Kalo dilihat dari sejarah sih.. boikot atau boycott merupakan
perlawanan tanpa kekerasan yg lumayan ampuh.. Bentuk dari boikot bisa macem2
tapi intinya tidak meng-konsumsi produk-jasa organisasi yg di-boikot.
Salah satu cerita sukses boikot adalah swadeshi (self-sufficiency) yg dilakukan
oleh M. Gandhi di India pada masa kolonial Inggris. Yang saya ingat betul
adalah Gandhi dan pengikutnya tidak mengonsumsi garam karena waktu itu produsen
tunggal garam adalah perusahaan Inggris di India. Saya membayangkan bagaimana
rasanya makan tanpa garam untuk waktu yang lama hingga ada produk garam buatan
warga lokal. Itu hanya salah satu produk-jasa yg diboikot, berserta
konsekuensinya.
Perlahan2 dengan adanya boikot yang masif serta hampir disegala lini, cengkraman
Inggris di India berkurang. Di lain pihak, sebenarnya secara tidak langsung
India sudah menyiapkan dirinya--dengan memproduksi segala kebutuhan
sendiri--untuk tidak bergantung pada produk-jasa perusahaan Inggris.
Dalam konteks Indonesia, rakyat bangsa ini memang sudah dimanjakan oleh
strategi ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah. Kita hidup enak serba
ada--bahkan mewah--tapi kita tidak sadar bahwa apa yang kita konsumsi itu
adalah bentuk lain dari penjajahan (neo-kolonialisme, penjajahan dalam bentuk
ekonomi); selain itu, pembangunan yang pesat dan segala kemudahan yang
memanjakan rakyat adalah hasil pinjaman luar negeri (IMF salah satunya) yang
harus kita dan anak cucu bayar.
Silahkan ber-refleksi pada diri sendiri, ada gak produk/jasa yang kita
(keluarga) konsumsi merupakan produk bangsa ini sendiri? Pasta gigi buatan
unilever; sabun, susu, kendaraan, alat komunikasi, dsb.. Pasti hasilnya akan
membuat kita terkejut: KITA SUDAH SANGAT
TERGANTUNG DENGAN PERUSAHAAN ASING DAN HUTANG LUAR NEGERI.
Pertanyaannya: siapkah kita semua melakukan boikot sekaligus menanggung
konsekuensinya?
Boikot hanya akan memiliki dampak yang besar jika gerakan ini dilakukan secara
masif, sekaligus mempersiapkan bangsa ini bisa menghidupkan dirinya sendiri
dengan meminimalisir ketergantungan pada pihak asing.
Boikot bukan solusi dengan hasil instan. Pada penerapannya kita harus
mau hidup susah dulu dengan melakukan pola hidup yang berbeda dengan
kebiasaan kita sebelumnya yang sudah nyaman. Dan pemerintah-- menurut
saya--tidak bisa banyak diharapkan. Jika demikian mari kita mulai dari
diri dan keluarga kita sendiri. Semoga gerakan ini bisa menjadi bola salju yang
terus membesar. Dan terus kian membesar. Semakin besar maka dampaknya akan
semakin dirasa.
KITA HARUS MEMPERSIAPKAN BANGSA INI UNTUK MANDIRI..!