak memiliki keponakan yang
> cukup nakal. Seperti Paman Donal Bebek saya mengumpamakan diri 
saya.
> Memiliki keponakan yang nakal semacam Kwik, Kwek dan Kwak. Para
> keponakan yang nakal, tapi juga perhatian dan memberi semangat 
kepada
> sang paman jika sedang mengalamai kesusahan.
> > 
> > Sementara saya sebaliknya. Sering kali mengernyitkan dahi. 
Apalagi
> keponakan saya yang satu ini yang masih berusia 6 tahun dan duduk
> dibangku kelas 2 SD. Memang saya ini mempunyai bermaca-macam 
keponakan
> dalam berbagai usia.. Paling besar usianya berumur 16 tahun, duduk 
di
> bangku kelas 2 SMEA dan yang paling kecil, ya itu tadi yang masih
> duduk di bangku SD kelas 2 SD.
> > 
> > Nah, keponakan saya inilah yang paling nakal dan susah diatur 
oleh
> saya sebagai Om-nya. Selain itu keponakan saya ini berani sekali 
sama
> orang lain.
> > 
> > Suatu hari ketika saya sedang main ke rumah kakak perempuan
> saya—memang kalau saya habis ke rumah kawan saya atau pergi ke toko
> buku pulangnya pasti mampir ke rumah itu. Rumah kakak perempuan 
saya.
> Ya, walau hanya sekedar melihat-lihat keadaan keponakan-keponakan 
saya
> itu. Maklumlah namanya juga OM yang selalu peduli terhadap
> perkembangan keponakannya.
> > 
> > Namun ada yang membuat saya bikin narik urat ketika saat saya 
ingin
> ke rumah kakak perempuan saya, yakni ketika tanpa sengaja saya 
melihat
> keponakan saya sedang asyik main Playstation (PS) Naruto dan CS-nya
> itu bersama kakaknya di rental viodeo game online yang tidak jauh 
dari
> rumah kakak perempuan saya. Karena sebagai seorang OM yang 
bertanggung
> jawab terhadap keponakannya, saya menyuruh mereka pulang.
> > 
> > "Pulang, yuk! Om, bawa jeruk nih buat kamu," ujar saya membujuk
> mereka agar mau menuruti apa yang saya katakan. Namun upaya saya
> membujuk mereka tidak membuahkan hasil. Menolak diajak pulang! 
Malah
> mereka lebih fokus meneruskan PS tanpa menggubris perkataan saya.
> > 
> > "Nggak ah, Om! Enakan main PS!" tukasnya kompak. Antara kakak-
adik
> saling mendukung.
> > 
> > "Lho, emangnya kalau nanti sudah besar kamu mau jadi apa sih?"
> Tanya saya melihat tingkah mereka yang membuat saya jadi bete dan 
ilfil.
> > 
> > "Ya, Izal mau jadi Naruto, Sasuke, Kakashi, Lee serta mau jadi
> pasukan Hokage," jawab keponakanan saya yang paling kecil seenaknya
> tanpa aling-aling dan tanpa mengerti. 
> > 
> > "Iya, Om Amri juga ingin seperti mereka," timpal kakaknya yang
> masih duduk dibangku SD duduk dikelas 6 SD itu. Ikut menimpali
> pertanyaan saya sambil menujukan gambar Naruto dengan CS-nya di 
cover
> kaset viodeo game.
> > 
> > Mendengar jawaban dari mereka berdua saya jadi terkejut ketika 
> mereka menyembutkan nama-nama tokoh di film kartun yang ditayangkan
> tiap regulernya seusai adzan Maghrib itu dan juga di relay pagi 
hari
> saat mereka mau berangkat sekolah yang menjadi idola dadakan mereka
> sekarang. Lalu apa yang saya lakukan saat itu? Saya hanya bisa
> termangu ketika para keponakan saya menjawab seperti itu. "Kok 
bisa ya
> mereka tahu nama-nama film kartun itu yang saban hari ditayangkan 
usai
> Maghrib itu di televisi swasta. Film kartun Naruto dan kawan-
kawanya
> itu," pikir saya saat itu.
> > 
> > Bukannya apa-apa saya takut mereka akan terpengaruh yang tak 
baik.
> Memang sih film kartun itu sering saya tonton juga. Makanya saya 
tahu
> apa yang mereka katakan. Tapi yang membuat saya miris dan merasa
> bersalah yakni mau jadi apa mereka nanti kalau sudah besar nanti? 
Toh
> kalau sering bermain dan menyaksikan film kartun itu terus-terusan
> yang tak memberi manfaat dan tak ada gunanya!
> > 
> > Padahal orangtua mereka notabene kakak perempuan saya juga 
sudah
> melarang bermain PS serta memarahinya tapi tetap saja mereka
> membandel. "Diangkat pena dari tiga golongan: orang yang tidur 
sampai
> ia bangun, orang gila sampai kembali akalnya atau sadar, dan anak
> kecil hingga ia besar." (HR. Abu Dawud). Entahlah, saya juga tidak
> bisa terlalu insten mengawasi mereka. Selain rumah saya dan tempat
> tinggal kakak perempuan saya itu pun cukup jauh –dengan dua kali 
naik
> angkot. Ya, namanya juga anak-anak, begitu tingkahnya kadang 
membuat
> kening berkerut! Entahlah saya sendiri juga belum bisa merasakan
> bagimana menjadi seorang ayah yang sebenarnya!
> > 
> > "Izal dan Amri mau jadi pasukan Hokage, Om?" lanjutnya.
> > 
> > "Duh Gusti!"
> > 
> > Ulujami, Januari 2008
> > 
> > 
> > 
> > ---------------------------------
> > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with 
Yahoo!
> Search.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ---------------------------------
> > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! 
Mobile.
> Try it now.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ---------------------------------
> > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>



                         

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.