Buat gue udah lama emang gak make semua barang, eh kcuali microsoft kali
ye....
cuman bukan karena boy eliza eh, boikot  tapi karena emang gak punya duit
lebih aza lagi...
daripada makan KFC atau mac donald lebih enak NASI UDUK PONCOL

daripada Nokia, atau Nukie, gue pake siemen, nexian (flexi) ama huawei
(esia)..

daripada coca cola atau sprite lebih suka jus jeyuk, apa bajigur.....ame
kopi toraja atau lampung

yah gitu deh....




2009/1/29 Fajar Syuderajat <[email protected]>

>          Kalo dilihat dari sejarah sih.. boikot atau boycott merupakan
> perlawanan tanpa kekerasan yg lumayan ampuh.. Bentuk dari boikot bisa macem2
> tapi intinya tidak meng-konsumsi produk-jasa organisasi yg di-boikot.
>
> Salah satu cerita sukses boikot adalah *swadeshi* (self-sufficiency) yg
> dilakukan oleh M. Gandhi di India pada masa kolonial Inggris. Yang saya
> ingat betul adalah Gandhi dan pengikutnya tidak mengonsumsi garam karena
> waktu itu produsen tunggal garam adalah perusahaan Inggris di India. Saya
> membayangkan bagaimana rasanya makan tanpa garam untuk waktu yang lama
> hingga ada produk garam buatan warga lokal. Itu hanya salah satu produk-jasa
> yg diboikot, berserta konsekuensinya.
>
> Perlahan2 dengan adanya boikot yang masif serta hampir disegala lini,
> cengkraman Inggris di India berkurang. Di lain pihak, sebenarnya secara
> tidak langsung India sudah menyiapkan dirinya--dengan memproduksi segala
> kebutuhan sendiri--untuk tidak bergantung pada produk-jasa perusahaan
> Inggris.
>
> Dalam konteks Indonesia, rakyat bangsa ini memang sudah dimanjakan oleh
> strategi ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah. Kita hidup enak serba
> ada--bahkan mewah--tapi kita tidak sadar bahwa apa yang kita konsumsi itu
> adalah bentuk lain dari penjajahan (neo-kolonialisme, penjajahan dalam
> bentuk ekonomi); selain itu, pembangunan yang pesat dan segala kemudahan
> yang memanjakan rakyat adalah hasil pinjaman luar negeri (IMF salah satunya)
> yang harus kita dan anak cucu bayar.
>
> Silahkan ber-refleksi pada diri sendiri, ada gak produk/jasa yang kita
> (keluarga) konsumsi merupakan produk bangsa ini sendiri? Pasta gigi buatan
> unilever; sabun, susu, kendaraan, alat komunikasi, dsb.. Pasti hasilnya akan
> membuat kita terkejut: KITA SUDAH SANGAT TERGANTUNG DENGAN PERUSAHAAN ASING
> DAN HUTANG LUAR NEGERI.
>
> Pertanyaannya: siapkah kita semua melakukan boikot sekaligus menanggung
> konsekuensinya?
>
> Boikot hanya akan memiliki dampak yang besar jika gerakan ini dilakukan
> secara masif, sekaligus mempersiapkan bangsa ini bisa menghidupkan dirinya
> sendiri dengan meminimalisir ketergantungan pada pihak asing.
>
> Boikot bukan solusi dengan hasil instan. Pada penerapannya kita harus mau
> hidup susah dulu dengan melakukan pola hidup yang berbeda dengan kebiasaan
> kita sebelumnya yang sudah nyaman. Dan pemerintah-- menurut saya--tidak bisa
> banyak diharapkan. Jika demikian mari kita mulai dari diri dan keluarga kita
> sendiri. Semoga gerakan ini bisa menjadi bola salju yang terus membesar. Dan
> terus kian membesar. Semakin besar maka dampaknya akan semakin dirasa.
>
> KITA HARUS MEMPERSIAPKAN BANGSA INI UNTUK MANDIRI..!
>
>
>
> 
>



-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply.com
0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)
sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)
rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)

Kirim email ke