Sepertinya memang jadi bahasan yang menarik kenapa bangsa kita kurang maju, gw pernah baca buku yang sedikit banyak membuka paradigma gw... kenapa orang Indonesia berlomba2 cari kerja? kenapa tidak membuka peluang usaha sendiri? karena orang tua kita (termasuk ortu gw) masih memiliki paradigma yang ditanamkan jaman penjajahan Belanda yang udah menjajah Indonesia 350 tahun atau 3,5 abad. paradigma itu dibuat oleh Belanda supaya kita tidak pintar, pokok "loe jadi centeng gw (Belanda) aja, hidup loe pasti terjamin", sehingga orang kita berebut pada jadi centeng... (jadi inget pilem Pitung hehehe...) kita dibuat terlena dan dibodoh-bodohin oleh penjajah dan itu sudah mendarah daging di bangsa ini belum lagi paradigma yang "kolot" begini, mungkin salah banyak dari kita pernah dengar suatu kalimat dari ortu kita begini "Belajar yang rajin yah nak... biar pinter dan nanti biar DAPET KERJA", gw tulis kata2 "DAPET KERJA" dengan huruf besar... gw pribadi menyatakan ga ada yang salah dengan kalimat itu, sah2 saja... tapi kita jadi terbentuk untuk belajar dengan rajin dapet ipk 3,... atau bahkan terancam 4 tapi yang ujung2nya CARI KERJA... bukan buat LAPANGAN PEKERJAAN (termasuk gw - orang gajian... hehehe...) makanya ga heran kita termasuk bangsa pekerja, yang mengirimkan TKW2 dan TKI ke banyak negara dan efeknya dari paradigma penjajah tersebut sekarang banyak orang yang mengambil zona aman jadi PNS (maaf gw bukan mengecilkan jadi PNS (bapak gw juga PNS), itu pekerjaan yang bagus karena melayani rakyat, tapi kalo mau jujur pelayanannya masih kurang, perlu ditingkatkan, sekali lagi mohon maaf yah.. hehehe...) dan lihat banyak orang yang berebut jadi caleg, untuk apa? pasti nyari ZONA AMAN iya kan? walopun mungkin gw yakin ada caleg yang bener2 tulus, tapi persentasinya 0,001 % nah inilah yang mungkin membuat kita "agak" kurang maju, karena merasa di ZONA AMAN, apalagi kalo liat kekayaan negara kita...beeeeee.... kan ada lagunya "Bukan Lautan Hanya Kolam Susu" coba perhatiin deh... orang yang merantau ke suatu daerah sebagian besar pasti lebih sukses dari penduduk lokalnya, karena apa? karena orang perantauan ga mungkin mundur, mereka harus survive (bertahan hidup), mau ga mau harus maju walopun susah, karena ga ada pilihan lagi selain maju (bertahan hidup) sehingga mental mereka terbentuk jadi kuat coba kalo orang lokal (termasuk gw) ga usah pusing... kalo laper, pulang ke rumah ortu, masa iya ga ada nasi sepiring ama garam (pribahasanya), yang penting kenyang, jadi ga memiliki mental yang kuat didalam buku Purdi E Chandra (Enterprenuer) - Berani gagal, berani sukses, berani merantau, berani dll (masih banyak hehehe...) coba kalo kita seperti bangsa jepang, yang kalo ga giat di musim semi maka akan mati di musim dingin (karena ga ada makanan - tanaman tidak bisa tumbuh di musim dingin alias bersalju) nah siapkah kita untuk meninggalkan ZONA AMAN untuk kemajuan bangsa atau paling tidak untuk kemajuan diri sendiri? :) Nb : gw juga masih belajar nih hehehehe... dan maap yee kalo ada salah2 kate... :)
--- On Thu, 1/29/09, ACHMAD SUTRIADI <[email protected]> wrote: From: ACHMAD SUTRIADI <[email protected]> Subject: Re: [sma1bks] Siapa Owner TV One (boikot) To: "SMAN 1 Bekasi" <[email protected]> Date: Thursday, January 29, 2009, 3:53 PM Huih rame juga... jadi pengen ikutan nimbrung... Gua setuju dengan Kalimat Terakhir email dari Ajat Sudrajat... :P Kita harus menjadi Bangsa yang Mandiri.... Dan harus dimulai dari diri sendiri... yakni cinta produksi dalam negeri.... (meskipun gk bisa mungkir, tuk saat ini gak semuanya kita bisa pakai product dalam negeri)... Kita bisa meniru semangat bangsa Nippon, India, dan Korea ... yang cinta sama product negara mereka dan akhirnya membuat negara mereka menjadi besar karena product mereka... Di Korea... kebanyakan orang korea menggunakan product buatan company negeri ginseng dibandingkan negara lain (meski bahan baku bukan aseli negara tsb loh ya)... Hampir kebanyakan orang korea memakai mobil Hyundai dibandingkan mobil Japan ataupun Eropa.. Banyak orang Korea lebih menyukai product Electronic dari Samsung (bukan campaign nih yaa), atau merek Korea lainnya dibandingkan product electronic negera lain... Bahkan untuk belanja, mereka lebih suka belanja di Home Plus atau Lotte (ini swalayan kepunyaan Korea) dibandingkan pergi ke Carefour... (di Seoul ada Carefour yg tutup gara2 gk laku)... bahkan untuk fast food, meskipun disana ada McD, KFC, serta Pizza Hut, Perusahaan Lokal yang membuat product sejenis sangat diminati oleh warga korea... Begitu juga minuman ringan, meskipun Coca Cola, Gatorade ada, product sejenis buatan perusahaan lokal tidak kalah populer... Kenapa Mereka Bisa? Apakah karena mereka Negara Besar? sudah Modern... Kalo kita hanya bicara "kan beda kondisinya sama negeri ini", berarti kita gak ada kemauan untuk maju... Pasca Perang saudara di Korea... Kondisi Korea keseluruhan sangat tidak bagus... Apalagi tanah mereka gak sekaya negara kita yang dari sabang sampai merauke tersedia bahan tambang, minyak, dan lahan yg subur... Meskipun US ikut membantu didalam pembangunan negeri tsb pasca perang, tapi tidak serta merta membuat bangsa korea menjadi bangsa yang tergantung sama US... Bantuan dan fasilitas pendidikan yang diberikan US dimanfaatkan betul oleh Pemerintah Negeri Gingseng untuk meningkatkan SDM mereka... Dan orang2 yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, mau kembali ke korea untuk membangun bangsa (tentu saja dengan strong support dari government mereka) Spirit penduduk negeri yang tidak kaya akan SDA tersebut untuk membuat serta memekai berbagai product buatan dalam negeri sangat hebat. Awalnya product buatan dalam negeri mereka itu sangat rendah kualitasnya. .. Namun partisipasi warga untuk membeli dan mencintai product dalam negeri, serta membantu meningkatkan kualitas product, tambah lama kelamaan product negeri tsb menjadi product yang bagus serta mendunia... Siapa sich yang kenal samsung di tahun 60-70.... (sekali lagi ini bukan campaign) Meskipun product tsb saat itu menjadi product anak bawang (dibandingkan kompetitornya) , Warga negeri Ginseng didukung Pemerintahannya tetap bangga menggunakan product tsb... Investasi bidang Pendidikan lambat laun menunaikan tunas SDM yang bagus, dan ikut membantu memperbaiki kualitas product tsb... Dan sekrang tentunya warga korea bisa berbangga hati Product buatan negaranya bisa mendunia.... Gw sendiri pernah terdiam, saat Chief Department gua di HQ bicara (dalam makan malam): "Dulu saya pernah mengalami susahnya kondisi negeri ini, dan saat itu negara kami meminta bantuan ke berbagai negara sahabat, diantaranya adalah Indonesia...". Kami saat itu belajar ke negeri anda, diantaranya dalam hal bercocok tanam." "Kondisi Korea saat itu masih lebih buruk dibandingkan Indonesia..." tambahnya... Sedih juga kondisi negara disindir secara tidak langsung saat itu... So kita bisa mencontoh mereka tuk maju... Kalo kita hanya bisa mengkritik.. . tapi tidak mau berpartisipasi (dengan cara membeli product dan memberikan feed back kpd produsen) Kapan product bangsa bisa meningkat kualitasnya. .. Memang secara pribadi memang susah untuk merubah kondisi makro... tetapi langkah nyata dari individu untuk mengutamakan pemakaian product negeri jauh lebih baik dibandingkan hanya komentar tapi gk ada tindakan... Kalo untuk perubahan makro, partisipasi sebagai warga bisa dilakukan saat Pemilu nanti... Harus berusaha dan Optimis agar Indonesia ini bisa maju... Tentu dengan memilih individu yang bagus sebagai wakil rakyat yg berkualitas. ... Kalo cuma pesimis, gak mau tahu, atau apatis.. itu sich membiarkan negara ini untuk terus tidur bekepanjangan. .. Zzz Zzz Zzz ------- Original Message ------- Sender : Fajar Syuderajat<fajarsyuderajat@ yahoo.com> Date : Jan 29, 2009 12:06 (GMT+07:00) Title : Re: [sma1bks] Siapa Owner TV One (boikot) Kalo dilihat dari sejarah sih.. boikot atau boycott merupakan perlawanan tanpa kekerasan yg lumayan ampuh.. Bentuk dari boikot bisa macem2 tapi intinya tidak meng-konsumsi produk-jasa organisasi yg di-boikot. Salah satu cerita sukses boikot adalah swadeshi (self-sufficiency) yg dilakukan oleh M. Gandhi di India pada masa kolonial Inggris. Yang saya ingat betul adalah Gandhi dan pengikutnya tidak mengonsumsi garam karena waktu itu produsen tunggal garam adalah perusahaan Inggris di India. Saya membayangkan bagaimana rasanya makan tanpa garam untuk waktu yang lama hingga ada produk garam buatan warga lokal. Itu hanya salah satu produk-jasa yg diboikot, berserta konsekuensinya. Perlahan2 dengan adanya boikot yang masif serta hampir disegala lini, cengkraman Inggris di India berkurang. Di lain pihak, sebenarnya secara tidak langsung India sudah menyiapkan dirinya--dengan memproduksi segala kebutuhan sendiri--untuk tidak bergantung pada produk-jasa perusahaan Inggris. Dalam konteks Indonesia, rakyat bangsa ini memang sudah dimanjakan oleh strategi ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah. Kita hidup enak serba ada--bahkan mewah--tapi kita tidak sadar bahwa apa yang kita konsumsi itu adalah bentuk lain dari penjajahan (neo-kolonialisme, penjajahan dalam bentuk ekonomi); selain itu, pembangunan yang pesat dan segala kemudahan yang memanjakan rakyat adalah hasil pinjaman luar negeri (IMF salah satunya) yang harus kita dan anak cucu bayar. Silahkan ber-refleksi pada diri sendiri, ada gak produk/jasa yang kita (keluarga) konsumsi merupakan produk bangsa ini sendiri? Pasta gigi buatan unilever; sabun, susu, kendaraan, alat komunikasi, dsb.. Pasti hasilnya akan membuat kita terkejut: KITA SUDAH SANGAT TERGANTUNG DENGAN PERUSAHAAN ASING DAN HUTANG LUAR NEGERI. Pertanyaannya: siapkah kita semua melakukan boikot sekaligus menanggung konsekuensinya? Boikot hanya akan memiliki dampak yang besar jika gerakan ini dilakukan secara masif, sekaligus mempersiapkan bangsa ini bisa menghidupkan dirinya sendiri dengan meminimalisir ketergantungan pada pihak asing. Boikot bukan solusi dengan hasil instan. Pada penerapannya kita harus mau hidup susah dulu dengan melakukan pola hidup yang berbeda dengan kebiasaan kita sebelumnya yang sudah nyaman. Dan pemerintah-- menurut saya--tidak bisa banyak diharapkan. Jika demikian mari kita mulai dari diri dan keluarga kita sendiri. Semoga gerakan ini bisa menjadi bola salju yang terus membesar. Dan terus kian membesar. Semakin besar maka dampaknya akan semakin dirasa. KITA HARUS MEMPERSIAPKAN BANGSA INI UNTUK MANDIRI..! Achmad Sutriadi Strategy and Planning Procurement OMS Division PT Samsung Electronics Indonesia
