abdulloh .
Tue, 11 Mar 2008 09:39:05 -0700
Menimbang Sastra Islam Masa Kini = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = By : Abdulloh
Sejak dibukanya keran kebebasan di kalangan umat Islam Indonesia di penghujung kekuasaan Soeharto. Umat mengalami -meminjam istilah eep s. fattah- ledakan partisipasi dalam berekpresi. Dimotori oleh kemunculan ICMI-nya Habiebe, muncul wacana "islamisasi" dalam beragam hal, yang seringkali dipersepsikan oleh golongan nasionalis dan non-muslim sebagai ancaman bagi keutuhan NKRI, akibatnya mereka merasa perlu membuat organisasi tandingan seperti ICI atau Ikatan Cendikiawan Indonesia -jadi inget merk cat ternama- yang dipelopori oleh jendral gaek Edy Sudrajat (almarhum). Nah, pendirian ICMI dengan ketuanya Habibie menjadi milestone era keberpihakan Soeharto terhadap umat Islam Indonesia saat itu. Dalam banyak hal keberadaan ICMI cukup mendukung apirasi Umat Islam Indonesia setidaknya agenda pengganyangan SDSB, penghentian larangan berjilbab di lembaga pendidikan dan pemerintahan dapat terealisasikan. Yang menarik pada kurun ini adalah mulai kendornya pengawasan intel terhadap menjamurnya penerbitan-penerbitan majalah islami baik yang radikal seperti sabili maupun yang soft dan berorientasi pada aspek kewanitaan seperti : ummi, annida, dsb. Di tengah kegersangan bacaan di kalangan aktivis muslim / muslimah yang jumlah semakin menjamur di perbagai kampus dan sekolah negeri di Indonesia. Keberadaan media ini bisa menjadi sarana eskapisme diri terhadap realitas sekeliling yang cenderung tidak ramah dengan idealisme keislaman yang mereka terima dalam setiap kegiatan liqa. Sang Tokoh Idaman Hal yang menarik dalam perkembangan media Islam saat itu adalah kehausan terhadap tokoh yang dapat diidolakan sebagai cermin pengajaran ideal al-Islam. Khususnya bagi mereka yang mengalami penyadaran akan keislaman justru ketika usia beranjak remaja (slta-mahasiswa). Aktivis muslimah (untuk selanjutnya disebut akhwat) seperti halnya kaum wanita yang lain mengemari cerita mengenai kehidupan yang romantis yang acapkali hanya didapati dari dongeng, novel, ataupun film. Sayangnya saat itu (dan bahkan kini) media (majalah, novel, filem, dsb) didominasi oleh bacaan yang tidak islami (sekuler?) yang dalam jangka panjang dapat mewarnai proses pembentukan kepribadian yang bertentangan dengan nilai-nilai Islami yang mereka yakini. Kemunculan Annida menjadi salah satu oase di tengah kegersangan media bacaan yang ada. Menawarkan fantasi romantisme dengan tokoh (pria -tentunya) yang diidamkan yang memiliki ketinggian aqidah dan akhlaq mendekati maqam malakiyah. Menariknya adalah tulisan-tulisan cerpen Islami dalam majalah2 muslimah didominasi oleh tokoh-tokoh rekaan yang itu-itu saja. Tokohnya secara visual diidentifikasikan ganteng (ya iyalah kalo berfantasi aja udah jelek gimana nanti kenyataannya), cerdas, periang, selalu tersenyum, dan ramah. Kita ambil contoh salah satu kutipan dari cerpen "Ketika Mas Gagah Pergi" karangan HTR. "..... Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Teknik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja… ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA...." Gambaran tokoh seperti Mas Gagah hampir selalu bermunculan dalam artikel-artikel "pink" di majalah wanita Islami dan sulit sekali menemukan sang tokoh yang memiliki identifikasi fisik yang tidak menarik sebagai jagoan. Satu tambahan lagi rata-rata tokoh digambarkan sebagai seorang aktivis mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi tsb adalah UI! Umumnya tokoh selalu berasal kalau tidak dari fakultas kedokteran, ya dari fakultas teknik. Jarang yang berasal dari FMIPA walau kenyataannya fakultas ini dijuluki pesantrennya UI... mungkin karena masa depannya dianggap kurang menjanjikan he he :-) Hal yang menggelitik saya adalah sang tokoh idola selalu ditafsirkan memiliki senyum sangat menawan mungkin setara dengan Adam Jordan bintang iklan pasta gigi Pepsodent yang membuat para akhwat jadi mabuk kepayang. "... ia memiliki senyum yang menawan. Bahkan ketika mas roni terdiam, orang yang berpapasan dengannya pasti akan tersenyum mengangguk. Terkadang mas roni heran mengapa banyak orang tersenyum dengannya padahal ia merasa tidak memberikan senyuman ataupun menyapa orang tsb. Mas Roni itu nggak sadar terhadap anatomi bibirnya yang mengesankan dirinya sedang tersenyum dengan orang lain, bahkan ketika ia sedang terdiam..." Luar biasa bukan... dalam beberapa artikel sang tokoh dijelaskan secara lebih mendetil sesuai dengan gambaran seorang ikhwan ideal seperti : berjenggot tipis, bertas ransel, dan mengenakan baju koko. Atribut-atribut ini bahkan menjadi asesoris yang acapkali bisa membuat kebingungan sidang pembaca untuk menebak keberpihakan dan keislaman sang tokoh bila ia tidak didapati pada diri sang tokoh. Tak ada hal yang berat yang dimunculkan dalam artikel-artikel pink yang islami ini. Sang tokoh digambarkan lurus-lurus aja dalam menempuh pergulatan kehidupan, sang tokoh sudah hanif dari sononya... atau kalau ia bergajulan maka **BLAM** sebuah kisah tragis dan traumatis yang singkat mengubahnya menjadi seorang yang hanif dan ruhi. Tak ada pergulatan pemikiran, tak ada kegamangan keyakinan semuanya terjadi mengalir dengan sederhana memuaskan fantasi ideal sang tokoh khayalan.. maka Fahri -Ayat-ayat Cinta- adalah wujud sempurna sang tokoh idaman. Sejatinya justru alur cerita ini yang memang diinginkan oleh konsumen dan juga tujuan dari majalah islami ini adalah mencoba mendekatkan gambaran ideal tokoh pujaan ke dalam hati yang sulit didapati dalam realitas kehidupan. Tentu memang bukan pengayaan wacana yang dituju tapi emosi keagamaan itulah yang ingin digapai. Dalam hal ini media tsb telah berhasil. Sastra Islam di era Buya Hamka Saat ini para sejarawan dan sastrawan berdebat apakah penulis AAC (Ayat-Ayat Cinta) dapat disejajarkan dengan maqam Buya Hamka seorang ulama besar yang sastrawan. Dari perdebatan yang muncul selalu bermuara pada kesimpulan bahwa belum saatnya sang Habib ditempatkan di sepatu yang pernah abuya kenakan di masa lalu. Memang ada benang merah yang dapat ditarik dari hasil karya kedua orang tsb, yakni : kandungan nilai-nilai islami yang tersirat dalam setiap karyanya. Namun yang membedakan sang buya dan sang habib adalah begitu dekatnya sang tokoh rekaan abuya dengan realitas kehidupan sehari-hari. Sebagai gambaran mari kita ambil contoh karya abuya yang cukup fenomenal yaitu "dibawah lindungan kabah". Tokoh utama "Hamid" digambarkan sebagai orang yang berparas kurang menarik, lahir dari keluarga miskin dimana sang ayah telah tiada, dan kehidupan keluarga ditopang oleh ibunya yang berdagang pisang goreng. Hidup di masa mudanya sebagai jongos pada keluarga kaya yang kebetulan berbaik hati menyekolahkannnya untuk sekedar menemani sang anak gadis majikan bersekolah. Mungkin dari segi cerita, semua kisah cinta sama aja... he he :-) singkat cerita Hamid jatuh cinta, sedangkan Hamid selalu menafikan hatinya karena status dan kekayaan yang jauh berbeda. Tak kuasa menahan beban asmara ia pergi dan bermuqim di mekkah. "Memang anakku, … cinta itu adil sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia dalam keadilan, tidak memperbedakan-bedakan diantara raja-raja dengan orang minta-minta, tiada menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang hina dengan orang mulia, bahkan kadang-kadang tiada juga berbeda baginya antara bangsa dengan bangsa. Tetapi aturan pergaulan hidup, tidak membiarkan yang demikian itu berlaku. Orang sebagai kita ini telah dicap dengan derajat bawah atau orang kebanyakan, sedang mereka diberi nama cabang atas, cabang atas ada kalanya karena pangkat dan ada kalanya karena harta benda…"(hal.22 ), Nah dari sinilah kisah bermula... sampai di mekkah Hamid bertemu dengan seorang wanita yang ikut pergi haji bersama suaminya. Kebetulan sang wanita tsb adalah kawan akrab Zaenab, dari sini mulailah Hamid dan Zaenab bertukar surat... semua kisah cinta dendam dan rindu ditulis indah dalam jalinan surat-menyurat antara Hamid dan Zaenab yang konon dalam novel ini abuya turut berperan menjadi salah satu figuran yang mendengarkan penuturan sang tokoh akan kisah cintanya. Yang akhirnya sang tokoh meninggal di bawah terpal kain pelindung kabah manakala tahu Zaenab pujaan hatinya telah wafat karena penyakit, dalam kesabarannya menanti Hamid kembali pulang. ".... Dibawah lindungan Ka'bah Hamid bersimpuh diri atas segala permasalahan batinnya, berharap pertolongan ada kekuatan untuk tegar menghadapi kenyataan pahit ini. Sampai akhirnya dia tahu cintanya selama ini ternyata dirasakan juga oleh Zaenab. Tapi itu semua sudah terlambat, karena dua tahun berpisah adalah waktu yang lama bagi mereka, sampai akhirnya terombang-ambing dalam kerindunan tanpa akhir. Hingga ajal yang mengakhiri..." Hamka mengakhiri kisahnya dengan cara yang tidak populer, kedua tokoh meninggal dunia! Mungkin bukan cara yang ingin dibaca oleh konsumen cerpen ataupun novel islami masa kini. Tapi cara Hamka menuturkan kisahnya sungguh luar biasa, bagaimana surat-menyurat antara Hamid dan Zaenab dapat begitu hidup. Tak banyak penulis mampu untuk menjadikan aktivitas surat-menyurat kedua tokoh yang terpisah oleh ruang yang jauh menjadi kisah yang menarik untuk dibaca. Nampak jelas kedalaman novel "dibawah lindungan kabah" , abuya tidak terjebak dalam visualisasi tokoh serba sempurna dimana sang tokoh mendekati qualitas malakiyah. Tidak pula menuliskan suatu kisah yang hampir muskil dimana seorang pria digila-gilai oleh empat wanita yang cantik2 belaka yang bersedia untuk dipoligami. Hamid berbeda jauh dengan Fahri... Hamid adalah kisah pria tidak menarik, namun sederhana, soleh cukuplah, dan miskin... yang jatuh cinta dengan gadis cantik yang kaya-raya. Walaupun keduanya mencintai.. toh akhir cerita tidak selalu berada dalam "mahligai istana" kebahagian. Disini Hamka menyadari betapa sulit bagi keduanya untuk saling bersatu.. dan ia tidak memaksakan akhir cerita yang indah dimana Hamid-Zaenab mampu menghancurkan halangan tsb. Karena sememangnya itulah kenyataan yang umum terjadi di masa abuya beranjak dewasa. Menggagas Sastra Islami yang Penuh Vitalitas Sastra islami Indonesia saat ini terjebak dalam retorika sempit sebagai antitesis sastra "cabul" yang dimotori oleh para aktivisi feminisme. Akibatnya muatannya terkesan dipaksakan.. terjebak dalam kalimat-kalimat verbal yang membosankan yang kerapkali diulang-ulang sebagai dalil pembenaran. Sejatinya nilai tidak harus selalu dieksplisitkan dalam bentuk kalimat, ia bisa tersirat dalam cara berpikir dan bertindak. Tidak harus selalu hitam-putih dan penuh stigmatisasi, karena pembaca saat ini cukup cerdas menebak "petunjuk" yang diberikan oleh penulis. Sang tokoh tidak harus dari sononya bersih ataupun ruhi... tidak harus tiba-tiba jadi alim karena kejadian traumatis seketika... buat saya itu plot basi banget. Sastra islami seharusnya penuh vitalitas, tidak semata membangkitkan emosi religiusitas yang dibangkitkan dengan penggambaran hitam-putih kehidupan dan stigmatisasi. Tapi juga memberikan pencerahan bagi akal, sebaiknya sang tokoh menghadapi pergulatan dalam kehidupan, pergulatan bisa macam-macam : pergulatan karena kemiskinan, pergulatan intelektual, pergulatan keyakinan, yang kemudian mengarahkannya pada sebuah titik terang kebenaran. Sang tokoh tidak harus selalu menjadi pemenang. Ia boleh kalah, kalah dalam membela kebenaran, kalah dengan bermartabat, atau kalau perlu kalah dengan tangan terkepal. Karena sejatinya mereka yang kalah lebih banyak dari yang menang, mereka yang gagal lebih banyak dari yang berhasil. Yang membedakannya adalah bagaimana ia kalah... kalah dalam membela kebenaran, kalah dalam menjaga martabat diri, atau mungkin kalah dalam mempertahankan tauhid. Penutup Sastra islami seharusnya tak takut untuk berdialektika. Sebagaimana abuya hamka fasih mengutip ayat quran dan hadits, ia fasih pula mengutip kalimat bersayap sastrawan besar Leo Tolstoy. Menghujah dengan penguasaan balaghah dan mantiq yang indah, sekaligus sempurna mematahkan wahm materialisme dengan logika aristotelian. Seratus tahun sudah usia Hamka kini, namun mungkin 1000 tahun lagi anak-cucu kita masih merapal namanya dengan takjub. Di saat kita kini sibuk memberikan stigma negatif terhadap non-muslim dan sesama muslim. Hamka meluaskan pandangan kita untuk bagaimana menjadi muslim yang sekaligus menjadi warga dunia. ^ Pencinta sastra islam, pengagum Buya Hamka, dan berupaya menjadi warga dunia yang islami" Abdulloh = = = = = The Integrated IT Career Services - http://www.jobitcom.com