nugon19
Wed, 10 Feb 2010 20:06:29 -0800
Haji - Bukti Islam Pasti Dapat Menyatukan Ummat Manusia (dikutip dari Buku karangan Jefry Lang yang berjudul "Bahkan Malaikat Pun Bertanya", hal 256, 263-266) Saudara sekalian, banyak agama memberikan klaim bahwa mereka menganggap semua manusia sama - prinsip egalitarian. Tapi... hanya Islam yang berhak mengklaim demikian, karena memang secara terang dan nyata tertulis ajaran semua manusia sama, dan secara nyata ada contoh pelaksanaannya. Haji - Bukti Bukan Janji, Bahwa Islam Pasti Dapat Menyatukan Ummat Manusia, sebagaimana kesaksian dan pengalaman Jefry Lang berikut ini. Secara singkat, ia hampir terjebak dengan perasaan ujub, sombong, chauvinisme dan rasis kultural, menganggap mualaf jauh lebih baik dari orang yg menjadi muslim sejak lahir, apalagi ia adalah orang kulit putih Amerika, yang pada saat itu, dan mungkin masih sekarang, adalah pemegang kekuasaan dan peradaban dunia. Namun Haji-lah yang mengingatkannya tentang persamaan Ummat manusia, Alhamdulillah. ..... Pada mulanya, saya menikmati ketenaran sekilas itu. Biasanya saya akan sedikit mengungkapkan lelucon-lelucon dan menjadi sangat bersemangat dalam menuturkan kisah konversi saya ke dalam Islam. Saya jarang menemui pendengar yang sangat responsif. Akan tetapi, segera saja saya mulai merasa seperti barang pameran di museum dan menjadi bosan mengulang-ulang cerita basi yang sama. Sebenaranya, tidak ada yang terlalu istimewa atau heroik tentang proses saya menjadi seorang muslim. Saya mulai bertanya-tanya: sekiranya saya bukan orang Amerika kulit putih keturunan Anglo-Saxon, tentulah kisah saya tidak akan bersifat inspirasional atau memberikan ilham kepada para pendengar saya. Saya mulai merindukan dan mendambakan agar tidak dikenal dan beroleh kebebasan pribadi. Tentu saja, sebuah tempat padat berjejalan dan suasana hingar-bingar ini, harapan seperti itu mungkin terlalu berlebihan, tetapi saya merasa seolah-olah diawasi terus-menerus. Saya hanya ingin duduk dengan tenang di suatu tempat tanpa harus berpura-pura tidur agar orang lain membiarkan saya sendiran. ..... Sekalipun secara teknis saya telah menyelesaikan ibadah hadi, saya merasa gelisah seolah-olah ada bagian tertentu yang tertinggal. Saya tahu saya telah melaksanakan setiap amalan ibadah dengan cermat dan khusyuk sebagaimana mestinya, tetap saja ada perasaan gagal dan belum sempurna. Kemudian pikiran saya beralih pada angan-angan pulang ke Amerika. Saya berpikir mengapa saya tidak bisa bersabar menunggu duduk di pesawat yang akan menerbangkan saya kembali ke rumah lagi. Dalam hati saya bergurau bahwa saya akan keluar dari pesawat dan mencium landasan pesawat begitu mendarat di bandara JFK. Saya merasakan betapa tersiksanya saya selama setahun ini adn betapa penderitaan ini akan berakhir dalam beberapa minggu lagi. Saya membayangkan alangkah senangnya nanti berkumpul lagi dengan teman-teman Amerika saya, bersama orang-orang yang dapat saya pahami, dan mereka memahami saya, menonton televisi Amerika, pergi ke perpustakaan atau toko-toko buku Amerika, mengunjungi kedua orang tua dan saudara-saudara saya dan keluarga mereka lagi! Sebuah bus berhenti di dekat saya. "Ke Mina?" tanya saya kepada sopir. Ia menganggukkan kepala. Saya membayar sopir sepuluhriyal, lalu mencari tempat di mana saya dapat duduk sendirian tanpa terganggu. Saya merasa telah ditanya ratusan kali tentang kebangsaan dan konversi saya ke dalam Islam selama minggu terakhir ini, dan saya siap mengusir penanya berikutnya. Saya merasa lega, karena tiga bari tempat duduk di belakang kosong. Saya menghindari bertatapan mata dengan siapa pun ketika saya berjalan di ruas tengah bus. Saya memilih tempat duduk di tengah barisan terakhir, lalu duduk, merentangkan tubuh, menyilangkan kaki, bersedekap tangan, menyandarkan kepala, menutup kedua mata, dan berharap semoga tidak ada seorang pun mengganggu saya. Ketika bus mulai berjalan, saya membuka mata sedikit untuk memastikan bahwa saya tidak menimbulkan rasa penasaran seseorang. Benar juga, seorang laki-laki di baris tempat duduk kedua sebelah kiri sedang menatap dan tersenyum kepada saya. "Tetaplah di situ!" kata saya dalam hati. Kemudian saya menutup mata rapat-rapat dan memalingkan wajah ke sebelah kanan. Beberapa detik kemudian, saya merasa ada seseorang duduk di sebelah kiri saya. "Permisi, bolehkan saya bertanya sesuatu kepada Anda?" Ia berkata dengan nada sangat sopan dan minta maaf. Pelan-pelan saya menghadapkan kepala ke depan dengan tetap menutup mata. "Silahkan," kata saya sambil menarik nafas. "Apakah Anda orang Amerika?" ia bertanya dengan nada keheranan. "Ya," saya mendesah lelah karena sudah tahu pertanyaan apa berikutnya. Ia kemudian menyorongkan badannya lebih dekat kepada saya dan bertanya, hampir seperti berbisik. "Dapatkah Anda menceritakan kepada saya bagaimana Anda menjadi seorang muslim?" Dalam tujuh hari terakhir ini, jawaban saya atas pertanyaan itu menjadi semakin pendek, setiap kali diajukan kepada saya pertanyaan itu. Pada mulanya, saya memerlukan waktu setengah jam untuk menuturkan kisah saya, tetapi sekarang ini saya sudah memendekkannya menjadi uraian singkat setengah menit. Tanpa mengubah posisi duduk saya atau membuka mata, saya memberinya kesimpulan yang membosankan ini: saya dilahirkan sebagai penganut Kristen. Saya menjadi seorang ateis pada usia delapan belas tahun lantaran keberatan-keberatan rasional tertentu saya atas gagasan tentang Tuhan. Saya tetap menjadi ateis selama sepuluh tahun berikutnya. Kemudian pada usia dua puluh delapan tahun saya membaca tafsir Al-Quran. Dengan membaca tafsir itu, saya mendapati Al-Quran tidak saja memberikan jawaban-jawaban koheren atas berbagai keberatan saya, melainkan juga membuat saya kembali beriman kepada Tuhan sesudah membacanya. Demikianlah, akhirnya saya menjadi seorang muslim. Ketika sinopsis saya selesai, saya memicingkan mata kiri saya untuk melihat apakah ia terpukul mundur oleh jawaban saya yang kaku. Tetapi, alangkah terkejutnya saya. Saya melihat air mata menetes di pipi laki-laki itu. Dan betapa malunya saya! Pada waktu itu, saya memohon kepada Allah agar memaafkan saya karena bersikap begitu kasar dan arogan serta memohon agar Dia membantu saya lebih bisa seperti saudara saya yang rendah hati ini, yang kekuatan cintanya pada agama menyebabkannya begitu mudah meneteskan air mata dan tetap dapat merasakan rahmat dan kebesaran Allah atas kisah yang sangat kering seperti itu. Saya lalu duduk dengan tegak dan menghadap kepadanya. "Siapa nama Anda dan dari mana Anda berasal?" tanya saya. "Nama saya Ahmed dan saya berasal dari Bangladesh," ia menjawab dengan tersenyum, sambil menghapus air matanya. "Senang sekali berkenalan dengan Anda, Ahmed. Nama saya Jeffrey. Saya berasal dari Negara Bagian Kansas, Amerika." Setelah kami saling sedikit bertukar informasi tentang diri masing-masing, Ahmed tiba-tiba bertanya dengan rian, "Tidakkah ini haji yang luar biasa, Saudaraku Jeffrey?" Saya tidak memberikan jawaban. "Ingatlah di hari ketika kita tiba," ia melanjutkan, "betapa kita semua dapat mendengar panggilan haji dari arah di sekelilingnya kita semua, 'Labbaika Allaahumma Labbaik! Labbaika Allaahumma Labbaik!' Tahukah anda makna 'labbaik' di negara saya?" ia bertanya. "Maaf kalau saya katakan bahwa saya hampir tidak tahu sedikitpun tentang Bangladesh," jawab saya. Ia memandangi saya dengan tajam dan berkata, "Di negara saya, bila seorang guru memanggil seorang murid di kelas, murid akan segera berdiri tegak dan berseru 'Labbaik, Guru, Labbaik!' seolah-olah ingin mengatakan, 'Saya siap guru - saya siap melayani guru!' Inilah sikap yang seharusnya kita, kaum muslim, ambil dalam hubungannya dengan Allah - dan inilah sikap para nabi. Seperti ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim as agar mengumandangkan seruan atau panggilan di Mekkah waktu itu - paling-paling hanya keluarganya dan beberapa penggembala yang mungkin ada di sana. Sekiranya yang diseru adalah Anda atau saya, hampir pasti kita akan ragu-ragu dan berkata, 'Mengapa menyeru menunaikan ibadah haji ketika tidak ada seorang pun di daerah ini yang akan mendengarkannya?' Akan tetapi, keimanan dan keyakinan Nabi Ibrahim kepada Allah amatlah besar sehingga beliau tidak menunggu-nunggu barang sedetik pun. Sebaliknya, beliau berdiri di tempat yang kosong dan segera mengumandangkan azan. Wahai saudaraku Jeffrey, seandainya saja Nabi Ibrahim as melihat jutaan hamba Allah di sini tengah memenuhi seruan itu sekarang, seandainya saja beliau melihat kita berdua - Anda dari Amerika dan saya dari Bangladesh - duduk disini bersama - sebagai orang-orang yang bersaudara - di dalam bus yang sedang kembali menuju ke Mina!" Sekarang giliran saya merasakan gelora emosi. Saya merasa begitu malu kepada diri sendiri. Dan saya merasa seperti hendak menangis - dan hampir saja saya menangis - tetapi saya berhasil melawan dorongan itu. Sekarang saya menyadari apa yang kurang dari ibadah haji saya: rasa persatuan, persaudaraan, dan cinta yang diserukan oleh Islam kepada para pengikutnya. Sebagai akibat dari beberapa peristiwa tak menguntungkan yang saya alami selama setahun terakhir ini dan sedikit guncangan kebudayaan, saya telah membiarkan diri saya terjerumus dalam chauvinisme dan rasisme kultural. Saya memberiakan diri saya merasa lebih unggul dan menjauh dari kaum muslim di sekitar saya, sehingga pada akhirnya, bahkan ibadah haji saya menjadi ibadah ritual pribadi (seharusnya mesti kebalikannya). Kata-kata bijaksana Ahmed itulah yang menunjukkan jalan saya yang salah. Saya sadar sekarang bahwa sebenarnya saya dapat memperoleh banyak manfaat selama setahun tinggal di Timur Tengah dan juga dari ibadah haji ini. Akan tetapi, sekali lagi, saya telah membiarkan keangkuhan justru menghalang-halanginya. Saya merasa bahwa saya perlu melakukan ibadah haji lagi, karena salah satu unsurnya yang paling penting - cinta kepada sesama muslim - tidak ada dalam penunaian ibadah haji saya. Beberapa menit kemudian, bus berhenti dan saya harus turun. "Saya beruntung berjumpa dengan Anda, Ahmed," kata saya kepadanya sambil menyalami tangannya, "semoga Allah memberkati Anda! Assalamu 'alaikum, Saudaraku Ahmed!" "Wa 'alaikum salam, Saudaraku Jeffrey!" jawabnya dengan senyum lebar.
- [sma1bks] Dongeng Seputar Iedul Adha Mursalin Guci
- Bls: [sma1bks] Dongeng Seputar Iedul Adha Farhan Muhammad
- Re: Bls: [sma1bks] Dongeng Seputar Iedul Adha agungyuniardi
- Bls: Bls: [sma1bks] Dongeng Seputar Iedul Adha Mursalin Guci
- Re: Bls: [sma1bks] Dongeng Seputar Iedul Adha joko untoro
[sma1bks] Hikmah Seputar Iedul Adha (dan bukan Dongeng) nugon19