satwa  

[Satwa] Kliping Satwa - 19/Aug/02

TerraMilis
Sun, 18 Aug 2002 23:09:18 -0700

Daftar berita terlampir:
* Ketam Kenari (Birgus latro)
* Si Buruk Rupa Tapi Tak Bodoh
* Akibat Abrasi, Separuh Desa Tenggelam
* 29 gajah direlokasi ke habitat alam di Riau
* 2 Gajah Mati setelah Ditangkap Unit KSDA dan Dinas Kehutanan Riau
* Allo yang Penuh Tanggung Jawab


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Ketam Kenari (Birgus latro)
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4732
Ketam kenari termasuk jenis kepiting darat terbesar di antara jenis kepiting lainnya. 
Yang dewasa bisa mencapai berat empat kilogram. Capitnya sangat kuat dan kakinya bisa 
mencapai panjang 75 sentimeter. Ujung kaki tajam sehingga bisa memanjat pohon dan 
bebatuan dengan mudah.
(Suara Pembaruan, 2002-08-18)



Si Buruk Rupa Tapi Tak Bodoh
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4764
Burung gagak ternyata lebih pintar dibanding hewan primata, meskipun simpanse bisa 
membuka kelapa dengan batu, atau anjing laut biasa memainkan bola dengan hidungnya.

Betty boleh saja dibilang 'si buruk rupa'. Karena Betty yang satu ini memang 
betul-betul buruk rupanya. Tapi dia pintar. Malah lebih pintar dibanding 'rekan-rekan' 
sejenisnya.

Tentu, Betty yang satu ini bukan manusia, melainkan seekor burung gagak.
Lazimnya, burung gagak itu bodoh. Tapi Betty -- burung gagak jenis New Caledonian 
(Corvus moneduloides)-- telah membuktikan bahwa ia layak disebut pintar. Malah, dialah 
hewan pertama yang mengerti adanya sebab dan akibat. Tak percaya?
(Republika, 2002-08-18)



Akibat Abrasi, Separuh Desa Tenggelam
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4752
ABRASI sepanjang 500 meter dari bibir Pantai Parappa saat ini menenggelamkan separuh 
daratan Dusun Parappa, Desa Laguruda, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, 
sekitar 70 km dari Kota Makassar. Akibat tenggelamnya sebagian dusun itu, sebuah 
masjid dan 40 rumah harus pindah.


(Media Indonesia, 2002-08-13)



29 gajah direlokasi ke habitat alam di Riau
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4701
Sebanyak 29 ekor gajah liar yang ditangkap tim Unit Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) 
Riau direlokasi ke habitat alaminya di hutan suaka margasatwa yang ada di Riau.


Menurut Kepala Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga Duri, Syahnan ketika ditemui Antara 
di Taman Hutan Raya (Tahura) Sulthan Syarif Hasyim Minas, Sabtu malam, puluhan gajah 
liar itu ditangkap dari areal perkebunan sawit perusahaan swasta pertengahan Juli 
lalu. 
(SatuNet.Com, 2002-08-11)



2 Gajah Mati setelah Ditangkap Unit KSDA dan Dinas Kehutanan Riau
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4759
Dua gajah mati setelah ditangkap Unit Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) dan Dinas 
Kehutanan Riau Juli lalu, penyebabnya diduga karena hewan itu mengalami stres, 
kehausan, dan kelaparan.

Kepala Unit KSDA Riau, John Kenedie kepada Antara di Pekanbaru, Jumat, mengatakan 
kematian gajah itu terjadi setelah ditangkap tim di areal perkebunan sawit milik PT 
Binafitri, keduanya terdiri satu ekor induk dan satu lagi anaknya.

Menurut dia, gajah yang selalu mengganggu areal perkebunan dan masyarakat di lintas 
Petapahan-Minas itu berjumlah 46 ekor. Namun, tim berhasil menangkapnya sebanyak 31 
ekor, 16 ekor di antaranya telah dilepas ke habitat asal di hutan Suaka Margasatwa 
(SM) Rimbang Baling dan SM Kerumutan.
(Media Indonesia, 2002-08-10)



Allo yang Penuh Tanggung Jawab
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4674
MUNGKIN manusia bisa belajar dari perilaku burung allo jantan (Rhyticeros cassidix 
atau Aceros cassidix). Soalnya, burung ini tidak hanya pintar merayu menjelang musim 
kawin-dengan membawa buah beringin (Ficus sp) untuk memikat betina-tetapi juga amat 
bertanggung jawab ketika si betina sudah menjadi induk anaknya.

Perilaku unik terus berlanjut saat bertelur tiba. Begitu allo betina bertelur dan 
bersarang di lubang pohon-pohon besar, sang induk akan mengerami telur sambil menutup 
lubang sarang dengan kotorannya. Dari celah sempit yang tersisa, allo jantan dengan 
setia akan membawa buah kesukaan mereka serta menyuapi betina dan anaknya.

(Kompas, 2002-08-06)



_______________________________________________
Satwa mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/satwa
  • [Satwa] Kliping Satwa - 19/Aug/02 TerraMilis