Ket Kong Bong
Wed, 30 May 2007 13:34:39 -0700
Dear All, Beberapa posting ttg Republik LanFang merupakan artikel yg pernah dimuat di salah satu media cetak di Kalbar. Topik dari artikel itu penting bagi kita sebagai warga keturunanan Tionghoa,Kalbar.Karena cerita diartikel itu merupakan sebagian dari fakta sejarah kedatangan nenek moyang kita ke KalBar.Kedatangan nenek moyang kita ke Kalbar bukan untuk menjajah tetapi untuk memperkuat pertahanan dikawasan itu. Melihat materi ini penting bagi kita,marilah kita menguji seberapa keaslian artikel tersebut.Siapa tahu sebagian dari artikel itu merupakan bahan tulisan orang lain dalam bahasa asing.Penulis hanya menterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kemudian materinya di-edit oleh penulis dan diklaim sbg hasil sebuah research penulis memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Jika kita membaca artikel itu,kita tidak menemukan tanda kutip atau catatan yg menyatakan sebagian materi yang ada didalam artikel itu adalah milik orang lain(atau dengan bahasa sehari-hari barang curian).Kita berkesimpulan artikel itu otentik (termasuk kalimat-kalimat didalam artikel itu,bukan terjemahan materi dari bahasa asing). Untuk itu marilah kita melihat artikel ini: http://www.asiawind.com/hakka/lanfang.htm bandingkan dengan artikel Republik LanFang(1)&(2).Untuk melihat perbandingan artikel tersebut saya highlight bagian-bagian terjemahan dan kopian dari kedua sumber tersebut. He travelled along Han Jiang to Shantao, along Vietnam coastline, and finally landed in Western Kalimantan. The sultan at that time, Panembahan believing that Chinese workers are hard working, brought in 20 Chinese from Brunei. The sultan Omar in Singkawang, also heard about Chinese diligence and use the lease land system to encourage Chinese to explore in his territory Han Jing menuju Shantao, sepanjang pesisir Vietnam, dan akhirnya berlabuh di Kalbar. Ketika itu para sultan maupun panembahan banyak yang percaya bahwa orang Tionghoa adalah pekerja keras. Demikian juga dengan Sultan Omar dari Kesultanan Brunei Darussalam mendengar tentang ketekunan orang Tionghoa memanfaatkannya melalui sistem kontrak lahan kepada orang Tionghoa, guna membuka kawasan. Awalnya 20 buruh Tionghoa dipekerjakan di Brunei. In the beginning of 1740, the Chinese numbered only a few tens. By 1770, the Chinese has grown to 20,000 strong Data Kerajaan Belanda memperkirakan, hanya beberapa puluh saja jumlah orang Tionghoa yang hidup di Kalbar pada tahun 1740. Tetapi 30 tahun kemudian pada 1770, jumlah orang Tionghoa mencapai 20 ribu orang. In 1776, 14 kongsi banded together to form a He Soon 14 Kongsi in order to break the bottleneck of being grouped by area or by blood. At that time Low Lan Pak established his own Lang Fan kongsi. He then united all the Hakkas in the San-Sin lake area and build a Mem-Tau-Er township and made it the headquarter of his united company. Pada tahun 1776, 14 kongsi disatukan dengan membentuk He Soon. Guna menjaga kesatuan dari ancaman persengketaan antar kumpulan, daerah asal dan darah. Pada saat itu, Lo Fang Pak mendirkan Lan Fang Kongsi. Kemudian menyatukan semua orang golongan Haka di daerah yang dinamakan San Shin Cing Fu (danau gunung berhati emas). Selanjutnya mendirikan kota Mem-Tau-Er sebagai markas besar group perusahaan At that time, Kun Tian(Pontianak) which located in the lower stream of Kapuas River was an important commerce area and was controlled by Sultan Abdul Laman. The upper stream of the river is controlled by the Dayaks. Kun Tian neighboring state Mempawah's Sultan tried to build a palace in the upper stream which led to the fighting between the 2 Sultans. Pada masa itu Khin Tian (nama lain Pontianak) yang berlokasi di hilir Sungai Kapuas, merupakan daerah perdagangan yang penting dan dikuasai Kesultanan Kadriah dengan Sultan Abdulrahman sebagai pendiri. Daerah hulu sungai dikuasai oleh orang Dayak. Sedangkan usaha Kesultanan Mempawah yang bertetangga dengan Kesultanan Pontianak, ingin membangun sebuah istana di hulu sungai menyebabkan pertikaian antarkedua sultan tersebut. Terjadilah perang antarkedua negeri itu. The Kun Tian Sultan asked Low Lan Pak for help. Since the palace is being built near the Lan Fang company territory, Low Lan Pak decided to help Kun Tian Sultan and defeated the Mempawah's Sultan Sultan Abdulrahman meminta bantuan Lo Fang Pak, karena bangunan istana yang diributkan berdekatan dengan Lan Fang Kongsi. Lo Fang Pak akhirnya memutuskan untuk membantu Sultan Pontianak dan berhasil mengalahkan Kesultanan Mempawah. The defeated Mempawah's Sultan then joined forces with the Dayaks and launched a counter-attack. Low Lan Pak again defeated Mempawah Sultan and this time marched North all the way to Singkawang. Singkawang Sultan and Mempawah Sultan signed a peace treaty with Low Lan Pak and Low Lan Pak's popularity increased dramatically. He was 57 then. Sultan Mempawah bergabung dengan Dayak melakukan serangan balasan. Namun Lo Fang Pak berhasil menghalau serangan balasan tersebut. Sultan Mempawah sendiri mengungsi ke arah utara, yaitu Singkawang, di mana Ia dan Sultan Sambas menandatangani perjanjian damai dengan Lo Fang Pak. Peristiwa itu secara tak langsung melambungkan nama Lo Fang Pak. Peristiwa perjanjian segitiga tersebut, Lo Fang Pak menginjak usia senja, sekitar 57 tahun After that, Chinese and locals, turned to Low Lan Pak to seek protection, and when Kun Tian Sultan realized that he can not challenged Low Lan Pak, The sultan himself seek protection from Low Lan Pak. Sejak saat itu, orang-orang Tionghoa dan penduduk setempat mulai mencari dan mempercayakan perlindungan kepada Lo Fang Pak. Dengan permintaan tersebut, kekuatan dan prestige Lo Fang Pak makin meningkat Thus, Low Lan Pak established a government, using his company name, changing kongsi(company) to republic, and formed Lan Fang Republic in 1777, 10 years earlier than USA(1787). At that time people wanted Low Lan Pak to be Sultan, but he declined and take the post of governorship, similar to the president post. Ia kemudian mendirikan pemerintahan dengan mengambil nama dari kongsi yang didirikannya. Sehingga nama kongsinya menjadi nama Republik Lan Fang pada tahun 1777, atau sepuluh tahun lebih awal berdirinya republik unitarian federalis, Amerika Serikat dengan George Washington sebagai presiden pertama pada tahun 1787. Masyarakat yang dipimpinnya supaya Lo Fang Pak menggunakan gelar sultan, akan tetapi ditolaknya, dengan memilih sistem pemerintahan kepresidenan The capital was in Ceh Wan Li. The Ta Tang Chon Chang(president) is elected by election. Both the president position and the vice president position has to be of Hakka from Ka Yin or Ta Pu area. The flag is a rectangle yellow flag with the word Lan Fang Ta Tong Chi. The president flag is a triangular yellow flag with the word Chuao (General). The high ranking officials dress in Chinese style while lower ranking officials dress western style clothing. Dalam pemilihan umum pertama, kharisma Lo Fang Pak tak tertandingi dan menjadi presiden pertama Republik Lan Fang. Lo Fang Pak kemudian diberi gelar dalam bahasa Mandarin `Ta Tang Chung Chang' sebuah nama lain untuk sebutan presiden. Konstitusi dari Republik Lan Fang menyebutkan, posisi presiden dan wakil presiden harus dijabat orang yang dapat berbahasa Hakka. Alasannya mayoritas penduduk menggunakan bahasa Hakka. Ibukota dari Republik Lan Fang berada di Tung Ban Lut (Mandor kabupaten Bengkayang). Bendera Republik Lan Fang berbentuk persegi empat berwarna kuning, dengan tulisan mandarin Lan Fang Ta Tong Chi. Sedangkan panji kebesaran presidennya berbentuk segitiga dengan tulisan `Chuao' yang artinya jenderal. Pejabat tingginya memakai pakaian tradisional bergaya Tiongkok. Sedangkan pejabat yang lebih rendah menggunakan pakain bergaya Eropa. Republik Lan Fang mencapai masa keemasan saat dipimpin Lo Fang Pak sekitar 19 tahun pemerintahan Komentar: Cerita Republik Lan Fang adalah cerita bersambung di koran Equator beberapa hari yg lalu.Saya belum cek materi pada artikel berikutnya yang disampaikan oleh penulis merupakan hasil kopian kalimat(terjemahan) dari bukuChinese Democracies A Study of the Kongsis of West Borneo (1776-1884) oleh Yuan Bingling. Tetapi kemungkinan kearah itu bisa saja terjadi. Linknya: http://www.xiguan.net/yuanbingling/ Silakan para member di forum ini memberi komentar apakah artikel Republik LanFang(1)&(2).itu dikategorikan sbg hasil karya terjemahan(kopian) atau otentik hasil karya penulis? Terima kasih atas perhatian Anda. Best regards, Bong Ket Kong Singkawang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: http://www.equator-news.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=61151 Selasa, 22 Mei 2007 He Soon Himpunan 14 Kongsi Lan Fang, Republik Pemula Asia dan Indonesia (2) Data Kerajaan Belanda memperkirakan, hanya beberapa puluh saja jumlah orang Tionghoa yang hidup di Kalbar pada tahun 1740. Tetapi 30 tahun kemudian pada 1770, jumlah orang Tionghoa mencapai 20 ribu orang. Mereka berdatangan berdasarkan pertalian darah maupun saudara, sekampung halaman, atau sesama kumpulan. Kelompok Tionghoa ini membentuk kongsi (perusahaan) untuk melindungi mereka. Kemudian Lo Fang Pak diangkat menjadi ketua, karena dianggap orang bijak daripada yang lainnya. Pada tahun 1776, 14 kongsi disatukan dengan membentuk He Soon. Guna menjaga kesatuan dari ancaman persengketaan antar kumpulan, daerah asal dan darah. Pada saat itu, Lo Fang Pak mendirkan Lan Fang Kongsi. Kemudian menyatukan semua orang golongan Haka di daerah yang dinamakan San Shin Cing Fu (danau gunung berhati emas). Selanjutnya mendirikan kota Mem-Tau-Er sebagai markas besar group perusahaan. Pada masa itu Khin Tian (nama lain Pontianak) yang berlokasi di hilir Sungai Kapuas, merupakan daerah perdagangan yang penting dan dikuasai Kesultanan Kadriah dengan Sultan Abdulrahman sebagai pendiri. Daerah hulu sungai dikuasai oleh orang Dayak. Sedangkan usaha Kesultanan Mempawah yang bertetangga dengan Kesultanan Pontianak, ingin membangun sebuah istana di hulu sungai menyebabkan pertikaian antarkedua sultan tersebut. Terjadilah perang antarkedua negeri itu. Sultan Abdulrahman meminta bantuan Lo Fang Pak, karena bangunan istana yang diributkan berdekatan dengan Lan Fang Kongsi. Lo Fang Pak akhirnya memutuskan untuk membantu Sultan Pontianak dan berhasil mengalahkan Kesultanan Mempawah. Sultan Mempawah bergabung dengan Dayak melakukan serangan balasan. Namun Lo Fang Pak berhasil menghalau serangan balasan tersebut. Sultan Mempawah sendiri mengungsi ke arah utara, yaitu Singkawang, di mana Ia dan Sultan Sambas menandatangani perjanjian damai dengan Lo Fang Pak. Peristiwa itu secara tak langsung melambungkan nama Lo Fang Pak. Peristiwa perjanjian segitiga tersebut, Lo Fang Pak menginjak usia senja, sekitar 57 tahun. Pun demikian bagi keluarga yang turut bertempur, khususnya dari Mempawah ada yang menaruh dendam terhadap milisi Lo Fang Pak. Sehingga ada yang enggan membeli barang dari etnik Tionghoa di kekuasaan Mempawah, dengan berbagai isu. Walaupun etnik Tionghoa ada yang Muslim, juga turut merasakan perang urat syaraf usai perang, kala itu. Sejak saat itu, orang-orang Tionghoa dan penduduk setempat mulai mencari dan mempercayakan perlindungan kepada Lo Fang Pak. Dengan permintaan tersebut, kekuatan dan prestige Lo Fang Pak makin meningkat. Ia kemudian mendirikan pemerintahan dengan mengambil nama dari kongsi yang didirikannya. Sehingga nama kongsinya menjadi nama Republik Lan Fang pada tahun 1777, atau sepuluh tahun lebih awal berdirinya republik unitarian federalis, Amerika Serikat dengan George Washington sebagai presiden pertama pada tahun 1787. Masyarakat yang dipimpinnya supaya Lo Fang Pak menggunakan gelar sultan, akan tetapi ditolaknya, dengan memilih sistem pemerintahan kepresidenan. Khas pemerintahan republik, maksudnya re (kembali) publik (masyarakat umum), maka pemimpin pemerintahan dipegang dari kalangan masyarakat sendiri dengan diadakan pilihan raya. Sistem pemerintahan presidential pernah digagas cendekiawan Yunani, Plato dan Aristoteles. Sebuah pemikiran sistem pemerintahan yang lain dari sistem kerajaan berdasarkan keturunan, dalam menentukan kepala pemerintahan. Republik Lan Fang merupakan sistem pemerintahan republik yang cukup sedikit di zamannya, karena masih dominan sistem kerajaan. Seorang pejabat yang membantu militer Belanda untuk mengetahui kekuatan Republik Lan Fang sebelum diserang, de Groot pernah mengulas, jika pemerintahan Republik Lan Fang menggunakan sistem demokrasi. Dalam pemilihan umum pertama, kharisma Lo Fang Pak tak tertandingi dan menjadi presiden pertama Republik Lan Fang. Lo Fang Pak kemudian diberi gelar dalam bahasa Mandarin `Ta Tang Chung Chang' sebuah nama lain untuk sebutan presiden. Konstitusi dari Republik Lan Fang menyebutkan, posisi presiden dan wakil presiden harus dijabat orang yang dapat berbahasa Hakka. Alasannya mayoritas penduduk menggunakan bahasa Hakka. Ibukota dari Republik Lan Fang berada di Tung Ban Lut (MandorKabupaten Bengkayang). Bendera Republik Lan Fang berbentuk persegi empat berwarna kuning, dengan tulisan mandarin Lan Fang Ta Tong Chi. Sedangkan panji kebesaran presidennya berbentuk segitiga dengan tulisan `Chuao' yang artinya jenderal. Pejabat tingginya memakai pakaian tradisional bergaya Tiongkok. Sedangkan pejabat yang lebih rendah menggunakan pakain bergaya Eropa. Republik Lan Fang mencapai masa keemasan saat dipimpin Lo Fang Pak sekitar 19 tahun pemerintahan. (mah/bersambung) --------------------------------- Finding fabulous fares is fun. Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains.