sarikata  

[Sarikata.com] Maksud saya bukan itu :) DUA WAJAH TUHAN

Prayudi
Wed, 06 Apr 2005 19:47:29 -0700


Salam.

Pak Teguh, terima kasih banyak atas tanggapan2 anda. Terus terang saya
paling asik kalau diajak diskusi model begini. :)

Kalau bisa yang lain juga ikut nimbrung dong...

Langsung aja ya. Terdapat perbedaan yang jauh sekali dari apa yang saya
tulis dengan pendapat anda. :)

Dari apa yang saya tulis, dapat ditarik pengertian sbb.:
Kita berusaha menyiapkan potensi/kadar (takdir), lalu barulah Tuhan
menetapkan (definitif qadha-Nya). Jadi pertama manusia berusaha, kedua
baru Tuhan menetapkan.

Sedangkan apa yang saya tangkap dari kata2 Anda adalah sbb:
Tuhan menetapkan, lalu kita berusaha mengusahakan/mengejar/meraih
ketetapan-Nya itu. Jadi pertama aksi Tuhan, kedua baru manusia.

(Oh ya, masalah urut-urutan aksi di atas mohon dipahami sebagai
urut-urutan waktu dari sudut pandang manusia sbg makhluk. Karena tentu
Tuhan tdk terikat oleh ruang dan waktu yang merupakan ciptaan-Nya). -->
Pada poin ini harus diingat bahwa MENGETAHUI tidak sama dengan
MENETAPKAN. Maksudnya, karena Tuhan tidak terikat ruang dan waktu maka
seluruh kejadian dari awal penciptaan sampai akhir nanti telah
diketahui-Nya (terminologi 'telah' pun sebetulnya tidak tepat
dinisbahkan kpd Zat Yang Tak Terikat waktu). Tapi bukan berarti Dia
menetapkan semuanya untuk manusia sedari awal penciptaan. (Sekali lagi,
kata 'sedari awal' harus dilihat dari sudut pandang makhluk).

Nah, bila pendapat anda valid, maka akan ada banyak masalah filosofis
yang tak terpecahkan. Misalnya, kalau Tuhan telah menetapkan batas umur
kita, misalnya 30, maka tak peduli seberapa baiknya kita menjaga
kesehatan dll., paling banter kita hanya sampai umur 30. Lalu buat apa
ada doa panjang umur, misalnya? Doa banyak rezeki? Banyak anak?
Bagaimana dengan jodoh?
Kalau dikatakan: dengan doa, Tuhan bisa mengubah ketetapan yang telah
dibuat-Nya. Nah, ini berarti--bila mengikuti alur pendapat
anda--ketetapan final Tuhan baru ada setelah usaha2 manusia, termasuk
doa itu tadi. Ya ini berarti pertama aksi manusia, baru aksi (ketetapan)
Tuhan.

Salah satu pertanyaan yang lebih mendasar: atas dasar apa Tuhan
menetapkan hidup, mati, jodoh, dan rezeki manusia? Kalau anda menjawab
atas dasar kewenangan dan kuasa-Nya semata, maka selesai sudah diskusi
ini. Seperti saya bilang di awal, terlebih dulu kita harus menyepakati
prinsip keadilan Tuhan (juga kebenaran janji-Nya).
Satu pertanyaan sederhana: Kok orang atheis banyak yang sukses secara
material, banyak rezekinya? Berarti (bila pendapat anda valid) paling
tidak Tuhan telah menetapkan plafon rezeki yang tinggi buat mereka. Itu
kan nggak adil. :)

Berarti betapa pun kerasnya kita berusaha, ada batas2 tertentu yang
tidak bisa dilampaui karena telah ditetapkan Tuhan.
Taruhlah si A bekerja di ranah pencarian rezeki dengan kadar (takdir)
100%, pol. Tapi Tuhan sebelumnya telah menetapkan plafon sebesar Rp
100.000. Maka dia Cuma akan dapat segitu.
Sementara si B yang agak malas, bekerja di ranah pencarian rezeki dengan
kadar 20%. Tapi Tuhan sebelumnya telah menetapkan plafon sebesar Rp 1
milyar. Maka dia akan dapat Rp 200 juta!
Wah, Tuhan nggak adil nih, alias zalim. :)

Lagipula, kalau Tuhan Mahakuasa (ini juga terlebih dulu harus kita
sepakati), maka ketetapan-Nya tidak bisa berubah atau bergeser sedikit
pun. Bila ketetapan Tuhan bergeser karena manusia (entah itu karena
usaha manusianya yang kurang dalam mengejar "jatah"-nya atau karena
sebab lain), maka betapa kerdil kuasa-Nya.
Bila ketetapan-Nya Dia ubah sendiri, maka Tuhan plinplan dong. :)

Pernyataan anda:
>>Dan ngak menutup kemungkinan juga bila Tuhan memang telah
men-takdirkan dia untuk meninggal lewat jalan bunuh diri.

Komentar saya: Astagfirullah. Not my God! Waduh, iki piye toh? Zalimnya
Tuhanmu... :) kalaupun telah ditetapkan demikian, orang yang bunuh diri
tidak bisa diganjar dosa, kan yang menetapkan Tuhannya sendiri. Padahal
dalam syariat telah ditetapkan general bahwa semua orang yang bunuh diri
itu dosa. Tidak ada pengecualian, misalnya kecuali yang telah ditetapkan
Tuhan untuk bunuh diri. :) Waduh! Nanti kalau ada orang yang berzina,
lalu dia mau dihukum dera, dia bisa berdalih: lha wong saya sudah
ditetapkan Tuhan untuk berzina kok. Nah lho! :) Itu kan sama saja
seperti pemerintah melarang pelacuran tapi di sisi lain memerintahkan si
A yang merupakan warganya untuk menjadi pelacur. Wah!


Pernyataan anda: Betul, Tuhan itu diktator, Tuhan itu ngak akan pernah
bisa dibantah, disangah , dicela Pencemburu, dan Maha Kuasa. Hanya Allah
yang tahu kenapa orang atheis lebih banyak di limpahi rejeki didunia ini
(dunia hanya tempat persinggahan saja)

Komentar saya: Waduh, waduh. :) Betul, Tuhan nggak akan pernah bisa
dibantah, disanggah , dan Maha Kuasa. Tapi, bila pendapat anda valid,
mengapa ada hal-hal yang bisa terjadi di luar ketetapan-Nya? Misalnya
bunuh diri tadi, atau orang yang tidak bisa mencapai plafon rezekinya.
:)
Jadi tinggal 2 kemungkinan: (1) Tuhan tidak mahakuasa atau (2) memang
Tuhan tidak menetapkan di awal penciptaan. Saya yakin yang kedua yang
benar.

Tuhan memang Mahakuasa. Dia berkuasa bahkan untuk memasukkan Iblis ke
surga dan para nabi ke neraka.
Tapiiiiiiii........
Orang yang saleh TIDAK MUNGKIN alias mustahil dimasukkan ke neraka,
begitu pula sebaliknya. Sekalipun Dia berkuasa untuk itu.
Mengapa?
Sebab janji-Nya adalah menyelamatkan orang2 saleh dari siksa neraka. Dan
Dia melakukan itu atas kehendak-Nya. Bukan karena desakan atau paksaan
siapa pun.
Jadi kalau kita mengatakan bahwa Tuhan MESTILAH memasukkan hamba-Nya
yang saleh ke surga dan MUSTAHIL memasukkannya ke neraka, bukan berarti
kita telah membatasi kekuasaan-Nya. Akan tetapi itu kita katakan karena
kita telah sampai pada keyakinan akan keadilan-Nya dan kebenaran
janji-Nya.

Perlu dicatat bahwa kaum Asy'ariah tidak menyetujui pendapat ini. Mereka
berpendapat bahwa BISA dan MUNGKIN Tuhan memasukkan orang saleh ke
neraka dan sebaliknya. Toh Dia Mahakuasa untuk itu.
Mereka berpendapat demikian agar lepas dari 'jeratan' pengerdilan kuasa
Tuhan sebagaimana yang telah menjerat kaum Mu'tazilah. Tapi
konsekuensinya, kaum Asy'ariah terkena 'jeratan' lain yakni penzaliman
Tuhan (pengingkaran akan keadilan-Nya an kebenaran janji-Nya) dan
determinisme (jabariah).

Pernyataan anda: Satu hal lagi, Tuhan menciptakan sesuatu selalu
seimbang ada keburukan pasti ada kebaikan, dsb

Komentar saya: Tuhan menciptakan keburukan? Not my God! :) Kalau
keburukan itu ciptaan Tuhan, maka pelaku keburukan tak bisa disalahkan
atas sesuatu yang diciptakan-Nya.
Pernyataan yang tepat adalah: Tuhan menciptakan kebaikan. Ketika ada
pahaman kebaikan (pada manusia), maka sebagai KONSEKUENSI-nya ada
pahaman keburukan, yakni yang berlawanan dengan kebaikan. Jadi Tuhan
tidak menciptakan keburukan. Keburukan itu konsekuensi. Kebalikan dari
pahaman kebaikan. Untuk lebih jelasnya, silakan baca buku
INSAN ILAHIAH: Menjadi Manusia Sempurna dengan Sifat-sifat Ketuhanan,
Puncak Penyingkapan Hijab-hijab Duniawi
terbitan Pustaka Zahra.
Hehehehe promosi lagi nih.

Oke segitu dulu. Saya akan posting lebih lagi. Tentang manusia ada yang
terlahir cacat, miskin, dsb. Adilkah? Termasuk tentang keburukan yang
merupakan ketiadaan. Nah, apa lagi nih? :) Tapi saya tunggu dulu
tanggapan dari teman2....


Salam,
Yudi pustakazahra









------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



  • [Sarikata.com] Maksud saya bukan itu :) DUA WAJAH TUHAN Prayudi